Sebagian besar orang menganggap film HARRY POtter hanyalah sebuah fiksi biasa yang penuh dengan khayalan tak masuk akal. Namun, mengapa banyak orang jatuh cinta pada novel maupun filmnya?
1. Tentang cinta dan kesetiaan
Cerita Harry Potter ini tak hanya berisi tentang dunia dongeng yang dipenuhi penyihir saja, namun di dalamnya tersirat makna cinta dan kesetiaan seorang ibu kepada anaknya, sahabat kepada sahabatnya, guru kepada muridnya. Dan cinta serta kesetiaan tersebutlah yang mengikat masing-masing tokoh untuk tetap tegar menghadapi semua hal yang mengganggunya, termasuk ketika tokoh Voldemort melakukan tindak kejahatan.
2. Untuk menghargai orang lain
Bahkan di film tersebut disisipkan pesan moral yang baik agar di kehidupan nyata, kita menghargai dan tak memandang rendah orang lain. Sosok seperti profesor Snape yang tampak jahat dan penuh intrik sekalipun, masih punya sisi baik dan kesetiaan. So, don't judge a book from it's cover, dear.
3. Tentang kepandaian
Sihir itu nyata atau tidak, masih banyak orang yang meragukannya. Namun melihat tata sekolah di Hogwarts menunjukkan betapa kepandaian itu penting artinya. Bahkan untuk menjadi sosok penyihir hebat saja, dibutuhkan ketekunan dan semangat belajar. Bukan hanya ditentukan oleh nasib semata.
4. Menerima dan menghargai perbedaan
Ada penyihir dari keluarga kaya, ada penyihir yang berasal dari keluarga miskin, bahkan ada pula penyihir berdarah muggle, di mana setengah darahnya penyihir dan setengahnya manusia biasa. Di sekolah Hogwarts, mereka diajarkan untuk saling menerima perbedaan yang ada. Mereka juga diajarkan untuk saling menghormati perbedaan itu. Hal ini juga kentara jelas lewat session HARRY POTTER AND THE GOBLET OF FIRE di mana para penyihir dunia dari berbagai ras dan suku berkumpul untuk sebuah turnamen perdamaian.
5. Penyihir juga manusia
Sehebat apapun kekuatan yang dimiliki penyihir, mereka adalah makhluk yang tidak abadi dan bisa mati. Hal ini mengajarkan kita untuk tetap rendah hati, sekalipun kita adalah sosok hebat yang dielu-elukan dan selalu diistimewakan.
Aparecium! Artikel ini akan terbaca dan melekat di ingatan Anda. Mari, belajar dari semua hal kecil yang kita temui di dalam hidup kita :)
SUMBER: Agatha Yunita - kapanlagi.com
Bagi Kerabat Imelda yang ingin mendapatkan kisah-kisah yang di on-airkan dalam Inspirasi Pagi Imelda FM, silahkan untuk mengunjungi website kami di www.radioimeldafm.com .Adapun blog Inspirasi Pagi ini tidak akan mengupdate lagi kisah-kisah Inspirasi Pagi. Thanks for visiting our blog! #muchLove :)
Saturday, July 30, 2011
NILAI DIRI ANDA
Seberapa BESAR (kecil) kah NILAI DIRI Anda…?
Beberapa waktu yang lalu, sewaktu memberikan pelatihan di sebuah bank swasta terkemuka di Indonesia, saya bertemu dengan Office Boy (OB) mantan bawahan saya. Saya masih mengingatnya karena ‘performance’-nya termasuk yang di bawah rata-rata. Datang seringkali terlambat, jam 3 sore dicari seringkali sudah tidak di tempat, ketika ada tamu seringkali orangnya menghilang.
Jadi mudah bukan untuk membuat atasan mengingat anda: jadilah yang terbaik (di atas rata-rata) atau jadilah yang terburuk (di bawah rata-rata)! Karena sudah banyak orang rata-rata, makanya atasan sulit untuk mengingat.
Saya menyapanya dan bertanya tentang dirinya, pekerjaannya, keluarganya, dan kehidupannya sekarang. Mungkin sudah banyak perubahan karena sudah hampir 10 tahun kami berpisah (ketika itu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah Pasca Sarjana di Inggris).
Ternyata, I was very suprised, saat inipun dia masih bekerja sebagai seorang OB dengan penghasilan tidak beda jauh dari penghasilannya 10 tahun yang lalu.
Dia mulai berkeluh kesah: hidup ini susah, cari pekerjaan sulit, kebutuhan pokok selalu melambung padahal gaji naik hanya sedikit, atasan tidak fair (tidak pernah memberikan kesempatan), rekan kerja tidak pernah mendukung, dlsbnya.
Sebelum dia curhat lebih lama, saya menyelanya: Semua itu adalah PILIHAN anda, anda yang membuat hal-hal yang disebutkan di atas terjadi! Dia KAGET?!
Saya (S): Coba pikirkan ketika anda masih bekerja bersama saya dulu, sudahkah anda memberikan yang terbaik yang bisa anda berikan? Apakah anda berusaha untuk selalu memberikan lebih atau ketika OB lain memberikan lebih, anda mencibir dan menyebut mereka sebagai ‘penjilat’ atau orang yang tidak ‘realistis’?
Dia (OB): Tapi kan kami dibayar hanya UMR, kami berada di posisi paling bawah dalam hierarki organisasi, ngapain kami memberikan lebih dari job desc yang ada?
S: Nah itulah, ketika anda bilang ngapain memberikan lebih berarti saat itulah anda telah dinilai atau dicap tidak akan mampu untuk mengerjakan lebih dari job desc yang diberikan. Anda tidak akan pernah diberi kepercayaan lebih karena anda tidak pernah menunjukkan bahwa anda sebenarnya mampu.
OB: Tapi kami kan hanya OB, mana mungkin untuk naik jabatan. Sekali OB pensiunnya juga OB bukan?
S: Kata sapa? Apakah anda pernah bertemu dengan Tuhan dan Dia mengatakan bahwa nasib anda adalah sebagai seorang OB hingga anda pensiun? Kalau anda mau tahu, ada seorang OB seperti anda, yang pendidikannya hanya SMA, tapi dalam waktu 19 tahun bisa menjadi seorang Vice President bank asing terkemuka di Indonesia. Anda kaget?
OB: Tapi kalau saya melakukan dan memberikan lebih nanti saya disebut ‘penjilat’ atau ‘carmuk’ (cari muka) oleh rekan-rekan saya? Gimana dong?
S: Itulah yang membedakan orang rata-rata dengan orang di atas rata-rata. Orang rata-rata akan mencari alasan dan pembenaran diri untuk menyesuaikan GOAL yang ingin dicapai dengan kemampuan dirinya, sama seperti anda saat ini. Anda mencari 1001 alasan untuk membenarkan dan men-justifikasi perilaku, tindakan, dan kebiasaan anda, bahwa sebagai seorang OB ngapain bekerja dan memberikan lebih. Kan nasib anda hanya OB dan pensiun juga sebagai OB, betul bukan?
Beda dengan orang di atas rata-rata, mereka akan menyesuaikan KEMAMPUAN dengan goal yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Mereka akan terus meng-upgrade kemampuan untuk mencapai target dengan lebih cepat dan lebih baik. Mengapa anda tidak menggunakan 1001 alasan tadi untuk membantu anda untuk mencapai target atau tujuan hidup anda?
Buat 1001 alasan mengapa dan bagaimana anda harus mencapai target anda dibanding membenarkan dan men-justifikasi kenapa saya tidak berhasil!
OB: Termasuk memberikan dan mengerjakan lebih dari job desc yang diberikan?
S: Yesss! Ketika anda memberikan dan mengerjakan lebih dari nominal gaji anda yang dibayarkan berarti anda meningkatkan NILAI DIRI anda. Terus tingkatkan NILAI DIRI anda sehingga rekan kerja, atasan, bawahan, bahkan orang di luar organisasi tahu nilai diri anda! Ketika nilai diri anda luar biasa, orang lain yang akan ‘hunting’ dan memburu anda, bahkan berlomba-lomba untuk merekrut anda.
Sebaliknya ketika anda mau resign karena tidak ada kecocokan dan atasan sama sekali tidak berusaha menahan anda berarti nilai diri anda lebih rendah dibanding nomimal gaji yang dibayarkan. Ngapain atasan harus menahan anda yang di bawah rata-rata? Di luar sana ada jutaan pengangguran yang siap dan mau memberikan lebih dibanding anda.
Seorang rekan yang sewaktu bekerja di bawah pimpinan saya, terus menerus mengeluh, komplain, dan tidak puas dengan gaji yang dibayarkan serta fasilitas yang diberikan. Ketika dia resign, saya tidak menahannya. Sekarang dia sudah menganggur hampir 1 tahun. Dia mencoba untuk berusaha tetapi ternyata hasil yang diperoleh tidak mencukupi biaya hidup keluarganya. Menunjukkan apa? Bahwa ternyata gaji yang saya bayarkan saat itu melebihi nilai dirinya (over paid), bukan?!
Jadi di sini, saya hanya memprovokasi anda: kerjakanlah dan lakukanlah melebihi nominal gaji yang dibayarkan sehingga otomatis anda meningkatkan nilai diri anda! atau sebaliknya, mengambil sikap sebagai penonton, menjadi ‘komentator’ yang setia, mencibir orang lain sebagai ‘penjilat’ atau ‘tidak realistis’, dan membenarkan serta men-justifikasi perilaku, tindakan, kebiasaan, dan belief anda yang kurang bermanfaat sehingga otomatis anda menurunkan nilai diri anda!
The choice is yours!
SUMBER:Putera Lengkong - motivatorindonesia.com
Beberapa waktu yang lalu, sewaktu memberikan pelatihan di sebuah bank swasta terkemuka di Indonesia, saya bertemu dengan Office Boy (OB) mantan bawahan saya. Saya masih mengingatnya karena ‘performance’-nya termasuk yang di bawah rata-rata. Datang seringkali terlambat, jam 3 sore dicari seringkali sudah tidak di tempat, ketika ada tamu seringkali orangnya menghilang.
Jadi mudah bukan untuk membuat atasan mengingat anda: jadilah yang terbaik (di atas rata-rata) atau jadilah yang terburuk (di bawah rata-rata)! Karena sudah banyak orang rata-rata, makanya atasan sulit untuk mengingat.
Saya menyapanya dan bertanya tentang dirinya, pekerjaannya, keluarganya, dan kehidupannya sekarang. Mungkin sudah banyak perubahan karena sudah hampir 10 tahun kami berpisah (ketika itu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah Pasca Sarjana di Inggris).
Ternyata, I was very suprised, saat inipun dia masih bekerja sebagai seorang OB dengan penghasilan tidak beda jauh dari penghasilannya 10 tahun yang lalu.
Dia mulai berkeluh kesah: hidup ini susah, cari pekerjaan sulit, kebutuhan pokok selalu melambung padahal gaji naik hanya sedikit, atasan tidak fair (tidak pernah memberikan kesempatan), rekan kerja tidak pernah mendukung, dlsbnya.
Sebelum dia curhat lebih lama, saya menyelanya: Semua itu adalah PILIHAN anda, anda yang membuat hal-hal yang disebutkan di atas terjadi! Dia KAGET?!
Saya (S): Coba pikirkan ketika anda masih bekerja bersama saya dulu, sudahkah anda memberikan yang terbaik yang bisa anda berikan? Apakah anda berusaha untuk selalu memberikan lebih atau ketika OB lain memberikan lebih, anda mencibir dan menyebut mereka sebagai ‘penjilat’ atau orang yang tidak ‘realistis’?
Dia (OB): Tapi kan kami dibayar hanya UMR, kami berada di posisi paling bawah dalam hierarki organisasi, ngapain kami memberikan lebih dari job desc yang ada?
S: Nah itulah, ketika anda bilang ngapain memberikan lebih berarti saat itulah anda telah dinilai atau dicap tidak akan mampu untuk mengerjakan lebih dari job desc yang diberikan. Anda tidak akan pernah diberi kepercayaan lebih karena anda tidak pernah menunjukkan bahwa anda sebenarnya mampu.
OB: Tapi kami kan hanya OB, mana mungkin untuk naik jabatan. Sekali OB pensiunnya juga OB bukan?
