Tuesday, May 12, 2009

Harimau dan Serigala

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama
seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita
serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu.
Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang
telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak
bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari
perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di
mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit,
sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham,
bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai
balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari
gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi
siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya
duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang
pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia
ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak
didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus
dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut,
namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu
sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan,
sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap.
Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan
sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya
bertanya kepada murid-muridnya, "Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari
sana..?".Seorang murid tampak angkat bicara, "Guru, aku melihat kekuasaan dan
kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena
itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan
rezekinya kepada ku lewat berbagai cara."

Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, "Lihatlah
serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan."
Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya.
"Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta.
Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah
berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau."

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala
yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana
kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana
pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun,
ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu
sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu
adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin
membalas budi.

dari milis motivasi

Thursday, May 07, 2009

Sakit Bisa Membawa Nikmat Dan Berkah, Bagaimana Caranya ?

Adalah sesuatu yang lazim bila sebagian kita jatuh mengeluh tatkala sakit. Tubuh lunglai, wajah kuyu, dan pudar cahayanya. Padahal, semakin banyak kita mengeluh, maka akan semakin terasa pula sakitnya. Yang paling membahayakan adalah bila pikiran kita tidak terkuasai dengan baik. Biasanya menerawang jauh, realitas yang ada didramatisasi, segalanya dipersulit dan dikembangkan, hingga makin parah dan menegangkan.
Orang yang terkena gejala tumor misalnya, akan menjadi sengsara jika yang menjadi buah pikirannya adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari kondisi sebenarnya. Ah, jangan-jangan tumor ganas. Bagaimana kalau merambat ke seluruh tubuh, sehingga harus dioperasi? Lalu, bagaimana kalau operasinya gagal? Belum lagi biayanya yang pasti akan sangat mahal. Bila hal ini terjadi, maka orang tersebut akan jauh lebih menderita daripada kenyataan sebenarnya. Hal ini terjadi karena kesalahan cara berpikir. Ia belum paham terhadap hikmah dari penyakit yang menimpanya, sehingga salah dalam menyikapinya.
Hasilnya jelas: rugi dunia akhirat. Sikap mental semacam ini tentu harus segera kita atasi. Memang benar badan kita harus sehat, karena hanya dengan badan sehatlah gerak hidup kita menjadi lancar. Kalau pun tubuh kita harus sakit, suatu saat nanti, maka hati kita harus tetap berfungsi dengan baik. Bagaimana cara menyiasatinya? Pertama, kita harus yakin bahwa hidup kita akan selalu dipergilirkan. Boleh jadi sekarang kita sehat, tapi esok hari kita sakit. Ini adalah sebuah keniscayaan. Kita harus yakin bahwa segala yang ada dan yang terjadi di dunia ini ada dalam genggaman Tuhan.
Begitu pula kalau Tuhan menghendaki kita sakit. Itu adalah hal yang wajar, karena tubuh kita adalah milikNYA. Kenapa kita harus kecewa dan protes? Ibarat seseorang menitipkan baju miliknya kepada kita. Kalau suatu saat diambil kembali, maka sangat tidak layak bila kita menahannya. Alangkah baiknya bila kita memilih ridha saja dalam menerima semua yang terjadi. Segala kekecewaan, penyesalan, dan keluh-kesah, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Tugas kita adalah ridha akan ketentuan-Nya dan berikhtiar seoptimal mungkin untuk berobat. Ketiga, kita harus yakin bahwa Tuhan itu sangat adil dan bijaksana dalam menentukan sesuatu hal bagi makhluk-Nya. Tuhan itu Maha tahu akan keadaan tubuh kita. Semua yang ditimpakan kepada kita sudah diukur dengan sangat sempurna dan mustahil “over dosis”.
Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan yang mungkin akan kita lakukan dalam keadaan sehat. Kita menjadi insyaf akan betapa penting dan mahalnya harga kesehatan yang seringkali kita sia-siakan ketika sehat.

dari milis motivasi

SEBUA KISAH YANG (MUNGKIN) NYATA

Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba di rumah langsung duduk bersantai
sambil melepas penat. Sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan
langsung shalat.

Sementara anak2 & istri sedang berkumpul di ruang tengah. Dalam kelelahan tadi,
saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat di muka
saya.

Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan
tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri di depanku.

Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu. Sebelum sempat
bertanya.... .siapa dia...tiba2 saya m eras a dada saya sesak... sulit untuk
bernafas.... namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara sebisanya.

Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku......
terus berjalan.... . kekerongkonganku. ...sakittttttttt ........sakit. ..... rasanya. Keluar airmataku menahan rasa sakitnya,... . Oh Tuhan ! ada apa dengan diriku.....

Dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku...

kkhh........ .khhhh... .. kerongkonganku berbunyi. Sakit rasanya, amat teramat sakit

Seolah tak mampu aku menahan benda tadi... Badanku gemetar... peluh keringat
mengucur d eras .... mataku terbelalak.. ...air mataku seolah tak berhenti.

Tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku. Aku melihat
benda tadi dibawa oleh orang misterius itu...pergi. ..berlalu begitu saja....hilang dari pandangan.

Namun setelah itu......... aku m eras a aku jauh lebih Ringan, sehat, segar,
cerah... tidak seperti biasanya.

Aku heran... istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah, tiba2
terkejut berhamburan ke arahku.. Di situ aku melihat ada seseorang yang terbujur
kaku ada tepat di bawah sofa yang kududuki tadi. Badannya dingin kulitnya
membiru. siapa dia?.. . Mengapa anak2 & istriku memeluknya ! sambil
menangis... mereka menjerit...histeris ...terlebih istriku seolah tak mau
melepaskan orang yang terbujur tadi...

Siapa dia.?

Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan.. .. dia........dia. ......dia mirip dengan aku....ada apa ini Tuhan?

Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu..... Aku mencoba merangkul
anak2 ku tapi tak bisa. Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku.

Aku coba jelaskan kalau aku ada di sini.. Aku mulai berteriak... ..tapi mereka
seolah tak mendengarkan aku seolah mereka tak melihatku...

Dan mereka terus-menerus menangis.... aku sadar..aku sadar bahwa orang misterius
tadi telah membawa rohku Aku telah mati...aku telah mati.

Aku telah meninggalkan mereka ..tak kuasa aku menangis.... berteriak. .....

Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku. Aku sangat sedih.. selama hidupku
belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa
kulakukan ! untuk membimbing mereka.

Tapi waktuku telah habis....... masaku telah terlewati... . aku sudah tutup usia pada saat aku
terduduk di sofa setelah lelah seharian bekerja.

Sungguh bila aku tahu aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja,
beribadah, untuk keluarga dll.

Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum ibadah..

dari milis motivasi

Tuesday, May 05, 2009

Kadang, Diam Itu Emas

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya
dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia
dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi
kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan
kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar
kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar.
Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan.
Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia
lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena
ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba
lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan
peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya.
Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan
merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak
menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia
kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti
rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya
serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu
berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si
lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa
kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim
mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap
kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam.
Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya
berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak
bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata,
"Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di
pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi.
"Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau
mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah
memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan
peringatannya."

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung.
Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia
pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari
tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.

dari milis motivasi

Sunday, May 03, 2009

YAbg Palsu di Diri Kita

Jenny, gadis cantik kecil berusia 5 tahun dan bermata indah. Suatu hari ketika ia dan ibunya sedang pergi berbelanja ia melihat sebuah kalung mutiara tiruan yang sangat Indah, dan harganya-pun cuma 2,5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut dan mulai merengek kepada ibunya. Akhirnya sang Ibu setuju, katanya: “Baiklah, anakku. Tetapi ingatlah bahwa meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti sesampai di rumah, kita buat daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Dan, biasanya kan Nenek selalu memberimu uang pada hari ulang tahunmu, itu juga harus kamu berikan kepada ibu.” “Okay,” kata Jenny setuju.

Merekapun lalu membeli kalung tersebut. Setiap hari Jenny dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang ditulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh neneknya pada hari ulang tahunnya juga diberikannya kepada ibunya.Tidak berapa lama, perjanjiannya dengan ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia selalu memakai kalung itu kemanapun ia pergi. Ke sekolah taman kanak-kanaknya, ke supermarket, bermain bahkan pada saat ia tidur, kecuali pada saat mandi. “Nanti lehermu jadi hijau,” kata ibunya…

Jenny juga memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya. Setiap menjelang tidur, sang ayah selalu membacakan sebuah buku cerita untuknya. Pada suatu hari seusai membacakan cerita, sang ayah bertanya kepada Jenny; “Jenny, apakah kamu sayang ayah?” “Pasti, yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi ayah.”"Kalau kau memang mencintai ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada ayah.” “Yaa… ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain, Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus, Ayah juga boleh ambil pakaian-pakaiannya yang terbaru tapi jangan ayah ambil kalungku…” “Ya anakku, tidak apa-apa… tidurlah.” Ayah Jenny lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata: “Selamat malam anakku, semoga mimpi indah.”

Seminggu kemudian setelah membacakan cerita ayahnya bertanya lagi: “Jenny apakah kamu sayang ayah?” “Pasti, Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu. ” “Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?” “Yaa, jangan kalungku…, Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. .. Ayah masih ingat kan ? Itu mainan favoritku. Rambutnya panjang dan lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya dan sebagainya. Ambillah Yah, Asal ayah jangan minta kalungku…” “Sudahlah nak, lupakanlah,” kata sang ayah.

Beberapa hari setelah itu Jenny mulai berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya? dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak? Beberapa hari kemudian ketika ayah Jenny membacakan cerita, Jenny duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya sambil berkata: “Ayah…, terimalah ini..” Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya, dan dengan penuh kesedihan kalung tersebut berpidah ke tangan sang ayah…Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya. Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah dan sangat mahal… Ia telah menyimpannya begitu lama untuk anak yang dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli

Begitu pula dengan dengan Tuhan kita… seringkali Ia menunggu lama sekali agar kita mau menyerahkan segala milik kita yang palsu … dan menukarnya dengan sesuatu yang sangat berharga….

dari milis motivasi

Thursday, April 30, 2009

Orang Buta

Orang buta menuntun orang buta
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah
sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta
itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita?
Kan sama saja buat saya!
Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang
lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu
setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang
pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu
kan punya mata! Beri
jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling
berlalu. Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini
si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya?
Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas,
"Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta',
saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab,
"Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si
penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun
melanjutkan perjalanan masing-masing. Dalam perjalanan selanjutnya, ada
lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih
berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?"
Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."
Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda
orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam
tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang
berjatuhan sehabis bertabrakan. Sahabat,
Hari ini kita belajar tentang KEBIJAKSANAAN, KEPEDULIAN DAN KERENDAHAN
HATI...
Betapa gelap dan butanya kita tanpa pelita
kebijaksanaan...
betapa banyak orang saling bertabrakan karena keegoisan, keserakahan
tanpa ada kepedulian bagi sesama...
Betapa gampangnya kita menghakimi dan menyalahkan " si penabrak", padahal
mungkin saja pelita kita yang padam.. bukankah diperlukan kerendahan hati untuk
minta maaf??...
Ah.. seandainya didunia ini banyak orang yang saling mendukung dan saling
mengingatkan !!..
Selamat bekerja, hati-hati jangan menabrak... jaga lilin kebijaksanaan
agar tidak padam...