S: Kata sapa? Apakah anda pernah bertemu dengan Tuhan dan Dia mengatakan bahwa nasib anda adalah sebagai seorang OB hingga anda pensiun? Kalau anda mau tahu, ada seorang OB seperti anda, yang pendidikannya hanya SMA, tapi dalam waktu 19 tahun bisa menjadi seorang Vice President bank asing terkemuka di Indonesia. Anda kaget?
OB: Tapi kalau saya melakukan dan memberikan lebih nanti saya disebut ‘penjilat’ atau ‘carmuk’ (cari muka) oleh rekan-rekan saya? Gimana dong?
S: Itulah yang membedakan orang rata-rata dengan orang di atas rata-rata. Orang rata-rata akan mencari alasan dan pembenaran diri untuk menyesuaikan GOAL yang ingin dicapai dengan kemampuan dirinya, sama seperti anda saat ini. Anda mencari 1001 alasan untuk membenarkan dan men-justifikasi perilaku, tindakan, dan kebiasaan anda, bahwa sebagai seorang OB ngapain bekerja dan memberikan lebih. Kan nasib anda hanya OB dan pensiun juga sebagai OB, betul bukan?
Beda dengan orang di atas rata-rata, mereka akan menyesuaikan KEMAMPUAN dengan goal yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Mereka akan terus meng-upgrade kemampuan untuk mencapai target dengan lebih cepat dan lebih baik. Mengapa anda tidak menggunakan 1001 alasan tadi untuk membantu anda untuk mencapai target atau tujuan hidup anda?
Buat 1001 alasan mengapa dan bagaimana anda harus mencapai target anda dibanding membenarkan dan men-justifikasi kenapa saya tidak berhasil!
OB: Termasuk memberikan dan mengerjakan lebih dari job desc yang diberikan?
S: Yesss! Ketika anda memberikan dan mengerjakan lebih dari nominal gaji anda yang dibayarkan berarti anda meningkatkan NILAI DIRI anda. Terus tingkatkan NILAI DIRI anda sehingga rekan kerja, atasan, bawahan, bahkan orang di luar organisasi tahu nilai diri anda! Ketika nilai diri anda luar biasa, orang lain yang akan ‘hunting’ dan memburu anda, bahkan berlomba-lomba untuk merekrut anda.
Sebaliknya ketika anda mau resign karena tidak ada kecocokan dan atasan sama sekali tidak berusaha menahan anda berarti nilai diri anda lebih rendah dibanding nomimal gaji yang dibayarkan. Ngapain atasan harus menahan anda yang di bawah rata-rata? Di luar sana ada jutaan pengangguran yang siap dan mau memberikan lebih dibanding anda.
Seorang rekan yang sewaktu bekerja di bawah pimpinan saya, terus menerus mengeluh, komplain, dan tidak puas dengan gaji yang dibayarkan serta fasilitas yang diberikan. Ketika dia resign, saya tidak menahannya. Sekarang dia sudah menganggur hampir 1 tahun. Dia mencoba untuk berusaha tetapi ternyata hasil yang diperoleh tidak mencukupi biaya hidup keluarganya. Menunjukkan apa? Bahwa ternyata gaji yang saya bayarkan saat itu melebihi nilai dirinya (over paid), bukan?!
Jadi di sini, saya hanya memprovokasi anda: kerjakanlah dan lakukanlah melebihi nominal gaji yang dibayarkan sehingga otomatis anda meningkatkan nilai diri anda! atau sebaliknya, mengambil sikap sebagai penonton, menjadi ‘komentator’ yang setia, mencibir orang lain sebagai ‘penjilat’ atau ‘tidak realistis’, dan membenarkan serta men-justifikasi perilaku, tindakan, kebiasaan, dan belief anda yang kurang bermanfaat sehingga otomatis anda menurunkan nilai diri anda!
The choice is yours!
SUMBER:Putera Lengkong - motivatorindonesia.com
THE POWER OF FOCUS
Di suatu kesempatan, ada seseorang bertanya kepada saya : "Pak, mengapa hidup saya ini semakin berat?". "Wow", itu adalah suara dalam hati saya. Jujur saya terkejut karena 2 hal. Pertama, saya tidak mengenal orang itu dan mungkin saja orang itu tidak mengenal saya. Kedua, mengapa orang itu tiba-tiba bertanya kepada saya padahal disana terdapat banyak orang.
Dalam kesempatan itu, segera saya mengilustrasikannya demikian. "Pernahkah Anda mengangkat sebuah barbel 2kg? Bagaimana rasanya?". Orang itu menjawab, "Ringan". Sambil tersenyum saya berkata : "Great. Cobalah Anda angkat barbel ringan itu setiap hari mulai hari ini hingga satu minggu ke depan setelah itu temuilah saya".
Seminggu kemudian orang itu benar-benar menemui saya dan mengatakan, "Pak, barbel itu terasa semakin berat". "Oya?", tanya saya. "Ya Pak, sangat terasa berat". Mengapa barbel 2 kg itu semakin hari semakin berat? Tentu bukan barbelnya yang memiliki berat bertambah, namun sebaliknya kemampuan Anda yang semakin hari justru sama atau bahkan semakin berkurang tanpa Anda sadari sehingga seolah-olah barbel yang sama memiliki berat yang berbeda.
Hal yang ingin saya simpulkan dari ilustrasi diatas adalah bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa didalam perjalanan mereka semakin hari mereka semakin terpendam dengan rutinitas mereka sehingga hidup menjadi semakin berat, berat dan bertambah berat. Mengapa hal itu terjadi? Mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya? Hal itu terjadi karena kebanyakan orang berfokus kepada sesuatu yang salah sekalipun mereka sadar hal itu salah. Perhatikanlah, jika orang itu berfokus kepada seberapa besar kekuatan yang ia akan dapatkan setelah mengangkat barbel itu dengan rutin selama satu minggu maka ia tidak akan mengatakan barbel itu semakin berat. Barbel itu semakin berat karena orang itu berfokus justru kepada beban yang ia harus angkat setiap hari yang tanpa disadari fokusnya menyebabkan kekuatannya tidak bertumbuh.
Demikian halnya dengan diri kita. Rutinitas kita disadari atau tidak sangat mungkin sekali membenamkan kemampuan kita untuk tumbuh. Namun, sadarilah bahwa cara yang sama hanya akan menghasilkan suatu hasil yang sama. Jika Anda menginginkan hasil yang berbeda maka Anda harus menggunakan cara yang berbeda. Anda harus "Change" dan setelah itu Anda "Growth". Anda tidak akan tumbuh selama Anda tidak merubah fokus Anda.
SUMBER: Davit Setiawan - motivatorindonesia.com
Dalam kesempatan itu, segera saya mengilustrasikannya demikian. "Pernahkah Anda mengangkat sebuah barbel 2kg? Bagaimana rasanya?". Orang itu menjawab, "Ringan". Sambil tersenyum saya berkata : "Great. Cobalah Anda angkat barbel ringan itu setiap hari mulai hari ini hingga satu minggu ke depan setelah itu temuilah saya".
Seminggu kemudian orang itu benar-benar menemui saya dan mengatakan, "Pak, barbel itu terasa semakin berat". "Oya?", tanya saya. "Ya Pak, sangat terasa berat". Mengapa barbel 2 kg itu semakin hari semakin berat? Tentu bukan barbelnya yang memiliki berat bertambah, namun sebaliknya kemampuan Anda yang semakin hari justru sama atau bahkan semakin berkurang tanpa Anda sadari sehingga seolah-olah barbel yang sama memiliki berat yang berbeda.
Hal yang ingin saya simpulkan dari ilustrasi diatas adalah bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa didalam perjalanan mereka semakin hari mereka semakin terpendam dengan rutinitas mereka sehingga hidup menjadi semakin berat, berat dan bertambah berat. Mengapa hal itu terjadi? Mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya? Hal itu terjadi karena kebanyakan orang berfokus kepada sesuatu yang salah sekalipun mereka sadar hal itu salah. Perhatikanlah, jika orang itu berfokus kepada seberapa besar kekuatan yang ia akan dapatkan setelah mengangkat barbel itu dengan rutin selama satu minggu maka ia tidak akan mengatakan barbel itu semakin berat. Barbel itu semakin berat karena orang itu berfokus justru kepada beban yang ia harus angkat setiap hari yang tanpa disadari fokusnya menyebabkan kekuatannya tidak bertumbuh.
Demikian halnya dengan diri kita. Rutinitas kita disadari atau tidak sangat mungkin sekali membenamkan kemampuan kita untuk tumbuh. Namun, sadarilah bahwa cara yang sama hanya akan menghasilkan suatu hasil yang sama. Jika Anda menginginkan hasil yang berbeda maka Anda harus menggunakan cara yang berbeda. Anda harus "Change" dan setelah itu Anda "Growth". Anda tidak akan tumbuh selama Anda tidak merubah fokus Anda.
SUMBER: Davit Setiawan - motivatorindonesia.com
WHO YOU ARE?
Kurang lebih dua tahun yang lalu, ada pengalaman yang sangat menarik. Entah mengapa pengalaman ini begitu menarik bagi saya dan dorongan untuk mensharingkan kepada Anda begitu kuat dalam diri saya. Harapan saya semoga, tulisan ini mampu memberikan refleksi bagi Anda.
Saat saya bekerja di sebuah perusahaan, mayoritas karyawan disana selalu mengeluh. Dan setelah saya amati, ternyata "budaya" mengeluh telah mendarah daging. Hampir setiap saat terdengar keluhan dan sejenisnya disana. Pada suatu kesempatan tertentu, ada seorang teman saya yang berkata kepada saya, "Hey... kamu masuk ke perusahaan yang salah. Jangan bekerja disini, gajinya kecil". Tahukah Anda saat itu apa yang terbesit dalam pikiran saya? Saya justru tidak menganggap serius perkataan teman saya itu, melainkan saya menangkap isyarat yang sebenarnya bahwa teman saya sedang menunjukkan bentuk aslinya yakni seperti apa dia saat ini. Tepat sekali, saya langsung mendapatkan jawabannya, "Gaji dia pasti kecil". Setujukah Anda dengan saya?
Menurut Anda, apa tanggapan saya terhadap pernyataan teman saya itu? Saya berkata : "Itu kan nasibmu. Aku punya nasib yang berbeda". Tahukah Anda bahwa setelah percakapan itu, keyakinan saya semakin berkobar bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya itu bukanlah meredupkan semangat saya tetapi perkataan itu justru meledakkan saya untuk bekerja lebih baik lagi. Tidak lama berselang kurang lebih enam bulan, saya di promosikan. Bersamaan dengan promosi itu tentu kesejahteraan meningkat. Saya tidak ingin menunjukkan berapa gaji saya, tetapi saya telah membuktikan kepada teman saya bahwa apa yang menjadi keyakinannya selama ini adalah salah.
Dalam hidup ini, boleh saja orang lain menganggap remeh Anda. tetapi hal yang jauh lebih penting adalah jangan sekali-kali Anda meremehkan diri Anda sendiri. Anda harus mempunyai keyakinan yang kuat terhadap kesuksesan Anda karena jika Anda tidak yakin, bagaimana mungkin Anda bisa mencapainya? Nelson Mandela pemimpin Afrika Selatan yang di penjara puluhan tahun karena apartheid kala itu menggoreskan sebuah kalimat yang sangat dahsyat, "Saya telah menemukan sebuah rahasia besar, bahwa setelah mendaki sebuah bukit besar, seseorang hanya akan menemukan bahwa masih banyak bukit yang harus didaki". Pernyataan itu sangatlah tepat bahwa rahasia besar dalam diri Anda merupakan bukit-bukit yang harus Anda daki dan kemudian Anda akan melihat bahwa ada banyak bukit-bukit lagi membentang setelah Anda berada di atas bukit itu. Teman saya yang mengatakan hal pesimis itu belumlah berada diatas bukit yang ia daki. Ia masih berada jauh di bawah bukit itu sehingga ia tidak melihat dengan jelas keindahan bukit-bukit yang lain diluar sana. Selalu Ada jalan untuk melakukan yang lebih baik. Jangan pernah meremehkan diri Anda sendiri.Thomas Alva Edison berkata "Selalu ada jalan untuk melakukan yang lebih baik. Temukanlah!!!"
SUMBER: Davit Setiawan - motivatorindonesia.com
Saat saya bekerja di sebuah perusahaan, mayoritas karyawan disana selalu mengeluh. Dan setelah saya amati, ternyata "budaya" mengeluh telah mendarah daging. Hampir setiap saat terdengar keluhan dan sejenisnya disana. Pada suatu kesempatan tertentu, ada seorang teman saya yang berkata kepada saya, "Hey... kamu masuk ke perusahaan yang salah. Jangan bekerja disini, gajinya kecil". Tahukah Anda saat itu apa yang terbesit dalam pikiran saya? Saya justru tidak menganggap serius perkataan teman saya itu, melainkan saya menangkap isyarat yang sebenarnya bahwa teman saya sedang menunjukkan bentuk aslinya yakni seperti apa dia saat ini. Tepat sekali, saya langsung mendapatkan jawabannya, "Gaji dia pasti kecil". Setujukah Anda dengan saya?
Menurut Anda, apa tanggapan saya terhadap pernyataan teman saya itu? Saya berkata : "Itu kan nasibmu. Aku punya nasib yang berbeda". Tahukah Anda bahwa setelah percakapan itu, keyakinan saya semakin berkobar bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya itu bukanlah meredupkan semangat saya tetapi perkataan itu justru meledakkan saya untuk bekerja lebih baik lagi. Tidak lama berselang kurang lebih enam bulan, saya di promosikan. Bersamaan dengan promosi itu tentu kesejahteraan meningkat. Saya tidak ingin menunjukkan berapa gaji saya, tetapi saya telah membuktikan kepada teman saya bahwa apa yang menjadi keyakinannya selama ini adalah salah.
Dalam hidup ini, boleh saja orang lain menganggap remeh Anda. tetapi hal yang jauh lebih penting adalah jangan sekali-kali Anda meremehkan diri Anda sendiri. Anda harus mempunyai keyakinan yang kuat terhadap kesuksesan Anda karena jika Anda tidak yakin, bagaimana mungkin Anda bisa mencapainya? Nelson Mandela pemimpin Afrika Selatan yang di penjara puluhan tahun karena apartheid kala itu menggoreskan sebuah kalimat yang sangat dahsyat, "Saya telah menemukan sebuah rahasia besar, bahwa setelah mendaki sebuah bukit besar, seseorang hanya akan menemukan bahwa masih banyak bukit yang harus didaki". Pernyataan itu sangatlah tepat bahwa rahasia besar dalam diri Anda merupakan bukit-bukit yang harus Anda daki dan kemudian Anda akan melihat bahwa ada banyak bukit-bukit lagi membentang setelah Anda berada di atas bukit itu. Teman saya yang mengatakan hal pesimis itu belumlah berada diatas bukit yang ia daki. Ia masih berada jauh di bawah bukit itu sehingga ia tidak melihat dengan jelas keindahan bukit-bukit yang lain diluar sana. Selalu Ada jalan untuk melakukan yang lebih baik. Jangan pernah meremehkan diri Anda sendiri.Thomas Alva Edison berkata "Selalu ada jalan untuk melakukan yang lebih baik. Temukanlah!!!"
SUMBER: Davit Setiawan - motivatorindonesia.com
Menentukan Pilihan
Suatu hari, terjadilah bencana banjir di sebuah kota. Hujan besar disertai angin kencang yang datangnya tiba-tiba itu telah memporakporandakan banyak harta benda penduduk dan membawa korban nyawa yang tidak sedikit jumlahnya.
Di antara korban bencana di sana, terdapat seorang pemuda yang berhasil menyelamatkan istrinya tetapi sayangnya setelah usahanya menyelamatkan istrinya berhasil, anaknya yang masih balita tidak sempat tertolong, terseret arus, dan akhirnya ditemukan telah meninggal dunia.
Atas kejadian itu, terjadi silang pendapat di antara penduduk yang selamat. Satu pihak menyatakan perbuatan suami yang menyelamatkan istrinya terlebih dahulu adalah hebat dan benar. Menurut mereka, lebih penting menyelamatkan istri. Mengenai anak, menurut mereka, toh nanti pasangan itu bisa dikaruniai putra atau putri lagi. Pokoknya, mereka mendukung pilihan ayah muda itu.
Di pihak yang berseberangan, mereka menyalahkan keputusan si pemuda yang membiarkan anaknya terseret arus dan akhirnya meninggal dunia. Bagi mereka, anak adalah karunia Tuhan yang dititipkan kepada kita, yang tidak boleh disia-siakan dan harus kita pelihara dengan sebaik-baiknya. Jika istri yang meninggal, kan bisa cari istri lagi?
Akhirnya mereka beramai-ramai ingin mendengar langsung dari si pemuda, apa alasan dia memutuskan menolong istrinya dan bukan anaknya terlebih dahulu?
Dengan raut muka menyimpan duka dan mata yang berkaca-kaca, si pemuda dengan suara bergetar menjawab, "Saat air datang dengan tiba-tiba, saya terlempar dan terbawa arus yang deras. Situasi yang seperti itu, tolong dijawab, apakah ada kesempatan bagi saya untuk menentukan pilihan antara menolong istri atau anakku terlebih dahulu? Yang ada di dekat saya waktu itu adalah istriku, maka serta merta saya pun menangkap tangannya dan membawanya pergi dari situ. Saat saya menoleh kembali ke tempat anakku, dia sudah terseret arus dan saya tidak mampu menjangkaunya.
Kalau saya diberi waktu untuk menimbang dalam menentukan pilihan, mungkin saat ini saya telah kehilangan kedua orang yang sama-sama saya cintai. Tolong jangan hakimi saya. Biarlah saya sendiri yang menanggung kesedihan dan perasaan yang bersalah. Karena saya tidak mampu melindungi keluarga dari bencana yang membuat kami kehilangan putra kesayangan kami."
Pada saat situasi darurat, kadang manusia tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir dan memilih yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, banyak pula manusia yang terlalu banyak berpikir, menimbang, dan selalu ragu dalam menentukan pilihan sehingga mereka kehilangan kesempatan yang datang di hadapannya.
Maka pada saat kesempatan datang menghampiri, tangkap dan jangan lewatkan karena mungkin dia tidak akan datang kembali. Entah kapankesempatan datang. Yang utama adalah sikap mental kita dalam menyiapkannya.
Jangan terlalu memilih-milih pekerjaan apa yang ingin Anda kerjakan, tetapi pastikan Anda mengerjakan setiap pekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuh semangat, dan keyakinan.
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Di antara korban bencana di sana, terdapat seorang pemuda yang berhasil menyelamatkan istrinya tetapi sayangnya setelah usahanya menyelamatkan istrinya berhasil, anaknya yang masih balita tidak sempat tertolong, terseret arus, dan akhirnya ditemukan telah meninggal dunia.
Atas kejadian itu, terjadi silang pendapat di antara penduduk yang selamat. Satu pihak menyatakan perbuatan suami yang menyelamatkan istrinya terlebih dahulu adalah hebat dan benar. Menurut mereka, lebih penting menyelamatkan istri. Mengenai anak, menurut mereka, toh nanti pasangan itu bisa dikaruniai putra atau putri lagi. Pokoknya, mereka mendukung pilihan ayah muda itu.
Di pihak yang berseberangan, mereka menyalahkan keputusan si pemuda yang membiarkan anaknya terseret arus dan akhirnya meninggal dunia. Bagi mereka, anak adalah karunia Tuhan yang dititipkan kepada kita, yang tidak boleh disia-siakan dan harus kita pelihara dengan sebaik-baiknya. Jika istri yang meninggal, kan bisa cari istri lagi?
Akhirnya mereka beramai-ramai ingin mendengar langsung dari si pemuda, apa alasan dia memutuskan menolong istrinya dan bukan anaknya terlebih dahulu?
Dengan raut muka menyimpan duka dan mata yang berkaca-kaca, si pemuda dengan suara bergetar menjawab, "Saat air datang dengan tiba-tiba, saya terlempar dan terbawa arus yang deras. Situasi yang seperti itu, tolong dijawab, apakah ada kesempatan bagi saya untuk menentukan pilihan antara menolong istri atau anakku terlebih dahulu? Yang ada di dekat saya waktu itu adalah istriku, maka serta merta saya pun menangkap tangannya dan membawanya pergi dari situ. Saat saya menoleh kembali ke tempat anakku, dia sudah terseret arus dan saya tidak mampu menjangkaunya.
Kalau saya diberi waktu untuk menimbang dalam menentukan pilihan, mungkin saat ini saya telah kehilangan kedua orang yang sama-sama saya cintai. Tolong jangan hakimi saya. Biarlah saya sendiri yang menanggung kesedihan dan perasaan yang bersalah. Karena saya tidak mampu melindungi keluarga dari bencana yang membuat kami kehilangan putra kesayangan kami."
Pada saat situasi darurat, kadang manusia tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir dan memilih yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, banyak pula manusia yang terlalu banyak berpikir, menimbang, dan selalu ragu dalam menentukan pilihan sehingga mereka kehilangan kesempatan yang datang di hadapannya.
Maka pada saat kesempatan datang menghampiri, tangkap dan jangan lewatkan karena mungkin dia tidak akan datang kembali. Entah kapankesempatan datang. Yang utama adalah sikap mental kita dalam menyiapkannya.
Jangan terlalu memilih-milih pekerjaan apa yang ingin Anda kerjakan, tetapi pastikan Anda mengerjakan setiap pekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuh semangat, dan keyakinan.
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Meniru Kesabaran Bunga Sepatu
Pada suatu masa, di sebuah desa, seorang ibu sedang menunggu kedatangannya puterinya yang bekerja. Ibu itu adalah seorang wanita yang telah kehilangan suaminya sakit bertahun-tahun yang lalu. Pendapatan keluarga hanya didapat dari anak perempuannya yang bekerja di kota dan pulang setiap akhir pekan. Sekalipun puterinya bekerja, kehidupan ekonomi mereka tak kunjung membaik.
Saat malam akan menjelang, puterinya tiba di rumah dengan wajah yang sangat lelah dan tampak gusar. Melihat wajah yang tidak biasa itu, sang ibu menanyakan kepada puterinya.
"Anakku, ada apa? Mengapa wajahmu tampak sedih dan gusar?" tanya si ibu.
Anak perempuan itu menghela napas panjang lalu mengatakan, "Ibu, aku lelah sekali. Aku tidak habis pikir mengapa hidupku sangat malang. Aku selalu bekerja keras, selalu menunjukkan apa yang aku bisa, aku bahkan selalu mengorbankan banyak hal untuk pekerjaanku. Tetapi tidak ada yang memuji pekerjaanku, mereka bahkan sering mengejek dan mengatakan aku tidak akan bisa mencapai hasil terbaik dalam pekerjaanku," dua tetes air mata mengalir di pipi anak perempuan itu.
Sang ibu mengusap rambut anak perempuannya dengan sayang. "Anakku, jangan pernah mengharap orang lain untuk selalu memuji apa yang sedang engkau kerjakan,"
"Maksud ibu?" tanya sang anak tak mengerti.
"Coba kau lihat bunga sepatu yang tumbuh di halaman belakang rumah kita. Dulu, saat kau masih kecil, tidak ada yang menanam pohon bunga sepatu di sana, dia tiba-tiba tumbuh dan semua orang membiarkannya tumbuh tanpa memberi pupuk atau menyiram." ujar si ibu.
Anak perempuannya hanya mendengarkan.
"Tidak ada yang peduli pada bunga sepatu itu, hingga pada masa dia berbunga, semua orang akan mengagumi betapa indah kelopak-kelopaknya. Bahkan tidak sedikit yang berebut untuk memetiknya," lanjut si ibu sambil tersenyum. "Anakku, orang lain mungkin tidak peduli dengan apa yang kamu kerjakan sekarang, tetapi jangan menyerah dan selalu berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan bunga sepatu. Dia selalu bersabar dan memberikan yang terbaik sekalipun orang-orang tidak peduli padanya."
Anak perempuan itu langsung memeluk ibunya sambil menangis karena telah merasa keliru dan menyesal telah menangisi kesabaran dan kerja keras yang sudah dia lakukan. "Aku berjanji akan memberikan yang terbaik," ujarnya.