Filipus Gudel

Penyesalan

Seorang dokter berpangkat kolonel di suatu negara berprestasi sangat cemerlang. Dengan demikian, dia dipercaya oleh kalangan atas, termasuk presidennya, untuk merawat kesehatan diri mereka pada dokter yang pandai tersebut.

Setiap hari, hidupnya dipenuhi oleh jadwal tugas yang membuat orang lain berdecak kagum karena tidak semua dokter mendapat kesempatan berprestasi seperti itu. Hari demi hari dilalui dengan prestasi yang menjulang. Semakin tinggi dan tak terbilang hadiah dan fasilitas hidup yang menggiurkan diterimanya.

Begitu penuh jadwal hidupnya untuk mengurus orang lain, pergi berhari- hari menemani jenderal ini dan itu, pergi berminggu-minggu untuk menemani presiden ke luar negeri, dan sebagainya. Untuk bertemu muka dengan istri dan anak-anaknya sungguh hal yang langka. Dan keadaan ini terus berlanjut dari waktu ke waktu.

Sampai suatu hari sepulang dari luar negeri menemani dan merawat pejabat tinggi yang sedang sakit, setiba di depan rumahnya, sang dokter melihat tenda terpasang dan kerumunan para kerabat dan tetangganya. Dalam hati sang dokter bertanya: ada apa gerangan di rumahku? Begitu keluar dari mobil, dia langsung bergegas masuk menguak kerumunan para tamu yang menyampaikan ucapan belasungkawa.

Setiba di ruang tamu rumahnya, terbujur sang istri tercinta, wanita yang menjadi belahan jiwanya, wanita yang selama ini ditinggalkannya untuk bepergian menjalankan tugas-tugas untuk merawat dan mempertahankan hidup orang lain. Tapi, satu-satunya wanita yang diinginkan dalam hidupnya saat ini terdiam kaku. Sang istri meninggal setelah menderita sakit parah yang cukup lama, dan dia tidak mampu merawatnya, apalagi memperpanjang masa hidupnya.

Maka, tercenunglah sang dokter. Dia bertanya ke mana saja aku ini, kapan terakhir aku makan bersama dengan wanita kesayanganku, kapan terakhir kali aku memeriksa kesehatannya, kapan terakhir kali aku mengucapkan selamat berulang tahun untuknya. Oh, sudah lama-lama sekali! Sekarang aku ingin mengucapkannya, sekarang aku ingin makan bersamanya, sekarang aku ingin tidur bersamanya, tapi sudah terlambat! Tidak ada hari esok lagi untuk melakukannya.




Jangan sampai kita menyesal dalam hidup ini. Hidup terlalu singkat untuk dipakai "tidak peduli terhadap pasangan" serta "merasa kecewa dan marah". Jadikan sentuhan, pelukan, dan kemesraan sebagai alat untuk membangun fondasi yang kuat dalam hal membina hubungan suami- istri. Sama seperti otot, kasih dapat menjadi kuat jika sering digunakan. Sebaliknya, kasih juga bisa mati jika tidak disertai perbuatan.

Mudah-mudah belum terlambat bagi kita untuk memulai mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, apa yang seharusnya dilakukan untuk membahagiakan pasangan hidup dan diri kita juga.


Cerita ini ditulis oleh Lianny Hendranata diambil dari milis motivasi

Tuesday, April 28, 2009

Thanks For All The Thing Happen To Your Life

Jika Anda bangun pagi ini dengan lebih sehat daripada sakit, Anda lebih diberkati daripada jutaan orang yang tak akan selamat melewati minggu ini

Jika Anda punya makanan di kulkas Anda, pakaian di tubuh Anda, atap di kepala Anda, dan tempat untuk tidur, Anda lebih kaya daripada 75 persen dunia ini.

Jika Anda punya uang di bank atau di dompet Anda, Anda berada di antara 8 persen yang terkaya di dunia.

Jika Anda mengangkat kepala Anda dengan senyum di wajah Anda dan benar-benar bersyukur, Anda diberkati karena kebanyakan orang bisa, tapi sebagian tidak melakukannya.


Saya BERSYUKUR untuk istri yang memberiku makanan yang sama dengan malam kemarin karena berarti istriku di rumah malam ini,dan tidak bersama orang lain ...

BERSYUKUR untuk suami yang duduk bermalasan di sofa sambil baca koran males-malesan , karena itu berarti dia bersama aku di rumah dan tidak keluyuran,apalagi ke bar malam ini.

BERSYUKUR untuk anakku yang selalu PROTES di rumah, karena artinya dia sedang di rumah dan TIDAK sedang keluyuran di jalanan.

BERSYUKUR untuk pajak yang saya bayar, karena artinya saya bekerja atau punya penghasilan.

BERSYUKUR untuk rumah yang berantakan, karena artinya saya masih punya kesempatan
melayani orang-orang yang mengasihi saya.

BERSYUKUR untuk baju yang mulai kesempitan, karena artinya saya bisa lebih dari cukup untuk makan.

BERSYUKUR pada bayangan yang mengikutiku, karena artinya aku tidak disilaukan oleh matahari.

BERSYUKUR untuk Kebun yang harus dirapikan dan perkara yang harus dibetulkan di rumah, karena artinya saya punya rumah.

BERSYUKUR akan berita orang yang lagi demo, karena artinya kita masih punya kebebasan untuk berbicara.

BERSYUKUR untuk dapat tempat parkir yang paling jauh, karena artinya saya masih bisa berjalan kaki dan diberkati dengan kendaraan yang saya bisa bawa.

BERSYUKUR untuk cucian, karena artinya saya punya baju yang bisa dipakai.

BERSYUKUR karena kepenatan dan kelelahan kerja setiap hari, karena artinya saya mampu bekerja keras setiap hari.

BERSYUKUR mendengar alarm yang mengganggu di pagi hari, karena artinya saya masih hidup.

Hiduplah, Senyumlah & Kasihi sesama dengan seluruh HATIMU .. !!


ditulis oleh Rusdy Gunawan
dari milis motivasi

Thursday, April 23, 2009

Selamat Hari Kartini (Kaum Wanita)

Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk spesies manusia berjenis kelamin
betina. Lawan jenis dari wanita adalah pria atau laki-laki. Wanita adalah
kata yang umum digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa. Pesona wanita
sejak dulu hingga sekarang sebetulnya tidak pernah berkurang atau bertambah,
hanya tentu saja pada jaman sekarang peranan wanita yang lebih bervariasi
dalam pola kehidupan masyarakat, membuat wanita semakin menonjol untuk
dibicarakan dan dibahas. tepat hari ini kita memperingati hari Kartini, yang
menjadi sebuah lambang kesetaraan Gender antara Pria dan Wanita.

Kartini dapat diibaratkan sebagai seorang wanita tangguh, bukan dalam arti
kartini berjuang dengan senjata untuk membuat kesetraaan jender. wanita
tangguh memperlihatkan keberaniannya meskipun ia sedang merasa takut, wanita
tangguh memberikan yang terbaik dari dirinya kepada orang lain & keluarganya
wanita tangguh menyadari bahwa kesalahan dalam hidup bisa mendatangkan
kebaikan dan manfaat yang membangun, wanita tangguh mengetahui dengan jelas
bahwa Tuhan yang Maha Kuasa akan selalu menopang ketika ia lemah ataupun
tersandung, dan wanita tangguh memiliki iman bahwa sepanjang perjalanan
hidupnya ia akan tumbuh makin kuat.

Dahulu pada jaman romawi menempatkan kedudukan kaum wanita dibandingkan
dengan prianya, ternyata masih dibawah kedudukan wanita. Menurut
undang-undang Romawi masa itu, wanita adalah harta-benda milik laki-laki,
dapat diperlakukan sekehendak hati, ia berkuasa dari soal hidup sampai
matinya, dipandang persis seperti budak. Ia menjadi milik bapaknya, kemudian
milik suaminya, lalu milik anaknya. Pemilikan demikian ini persisi seperti
memiliki budak atau seperti memiliki binatang dan benda mati. Wanita
dipandangnya hanya sebagai pembangkit nafsu berahi. Ia tidak punya kuasa
apa-apa terhadap sifat kebetinaannya, hingga mau tidak mau ia harus
berpura-pura berbuat sopan sedapat mungkin, dan ini tetap berlaku selama
berabad-abad kemudian, termaksud dalam jaman era kartini.

Saat ini saat dikatakan wanita sudah sederajat dengan pria ternyata banyak
wanita sendiri yang melakukan pelecehan terhadap dirinya sendiri, maksudnya
apa, Banyak kita temui para wanita yang menjajakan harga diri dan kesucian
di jalan-jalan tanpa ada perasaan risih dan mereka menanggalkan rasa
malunya, Mereka mengumbar nafsu para lelaki, padahal telah kita ketahui
bahwa laki-laki itu sangat mudah tergoda apalagi oleh perempuan yang
berpakaian seksi, sehingga banyak timbul kejahatan karenanya, misalnya
pemerkosaan, permusuhan, pembunuhan. fakta yang terjadi memang benar bahwa
banyak sekali kerusakan yang telah timbul karena wanita yang tidak mengenali
kemuliaan, kehormatan dan kesucian dirinya, sehingga menjadi wanita yang
tidak bermartabat bahkan “murahan.”

Wanita bisa menjadi sumber kerusakan hal yang mungkin ditimbulkan oleh
wanita adalah pengaruh harta dan kekuasaan. Wanita banyak yang tertipu
dengan indahnya kehidupan dunia, suka bermewah-mewahan dan berfoya-foya.
Lalu mereka mempengaruhi suami-suami mereka agar melakukan perbuatan haram
untuk memenuhi nafsu dunianya, hingga banyak terjadi pencuriaan, perampokan,
dan korupsi, karena laki-laki itu tidak ingin ditinggalkan wanita yang
terlanjur dicintainya.

Pepatah mengatakan wanita adalah makhluk yang mulia, namun kenyataannya
adalah wanita sangat sengsara. TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja di
luar negeri sangat sengsara, banyak wanita yang disiksa bahkan ada pula yang
pulang tinggal nama. Betapa pilu hati hati kita menyaksikan berbagai
kejadian naas yang menimpa wanita. Kekerasan dalam rumah tangga, penyiksaan,
pelecehan seksual, dan sebagainya. terkdang orang menyebut “Emansinya
Kebablasan“ yang seperti kita ketahui saat ini. Banyak wanita yang melakukan
hal semaunya sendiri. Ada yang bekerja tetapi tidak memikirkan nasib
keluarganya. Padahal sebagai seorang isteri yang baik, harus mengikuti
imamnya. Terkadang lelaki dengan persepsi terbatas melakukan wanita sebagi
barang, jika perlu memiliki wanita lebih dari satu atau disebut poligami,
meskipun ditegaskan beribu kali oleh para penyokong poligami bahwa, poligami
kerap menistakan perempuan. Poligami adalah kekerasan terhadap perempuan.

Saya sangat mengagumi wanita, karena saya hidup di kelilingi wanita-wanita
yang hebat, Ibu saya yang dengan hebat membimbing saya menjadi seperti saat
ini, Istri saya yang hebat dengan setia mendampingi saya untuk bisa menjadi
diri saya, putri tercinta yang hebat memberi inspirasi dan gairah untuk
berjuang hidup, dan sahabat-sahabat wanita yang memberi warna dalam
persahabatan dalam dunia ini. wanita adalah kunci kebaikan suatu bangsa.
Wanita adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka
baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka
akan rusak pulalah generasi tersebut.

Selamat hari kartini... dan jadikan momentum untuk untuk cermin wanita saat
ini...

ditulis Erwin Arianto
dari milis motivasi

Penyembuh Ampuh Bernama : “Keheningan”

Berjalan tergopoh-gopoh menuju tali-tali jemuran. Tangan kanannya terlihat menenteng seember cucian basah. Dengan benda putih kecil di kedua telinga ia siap beraksi. Menjemur pakaian, seperti pagi-pagi yang kemarin. Siti, ABG yang bekerja sebagai pembantu nyokap memang susah dipisahkan dari benda itu. Earphone, memang hampir selalu menemaninya bertugas. PRT jaman sekarang memang beda. Gaul, baca koran dan melek teknologi. Serupa tapi tidak sama dengan adegan diatas. Beberapa murid sekolah menengah dalam sebuah angkot. Pagi yang sibuk. Bunyi klakson disana-sini. Perlombaan berangkat kerja yang membuat kemacetan. Ada yang mengangguk-angguk kecil, yang seorang memejamkan mata, yang lain memandang lurus kedepan.Phose boleh tak sama, tetapi ditelinga mereka bertengger benda serupa. Lagi-lagi earphone, saudara kandung handsfree. Benda bersuara dengan berujung handphone, walkman, MP4 atau ipod dan sebagainya.

Yang satu ini sekarang bagaikan baju atau celana layaknya. Melekat erat dikeseharian kita. Tidak sulit untuk menemukan orang berbicara serius seorang diri di pinggir jalan. Bukan latihan drama, atau caleg stress yang bermunculan saat ini. Urusan bisnis, hanphone dan handsfree.Memang benda-benda itu sengaja didesign semakin kecil, semakin ringan, semakin mobile dan semakin muat menampung apapun didalamnya. Teknologi selalu mempunyai tujuan mempermudah, itu yang semua orang cari. Tetapi mengenai efek samping, yang seperti ini tidak banyak yang perduli.

Menyenangkan memang dapat mendengarkan lagu dimanapun kita mau. Menghibur stress sekaligus tempat persembunyian dari “kesunyian” atau “keheningan”. Memang kata yang satu itu sekarang hampir merupakan binatang yang nyaris punah. Silence. Banyak orang tidak nyaman akan kesunyian. Seandainya kita mau memperhatikannya, maka kita akan sadar betapa jari-jemari ini akan begitu cepat meraih remote –apapun itu TV, radio, tape- mencari “hiburan” untuk mengusirnya. Dan bagi sebagian besar orang itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Sepanjang pagi kita dihadang klakson, dan deru knalpot kendaraan bermotor, kemudian bunyi telepon dan kesibukan kantor. Sore harinya –kembali lagi seperti itu- bunyi klakson dan knalpot lagi. Dan setelah tiba dirumah : sinetron, acara seru dan lagu-lagu. Dan berakhir ketiduran ditemani oleh cable TV atau lagu-lagu MP3.

Kemodernan kerap kali mengusir kesunyian. Sehingga kesunyian buat kita telah terlajur menjadi “setan lewat”. Mencekam dan ingin cepat-cepat kita lalui. Memang dalam kesunyian pikiran kita akan terasa berbicara demikian keras, mengaduk-ngaduk sang diri. Inilah yang seringkali ditakutkan oleh sebagian kita. Tetapi seandainya kita bersabar, maka kita akan belajar satu hal. Menenangkan pikiran-pikiran itu. Terasa sulit untuk pertama kalinya, tetapi menentramkan dan menyembuhkan, jika kita telah terbiasa.

“Know how to listen and be sure that silence often produces the same effects as science”
-Napoleon Bonaparte-

Sejarah juga mencatat bahwa begitu banyak pencipta luar biasa yang dilahirkan dari kesunyian itu. Sebut saja Thomas Alva Edison, Beethoven, Helen Keller dan sederet tokoh lain sebagainya. Memang ketulian, merupakan kesunyian yang ekstrim dan sebagian besar dari kita mungkin tidak mengharapkan menjadi sebesar mereka. Tetapi paling tidak kita adalah pencipta dunia kita masing-masing.


Kadang kita berpikir bahwa kebisingan dapat diusir dengan kebisingan lain. Atau sekedar mengalihkan diri dari kebisingan yang tidak kita sukai, kepada kebisingan yang kita sukai. Padahal kebisingan hanya dapat ditenangkan oleh kesunyian. Bukan oleh cable TV, sinetron, lagu-lagu atau riuh rendahnya mall. Dan kesunyian (baca : suara alam) merupakan obat penyembuh alami yang sangat ampuh yang didesign oleh Sang Pencipta. Kita tidak lagi peka terhadap suara alam.

“We need to find God, and he cannot be found in noise and restlessness. God is the friend of silence. See how nature - trees, flowers, grass- grows in silence;
see the stars, the moon and the sun, how they move in silence...
We need silence to be able to touch souls.”
-Mother Teresa-


Nah, kalau sekarang Anda merasa begitu penat, terlalu mudah marah, sangat kuatir akan sesuatu atau dalam tekanan luar biasa. Matikan sejenak handphone dan benda-beda berbunyi lainnya dan datanglah kepada kesunyian. Dengarkan suara alam. Ternyata alam tidak pernah diam. Suara kodok, jangkrik, gesekan pohon bambu, kicauan burung, rintik hujan, gemericik air, deburan ombak, hembusan angin. Semuanya berbicara dalam nada mereka masing-masing. Bukan kebisingan melainkan kesesuaian yang dalam. Keharmonian.

Mulai dari sekarang, cobalah sisihkan waktu barang sepuluh menit setiap harinya dalam keheningan. Pengalaman pribadi saya, efeknya sangat luar biasa. Kesegaran, kreatifitas dan ketenangan. Vitamin yang sangat cocok buat pekerjaan dibidang seperti saya ini. Tetapi jangan percaya saya begitu saja, musryik. Anda harus mencobanya sendiri . Mumpung belum terlambat. Karena besar kemungkinan di generasi cucu kita nanti suara jangkrik, burung dan kodok sudah jadi suara digital belaka !!!

Ada sebuah kisah menggelikan. Seorang rekan kerja bersama anaknya kebetulan datang kerumah diwaktu malam. Kami meeting di sebuahbale bengong dihalaman rumah. Setelah beberapa saat lamanya, mungkin karena sudah tidak sabar, si anak yang tengah duduk dibangku kuliah bertanya. “Maaf Mas, itu suara apa sih, kodok yah ?”. Mamanya serta merta menjawab. “Itu suara mp3...!!”. Kemudian memandangiku, “Iya khan Mas ?”. Kontan aku dan istriku tertawa. “Itu kodok beneran”, sahut istriku. “Masak sih..?!!!” timpal mereka hampir berbarengan. “Kodok liar kok..kadang- kdang mereka bulan madu kesini”, kataku. Akhirnya kami menyempatkan diri untuk mengantarkan kedua anak dan ibu itu menuju kolam kecil persis didepan teras rumah. Dan dalam remang-remang itupun samar terlihat dua pasang kodok yang tengah ML…..making love alias kawin !!

“Silence is a source of great strength.”
-Lao Tzu-


ditulis : by MadeTeddyArtiana
photographer, disegner & company developer

Sunday, April 19, 2009

Berhenti

Di tengah-tengah sebuah training, sang trainer memberikan
arahannya. "Letakkan kedua tangan kalian di dada kalian masing-masing!"
seorang trainer memulai instruksinya. "Letakkan, trus, dan rapat hingga
kalian merasakan detak jantung kalian masing-masing!" lanjut
beliau. Aku pun menuruti kata-katanya, kuletakkan kedua tanganku perlahan
ke atas dadaku. Kucari-cari sebentar, dan akhirnya terasalah detak
jantungku. Aku pun menunggu instruksi selanjutnya. "Letakkan dan
rasakan detak jantung Anda..!!" begitu instruksi beliau, "Jika sudah terasa,
sekarang katakan kepada jantung Anda, Berhenti..!!" Aku pun agak bingung dengan instruksi tersebut namun tak urung
kulakukan juga. "Katakan, dan perintahkan kepada jantung Anda untuk berhenti!,
katakan pada ia untuk berhenti!!" "Tidak mungkin!!' teriakku dalam hati,
"Tidak mungkin bisa!!" entah, apakah trainer tersebut mendengar apa yang
kami rasakan, ia pun melanjutkan kata-katanya.. "Lihatlah..
rasakanlah..!! bahkan jantung kita pun bukan milik kita...!!", Seketika
itu pula, Degg, diri ini kontan tersadar apa maksud dari semua ini. Ya
Tuhan,begitu sering diri ini lupa, bahkan jantung, apa yang ada di dalam diri
kita ini sekalipun.. bukan milik kita. Ah, padahal begitu sering kita merasa
bahwa kita ada diatas segala-galanya.