Kerabat Imelda, sekalipun banyak hal yang menjadi penghalang dalam pencapaian usaha kita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Selalu berikan yang terbaik, maka suatu saat, akan banyak orang yang melihat betapa indah hasil kerja keras kita, seperti kelopak bunga sepatu yang cantik. Kelopak yang mekar sekalipun tidak ada yang peduli dengannya.
SUMBER:kapanlagi.com
Saat malam akan menjelang, puterinya tiba di rumah dengan wajah yang sangat lelah dan tampak gusar. Melihat wajah yang tidak biasa itu, sang ibu menanyakan kepada puterinya.
"Anakku, ada apa? Mengapa wajahmu tampak sedih dan gusar?" tanya si ibu.
Anak perempuan itu menghela napas panjang lalu mengatakan, "Ibu, aku lelah sekali. Aku tidak habis pikir mengapa hidupku sangat malang. Aku selalu bekerja keras, selalu menunjukkan apa yang aku bisa, aku bahkan selalu mengorbankan banyak hal untuk pekerjaanku. Tetapi tidak ada yang memuji pekerjaanku, mereka bahkan sering mengejek dan mengatakan aku tidak akan bisa mencapai hasil terbaik dalam pekerjaanku," dua tetes air mata mengalir di pipi anak perempuan itu.
Sang ibu mengusap rambut anak perempuannya dengan sayang. "Anakku, jangan pernah mengharap orang lain untuk selalu memuji apa yang sedang engkau kerjakan,"
"Maksud ibu?" tanya sang anak tak mengerti.
"Coba kau lihat bunga sepatu yang tumbuh di halaman belakang rumah kita. Dulu, saat kau masih kecil, tidak ada yang menanam pohon bunga sepatu di sana, dia tiba-tiba tumbuh dan semua orang membiarkannya tumbuh tanpa memberi pupuk atau menyiram." ujar si ibu.
Anak perempuannya hanya mendengarkan.
"Tidak ada yang peduli pada bunga sepatu itu, hingga pada masa dia berbunga, semua orang akan mengagumi betapa indah kelopak-kelopaknya. Bahkan tidak sedikit yang berebut untuk memetiknya," lanjut si ibu sambil tersenyum. "Anakku, orang lain mungkin tidak peduli dengan apa yang kamu kerjakan sekarang, tetapi jangan menyerah dan selalu berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan bunga sepatu. Dia selalu bersabar dan memberikan yang terbaik sekalipun orang-orang tidak peduli padanya."
Anak perempuan itu langsung memeluk ibunya sambil menangis karena telah merasa keliru dan menyesal telah menangisi kesabaran dan kerja keras yang sudah dia lakukan. "Aku berjanji akan memberikan yang terbaik," ujarnya.
Kerabat Imelda, sekalipun banyak hal yang menjadi penghalang dalam pencapaian usaha kita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Selalu berikan yang terbaik, maka suatu saat, akan banyak orang yang melihat betapa indah hasil kerja keras kita, seperti kelopak bunga sepatu yang cantik. Kelopak yang mekar sekalipun tidak ada yang peduli dengannya.
SUMBER:kapanlagi.com
KEHILANGAN KOIN TUA
Dalam kehidupan ini ada beragam cara seseorang menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang di adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns ini,bisa memberikan inspirasi.
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok dan tua," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok dan tua yang kutemukan tadi pagi".
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN TUHAN. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
SUMBER:Haryanto Kandani - motivatorindonesia.com
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok dan tua," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok dan tua yang kutemukan tadi pagi".
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN TUHAN. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
SUMBER:Haryanto Kandani - motivatorindonesia.com
Nilai Kehidupan
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.
"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".
Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.
Teman-teman yang luar biasa,
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.
Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.
"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".
Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.
Teman-teman yang luar biasa,
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.
Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Jam Tangan Yang Hilang
Di sebuah desa, terdapat sebuah tempat pemotongan kayu. Di sana, para pria bekerja untuk memotong kayu-kayu yang sangat besar menjadi kayu yang lebih kecil dan bisa dijadikan berbagai benda dan aksesoris rumah tangga. Pada hari yang cerah, seorang tukang potong kayu kehilangan jam tangannya. Dia yakin jam tangan itu terjatuh di atas tumpukan serbuk kayu yang menggunung di bagian lantai tempat pemotongan kayu.
Suasana menjadi ramai. Para pekerja yang lain membantu mencari jam tangan itu. Mereka tahu bahwa sang tukang kayu yang kehilangan jam tangan mendapatkan benda tersebut dari putera semata wayangnya yang bekerja di kota. Menghilangkan benda tersebut tentu akan membuat sang putera kecewa karena ayahnya tidak bisa menjaga benda mahal itu dengan baik. Semua orang mencari, tetapi hingga siang, jam tangan itu tidak ditemukan.
Pada saat jam makan siang, para pekerja ke luar untuk mencari makan. Beberapa di antara mereka menghibur pemotong kayu yang kehilangan jam tangannya, tetapi dia tetap murung dan menyesal karena memakai jam tangan itu saat bekerja. Dia tidak berselera menghabiskan makan siangnya, sehingga dia kembali ke dalam tempat pemotongan kayu untuk mencari jam tangan itu sekali lagi.
Tanpa disadari, di dalam tempat pemotongan kayu ada seorang anak laki-laki yang memberikan sebuah jam tangan pada tukang kayu tersebut. Itu adalah jam tangan yang hilang. Sang pemotong kayu tentu senang dan menanyakan pada anak kecil tersebut, bagaimana dia bisa menemukannya sementara para pekerja telah mencari jam tangan tersebut sepanjang pagi dan tidak menemukannya.
Anak kecil itu menjawab, "Saya hanya diam saja saat Anda kehilangan jam tangan itu dan saat orang-orang mencarinya. Saya menunggu hingga kalian semua meninggalkan tempat ini. Dengan begitu saya dapat menemukan jam tangan Anda hanya dengan mendengar suara tik tok tik tok,"Pria itu tersenyum dan berterima kasih pada anak laki-laki yang memang sering membantu para pekerja untuk menumpuk kayu yang telah di potong.
Kerabat Imelda...saat masalah datang, rasa panik seringkali melanda. Tidak jarang kita meminta bantuan dari banyak pihak dan mereka tidak keberatan untuk membantu kita. Hanya saja, seringkali menyelesaikan masalah bersama-sama dan tanpa pemikiran justru tidak menyelesaikan apapun. Kadang, duduk diam terlebih dahulu dan memikirkan pemecahan masalah akan lebih baik daripada 'mengeroyok' masalah tersebut tanpa pemikiran yang matang. Masalah hanya akan terselesaikan dengan baik melalui pemikiran yang tenang.
SUMBER:kapanlagi.com
Suasana menjadi ramai. Para pekerja yang lain membantu mencari jam tangan itu. Mereka tahu bahwa sang tukang kayu yang kehilangan jam tangan mendapatkan benda tersebut dari putera semata wayangnya yang bekerja di kota. Menghilangkan benda tersebut tentu akan membuat sang putera kecewa karena ayahnya tidak bisa menjaga benda mahal itu dengan baik. Semua orang mencari, tetapi hingga siang, jam tangan itu tidak ditemukan.
Pada saat jam makan siang, para pekerja ke luar untuk mencari makan. Beberapa di antara mereka menghibur pemotong kayu yang kehilangan jam tangannya, tetapi dia tetap murung dan menyesal karena memakai jam tangan itu saat bekerja. Dia tidak berselera menghabiskan makan siangnya, sehingga dia kembali ke dalam tempat pemotongan kayu untuk mencari jam tangan itu sekali lagi.
Tanpa disadari, di dalam tempat pemotongan kayu ada seorang anak laki-laki yang memberikan sebuah jam tangan pada tukang kayu tersebut. Itu adalah jam tangan yang hilang. Sang pemotong kayu tentu senang dan menanyakan pada anak kecil tersebut, bagaimana dia bisa menemukannya sementara para pekerja telah mencari jam tangan tersebut sepanjang pagi dan tidak menemukannya.
Anak kecil itu menjawab, "Saya hanya diam saja saat Anda kehilangan jam tangan itu dan saat orang-orang mencarinya. Saya menunggu hingga kalian semua meninggalkan tempat ini. Dengan begitu saya dapat menemukan jam tangan Anda hanya dengan mendengar suara tik tok tik tok,"Pria itu tersenyum dan berterima kasih pada anak laki-laki yang memang sering membantu para pekerja untuk menumpuk kayu yang telah di potong.
Kerabat Imelda...saat masalah datang, rasa panik seringkali melanda. Tidak jarang kita meminta bantuan dari banyak pihak dan mereka tidak keberatan untuk membantu kita. Hanya saja, seringkali menyelesaikan masalah bersama-sama dan tanpa pemikiran justru tidak menyelesaikan apapun. Kadang, duduk diam terlebih dahulu dan memikirkan pemecahan masalah akan lebih baik daripada 'mengeroyok' masalah tersebut tanpa pemikiran yang matang. Masalah hanya akan terselesaikan dengan baik melalui pemikiran yang tenang.
SUMBER:kapanlagi.com
Kenangan Akan Menghapus Rasa Kehilangan
Ketika seseorang yang Anda cintai, pasangan, keluarga, atau sahabat pergi untuk selamanya, maka Anda juga akan merasa kehilangan segalanya. Sebuah perasaan yang wajar dan akan hadir pada setiap manusia. Berbagai kenangan yang dia tinggalkan seolah bisa menjadi sebuah magnet agar Anda kembali teringat akan sosoknya yang telah tidak bisa Anda jangkau. Menangis, menangis dan menangis...
Tidak salah jika saat kehilangan itu terjadi, Anda menangis, kehilangan dan merasa hancur. Tetapi Anda tidak benar-benar kehilangan dia, dan segala sesuatu tetap berjalan seperti biasanya. Menurut Thomas Attig, Ph.D, kejadian kehilangan seseorang yang dicintai akan membuat Anda semakin terikat dengan dia yang telah pergi, karena kenangan yang dia tinggalkan masih ada bersama Anda.
Sekalipun rasa sedih itu wajar, tetapi membiarkan diri Anda dirundung duka yang sangat lama tidak baik. Bahkan dia yang telah meninggalkan Anda bisa ikut mencemaskan kesedihan Anda. Inilah beberapa cara yang diberikan Thomas Attig untuk membantu Anda agar rela melepas kepergian orang yang sangat Anda cintai. Cara terbaik untuk melepasnya, adalah dengan memanfaatkan kenangan saat Anda bersamanya.
PERTAMA: Belajar Mencintainya Dalam Ketidakadaan.
Pada saat dia masih hidup, Anda tidak setiap hari selama 24 jam berada dekat dengannya, tetapi saat dia pergi, Anda masih tetap akan terhubung dengannya sekalipun dalam kenyataan dia sudah tidak bersama Anda.
KEDUA: Belajar Untuk Tidak Takut Menceritakan Kenangan
Terus.
terus mengingat kenangan bersamanya memang bisa membuat Anda makin sedih. tapi sebenarnya tidak demikian. Saat kondisi Anda sudah lebih baik dan dapat menahan air mata, Anda bisa menceritakan pada orang lain mengenai kenangan bahagia yang pernah Anda lakukan bersamanya. Dengan begitu, Anda akan merasakan lagi kehadirannya, kehangatannya dan juga senyumnya.
KETIGA: Belajar Untuk Mengingat Apa Yang Telah Dia Berikan
Bukan dalam bentuk barang, tetapi pengaruh.
Semua orang akan mempengaruhi kehidupan Anda, terlebih lagi pada orang yang Anda cintai. Ingat kembali kenangan itu dan jadikan sebagai rasa terima kasih. Apa yang telah dia berikan tetap hadir pada kehidupan Anda yang masih harus dilalui hingga batas yang tidak dapat ditentukan.
KEEMPAT: Belajar Untuk Melihat Kembali Barang-Barang Miliknya.
Ini mungkin akan menjadi bagian yang lebih sulit, saat Anda melihat kembali barang-barang yang dia miliki. Membuang barang orang yang telah pergi sebenarnya tidak membantu banyak untuk melupakannya, toh Anda tidak akan pernah melupakan dia yang telah pergi karena ingatan itu masih berada di dalam kepala Anda. Thomas Attig justru menyarankan Anda untuk menulis ulang kenangan bersamanya saat Anda melihat barang yang dia miliki.