Seringkali manusia memandang orang lain
lebih rendah, lebih buruk, lebih jelek, ataupun pandangan-pandangan yang
semacamnya. Sering kali pula manusia merasa sangat berkuasa, seolah-olah
hidup dan mati orang lain berada di tangannya, tanpa sadar bahwa hidupnya
sendiri sekalipun, atau bahkan tubuh nya sendiri pun, bukanlah
miliknya.

Kita tidak mampu untuk mengatur aliran darah, atau daya kerja organ tubuh kita//
Kalau toh kita bisa hidup, sehat dan berkarya.. itu bukan karena kekuatan dan kelebihan kita... Itu merupakan anugerah Tuhan...
Kalau toh kita memiliki segalanya harta, pangkat, dan kedudukan itu karena Tuhan semata..

Kalau saja otak kita digeser satu milimeter saja
dari tempatnya, kalau detak jantung kita tidak berfungsi normal, kalau saja ada
salah satu organ kita yang mogok tidak mau berfungsi...maka anda bukan
siapa-siapa, hanya seonggok daging yang tergolek tidak berdaya...
Jangan ada seorangpun yang bersifat adigang adigung adiguna.. sombong karena semua yang dimilikinya...

Terimalah dan kerjakan dengan syukur, dan
jadikan hidupmu berkah bagi semua orang.....
dari milis motivasi

Thursday, April 09, 2009

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Berani?

Seorang sahabat mengungkapkan rencananya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat kerjanya. Ia merasa tidak takut meninggalkan karirnya yang sudah belasan tahun dirintisnya dari bawah. “sayang juga sebenarnya, dan ini merupakan pilihan yang berat, terlebih ketika saya merasa sudah berada di puncak karir,” ujarnya.

Lalu kemana setelah resign? “yang ada di pikiran saya saat ini hanya satu, menjadi ibu rumah tangga. Sudah terlalu lama saya meninggalkan anak-anak di rumah tanpa bimbingan maksimal dari ibunya. Saya sering terlalu lelah untuk memberi pelayanan terbaik untuk suami. Bahkan sebagai bagian dari masyarakat, saya sangat sibuk sehingga hanya sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar”

Tapi, ibu nampaknya masih ragu? “bukan ragu. Saya hanya perlu menata mental sebelum benar-benar mengambil langkah ini”.

“Rasanya masih malu jika suatu saat bertemu dengan teman-teman sejawat atau rekan bisnis. Saya belum menemukan jawaban yang pas saat mereka bertanya, “sekarang Anda cuma jadi ibu rumah tangga?”

Saya tersenyum mendengarnya, mencoba memahami kesesakan benaknya saat itu. Teringat saya dengan seorang sahabat lama yang saat di sebuah forum wanita karir di Jerman lantang menjawab, “profesi saya ibu rumah tangga, jika diantara para hadirin ada yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga bukan profesi, saya bisa menjelaskan secara panjang lebar betapa mulianya profesi saya ini dan tidak cukup waktu satu hari untuk menjelaskannya”.

Luar biasa. Saya harus hadiahkan acungan jempol melebihi dari yang saya miliki untuk sahabat yang satu ini. Saya tuturkan kisah ini kepada sahabat yang sedang menata hati meyakinkan diri untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, bahwa ia takkan pernah menyesali pilihannya itu. Kelak ia akan menyadari bahwa langkahnya itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia tetapkan seumur hidupnya.

Naluri setiap wanita adalah menjadi ibu. Adakah wanita yang benar-benar tak pernah ingin menjadi ibu? Percayalah, pada fitrahnya wanita akan lebih senang memilih berada di rumah mendampingi perkembangan putra-putrinya dari waktu ke waktu. Menjadi yang pertama melihat si kecil berdiri dan menjejakkan langkah pertamanya. Ia tak ingin anaknya lebih dulu bisa berucap “mbak” atau “bibi” ketimbang ucapan “mama”. Tak satupun ibu yang tak terenyuh ketika putra yang dilahirkan dari rahimnya lebih memilih pelukan baby sitter saat menangis mencari kehangatan.

Ibulah yang paling mengerti memberikan yang terbaik untuk anaknya, karena ia yang tak henti mendekapnya selama dalam masa kandungan. Sebagian darahnya mengalir di tubuh anaknya. Ia pula yang merasakan perih yang tak tertahankan ketika melahirkan anaknya, saat itulah kembang cinta tengah merekah dan binar mata ibu menyiratkan kata, “ini ibu nak, malaikat yang kan selalu menyertaimu”. Cintapun terus mengalir bersama air kehidupan dari dada sang ibu, serta belai lembut dan kecupan kasih sayang yang sedetik pun takkan pernah terlewatkan.

Ibu akan menjadi apapun yang dikehendaki. Pemberi asupan gizi, pencuci pakaian, tukang masak terhebat, perawat di kala sakit, penjaga malam yang siap siaga, atau pendongeng yang lucu. Kadang berperan sebagai guru, kadang kala jadi pembantu. Jadi apapun ibu, semuanya dilakukan tanpa bayaran sepeserpun alias gratis.

***
KI, bukan malu atau bingung saat harus berhadapan dengan rekan bisnis. Katakan dengan bangga baru sebagai ibu rumah tangga. Sebab sesungguhnya, mereka pun sangat ingin mengikuti jejak anda, hanya saja mereka belum mengambil keputusan seperti anda. Tersenyumlah karena anak-anak pun bangga dengan langkah terbaik ibunya.

dari milis motivasi

Tuesday, April 07, 2009

Gadis Cantik Untuk Pria Kaya

Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah terkenal, dengan judul:
“Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”

Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. tahun ini saya berumur 25 tahun. Saya sangat cantik, mempunyai selera yang bagus akan fashion. saya ingin menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun. anda mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York. persyaratan saya tidak tinggi. apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? apa kalian semua sudah menikah? yang saya ingin tanyakan:
apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda? yang terkaya pernah berkencan dengan saya hanya $250rb/tahun. bila seseorang ingin pindah ke area pemukiman elit di City Garden New York, penghasilan $ 250rb/tahun tidaklah cukup.
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan:
dimana para lajang2 kaya hang out?
kisaran umur berapa yang harus saya cari?
kenapa kebanyakan istri dari orang2 kaya hanya berpenampilan standar?
saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya?
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa yang hanya bisa menjadi pacar?

Si Cantik
-------------------------------------------------------------------------------------

Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street:

saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2 di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk menganalisa situasi mu sebagai seorang profesional.

pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap semuanya tidak berpikir saya main2 di sini. dari sisi seorang bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah saja, saya coba jelaskan, coba tempatkan “kecantikan” dan “uang” bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan dengan uang: pihak A menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya, pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. bukan hanya penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.

jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama, seperti pernikahan yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat
keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi besar akan di jual atau “disewakan.” siapa saja
dengan penghasilan tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda, tapi tidak akan menikahi anda.

saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari orang kaya bodoh. mudah2an balasan ini dapat membantu. jika anda tertarik untuk servis “sewa pinjam,” hubungi saya.

ttd,
J.P. Morgan _,_._,___

dari milis motivasi

Monday, April 06, 2009

Obrolan Imajiner Bersama Tuhan Tentang Jodoh

Bukan baru sekarang aja gue berdoa sama Tuhan tentang pasangan yang gue inginkan. Ketika ada keinginan di hati untuk menikah, gue selalu berdoa agar Tuhan memberikan gue pasangan hidup.
Suatu kali gue berkeluh kesah sama Tuhan, kenapa ga ada orang yang cocok buat gue. Tuhan pun menjawab, “Elo ga punya pasangan mat, karena elo ga minta kan?”. Oh oke, akhirnya gue minta sama Tuhan agar gue diberi pasangan, bukan cuma itu, gue juga menjelaskan kriteria pasangan yang gue mau. Gue menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Lebih daripada itu, gue juga memberikan deskripsi fisik pasangan yang selama ini gue impikan. Seiring jalannya waktu, gue pun menambahkan daftar kriteria yang gue inginkan dalam diri pasangan gue.

Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati gue, “Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. " Aku bertanya, "loh kok gitu, Kenapa Tuhan?" dan Ia menjawab, " Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar." Gue tanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?" " Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah - suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."


Aku pun terdiam, membisu, merenung
Tertohok, sejenak ada rasa sesak di dada
Air mata itu pun jatuh, pelan tapi pasti
Langit terasa damai, angin berhembus pelan
Bintang bersinar terang, bulan tersenyum lembut
Dan aku pun ber-sujud pada-Nya
Seraya berdoa
"Berikanlah pasangan yang baik untuk-ku, hidup-ku, agama-ku, dan masa depan-ku"
aamiin

ditulis oleh Rendy Rahmat Imelda 70

Sunday, April 05, 2009

Arti Kehidupan

Alkisah, seorang pemuda mendatangi orang tua bijak yang tinggal di sebuah desa yang begitu damai. Setelah menyapa dengan santun, si pemuda menyampaikan maksud dan tujuannya. "Saya menempuh perjalanan jauh ini untuk menemukan cara membuat diri sendiri selalu bahagia, sekaligus membuat orang lain selalu gembira."

Sambil tersenyum bijak, orang tua itu berkata, "Anak muda, orang seusiamu punya keinginan begitu, sungguh tidak biasa. Baiklah, untuk memenuhi keinginanmu, paman akan memberimu empat kalimat. Perhatikan baik-baik ya..."

"Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain!" Kemudian, orang tua itu bertanya, "Anak muda, apakah kamu mengerti kalimat pertama ini? Coba pikir baik-baik dan beri tahu paman apa pengertianmu tentang hal ini."

Si pemuda menjawab, "Jika bisa menganggap diri saya seperti orang lain, maka saat saya menderita, sakit dan sebagainya, dengan sendirinya perasaan sakit itu akan jauh berkurang. Begitu juga sebaliknya, jika saya mengalami kegembiraan yang luar biasa, dengan menganggap diri sendiri seperti orang lain, maka kegembiraan tidak akan membuatku lupa diri. Apakah betul, Paman?"

Dengan wajah senang, orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan melanjutkan kata-katanya. "Kalimat kedua, anggap orang lain seperti dirimu sendiri!"

Pemuda itu berkata, " Dengan menganggap orang lain seperti diri kita, maka saat orang lain sedang tidak beruntung, kita bisa berempati, bahkan mengulurkan tangan untuk membantu. Kita juga bisa menyadari akan kebutuhan dan keinginan orang lain. Berjiwa besar serta penuh toleransi. Betul, Paman?"