SUMBER:kapanlagi.com
Tidak salah jika saat kehilangan itu terjadi, Anda menangis, kehilangan dan merasa hancur. Tetapi Anda tidak benar-benar kehilangan dia, dan segala sesuatu tetap berjalan seperti biasanya. Menurut Thomas Attig, Ph.D, kejadian kehilangan seseorang yang dicintai akan membuat Anda semakin terikat dengan dia yang telah pergi, karena kenangan yang dia tinggalkan masih ada bersama Anda.
Sekalipun rasa sedih itu wajar, tetapi membiarkan diri Anda dirundung duka yang sangat lama tidak baik. Bahkan dia yang telah meninggalkan Anda bisa ikut mencemaskan kesedihan Anda. Inilah beberapa cara yang diberikan Thomas Attig untuk membantu Anda agar rela melepas kepergian orang yang sangat Anda cintai. Cara terbaik untuk melepasnya, adalah dengan memanfaatkan kenangan saat Anda bersamanya.
PERTAMA: Belajar Mencintainya Dalam Ketidakadaan.
Pada saat dia masih hidup, Anda tidak setiap hari selama 24 jam berada dekat dengannya, tetapi saat dia pergi, Anda masih tetap akan terhubung dengannya sekalipun dalam kenyataan dia sudah tidak bersama Anda.
KEDUA: Belajar Untuk Tidak Takut Menceritakan Kenangan
Terus.
terus mengingat kenangan bersamanya memang bisa membuat Anda makin sedih. tapi sebenarnya tidak demikian. Saat kondisi Anda sudah lebih baik dan dapat menahan air mata, Anda bisa menceritakan pada orang lain mengenai kenangan bahagia yang pernah Anda lakukan bersamanya. Dengan begitu, Anda akan merasakan lagi kehadirannya, kehangatannya dan juga senyumnya.
KETIGA: Belajar Untuk Mengingat Apa Yang Telah Dia Berikan
Bukan dalam bentuk barang, tetapi pengaruh.
Semua orang akan mempengaruhi kehidupan Anda, terlebih lagi pada orang yang Anda cintai. Ingat kembali kenangan itu dan jadikan sebagai rasa terima kasih. Apa yang telah dia berikan tetap hadir pada kehidupan Anda yang masih harus dilalui hingga batas yang tidak dapat ditentukan.
KEEMPAT: Belajar Untuk Melihat Kembali Barang-Barang Miliknya.
Ini mungkin akan menjadi bagian yang lebih sulit, saat Anda melihat kembali barang-barang yang dia miliki. Membuang barang orang yang telah pergi sebenarnya tidak membantu banyak untuk melupakannya, toh Anda tidak akan pernah melupakan dia yang telah pergi karena ingatan itu masih berada di dalam kepala Anda. Thomas Attig justru menyarankan Anda untuk menulis ulang kenangan bersamanya saat Anda melihat barang yang dia miliki.
SUMBER:kapanlagi.com
Sekarang dan Esok, Bukan Dulu
Seringkali Anda terbangun di tengah malam karena mimpi yang begitu menakutkan. Atau malah Anda sulit tidur tanpa alasan yang jelas. Resah dan gelisah akrab dalam setiap detik yang Anda lewati.
Apa sih yang menyebabkan Anda selalu resah? Ah! Jawabannya adalah masa lalu. iya kan?! Kenapa masa lalu? Karena Anda sulit untuk lepas dari belenggu di masa lalu, yang membuat Anda tak tenang. Mungkin ada suatu masalah yang selalu menari-nari di dalam pikiran Anda, sehingga sampai saat inipun Anda merasa resah.
Hei, wake up! Lihat ke arah jam, jarum jam selalu berputar ke kanan. Itu berarti waktu semakin maju, bukan mundur. Lalu kenapa harus ada penyesalan dan kegelisahan di setiap waktu Anda yang berharga itu?
Sekarang lihatlah ke cermin. Apa yang Anda lihat? Wajah cantik tanpa senyum. Lalu apa jadinya wajah cantik itu sekarang? Ah tidak! Kecantikannya mulai luntur. Semua wanita pasti bingung sendiri jika kecantikannya luntur, berbagai usaha dilakukan agar ia tetap cantik. Anda juga terlihat bingung sekarang. Jadi mengapa senyum itu harus hilang dari wajah Anda?
Rahasia kecantikan setiap wanita adalah tebaran senyum di setiap pesonanya. Binar mata memandang jauh ke depan. Langkah bebas dan ringan meninggalkan bayang-bayang masa lalu menjadi wanita terindah sepanjang waktu.
Kerabat Imelda, Anda tidak bisa terus hidup di masa lalu. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk mengubah masa lalu. Ada hal yang lebih penting dari itu. Ya! Ada masa depan yang menanti Anda, dan masa sekarang yang sedang Anda jalani. Do better and get the best!
SUMBER:Agatha Yunita - kapanlagi.com
Apa sih yang menyebabkan Anda selalu resah? Ah! Jawabannya adalah masa lalu. iya kan?! Kenapa masa lalu? Karena Anda sulit untuk lepas dari belenggu di masa lalu, yang membuat Anda tak tenang. Mungkin ada suatu masalah yang selalu menari-nari di dalam pikiran Anda, sehingga sampai saat inipun Anda merasa resah.
Hei, wake up! Lihat ke arah jam, jarum jam selalu berputar ke kanan. Itu berarti waktu semakin maju, bukan mundur. Lalu kenapa harus ada penyesalan dan kegelisahan di setiap waktu Anda yang berharga itu?
Sekarang lihatlah ke cermin. Apa yang Anda lihat? Wajah cantik tanpa senyum. Lalu apa jadinya wajah cantik itu sekarang? Ah tidak! Kecantikannya mulai luntur. Semua wanita pasti bingung sendiri jika kecantikannya luntur, berbagai usaha dilakukan agar ia tetap cantik. Anda juga terlihat bingung sekarang. Jadi mengapa senyum itu harus hilang dari wajah Anda?
Rahasia kecantikan setiap wanita adalah tebaran senyum di setiap pesonanya. Binar mata memandang jauh ke depan. Langkah bebas dan ringan meninggalkan bayang-bayang masa lalu menjadi wanita terindah sepanjang waktu.
Kerabat Imelda, Anda tidak bisa terus hidup di masa lalu. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk mengubah masa lalu. Ada hal yang lebih penting dari itu. Ya! Ada masa depan yang menanti Anda, dan masa sekarang yang sedang Anda jalani. Do better and get the best!
SUMBER:Agatha Yunita - kapanlagi.com
Apa Arti Sebuah Keberhasilan Tanpa Kegagalan!
Kata "Berhasil dan Gagal" diibaratkan sebagai makanan pokok manusia. Kata tersebut yang mencetuskan peribahasa "makan garam" yaitu sebutan bagi orang yang telah berpengalaman menjalani hidupnya. Kegagalan adalah proses berkali-kali menuju keberhasilan, sedangkan parameter keberhasilan adalah tercapainya apa-apa yang diinginkan. Thomas Edison tak luput dari kegagalan dibalik keberhasilannya dalam menemukan lampu. Orang yang sukses adalah orang yang mau berubah karena orang yang sukses bersedia berkorban jiwa dan raga untuk menemukan seribu cara untuk gagal. Kegagalan yang tidak boleh terulang untuk yang kesekian kalinya. Mereka memiliki tekad yang gigih untuk meraih apa yang diinginkan mereka. Seperti pepatah mengatakan bahwa berakit rakitlah ke hulu, berenang kemudian yang berarti bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Peribahasa itulah yang cocok untuk istilah Gagal dan Sukses.
Kata yang bisa memotivasi saya kembali adalah “Do it repeatly” yang sering diucap berkali kali. Saya tak pernah melihat buah, buah ibarat bonus bagi saya. Hal terpenting adalah proses menuju kesuksesan. Jangan pernah berhenti pada kegagalan yang ke-1000 kalinya, karena yang ke-1001 kalinya adalah kesuksesan anda. Jika anda berhenti, maka anda akan menyesal selama lamanya. Itulah yang disebut dengan fokus pada mimpi indah, tujuan hidup atau impian anda sendiri. Jangan pernah menyesali apa yang tidak ada pada diri terlebihapa apa yang tidak tercatat pada rincian mimpi anda. Dan jangan meremehkan satu atau dua langkah anda, karena tanpa satu atau dua langkah, takkan pernah ada seribu langkah anda.
Syukurilah apa yang ada, karena hidup adalah anugrah terindah dari Tuhan. Anda harus yakin bahwa apapun yang diberikan Tuhan. pada kita adalah yang terbaik bagi kita semua. Anda tidak akan pernah menyadari bahwa yang tadinya ulat berbulu, kini menjadi kupu kupu indah yang terbang leluasa. Anda juga tidak pernah menyadari bahwa kaktus dan pohon mawar yang awalnya berduri kini mengembang bunganya. Bunga yang indah yang dihinggapi kupu kupu cantik. Itulah makna dari sebuah kegagalan dan kesuksesan.
SUMBER:Muhammad Heru Baskoro- kulinet.com
Kata yang bisa memotivasi saya kembali adalah “Do it repeatly” yang sering diucap berkali kali. Saya tak pernah melihat buah, buah ibarat bonus bagi saya. Hal terpenting adalah proses menuju kesuksesan. Jangan pernah berhenti pada kegagalan yang ke-1000 kalinya, karena yang ke-1001 kalinya adalah kesuksesan anda. Jika anda berhenti, maka anda akan menyesal selama lamanya. Itulah yang disebut dengan fokus pada mimpi indah, tujuan hidup atau impian anda sendiri. Jangan pernah menyesali apa yang tidak ada pada diri terlebihapa apa yang tidak tercatat pada rincian mimpi anda. Dan jangan meremehkan satu atau dua langkah anda, karena tanpa satu atau dua langkah, takkan pernah ada seribu langkah anda.
Syukurilah apa yang ada, karena hidup adalah anugrah terindah dari Tuhan. Anda harus yakin bahwa apapun yang diberikan Tuhan. pada kita adalah yang terbaik bagi kita semua. Anda tidak akan pernah menyadari bahwa yang tadinya ulat berbulu, kini menjadi kupu kupu indah yang terbang leluasa. Anda juga tidak pernah menyadari bahwa kaktus dan pohon mawar yang awalnya berduri kini mengembang bunganya. Bunga yang indah yang dihinggapi kupu kupu cantik. Itulah makna dari sebuah kegagalan dan kesuksesan.
SUMBER:Muhammad Heru Baskoro- kulinet.com
Pelangkah
“Kak Nadia mau pelangkah apa?”
Pertanyaan sederhana itu meluncur dari bibir Kania, adik Nadia. Biar sederhana, tapi cukup membuat hati Nadia bagai disambar geledek. Nadia melemparkan pandangan tidak bertanya-tanya kepada Kania. Kania langsung merasa tidak enak. Hal seperti ini pastinya sangat sensitif bagi Nadia. Didahului menikah, atau dilangkahi, oleh adik perempuan, seolah menjadi semacam aib tersendiri bagi perempuan seperti Nadia. Umur 28 tahun, pekerjaan cukup bagus, kekasih pun sebenarnya ada – hanya saja masih belum pasti.
Kedekatan Kania dengan Edo selama 6 bulan terakhir ini sebenarnya cukup membuat hati Nadia was-was. Edo mirip Raka, kekasih Nadia. Tipe pria yang serius dalam menjalin hubungan. Tipe pria yang begita pacaran tujuannya langsung melompat ke arah pernikahan. Tapi, Edo ada di sini. Sedangkan Raka, menunda pernikahan itu karena harus pergi ke London mengejar gelar doktor.
“Handphone boleh?” jawab Nadia asal-asalan.“Gak mobil aja sekalian?” balas Kania, sewot.“Boleh juga, kalo bisa.” Nadia makin asal.
“Mama gak suka deh, kalo ada yang minta-minta begitu.” Mama mereka berdua nimbrung, mendengar percakapan dua anak gadisnya itu.“Ya kan, becanda aja, Ma.” Nadia meralat jawabannya tadi. Lalu, terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Ya terserah aja, lah. Aku gak ngerti, Ma.”
Beberapa hari yang lalu mama mengajaknya berbicara soal hal ini. Nadia hanya bisa bilang, “Aku gak pa-pa, Ma. Gak masalah koq.”