Dengan raut wajah makin cerah, orang tua itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Ia berkata, "Lanjut ke kalimat ketiga. Perhatikan kalimat ini baik-baik, anggap orang lain seperti mereka sendiri!"

Si anak muda kembali mengutarakan pendapatnya, "Kalimat ketiga ini menunjukkan bahwa kita harus menghargai privasi orang lain, menjaga hak asasi setiap manusia dengan sama dan sejajar. Sehingga, kita tidak perlu saling menyerang wilayah dan menyakiti orang lain. Tidak saling mengganggu. Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri. Bila terjadi ketidakcocokan atau perbedaan pendapat, masing-masing bisa saling menghargai."

Kata orang tua itu, "Bagus, bagus sekali! Nah, kalimat keempat: anggap dirimu sebagai dirimu sendiri! Paman telah menyelesaikan semua jawaban atas pertanyaanmu. Kalimat yang terakhir memang sesuatu yang sepertinya tidak biasa. Karena itu, renungkan baik-baik."

Pemuda itu tampak kebingungan. Katanya, "Paman, setelah memikirkan keempat kalimat tadi, saya merasa ada ketidakcocokan, bahkan ada yang kontradiktif. Bagaimana caranya saya bisa merangkum keempat kalimat tersebut menjadi satu? Dan, perlu waktu berapa lama untuk mengerti semua kalimat Paman sehingga aku bisa selalu gembira dan sekaligus bisa membuat orang lain juga gembira?"

Spontan, orang tua itu menjawab, "Gampang. Renungkan dan gunakan waktumu seumur hidup untuk belajar dan mengalaminya sendiri."

Begitulah, si pemuda melanjutkan kehidupannya dan akhirnya meninggal. Sepeninggalnya, orang-orang sering menyebut namanya dan membicarakannya. Dia mendapat julukan sebagai: "Orang bijak yang selalu gembira dan senantiasa menularkan kegembiraannya kepada setiap orang yang dikenal."


Sebagai makhluk sosial, kita dituntut untuk belajar mencintai kehidupan dan berinteraksi dengan manusia lain di muka bumi ini. Selama kita mampu menempatkan diri, tahu dan mampu menghargai hak-hak orang lain, serta mengerti keberadaan jati diri sendiri di setiap jenjang proses kehidupan, maka kita akan menjadi manusia yang lentur. Dengan begitu, di mana pun kita bergaul dengan manusia lain, akan selalu timbuk kehangatan, kedamaian, dan kegembiraan. Sehingga, kebahagiaan hidup akan muncul secara alami...

dari milis motivasi

Thursday, March 26, 2009

Perbedaan Persepsi

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :
- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :
“Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih”.

“Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak”.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
“Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut”.

“Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup.”

“Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama”.

MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda.
Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita… pilihan ada di tangan anda.

‘Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa’

dari milis motivasi

Cerita dari India

Sebuah keluarga mapan dengan dua orang anak hidup di India, Laksmi perempuan berusia 8 tahun dan anak kedua lelaki persis di bawah Laksmi. Pada hari minggu pagi, Laksmi menangis berat dengan air mata menganak suangi, dengan sangat berat hati sambil menangis tersedu-sedu membolak balik sendok di piring yang berisi Yogurt dicampur nasi. Sang ayah, Rahul, dari meja tempat kerjanya sambil memijit-mijit tuts-tuts komputernya, berusaha membujuk Laksmi agar segera menghabiskan Nasi Yogurt – nya. Di India Yogurt campur nasi adalah sarapan pagi yang lazim, karena rasanya asam lidah anak-anak kadang kelu dibuatnya.

Sang Ibu yang sedang memandikan anak bungsunya, turut serta menbujuk rayu Laksmi agar segera menghabiskan sarapanya. Tetapi Laksmi tetap saja menangis sambil membanting-banting sendok ke piring yang masih penuh berisi yogurt dengan nasi. Dengan terpaksa dia berusaha menelan sarapan yang tidak disukainya.

Tetapi tiba-tba Laksmi angkat bicara,; “Saya akan makan sarapan ini sampai habis’’, asalkan papa mami berjanji satu hal pada ku”. Sang ayah melirik istrinya sambil mengerdipkan mata dan menganggukkan kepala kepada suaminya tanda mereka setuju. Tetapi sang ayah berkata, “tapi jangan minta yang bukan-bukan ya!”, “juga jangan minta yang mahal-mahal”. Pikir sang ayah, paling-paling anak ini minta dibelikan mainan baru, atau baju baru, atau sepatu baru. Laksmi menjawab, “ya papi!”. Dengan berat hati laksmi memakan semua Yogurt bercampur nasi yang ada di hadapannya.

Setelah selesai makan Yogurt dan menghapus sisa air mata yang hampir mengering di pipinya, Laksmi menagih janji kedua orang tuanya. Iapun berujar: “Pa aku ingin kepalaku dibotaki”, sang ayah terperanjat setengah tidak percaya dengan permintaan putrinya, tidak menyangka permintaan Laksmi membotaki kepalanya yang ditumbuhi rambut sebahu, yang indah itu. Sang ayahpun bingung dan berusaha mengelak dengan menawarkan Ps baru, pikirnya biarpun mahal asalkan kecantikan putrinya tidak berkurang, bagaimana jadinya kalau putrinya yang imut itu dibotaki kepalanya.

Begitu melihat orang tuanya akan mengelak, Laksmi pun mulai menangis. Sang ayah berpikir, kalau saya tidak menepati janji, berarti saya telah mengajar anak ini menjadi pendusta kelak, pada hal setiap hari saya selalu mengajarkan kepada anak ini untuk menepati janji, tidak berbohong.

Dengan berat hati sang Ayah dan Ibu sepakat menggunduli kepala Laksmi sampai licin. Esok harinya karena kuatir anaknya akan ditertawai teman-teman sekelasnya sang ayah membelikan topi dan bersama Istrinya mengantarkan sang anak ke sekolah. Begitu sampai digerbang pintu sekolah Rahul melihat seorang anak keluar dari mobil, dengan kepala Botak licin bersih persis seperti kepala baru Laksmi. Sang ayah terkejut melihat anak itu, pikirnya cuma Laksmi yang berkepala botak. Diapun lega melihat bahwa bukan hanya putrinya yang berkepala botak, diapun berguman dalam hati, “mungkin ini kebijakan dari sekolah”. Laksmi turun dari mobil dan berlari menghampiri Vijai, bocah lelaki yang baru saja turun dari mobil ayahnya yang berkepala botak itu, sambil bergandengan tangan berlari menuju kelas.

Ayah Vijai menghapiri Rahul, dan berkata, “ Putri anda sungguh berhati mulia tuan’ anda sungguh keluarga yang diberkati Tuhan”. “Anak saya, Vijai sejak kecil kena kanker leukimia dan harus menjalani terapi setiap hari, hingga rambutnya rontok, kemarin dia datang kerumah dan berjanji kepada Vijai bahwa ia akan membotaki rambutnya, karena Vijai tidak mau masuk sekolah lagi karena diejek teman-temanya.”
Di dalam mobil menuju pulang kerumah, sang ayah dan Ibu menangis, air matanya tumpah, tidak menyangka anaknya yang masih kecil itu berkorban sedemikian besar dengan menangis sambil memakan yogurt dengan susah payah. Apakah Tuhan yang sudah ku korbankan padanya?. Sambil menangis ia mengucapap syukur pada Tuhan.

dari milis motivasi

Cerita dari India

Sebuah keluarga mapan dengan dua orang anak hidup di India, Laksmi perempuan berusia 8 tahun dan anak kedua lelaki persis di bawah Laksmi. Pada hari minggu pagi, Laksmi menangis berat dengan air mata menganak suangi, dengan sangat berat hati sambil menangis tersedu-sedu membolak balik sendok di piring yang berisi Yogurt dicampur nasi. Sang ayah, Rahul, dari meja tempat kerjanya sambil memijit-mijit tuts-tuts komputernya, berusaha membujuk Laksmi agar segera menghabiskan Nasi Yogurt – nya. Di India Yogurt campur nasi adalah sarapan pagi yang lazim, karena rasanya asam lidah anak-anak kadang kelu dibuatnya.

Sang Ibu yang sedang memandikan anak bungsunya, turut serta menbujuk rayu Laksmi agar segera menghabiskan sarapanya. Tetapi Laksmi tetap saja menangis sambil membanting-banting sendok ke piring yang masih penuh berisi yogurt dengan nasi. Dengan terpaksa dia berusaha menelan sarapan yang tidak disukainya.

Tetapi tiba-tba Laksmi angkat bicara,; “Saya akan makan sarapan ini sampai habis’’, asalkan papa mami berjanji satu hal pada ku”. Sang ayah melirik istrinya sambil mengerdipkan mata dan menganggukkan kepala kepada suaminya tanda mereka setuju. Tetapi sang ayah berkata, “tapi jangan minta yang bukan-bukan ya!”, “juga jangan minta yang mahal-mahal”. Pikir sang ayah, paling-paling anak ini minta dibelikan mainan baru, atau baju baru, atau sepatu baru. Laksmi menjawab, “ya papi!”. Dengan berat hati laksmi memakan semua Yogurt bercampur nasi yang ada di hadapannya.

Setelah selesai makan Yogurt dan menghapus sisa air mata yang hampir mengering di pipinya, Laksmi menagih janji kedua orang tuanya. Iapun berujar: “Pa aku ingin kepalaku dibotaki”, sang ayah terperanjat setengah tidak percaya dengan permintaan putrinya, tidak menyangka permintaan Laksmi membotaki kepalanya yang ditumbuhi rambut sebahu, yang indah itu. Sang ayahpun bingung dan berusaha mengelak dengan menawarkan Ps baru, pikirnya biarpun mahal asalkan kecantikan putrinya tidak berkurang, bagaimana jadinya kalau putrinya yang imut itu dibotaki kepalanya.

Begitu melihat orang tuanya akan mengelak, Laksmi pun mulai menangis. Sang ayah berpikir, kalau saya tidak menepati janji, berarti saya telah mengajar anak ini menjadi pendusta kelak, pada hal setiap hari saya selalu mengajarkan kepada anak ini untuk menepati janji, tidak berbohong.

Dengan berat hati sang Ayah dan Ibu sepakat menggunduli kepala Laksmi sampai licin. Esok harinya karena kuatir anaknya akan ditertawai teman-teman sekelasnya sang ayah membelikan topi dan bersama Istrinya mengantarkan sang anak ke sekolah. Begitu sampai digerbang pintu sekolah Rahul melihat seorang anak keluar dari mobil, dengan kepala Botak licin bersih persis seperti kepala baru Laksmi. Sang ayah terkejut melihat anak itu, pikirnya cuma Laksmi yang berkepala botak. Diapun lega melihat bahwa bukan hanya putrinya yang berkepala botak, diapun berguman dalam hati, “mungkin ini kebijakan dari sekolah”. Laksmi turun dari mobil dan berlari menghampiri Vijai, bocah lelaki yang baru saja turun dari mobil ayahnya yang berkepala botak itu, sambil bergandengan tangan berlari menuju kelas.