Entahlah… di luar ia berusaha tegar, tapi di dalam hatinya, ia agak sedih. Bukan sedih karena Kania akan melangkahinya, tapi sedih – atau tepatnya takut – dengan omongan orang di luar. “Aku tidak mau dikasihani,” selalu Nadia bertekad dalam hati. “Aku harus kuat. Gak masalah kan? Banyak teman-temanku yang juga belum menikah, meski umurnya sudah 30 tahunan.”
Di hari pertunangan Kania dan Edo, Nadia pura-pura tidak tahu apa yang akan diberikan Kania sebagai pelangkah. Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja Nadia menemukan sebuah kotak cantik, dan membukanya untuk melihat apa isinya. Ia sempat tercekat. “Akhirnya… semua ini benar…”
Om Indra menyerahkan selembar kertas kecil. Dengan bingung Nadia menatap kertas itu. Om Indra hanya bilang, “Dihafal ya.” Nadia membuka lipatan kertas itu. Ia hanya bisa mendesah dalam hati, dan pelan-pelan mulai menghafal tulisan yang ada di kertas itu.
Tibalah saatnya. Rombongan keluarga Edo pun datang, membawa belasan keranjang seserahan. Diawali dengan perkenalan, akhirnya Kania keluar dari kamarnya. Terbalut kebaya warna merah muda, Kania tampak cantik. Sekuntum bunga mawar yang masih agak kuncup menghias sanggulnya.
Kania duduk di depan Nadia. Ia punya berucap dengan pelan, “Kak Nadia, Kania mohon doa restu. Semoga Kak Nadia bisa menyusul langkah kami berdua. Insya Allah.”
Nadia membalas ucapan adiknya, kata-kata yang sudah dihafalnya dari tadi. Dengan hati berdebar, dan dalam hati ia berkata, “Aku gak boleh nangis. Jangan sampai orang mensalahtafsirkan aku sedih karena dilangkahi.” Dengan suara pelan tapi tegas, Nadia berkata, “Kakak merestui langkah kalian berdua. Do’akan Kakak semoga, Insya Allah, Kakak bisa menyusul langkah kalian berdua.”
Kania menyerahkan sebuah kotak putih yang cantik, yang berisi bahan kebaya brokat warna merah dan kain sutera juga berwarna merah sebagai pelangkah.
Sisa acara itu dilewati Nadia dengan rasa tersiksa. “Ternyata gak semudah itu. Kenapa semua orang berpikir aku sedih. Kalo mereka tau aku sedih, ya sudah lah… gak perlu dibahas. Gak perlu tanya-tanya, kapan nyusul? Gak usah sok perhatian…!!” Nadia serasa mau menjerit menjawab pertanyaan para nenek dan saudara-saudara yang lain, yang terkesan usil baginya.
“Aku gak sedih…!!” Nadia menjerit marah dalam hatinya. “Kalau aku diam, itu karena aku malas menanggapi ucapan-ucapan kalian!”
Seseorang menepuk bahunya. Nadia tersentak, tersadar dari lamunannya yang penuh kemarahan. Ternyata Nenek Raya, nenek yang paling usil, yang suka mengajukan pertanyaan yang tidak penting. Dan benar saja, beliau bertanya, “Jadi kapan nih, nyusul? Nanti ketinggalan kereta lho!” Nadia hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi pertanyaan sang Nenek, tapi dalam hati…
Deg… jantung Nadia rasanya mau jatuh ke tanah… “Ketinggalan kereta? Ke-ting-ga-lan-ke-re-ta-?” Nadia mengeja, mencerna pertanyaan Nenek Raya. Tak urung hatinya langsung sedih, teringat teman-teman kuliah, smu, smp yang sebagian sudah berkeluarga, bahkan ada yang sudah punya tiga orang anak. Email-email di milis jurusannya di universitas tidak lagi memberi kabar si A akan menikah, si B akan menikah – ah.. sudah semakin jarang email berita pernikahan – tapi yang sering, si A baru punya anak pertama, si B baru punya anak ke dua, atau si C baru punya anak ketiga. Sementara dirinya… masih begini-begini saja. Inilah yang kadang membuatnya malas berkumpul dengan teman-teman sekampusnya dulu.
Tiba-tiba, lagi-lagi pundak Nadia ditepuk, kali ini oleh Om Indra. Pandangan mata Om Indra yang menunjukkan rasa prihatin, pengertian. Nadia tersenyum. Sementara Om Indra berkata, “Udah. Cuekin aja. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri aja.” Om Indra memang om yang paling doyan becanda dan dekat dengan keponakan-keponakannya.
Nadia tersenyum miris, “Gak ada yang tahu kan apa yang sebenarnya aku rasakan? Gak ada yang tahu. Tapi, semua sok tahu.”
Dan hari ini… hari bahagia untuk Kania dan Edo. Di acara akad nikah, Nadia memakai baju kebaya brokat merah, bahan pemberian Kania sebagai pelangkah. Nadia ikut tersenyum lega dan haru, melihat adiknya sekarang sudah menjadi seorang istri. Tak pernah ada bayangan di benak Nadia kalau Kania akan menikah lebih dulu. Teringat periswtiwa lima tahun yang lalu, ketika acara lamaran Kak Tiara, kakak perempuan Nadia dan Kania. Salah seorang tante mereka bertanya, “Abis ini siapa nih?” Spontan Nadia menunjuk ke arah Kania yang berdiri di sebelahnya. Dan ternyata…
Tuhan melihat ‘candaan’ Nadia dan ‘mengabulkan’ candaan itu.
Sebait do’a dibisikkan dalam hati, “Ya Tuhan, ijinkan aku merasakan kebahagiaan yang sama dengan Kania.”
SUMBER: Ferina - perempuan.com
Pertanyaan sederhana itu meluncur dari bibir Kania, adik Nadia. Biar sederhana, tapi cukup membuat hati Nadia bagai disambar geledek. Nadia melemparkan pandangan tidak bertanya-tanya kepada Kania. Kania langsung merasa tidak enak. Hal seperti ini pastinya sangat sensitif bagi Nadia. Didahului menikah, atau dilangkahi, oleh adik perempuan, seolah menjadi semacam aib tersendiri bagi perempuan seperti Nadia. Umur 28 tahun, pekerjaan cukup bagus, kekasih pun sebenarnya ada – hanya saja masih belum pasti.
Kedekatan Kania dengan Edo selama 6 bulan terakhir ini sebenarnya cukup membuat hati Nadia was-was. Edo mirip Raka, kekasih Nadia. Tipe pria yang serius dalam menjalin hubungan. Tipe pria yang begita pacaran tujuannya langsung melompat ke arah pernikahan. Tapi, Edo ada di sini. Sedangkan Raka, menunda pernikahan itu karena harus pergi ke London mengejar gelar doktor.
“Handphone boleh?” jawab Nadia asal-asalan.“Gak mobil aja sekalian?” balas Kania, sewot.“Boleh juga, kalo bisa.” Nadia makin asal.
“Mama gak suka deh, kalo ada yang minta-minta begitu.” Mama mereka berdua nimbrung, mendengar percakapan dua anak gadisnya itu.“Ya kan, becanda aja, Ma.” Nadia meralat jawabannya tadi. Lalu, terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Ya terserah aja, lah. Aku gak ngerti, Ma.”
Beberapa hari yang lalu mama mengajaknya berbicara soal hal ini. Nadia hanya bisa bilang, “Aku gak pa-pa, Ma. Gak masalah koq.”
Entahlah… di luar ia berusaha tegar, tapi di dalam hatinya, ia agak sedih. Bukan sedih karena Kania akan melangkahinya, tapi sedih – atau tepatnya takut – dengan omongan orang di luar. “Aku tidak mau dikasihani,” selalu Nadia bertekad dalam hati. “Aku harus kuat. Gak masalah kan? Banyak teman-temanku yang juga belum menikah, meski umurnya sudah 30 tahunan.”
Di hari pertunangan Kania dan Edo, Nadia pura-pura tidak tahu apa yang akan diberikan Kania sebagai pelangkah. Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja Nadia menemukan sebuah kotak cantik, dan membukanya untuk melihat apa isinya. Ia sempat tercekat. “Akhirnya… semua ini benar…”
Om Indra menyerahkan selembar kertas kecil. Dengan bingung Nadia menatap kertas itu. Om Indra hanya bilang, “Dihafal ya.” Nadia membuka lipatan kertas itu. Ia hanya bisa mendesah dalam hati, dan pelan-pelan mulai menghafal tulisan yang ada di kertas itu.
Tibalah saatnya. Rombongan keluarga Edo pun datang, membawa belasan keranjang seserahan. Diawali dengan perkenalan, akhirnya Kania keluar dari kamarnya. Terbalut kebaya warna merah muda, Kania tampak cantik. Sekuntum bunga mawar yang masih agak kuncup menghias sanggulnya.
Kania duduk di depan Nadia. Ia punya berucap dengan pelan, “Kak Nadia, Kania mohon doa restu. Semoga Kak Nadia bisa menyusul langkah kami berdua. Insya Allah.”
Nadia membalas ucapan adiknya, kata-kata yang sudah dihafalnya dari tadi. Dengan hati berdebar, dan dalam hati ia berkata, “Aku gak boleh nangis. Jangan sampai orang mensalahtafsirkan aku sedih karena dilangkahi.” Dengan suara pelan tapi tegas, Nadia berkata, “Kakak merestui langkah kalian berdua. Do’akan Kakak semoga, Insya Allah, Kakak bisa menyusul langkah kalian berdua.”
Kania menyerahkan sebuah kotak putih yang cantik, yang berisi bahan kebaya brokat warna merah dan kain sutera juga berwarna merah sebagai pelangkah.
Sisa acara itu dilewati Nadia dengan rasa tersiksa. “Ternyata gak semudah itu. Kenapa semua orang berpikir aku sedih. Kalo mereka tau aku sedih, ya sudah lah… gak perlu dibahas. Gak perlu tanya-tanya, kapan nyusul? Gak usah sok perhatian…!!” Nadia serasa mau menjerit menjawab pertanyaan para nenek dan saudara-saudara yang lain, yang terkesan usil baginya.
“Aku gak sedih…!!” Nadia menjerit marah dalam hatinya. “Kalau aku diam, itu karena aku malas menanggapi ucapan-ucapan kalian!”
Seseorang menepuk bahunya. Nadia tersentak, tersadar dari lamunannya yang penuh kemarahan. Ternyata Nenek Raya, nenek yang paling usil, yang suka mengajukan pertanyaan yang tidak penting. Dan benar saja, beliau bertanya, “Jadi kapan nih, nyusul? Nanti ketinggalan kereta lho!” Nadia hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi pertanyaan sang Nenek, tapi dalam hati…
Deg… jantung Nadia rasanya mau jatuh ke tanah… “Ketinggalan kereta? Ke-ting-ga-lan-ke-re-ta-?” Nadia mengeja, mencerna pertanyaan Nenek Raya. Tak urung hatinya langsung sedih, teringat teman-teman kuliah, smu, smp yang sebagian sudah berkeluarga, bahkan ada yang sudah punya tiga orang anak. Email-email di milis jurusannya di universitas tidak lagi memberi kabar si A akan menikah, si B akan menikah – ah.. sudah semakin jarang email berita pernikahan – tapi yang sering, si A baru punya anak pertama, si B baru punya anak ke dua, atau si C baru punya anak ketiga. Sementara dirinya… masih begini-begini saja. Inilah yang kadang membuatnya malas berkumpul dengan teman-teman sekampusnya dulu.
Tiba-tiba, lagi-lagi pundak Nadia ditepuk, kali ini oleh Om Indra. Pandangan mata Om Indra yang menunjukkan rasa prihatin, pengertian. Nadia tersenyum. Sementara Om Indra berkata, “Udah. Cuekin aja. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri aja.” Om Indra memang om yang paling doyan becanda dan dekat dengan keponakan-keponakannya.
Nadia tersenyum miris, “Gak ada yang tahu kan apa yang sebenarnya aku rasakan? Gak ada yang tahu. Tapi, semua sok tahu.”