Ayah Vijai menghapiri Rahul, dan berkata, “ Putri anda sungguh berhati mulia tuan’ anda sungguh keluarga yang diberkati Tuhan”. “Anak saya, Vijai sejak kecil kena kanker leukimia dan harus menjalani terapi setiap hari, hingga rambutnya rontok, kemarin dia datang kerumah dan berjanji kepada Vijai bahwa ia akan membotaki rambutnya, karena Vijai tidak mau masuk sekolah lagi karena diejek teman-temanya.”
Di dalam mobil menuju pulang kerumah, sang ayah dan Ibu menangis, air matanya tumpah, tidak menyangka anaknya yang masih kecil itu berkorban sedemikian besar dengan menangis sambil memakan yogurt dengan susah payah. Apakah Tuhan yang sudah ku korbankan padanya?. Sambil menangis ia mengucapap syukur pada Tuhan.

dari milis motivasi

Wednesday, March 18, 2009

Harimau dan Serigala

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama
seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita
serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu.
Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang
telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak
bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari
perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di
mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit,
sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham,
bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai
balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari
gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi
siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya
duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang
pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia
ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak
didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus
dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut,
namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu
sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan,
sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap.
Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan
sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya
bertanya kepada murid-muridnya, "Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari
sana..?".Seorang murid tampak angkat bicara, "Guru, aku melihat kekuasaan dan
kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena
itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan
rezekinya kepada ku lewat berbagai cara."

Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, "Lihatlah
serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan."
Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya.
"Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta.
Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah
berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau."

***

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula,
Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan
ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita
gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya,
ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan.
Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat
usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala
yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana
kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana
pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun,
ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu
sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu
adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin
membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan
ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul
bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di
dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan
kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala
lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.

dari milis motivasi

Tuesday, March 17, 2009

Segitiga Cinta

Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa pasangannya enak diajak bicara. Ada yang bilang pasangannya sangat perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya. Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy. Ada yang bilang pasangannya pandai melucu. Ada yang bilang pasangannya pandai memasak. Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua. Pendek kata kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.

Ada banyak alasan pula untuk bercerai. Ada yang bilang pasangannya judes, bila diajak bicara cenderung emosional. Ada yang bilang pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada orang-orang di rumah yang setia menunggu. Ada yang bilang pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi. Ada yang bilang pasangannya kurang menggairahkan. Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara. Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu asing atau terlalu manis. Ada yang bilang pasangannya tidak dapat mengambil hati mertuanya. Pendek kata kebanyakan orang bilang bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.

Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan dalam kecocokan. Ahli psikologi menyebut kecocokan-kecocokan diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok setelah mereka menikah.

Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya mereka pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh, pada waktu pacaran dua sejoli akan saling memperhatikan, saling mendahulukan satu dengan yang lain, saling menghargai, saling mencintai. Lalu/ apa yang dapat menjadi pengikat yang mampu terus mempertahankan sebuah pernikahan, bila kecocokan-kecocokan itu tidak ada lagi? Jawabannya adalah KOMITMEN.

Seorang kawan saya di Surabaya membuat sebuah penelitian, perilaku selingkuh kaum adam pada waktu mereka dinas luar kota dan jauh dari anak/isterinya. Apa yang membuat pria-pria tersebut selingkuh tidak perlu dijabarkan lagi. Tetapi apa yang membuat pria-pria tersebut bertahan untuk tidak selingkuh? Jawaban dari penelitian tersebut sama dengan diatas yaitu : KOMITMEN.

Hanya komitmen yang kuat mampu menahan gelombang godaan dunia modern pada waktu seorang pria berada jauh dari keluarganya. Begitu pula sebaliknya, pada kasus wanita yang berselingkuh.

Komitmen adalah sebagian dari cinta dalam definisi seorang psikolog kenamaan bernama Sternberg. Dia menyebutnya sebagai “triangular love” atau segitiga cinta dimana ketiga sudutnya berisi: Intimacy (keintiman), Passion (gairah) dan Commitment (komitmen). Sebuah cinta yang lengkap dalam sebuah rumah tangga selayaknya memiliki ketiga hal diatas.

Intimacy atau keintiman adalah perasaan dekat, enak, nyaman, ada ikatan satu dengan yang lainnya.

Passion atau gairah adalah perasaan romantis, ketertarikan secara fisik dan seksual dan berbagai macam perasaan hangat antar pasangan.

Commitment atau komitmen adalah sebuah keputusan final bahwa seseorang akan mencintai pasangannya dan akan terus memelihara cinta tersebut “until the death do us apart”.

Itulah segitiga cinta karya Sternberg yang cukup masuk akal untuk dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Bila sebuat relasi kehilangan salah satu atau lebih dari 3 unsur diatas, maka relasi itu tidak dapat dikatakan sebagai cinta yang lengkap dalam konteks hubungan suami dan isteri, melainkan akan menjadi bentuk-bentuk cinta yang berbeda.

Sebagai contoh :

Bila sebuah relasi hanya berisi intimacy dan commitment saja, maka relasi seperti ini biasa disebut sebagai persahabatan.

Bila sebuah relasi hanya bersisi passion dan intimacy saja tanpa commitment, maka ia biasa disebut sebagai kumpul kebo. Bila sebuah relasi hanya mengandung passion saja tanpa intimacy dan commitment, maka ia biasa disebut sebagai infatuation (tergila-gila)

Intinya adalah.... jika ingin membuat hubungan menjadi lebih baik tanamkan dalam hati tentang arti commitment yang sebenarnya. Itulah arti cinta yang sebenarnya................


dari milis motivasi

Monday, March 16, 2009

Small Things with Great Love

Kita mungkin tidak bisa melakukan hal besar, Tapi kita bisa melakukan hal kecil dengan Cinta yang Besar. ( Da Ai )

Inilah cerita dari ibu Teresa sebelum kematiannya :
” Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri
dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya
tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam
ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat - kemiskinan
spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”


Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.
Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari
jalan dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.
Saya memberitahu para suster : “Kalian merawat yang tiga; saya akan
merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.”

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan,
dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang
tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : ” Terima kasih “,
lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak, harus memeriksa hati nurani saya sendiri.
Dan saya bertanya : ” Apa yang akan saya katakan, seandainya saya
menjadi dia ?” dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha
mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri. Mungkin saya berkata :
” Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau
lainnya”.

Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak, ia memberi saya
ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia meninggal dengan senyum di wajahnya.
Lalu ada seorang laki -laki yang kami pungut dari selokan, sebagian
badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah
perawatan ia hanya berkata : “Saya telah hidup seperti hewan di jalan,
tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.”
Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang
ia katakan dengan senyum ialah : ” Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan”
lalu ia meninggal.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan
siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain.
Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya
secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, perjuangkanlah itu
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.
* Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

” We can do no great things, only small things with great love. ”
Mother Teresa

dari milis motivasi

Tuesday, March 10, 2009

Belajar Pada Air

Belajarlah pada sifat air…
1. Tidak mengalah
2. Tidak mengalahkan
3. Sampai tujuan

Tujuan air adalah laut.. Dari mata air di puncak gunung, air mengalir lewat sungai menuju laut.
Ketika jalannya terhalang oleh batu batu sungai, ia tidak mengalah, tapi ia juga tidak perlu mengalahkan batu itu. Ia lewat disampingnya.
Ketika dibendung oleh manusia dan tak dapat lagi mengalir, ia tidak mengalah. Ia tidak perlu mengalahkan bendungan itu, tapi ia meresap menjadi mata air di tempat yang lain atau menjadi uap air lalu menjadi hujan di tempat yang lain dan menjadi mata air di tempat yang lain.
Yang pasti, ia tetap pada tujuannya yaitu laut, tanpa mengalahkan batu batu sungai, bendungan, dll. Tidak pernah ia menyerah pada apa yang telah menjadi tujuannya yaitu laut. Semua itu dicapainya tanpa mengalah dan mengalahkan perintangnya.
Belajarlah darinya.

dari milis motivasi

Monday, March 09, 2009

BALADA WANITA RENTA, SEBATANG KARA YANG BUTA MATA

Jika Anda tinggal di Madiun, dan tinggal di dekat wanita ini, Anda akan mengenal Wanita malang ini. Mbah Lasinem Namanya. Usianya sudah sangat lanjut. Kalau kita mengamati dengan seksama raut wajahnya, keriput diseluruh wajah selain mencerminkan usia yang renta juga menyiratkan penderitaan hidup yang beliau alami. Ketika semua saudara kandungnya sudah tiada dipanggil menghadap Sang Kuasa, beliau harus menjalani hidup dalam keadaan buta. Suami yang biasa menjadi tempat berbagi duka dan sukapun telah tiada. Sementara anak yang jadi penghias keindahan rumah tangga, yang diharapkan bisa menjadi teman juga tiada pernah diberikan oleh Sang Pemilik Jagat Raya.

Susah dan papa sudah menjadi bagian hidupnya, kemana mau cerita jika semua kerabatnya nasibnya juga tidak jauh berbeda. Tetap saja simbah kita yang satu ini setiap hari hanya merenung dan menghitung sisa hari. Jika hujan turun, rintik hujanlah yang menemani. Atap rumah yang bocor selalu menjadi bagian hidup di musim hujan yang selalu membasahi lantai rumahnya yang terbuat dari tanah dan masih alami.

Ya inilah rumah yang menjadi bagian Mbah Lasinem . Rumah yang selalu menaunginya dikala sang surya menebar cahaya garangnya. Tapi jangan dibayangkan apa yang ada di dalam rumah itu adalah barang-barang berharga. Hanya ada sebuah kursi usang yang cukup untuk duduk sendiri perempuan renta yang buta ini. Jangan berharap ada kitchen set di rumah ini. Meja makan yang reyot. Jika Anda bersandar di meja itu baru benar-benar yakin kalau meja itu sudah sangat usang. Itupun jika Anda tidak percaya dengan penglihatan Anda bahwa meja itu sudah begitu usang dan saatnya diganti.