Dan hari ini… hari bahagia untuk Kania dan Edo. Di acara akad nikah, Nadia memakai baju kebaya brokat merah, bahan pemberian Kania sebagai pelangkah. Nadia ikut tersenyum lega dan haru, melihat adiknya sekarang sudah menjadi seorang istri. Tak pernah ada bayangan di benak Nadia kalau Kania akan menikah lebih dulu. Teringat periswtiwa lima tahun yang lalu, ketika acara lamaran Kak Tiara, kakak perempuan Nadia dan Kania. Salah seorang tante mereka bertanya, “Abis ini siapa nih?” Spontan Nadia menunjuk ke arah Kania yang berdiri di sebelahnya. Dan ternyata…
Tuhan melihat ‘candaan’ Nadia dan ‘mengabulkan’ candaan itu.
Sebait do’a dibisikkan dalam hati, “Ya Tuhan, ijinkan aku merasakan kebahagiaan yang sama dengan Kania.”
SUMBER: Ferina - perempuan.com
Kebiasaan Konsisten
Konsisten bukan sekadar berbuat sesuatu secara terus-menerus dan berkelanjutan. Dengan semangat yang membaja, konsistensi akan jadi kekuatan yang mampu mendobrak segala ujian kehidupan.
Konsisten mengandung ketetapan hati terhadap apa pun yang diyakini, dilakukan, dan diperjuangkan. Kebiasaan konsisten akan menjadi landasan untuk bergerak maju dan terus maju, meski segala macam halangan dan tantangan menghadang.http://www.blogger.com/img/blank.gif
Dengan kekuatan konsistensi, orang akan selalu fokus untuk mengejar impian, bahkan bagi yang dianggap mustahil sekali pun. Konsistensi akan menjaga langkah agar terus maju mencapai tujuan yang diharapkan.
Tentu, bukan sekadar dengan konsisten kita akan langsung sukses! Namun, konsisten pada kebenaran, konsisten dengan penuh ketekunan, konsisten dengan segala daya dan upaya perjuangan, konsisten dengan apa yang telah jadi tujuan, akan membuka setiap pintu sukses di depan. Terus berjuang, terus berkarya, terus bergerak maju. Maka, konsistensi kita akan mengantarkan pada pintu kemenangan yang kita dambakan.
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Konsisten mengandung ketetapan hati terhadap apa pun yang diyakini, dilakukan, dan diperjuangkan. Kebiasaan konsisten akan menjadi landasan untuk bergerak maju dan terus maju, meski segala macam halangan dan tantangan menghadang.http://www.blogger.com/img/blank.gif
Dengan kekuatan konsistensi, orang akan selalu fokus untuk mengejar impian, bahkan bagi yang dianggap mustahil sekali pun. Konsistensi akan menjaga langkah agar terus maju mencapai tujuan yang diharapkan.
Tentu, bukan sekadar dengan konsisten kita akan langsung sukses! Namun, konsisten pada kebenaran, konsisten dengan penuh ketekunan, konsisten dengan segala daya dan upaya perjuangan, konsisten dengan apa yang telah jadi tujuan, akan membuka setiap pintu sukses di depan. Terus berjuang, terus berkarya, terus bergerak maju. Maka, konsistensi kita akan mengantarkan pada pintu kemenangan yang kita dambakan.
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Mengampuni Memaafkan dan Melupakan
Setiap orang yang pernah terluka hatinya pasti akan mempunyai perasaan marah, sakit hati, dendam, benci, kecewa, dan lain-lain. Bagaimana kita mampu mengatasi semua perasaan itu kalau kita selalu mengingat bagaimana seseorang telah mengecewakan dan menyakiti hati kita? Apa yang harus dilakukan untuk memaafkannya dan melupakannya? Di saat menangis karena hati terluka, bisakah kita menahan emosi untuk tidak meluapkannya pada orang yang menyakiti hati kita?
Hati bisa kita umpamakan seperti gelas kaca yang harus selalu dijaga, dipegang hati-hati agar tidak jatuh dan pecah. Tetapi bila gelas kaca itu jatuh dan pecah mungkin perlu usaha ekstra untuk mengumpulkan pecahannya dan memperbaikinya kembali dengan segala cara agar terlihat sempurna. Teman, sesempurna apapun usaha yang kita lakukan untuk mengembalikan gelas itu utuh kembali, pasti akan tetap terlihat bekas-bekas keretakan yang ada, dan tidak akan pernah kembali utuh dan indah.
Saya mempunyai seorang teman yang dikecewakan oleh orang lain dan dia sudah memaafkan orang itu tetapi belum bisa melupakan kesalahan yang dibuat temannya itu. Apakah ini bisa dinamakan benar-benar memaafkan? Menurut saya ini tidak bisa di sebut dengan memaafkan. Ketika kita memaafkan seseorang maka kita akan melupakan 100 persen kesalahan yang dibuat orang itu terhadap kita. Kata memaafkan tidak mengenal kata "meskipun". Contohnya seperti ini: "Saya mau berteman denganmu kembali MESKIPUN kamu pernah menyakiti saya." Ketika seseorang mengucapkan kalimat seperti itu itu berarti dia belum bisa melupakan kesalahan yang pernah dibuat orang lain terhadap dirinya. Memaafkan berarti kita sudah melupakan dan tidak akan pernah menyinggung kembali kesalahan yang dibuat oleh orang lain terhadap kita dalam kondisi apapun itu.
Mengampuni dan melupakan merupakan bagian yang tak terpisahan. Pertimbangkanlah sungguh-sungguh keputusan yang anda ambil hari ini, karena yang bertanggung jawab atas hari esok kita adalah keputusan kita hari ini. Melupakan adalah proses dari mengampuni, jadi tidak mungkin kita mengampuni tapi tidak melupakan. Melupakan memang butuh proses, proses melupakan bisa kita umpamakan dengan bekas luka. Kalau tangan kita teriris pisau, pasti sakit dan menimbulkan luka. Ketika dalam proses penyembuhan kita tekan luka tersebut pasti akan mengeluarkan darah lagi. Tapi kalau sudah kering dan sembuh benar, kemudian kita tekan bekas luka tersebut apakah masih berdarah ? Tentu tidak
Demikian pula dalam proses melupakan. Mungkin anda masih ingat dan tahu perbuatan "dia" terhadap "anda" tetapi ketika "anda" mengingat lagi perbuatan "dia" atas "anda" apakah anda masih marah / sinis / sakit hati / bahkan dendam? Kalau iya berarti "anda" belum melupakan kesalahan "dia" (ibarat luka kalo ditekan masih berdarah). Tetapi jika 'anda" mengingat perbuatan "dia" namun tidak ada rasa marah, sinis, sakit hati atau dendam, maka berarti "anda" sudah melupakan. Bekas tetap ada, tapi tidak berdarah lagi.
Sudahkan anda meminta maaf kepada orang yang anda kecewakan/sakiti? Atau sudahkan anda memberikan maaf dan melupakan kesalahan orang yang pernah mengecewakan anda? Kalau belum segera lakukan sekarang sebelum anda kehilangan orang itu selamanya. Semoga bermanfaat!
SUMBER: dari milis motivasi
Hati bisa kita umpamakan seperti gelas kaca yang harus selalu dijaga, dipegang hati-hati agar tidak jatuh dan pecah. Tetapi bila gelas kaca itu jatuh dan pecah mungkin perlu usaha ekstra untuk mengumpulkan pecahannya dan memperbaikinya kembali dengan segala cara agar terlihat sempurna. Teman, sesempurna apapun usaha yang kita lakukan untuk mengembalikan gelas itu utuh kembali, pasti akan tetap terlihat bekas-bekas keretakan yang ada, dan tidak akan pernah kembali utuh dan indah.
Saya mempunyai seorang teman yang dikecewakan oleh orang lain dan dia sudah memaafkan orang itu tetapi belum bisa melupakan kesalahan yang dibuat temannya itu. Apakah ini bisa dinamakan benar-benar memaafkan? Menurut saya ini tidak bisa di sebut dengan memaafkan. Ketika kita memaafkan seseorang maka kita akan melupakan 100 persen kesalahan yang dibuat orang itu terhadap kita. Kata memaafkan tidak mengenal kata "meskipun". Contohnya seperti ini: "Saya mau berteman denganmu kembali MESKIPUN kamu pernah menyakiti saya." Ketika seseorang mengucapkan kalimat seperti itu itu berarti dia belum bisa melupakan kesalahan yang pernah dibuat orang lain terhadap dirinya. Memaafkan berarti kita sudah melupakan dan tidak akan pernah menyinggung kembali kesalahan yang dibuat oleh orang lain terhadap kita dalam kondisi apapun itu.
Mengampuni dan melupakan merupakan bagian yang tak terpisahan. Pertimbangkanlah sungguh-sungguh keputusan yang anda ambil hari ini, karena yang bertanggung jawab atas hari esok kita adalah keputusan kita hari ini. Melupakan adalah proses dari mengampuni, jadi tidak mungkin kita mengampuni tapi tidak melupakan. Melupakan memang butuh proses, proses melupakan bisa kita umpamakan dengan bekas luka. Kalau tangan kita teriris pisau, pasti sakit dan menimbulkan luka. Ketika dalam proses penyembuhan kita tekan luka tersebut pasti akan mengeluarkan darah lagi. Tapi kalau sudah kering dan sembuh benar, kemudian kita tekan bekas luka tersebut apakah masih berdarah ? Tentu tidak
Demikian pula dalam proses melupakan. Mungkin anda masih ingat dan tahu perbuatan "dia" terhadap "anda" tetapi ketika "anda" mengingat lagi perbuatan "dia" atas "anda" apakah anda masih marah / sinis / sakit hati / bahkan dendam? Kalau iya berarti "anda" belum melupakan kesalahan "dia" (ibarat luka kalo ditekan masih berdarah). Tetapi jika 'anda" mengingat perbuatan "dia" namun tidak ada rasa marah, sinis, sakit hati atau dendam, maka berarti "anda" sudah melupakan. Bekas tetap ada, tapi tidak berdarah lagi.
Sudahkan anda meminta maaf kepada orang yang anda kecewakan/sakiti? Atau sudahkan anda memberikan maaf dan melupakan kesalahan orang yang pernah mengecewakan anda? Kalau belum segera lakukan sekarang sebelum anda kehilangan orang itu selamanya. Semoga bermanfaat!
SUMBER: dari milis motivasi
Siput Kecil dan Pohon Ceri
Pada suatu hari yang cerah, seekor siput kecil berniat memanjat pohon ceri yang sangat tinggi. Dengan gerakan yang sangat lambat, sang siput mulai berjalan pada batang pohon. Lambat... lambat... sang siput yang memang ditakdirkan untuk berjalan sangat lambat menikmati perjalanannya. Tidak ada rasa putus asa sekalipun dia telah berhari-hari memanjat pohon, puncak pohon masih sangat jauh.
Beberapa ekor burung yang selalu bermain di dahan pohon ceri melihat siput itu dan bersiul-siul mencemooh. "Hahaha... dasar siput bodoh. Untuk apa kau memanjat pohon ini? Belum ada buah ceri yang tumbuh... lagipula mau sampai kapan kau memanjat? Sudah turun saja!" ujar sang burung sambil terbahak-bahak.
Mendengar hal itu, siput kecil tidak putus asa atau marah, "Tuan burung, saat ini memang belum ada buah ceri, tetapi saat aku sampai di atas, pasti buah ceri sudah banyak yang ranum," ujar si siput yang terus melanjutkan perjalanan menuju puncak pohon. Kata-kata tajam dari burung membuat semangatnya makin membara untuk dapat mencapai puncak pohon, sekalipun perlu waktu yang sangat lama.
Hari demi hari berlalu, burung-burung yang terbang di dekat pohon ceri masih menertawakan siput kecil dan mengatakan kalau siput itu bodoh. Siput kecil berusaha tidak mendengar dan tetap pada tujuannya. Panas dan hujan yang silih berganti dia nikmati dalam perjalanan. Berbagai hinaan yang dilontarkan masih menjadi penyemangat.
Hingga pada akhirnya, musim semi datang, bunga-bunga pada pohon ceri telah berubah menjadi buah yang merah dan manis dengan lebatnya. Siput kecil telah sampai di puncak pohon dan menikmati buah merah tersebut dengan lahap. Burung-burung yang menghina siput tersebut akhirnya terdiam dan merasa malu karena perhitungan siput akan matangnya buah ceri benar, kegigihan dan usaha pantang dari siput kecil ternyata membuahkan hasil yang manis.