Siapapun, jika dalam kondisi sangat renta dan lagi buta, pasti akan berharap akan tersedia makanan barang sedikit di mejanya. Tapi Anda harus yakin bahwa di rumah Mbah Lasinem itu tidak ada. Ketika LMI datang menjelang sore, yang tampak diatas meja hanyalah nasi beberapa sendok yang tertutup tempat makan transparan bukan keluaran Tupperware. Ya. Hanya itu yang terlihat. Sisa nasi tadi pagi. Nasi pemberian tetangga sebelah. Tanpa terlihat ada sayur dan lauknya, mungkin sudah habis untuk makan tadi pagi. Kalaupun Mbah Lasinem mau makan, mungkin juga terasa kurang enak. Bukan hanya karena tak ada lagi sayur dan lauknya, melainkan karena sudah banyak semut yang mendahuluinya memakan nasi itu.

Tidur adalah saat yang paling nyaman bagi Mbah Lasinem. Tapi kalau Anda yang tidur di tempat tidur Mbah Lasinem, mungkin Anda tak pernah berharap untuk mengulanginya. Bagaimana tidak, spring bed Mbah lasinem hanyalah PRING BED. Sebuah dipan bambu tanpa kasur. Dipan bambu itu hanya beralaskan tikar plastik. Jangan Anda mencari selimut disana, karena mbah Lasinem memang tak pernah memiliki atau memakainya.

Tak usah Anda mencari Air Conditioner atau sekedar kipas angin, karena rumah Mbah Lasinem tidak ada aliran listrik. Jika Anda menginginkan hembusan angin, dinding rumah Mbah lasinem akan memberikan cukup angin untuk mendinginkan badan dan mengeringkan keringat yang bercucuran. Angin akan sangat mudah masuk menerobos dinding anyaman bambu, tak peduli siang atau malam, tak peduli hari yang panas maupun malam yang dingin.

Kita tidak usah sombong menutup hidung jika malam hari bertandang, asap dari obat nyamuk bakar akan memenuhi ruangan rumah yang hanya terdiri satu ruangan itu. Itulah cara Mbah Lasinem mengusir nyamuk-nyamuk nakal yang ada di rumahnya.

Saudara, banyak diantara kita yang bergelimangan harta, yang halal maupun yang haram. Apapun itu. Dari mulai gaji, honor kegiatan, Uang makan, tunjangan jabatan. Belum lagi hasil usaha di luar, bunga tabungan, saham, kontrakan, rental atau hanya sekedar bisnis pulsa. Kita akan buang-buang dan kita belanjakan sesuka kita.

Kita banyak lupa saudaraku, Mbah Lasinem juga memiliki hak atas harta kita. Ingat saudara, 2,5% setiap harta Anda adalah milik mereka-mereka yang tidak mampu, fakir miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan. Apakah kita akan menjadi orang yang serakah dengan memakan 100% penghasilan kita? 2,5% yang menjadi hak fakir miskin jika tidak kita keluarkan, suatu saat akan diambil oleh Allah. Jika Allah mengambil, maka Dia akan mengambil dalam bentuk musibah, Kehilangan, kerugian, penyakit dan bahkan kematian.

Untuk itu, jangan biarkan 2,5% bagian harta fakir miskin merusak harta Anda yang 97,5%.

dari milis motivasi

Menjadi Yang Terbaik Itu Urusan Pribadi

'Be the best!' begitu kata para pakar pemberi semangat. Jadilah yang terbaik. Kita meyakini bahwa dengan menjadi yang terbaik, kita akan berhasil meraih kesuksesan. Kemudian, kita menengok ke kiri dan ke kanan. Menyaksikan betapa teman-teman kita telah berprestasi tinggi sehingga semangat untuk menjadi yang terbaik mendorong kita untuk melampaui pencapaian-pencapai an mereka. Dengan begitu, kita menjadi manusia yang sangat kompetitif. Permasalahan yang muncul kemudian adalah; kita sering lupa bahwa untuk melampaui kinerja orang lain, kita perlu mengindahkan etika. Bahwa dalam berkompetisi ada rambu-rambu yang perlu kita ikuti. Jika tidak, maka kita akan melakukan 'cara apa saja' demi meraih gelar manusia terbaik itu. Mengapa manusia seperti kita sering terjebak pada situasi seperti itu?

Itu karena kita cenderung menganggap konsepsi menjadi yang terbaik itu sebagai sebuah gagasan untuk membanding-bandingk an diri kita dengan orang lain. Kita merasa berkewajiban untuk menjadi 'lebih' dari orang lain. Jika teman-teman kita di kantor pada rajin, maka 'be the best' secara salah kaprah berarti; 'lebih rajin daripada orang lain'. Jika orang lain pintar, maka kita mesti 'lebih' pintar dari orang itu. Jika orang lain hebat, maka kita harus 'lebih' hebat darinya. Maka, akhirnya kita terjebak pada proses pengejaran orang lain, atau berlari meninggalkan mereka dibelakang. Tetapi, apakah salah jika kita mempunyai sifat kompetitif seperti itu? Mungkin tidak salah. Namun, kita sering menjadi tidak sadar bahwa hidup kita menjadi sekedar berkutat pada perlombaan tak berkesudahan itu.

Memangnya apa pasal jika demikian? Kelihatannya memang tidak ada persoalan. Namun, jika kita tilik lebih dekat, semangat kompetitif itu merupakan salah satu sumber kecemasan manusia modern. Orang bisa tidak tidur nyenyak hanya gara-gara temannya dikantor mendapatkan rating appraisal lebih baik dari dirinya. Orang bisa gelisah hanya gara-gara orang lain hampir menyaingi dirinya dalam suatu tugas tertentu. Pendek kata, para mediocre berpusing ria untuk bisa melampaui orang-orang hebat. Sedangkan orang-orang hebat berdebar jantung karena tiba-tiba saja mereka mendapati para pendatang baru menunjukkan potensi untuk menjadi pesaing handal dimasa depan.

Itulah sebabnya, dijaman ini kita sering menemukan orang yang berusaha mati-matian menghambat pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Ada pula yang begitu protektif kepada kedudukannya. Atau, mereka yang begitu pelit untuk sekedar berbagi ilmu kepada koleganya. Karena, mereka tahu bahwa orang-orang disekitarnya mempelajari sesuatu untuk menjadi ancaman dikemudian hari. Dan kita tahu bahwa semua itu dibahanbakari oleh sebuah konsepsi yang keliru tentang 'being the best'. Mengapa saya harus menolong orang lain untuk menjadi 'the best'? Bukankah jika dia menjadi 'the best' maka itu berarti bahwa mungkin saya sudah tidak the best lagi?

Sesungguhnya menjadi 'the best' itu adalah sebuah perjalanan pribadi. Bukan perjalanan yang melibatkan orang lain. Dan itu berarti bahwa sama sekali tidak ada hubungan antara 'menjadi yang terbaik' dengan melampaui orang lain. Lho, kok begitu? Ya memang begitu. Sebab, menjadi yang terbaik itu seharusnya diletakkan pada konteks 'menjadi manusia terbaik sesuai dengan kapasitas diri sesungguhnya' . Dengan begitu, kita tidak akan terlampau pusing apakah orang lain lebih baik dari kita atau tidak. Sebab, jika kita sudah menjadi yang terbaik sesuai dengan kapasitas diri kita, maka kekhawatiran itu mesti tidak ada lagi.

Teman anda mengatakan bahwa dia bisa melakukan ini dan itu, sedangkan anda tidak. Jika anda menempatkan konsep 'be the best' secara keliru, maka Anda akan panas mendengarnya. Lalu anda mati-matian berusaha agar bisa melakukan hal yang sama, atau mungkin juga anda melakukan sesuatu agar saingan anda tidak lagi bisa melakukan hal itu. Sebaliknya, dengan konsepsi yang benar; anda akan menerima kenyataan bahwa memang orang itu bisa melakukan ini dan itu. Tetapi, anda sendiripun sadar bahwa ada banyak hal lain yang anda bisa lakukan tetapi orang itu tidak. Benarkah? Tentu benar. Karena, kita percaya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan itu berarti, kita mengakui kalau orang lain memiliki kelebihan dari kita. Jadi, kita tidak akan panas hati ketika ada orang mengkalim diri lebih baik dari kita. Dan itu juga berarti kita menyadari bahwa kita memiliki kelebihan dari orang lain. Jadi, meskipun mereka lebih dalam hal-hal tertentu, kita juga pasti lebih dalam hal lain. Juga berarti bahwa meskipun anda hebat dalam hal-hal tertentu, anda bersedia menerima kenyataan bahwa orang lain lebih baik dari anda dalam hal lain.

Dengan konsepsi itu juga, kita bisa membebaskan diri dari sebuah persaingan penuh kecemasan seperti itu. Persaingan yang sering menjebak kita untuk melakukan tindakan-tindakan tidak sportif, atau memaksakan diri melakukan sesuatu yang sesungguhnya diluar kemampuan kita. Sebaliknya, konsepsi itulah yang bisa membawa kita kepada dua hal, yaitu; (1) ikut senang atas kehebatan dan keunggulan orang lain, dan (2) bersemangat untuk menemukan 'hal terbaik' apa yang bisa kita temukan dalam hidup kita. Sehingga, kita berkesempatan untuk mengakui fitrah Tuhan tentang kenyataan bahwa; setiap manusia itu dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan kita bisa mengikuti apa yang Tuhan inginkan, yaitu; saling melengkapi satu sama lain.

ditulis :Dadang Kadarusman
dari milis motivasi

Sunday, March 08, 2009

Aku Sakit Kau Tak Menjengukku

Pada saat heningnya malam itu, kawan saya tiba-tiba bertemu dengan Nabi
Muhammad. Ia kaget setengah mati. Bahkan sangat canggung sikapnya.
Barangkali takut, atau, lebih tepat, ia dihinggapi semacam rasa pekewuh yang
amat merepotkan hatinya.

“Nah, sahabatku,” berkata Nabi. “Kamu sebenarnya sayang sama aku atau tidak,
sih?”

Agak gelagapan kawan saya menjawab pertanyaan Nabi.

“Sayang sih, sayang wahai Nabi….”

“Kenapa kamu tidak pernah ingat aku? Kenapa kamu tidak pernah menyebut
namaku?”

“Aduh, Nabi, gimana yaaa, …”
Ia gemetar, “bukannya tidak cinta. Tapi mana sempat, ya, Nabi. Waktuku
terkuras habis, bahkan kurang, untuk mengingat-ingat Allah. Juga tak ada
lagi ruang bagi yang selain Ia. Mulutku, darah dan urat syarafku, hati dan
jiwaku seakan sudah hilang lenyap. Tinggal Allah. Allaaah melulu….”

Sungguh tidak enak rasanya. Kawan saya merasa posisinya sangat ruwet.
Sebetulnya ia ingin menjelaskan lebih panjang lebar lagi, tapi mungkinkah
Kanjeng Nabi Muhammad, Rasul Sakti pamungkas segala derajat ilmu itu, tak
mengetahui apa yang ia ketahui? Misalnya, bukankah Muhammad sendiri yang
menganjurkan kita umat manusia tidak menumpahkan seluruh hidup mati ini
kepada yang selain Allah. Kalau bocor sedikit saja, syirik namanya. Wajah
Muhammad tidak boleh kita gambar. Bukankah itu berarti segala apa pun sirna
di hadapan Allah? Memangnya apa yang sungguh-sungguh ada selain Ia?

Pada masa mudanya kawan saya itu selalu bertanya: Mengapa orang-orang tua
selalu menganjurkan agar kita membaca shalawat Nabi dalam situasi-situasi
bahaya? Kok aneh. Kalau pesawat oleng, kalau ada dar-der-dor di sana-sini,
kalau ada bahaya mengancam, kok malah disuruh membaca shalawat yang
mendoakan keselamatan Muhammad. Padahal justru kita yang perlu selamat.
Sedangkan Muhammad sendiri sudah jelas selamat, terjaga, terpelihara,
terpilih di singgasana paling karib di sisi Allah. Akhirnya kawan saya
memperoleh penjelasan bahwa konteks bersalawat adalah keseimbangan jual beli
kita semua dengan Muhammad. Semacam take and give. Kita mendoakan Muhammad,
berarti kita “pasang radar” untuk memperoleh getaran doa Muhammad bagi
keselamatan seluruh umat-Nya. Muhammad itu agung hatinya, amat kasih kepada
semua “anak buah”-Nya di muka bumi, amat merasakan segala situasi hati kita,
duka derita kita semua.

Kawan saya itu bingung: Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini
seolah-olah hanya untuk suatu permainan birokrasi. Sudah jelas semua
manusia, bebatuan, pepohonan, angin, langit, jin druhun prayangan, tidak
bisa tidak kembali kepada-Nya, tetapi itu harus ditempuh melalui berbagai
aturan permainan sandiwara dan kode etik pengembaraan yang dahsyat di satu
pihak dan sepele di lain pihak. Maka, di tengah kegalauan rasa pusing
filosofis, permainan bahaya politik, ekonomi dan budaya, serta di tengah
simpang siur rahasia hidup yang maha tak terduga, kawan saya itu akhirnya
memutuskan untuk memusatkan diri pada Allah saja, Allah, Allaah, Allaaah
terus sampai melewati liang lahad, alam barzakh, dan seterusnya nanti.

Tiba-tiba Kanjeng Nabi Muhammad nongol… menagih cinta. Alangkah tak enak
posisi macam ini! Apa yang terjadi! Ternyata Beliau malah tertawa, “Kamu kok
kelihatan takut, sahabatku. Mengapa?”
“Aku merasa pekewuh, Nabi….”

Nabi tertawa lagi. “Mengapa pakai pekewuh segala? Mungkin kamu orang Jawa,
ya? Kamu pikir aku bakal marah atau tersinggung, ya, karena kamu tidak ada
waktu lagi untuk ingat aku?”
Kawan saya tersipu-sipu.
“Coba, apa sih bedanya kamu ingat Allah dengan ingat aku?” berkata Nabi.
“Kalau kau menumpahkan seluruh hidupmu untuk Allah, cukuplah itu, sama
saja….”

Mendadak Muhammad lenyap dari hadapannya. Kawan saya menarik napas lega.
Haihaaata! Ini pertemuan agung, pertemuan agung! Sebenarnya sudah bisa
diduga bahwa nabi anggun dari Timur Tengah itu bukan tipe manusia cerewet
atau pencemburu yang membabi buta. Ia empan papan, dan mengerti inti jagat.
Tapi diam-diam ada yang tetap mengganjal di hati kawan saya. Itu berkaitan
dengan rahasia hati yang amat diyakininya, namun belum pernah satu kali pun
ia ungkapkan, apalagi kepada manusia, baik di pasar maupun di mesjid.

Pintu rahasia itu pada akhirnya jebol, pada suatu hari, tatkala Allah
bertanya kepadanya, “Hai, sebenarnya kamu itu sayang Aku atau tidak, sih?”
Modarlah kawan saya.
Ketika ia menjawab,”Sayang sih, ya sayang….”

Tuhan terus mengejarnya, persis seperti yang dilakukan oleh Muhammad,
“Mengapa kamu tidak pernah ingat Aku?

Kenapa kamu tidak pernah menyebut nama-Ku?”
Dalam rasa takut yang amat puncak, kawan saya nekad.
“Begini, ya, Tuhan. Aku ini orang melarat. Sekolah saja tidak pernah
rampung. Kalah terus-menerus di segala persaingan, terutama dalam bidang
cari pekerjaan. Makan minumku tak menentu.

Bahkan tempat tinggalku juga selalu darurat. Padahal, aku juga tahu amat
banyak saudaraku yang sama melaratnya dengan aku, bahkan banyak yang jauh
lebih melarat. Aku juga melihat banyak hal yang tidak benar yang dilakukan
oleh penguasa-penguasa manusia dalam manajemen alam semesta ini. Dalam
persoalan ini Tuhan ‘kan jauh lebih mengerti dibandingkan dengan aku. Jadi,
aku tidak perlu omong soal kemiskinan struktural, monopoli ekonomi, atau
kebudayaan jahiliyah modern. Seandainya bisa, aku ini maunya sih, punya
tangan yang besar, panjang, dan kuat, sehingga mampu mengatasi semua problem
ketidakadilan dan ketidakbijaksanaan itu.Tapi aku, Tuhan ‘kan tahu, tidak
punya tangan.

Aku tak memiliki kaki. Darahku tak begitu merah lagi. Tulang-belulangku
tidak lebih dari hanya kayu-kayu kering. Mulutku terbungkam. Aku hanya
tinggal memiliki hati untuk menangis Tapi aku tidak boleh menangis, bukan?
Seluruh waktuku, tenagaku, hidupku, ruang usiaku terkuras habis oleh hal-hal
yang kusebutkan itu. Lalu bagaimana mungkin aku sanggup melunasi utang
cintaku kepada-Mu?

Apakah Engkau masih butuh untuk kuingat dan kusebut nama-Mu?

Aku ini lapar, kau tidak memberiku makan. Aku ini sakit, Kau tidak
menjengukku.

Aku ini kesepian, Kau tidak menyapaku…"



Allah tersenyum. Kalimat-kalimat terakhir itu adalah kata-kata-Nya sendiri.

oleh : Emha Ainun Nadjib

Dari Buku "Slilit Sang Kiai"

Thursday, March 05, 2009

Too Good To Be True

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia..."

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

"Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri.

Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir...

"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya.

"Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.

"Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang..."

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia menunduk dan menangis...

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita?
Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan
bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk...

dari milis motivasi

Monday, March 02, 2009

Belajar Mendapat Kepercayaan Tuhan

Hakikat kaya...
Ada yang bilang harta itu titipan, benar? kalau begitu bisa dibilang kekayan itu hakekatnya adalah kepercayaan. .? Yupz!
Kepercayaan Tuhan pada kita. Tuhan mengumpulkan rezeki orang lain di tangan kita. Sehinggga seolah rezeki kita lebih banyak dari orang lain. Aku pengen kaya. Mungkin kamu juga. Atau bahkan semua orang..
Dengan menjadi kaya, ladang amal kita diluaskan oleh Tuhan..
Tapi,,
Semudah itukah menjadi kaya?
"Tuhan hanya akan menitipkan sesuatu pada manusia yang Ia percayai"
Sudah terpercaya kah kita?
Sudah terujikah ke'amanah'an kita?
Sudah pantaskah kita mendapat kepercayaan Tuhan?
Jika belum,
Yuks..
Kita mulai belajar..
Untuk mendapatkan kepercayaan Tuhan..
Harta itu amanah
Anak itu amanah
Pasangn hidup itu amanah
Amanah Tuhan yang hanya Tuhan amanahkan pada orang orang yang Ia percaya mampu menjalankan amanah itn..
Kita kah????
Insyaallah. Amin

dari milis motivasi

Monday, February 23, 2009

PIANO

Seorang ayah yang memiliki putra yang
berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik
untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang
terkenal.
Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat
tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan,
untuk dirinya dan anaknya. Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum
konser dimulai, kursi telah terisi penuh. Sang ayah duduk dan putranya tepat
berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak
betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap
pergi. Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari
bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat
anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano
yang akan dimainkan pianis tersebut.

Didorong oleh rasa ingin tahu,
tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu,
lagu yang sederhana, twinkle-twinkle little star. Operator lampu sorot,
yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai
tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah
panggung. Seluruh penonton terkejut melihat yang berada di panggung bukan sang
pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas
naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah,
ia tersenyum dan berkata, "Teruslah bermain" dan sang anak yang mendapat ijin,
meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan
mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahan
permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat
indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah,
karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi besar kepala,
pikirnya, "Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!" Ia lupa bahwa
yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi
semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Kadang.. kita
bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang
telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa bahwa semua itu terjadi karena Tuhan
ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Tuhan di samping
kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Tuhan ada di samping kita,
sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik,
bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.
Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Tuhan di samping kita.

dari milis motivasi

Resep Kue Cinta

BAHAN: 1 pria sehat, 1 wanita sehat, 100% Komitmen, 2
pasang restu orang tua, 1 botol kasih sayang murni.

BUMBU: 1 balok besar humor, 25 gr rekreasi, 1 bungkus doa, 2 sendok teh
telpon-telponan, (Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang) Tips: - Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang. Jangan yang satu terlalu tua
dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan -
Sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal
tapi mutunya terjamin. - Jangan beli di pasar yang bernama
DISKOTIK atau PARTY karena walaupun
modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang
menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan. - Gunakan Kasih
sayang cap " KATRESNAN " yang telah memiliki
sertifikat ISO dari Departemen Kesehatan dan
Kerohanian.

Cara Memasak: - Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat tulus ikhlas - Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata - Masukkan niat yang murni ke dalam loyang dan panggang dengan api cinta merata sekitar 30 menit di depan penghulu atau pendeta - Biarkan di dalam loyang tadi, sirami dengan semua bumbu di atas - Kue siap
dinikmati

Catatan: Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan kasih yang hangat! Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek "Tempat Ibadah" diatas api cinta. Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan. Selamat
mencoba, dijamin halal... ! Selamat menikmati...

dari milis motivasi