Kerabat Imelda...sikap gigih dan pantang menyerah yang dilakukan siput kecil bisa menjadi dorongan kita untuk melakukan hal yang sama. Hinaan atau cercaan dari orang lain memang bisa datang, tetapi jadikan hal itu sebagai suntikan semangat agar Anda semakin fokus pada tujuan Anda. Perhitungan yang matang juga akan membawa Anda pada hasil yang sempurna, seperti ceri manis yang dinikmati si siput kecil.
SUMBER:kapanlagi.com
Beberapa ekor burung yang selalu bermain di dahan pohon ceri melihat siput itu dan bersiul-siul mencemooh. "Hahaha... dasar siput bodoh. Untuk apa kau memanjat pohon ini? Belum ada buah ceri yang tumbuh... lagipula mau sampai kapan kau memanjat? Sudah turun saja!" ujar sang burung sambil terbahak-bahak.
Mendengar hal itu, siput kecil tidak putus asa atau marah, "Tuan burung, saat ini memang belum ada buah ceri, tetapi saat aku sampai di atas, pasti buah ceri sudah banyak yang ranum," ujar si siput yang terus melanjutkan perjalanan menuju puncak pohon. Kata-kata tajam dari burung membuat semangatnya makin membara untuk dapat mencapai puncak pohon, sekalipun perlu waktu yang sangat lama.
Hari demi hari berlalu, burung-burung yang terbang di dekat pohon ceri masih menertawakan siput kecil dan mengatakan kalau siput itu bodoh. Siput kecil berusaha tidak mendengar dan tetap pada tujuannya. Panas dan hujan yang silih berganti dia nikmati dalam perjalanan. Berbagai hinaan yang dilontarkan masih menjadi penyemangat.
Hingga pada akhirnya, musim semi datang, bunga-bunga pada pohon ceri telah berubah menjadi buah yang merah dan manis dengan lebatnya. Siput kecil telah sampai di puncak pohon dan menikmati buah merah tersebut dengan lahap. Burung-burung yang menghina siput tersebut akhirnya terdiam dan merasa malu karena perhitungan siput akan matangnya buah ceri benar, kegigihan dan usaha pantang dari siput kecil ternyata membuahkan hasil yang manis.
Kerabat Imelda...sikap gigih dan pantang menyerah yang dilakukan siput kecil bisa menjadi dorongan kita untuk melakukan hal yang sama. Hinaan atau cercaan dari orang lain memang bisa datang, tetapi jadikan hal itu sebagai suntikan semangat agar Anda semakin fokus pada tujuan Anda. Perhitungan yang matang juga akan membawa Anda pada hasil yang sempurna, seperti ceri manis yang dinikmati si siput kecil.
SUMBER:kapanlagi.com
Tidak Ada yang Mustahil
Setelah penantian yang panjang dan mendebarkan, akhirnya kelulusan itu pun diumumkan. Aku diterima di Haas School of Business, University of California Berkeley. Hal ini sebuah pencapaian dan kebanggaan yang luar biasa bagiku dan juga kedua orang tuaku, pencapaian ini adalah hasil kerja keras yang telah aku lakukan selama 2 tahun terakhir ini.
5 tahun yang lalu, tidak seorang pun, bahkan tidak juga orang tuaku,guru-guru dan teman-temanku yang berpikir bahwa aku dapat masuk ke dalam salah satu dari 10 sekolah bisnis terbaik di Amerika, apalagi Berkeley
Haas School of Business. Saat ini, sekolah ini menduduki peringkat ke-2 di Amerika berdasarkan Best Colleges Specialty Rankings: Best Undergraduate Business Programs.
5 Tahun lalu, “Nilai A” hanyalah sebuah mimpi bagi *anak sekolah* biasa seperti aku. Sebagian besar nilai-nilaiku di sekolah adalah C, diikuti dengan B kecil, dan D. /Cara belajar/ ku sangat kacau. Di sekolah menengah, aku hanya menempati peringkat 186 dari 198 siswa. Yang berarti aku masuk 10% peringkat terbawah dari seluruh sekolah.
Beruntungnya, aku punya orang tua yang mampu menginspirasi dan mengubahku. Aku masih dapat mengingat dengan jelas kejadian di malam itu. Waktu itu, aku pulang ke Indonesia dan berada di kamar orang tuaku. Kedua orang tuaku duduk di tepi tempat tidur dan aku duduk di lantai.Mereka benar-benar terlihat kecewa. Malam itu, mereka mulai membuatku
berpikir mengenai apa yang aku inginkan bagi masa depanku. Mereka tidak memarahiku, tidak berteriak kepadaku, dan juga tidak memukulku. Mereka hanya memperlihatkan kekecewaan atas buruknya prestasiku di sekolah.
Bagi orang tuaku, pendidikan sangatlah penting demi masa depan. Sebagai orang tua, mereka telah terus-menerus memperingatkan aku untuk belajar. Tetapi, jarak telah memisahkan kami - aku tinggal di Singapura bersama
kakak-kakakku, sedangkan orang tuaku tinggal di Indonesia untuk menjalankan bisnisnya. Hal ini tentu saja membuat kedua orang tuaku kesulitan untuk mengawasi kami.
Dengan komunikasi yang hanya melalui telepon dan sms, tentu sulit bagi kedua orang tuaku untuk mengetahui apakah aku “benar-benar belajar” jika aku berkata sedang “belajar”. Sulit bagi mereka untuk mengetahui bahwa “benar-benar tidak ada ujian” jika aku bilang “tidak ada ujian”, dan apakah aku benar-benar “tidak sedang main game” jika aku bersikeras
berkata tidak sedang bermain game komputer. Mereka benar-benar tidak tahu cara belajar yang aku terapkan.
Aku kembali ke kamarku dan mulai membayangkan hidup seperti apa yang telah aku jalani. Lalu aku teringat Jerry, kakak tertuaku yang sekitar 20 tahun lalu menderita kanker. Ia masih sangat kecil waktu itu, usianya baru 2 tahun. Sayangnya, saat itu kedua orang tuaku tidak berkecukupan. Maka demi kelangsungan hidup kakakku, kedua orangtuaku
menjual rumah, mobil dan segala yang mereka miliki untuk biaya berobat Jerry. Bahkan, setelah mengusahakan segala upaya dan telah kehilangan banyak harta benda, orang tuaku pun masih harus menghadapi kenyataan hilangnya anak pertama mereka.
Tetapi hal itu tidak pernah membuat kedua orang tuaku menyerah. Mereka memang pernah mengalami masa-masa hancur dan sedih. Dan, yang menakjubkan adalah mereka mampu kembali percaya diri, tekun, dan optimis memulai hidup baru.
Ayahku adalah seorang lulusan MBA dan ibuku bergelar sarjana. Tetapi mereka pernah menjadi pengangguran dan miskin. Mereka harus mau berjalan jauh untuk menjual teh botol dan makanan kecil di pasar demi memenuhi kebutuhan hidup. Tidak lama kemudian, mereka mulai membuka warung makan dan tetap yakin bahwa mereka akan mendapatkan masa depan yang lebih cerah.
Kini, setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki bisnis yang sukses dan mampu mengirim ketiga anak mereka ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Jika saja saat itu orang tuaku mengakui kekalahan mereka dan menyerah, tentunya saat ini aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk kuliah, atau tinggal dibawah atap rumah yang
terbuat dari batu bata, atau memiliki sebuah mobil untuk dikendarai.
Jika saja orang tuaku menyerah, aku pasti akan tinggal di jalan dan mencari-cari cara untuk tetap bertahan hidup seperti pemandangan khas yang sering ditemui di jalanan kota-kota besar di Indonesia. Pada saat kakakku Jerry meninggal, mereka hampir tidak memiliki apapun, tidak ada uang, mobil, ataupun rumah. Tidak satu pun! Kecuali semangat dan
dorongan untuk berubah.
Ayah… ibu… jika bukan karena kalian berdua yang mengubah hidup anakmu, mungkin aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan hidup berkecukupan. Sekarang, aku tidak perlu lagi berpikir tentang makanan, bahkan orang
tuaku memberikan sebuah mobil dan menyediakan pendidikan terbaik untukku.
Inilah yang menjadi alasan mengapa sekitar 3 tahun setelah aku berada di peringkat 10% terbawah di sekolah menengah, aku datang ke perguruan tinggi di Amerika dengan prinsip bahwa tidak ada hal yang mustahil. Memang,“tidak ada hal yang mustahil” adalah kata-kata yang usang, namun jika mengingat cerita orang tuaku yang berhasil bangkit setelah keterpurukan, maka kata-kata itu bisa dipercaya. Aku mulai mengubah diri dan mempunyai satu tujuan agar dapat
diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada orang tua.
Aku sama sekali tidak gentar walau hanya 6,8% dari pendaftar yang akan diterima menjadi anak sekolah di Haas School of Business, dan keinginan yang luar biasa untuk sukses menjadi salah satu faktor yang membuatku menjadi satu dari tujuh orang yang diterima untuk setiap 100 orang pendaftar.
Dan sekarang aku ingin mendedikasikan pengakuanku ini kepada orang tuaku. Orang tua yang paling hebat yang telah mengubah hidupku. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika tanpa mereka berdua. Terima kasih Ayah. Terima kasih Ibu. Aku berhutang sangat banyak kepada kalian dan aku tidak dapat membayangkan apakah aku mampu untuk membalasnya.
Kerabat Imelda, ingatlah bahwa keadaan yang kita miliki sekarang tidaklah mencerminkan apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang terjadi pada diriku. Aku mampu menjadi salah satu yang terbaik walaupun aku pernah berada di peringkat terbawah. Aku yakin, semua itu membutuhkan dorongan dan ketekunan, sama seperti seorang yatim piatu yang kukenal – yang berhasil menduduki peringkat 5% teratas dari kelasnya, padahal ia tidak memiliki meja atau kursi, atau
bahkan kebutuhan sekolah yang memadai. Ia hanya memiliki semangat yang membara untuk mengubah masa depannya.
Berjanjilah kepada diri sendiri untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah!
SUMBER: Leonhartono - ceritainspirasi.net
5 tahun yang lalu, tidak seorang pun, bahkan tidak juga orang tuaku,guru-guru dan teman-temanku yang berpikir bahwa aku dapat masuk ke dalam salah satu dari 10 sekolah bisnis terbaik di Amerika, apalagi Berkeley
Haas School of Business. Saat ini, sekolah ini menduduki peringkat ke-2 di Amerika berdasarkan Best Colleges Specialty Rankings: Best Undergraduate Business Programs.
5 Tahun lalu, “Nilai A” hanyalah sebuah mimpi bagi *anak sekolah* biasa seperti aku. Sebagian besar nilai-nilaiku di sekolah adalah C, diikuti dengan B kecil, dan D. /Cara belajar/ ku sangat kacau. Di sekolah menengah, aku hanya menempati peringkat 186 dari 198 siswa. Yang berarti aku masuk 10% peringkat terbawah dari seluruh sekolah.
Beruntungnya, aku punya orang tua yang mampu menginspirasi dan mengubahku. Aku masih dapat mengingat dengan jelas kejadian di malam itu. Waktu itu, aku pulang ke Indonesia dan berada di kamar orang tuaku. Kedua orang tuaku duduk di tepi tempat tidur dan aku duduk di lantai.Mereka benar-benar terlihat kecewa. Malam itu, mereka mulai membuatku
berpikir mengenai apa yang aku inginkan bagi masa depanku. Mereka tidak memarahiku, tidak berteriak kepadaku, dan juga tidak memukulku. Mereka hanya memperlihatkan kekecewaan atas buruknya prestasiku di sekolah.
Bagi orang tuaku, pendidikan sangatlah penting demi masa depan. Sebagai orang tua, mereka telah terus-menerus memperingatkan aku untuk belajar. Tetapi, jarak telah memisahkan kami - aku tinggal di Singapura bersama
kakak-kakakku, sedangkan orang tuaku tinggal di Indonesia untuk menjalankan bisnisnya. Hal ini tentu saja membuat kedua orang tuaku kesulitan untuk mengawasi kami.
Dengan komunikasi yang hanya melalui telepon dan sms, tentu sulit bagi kedua orang tuaku untuk mengetahui apakah aku “benar-benar belajar” jika aku berkata sedang “belajar”. Sulit bagi mereka untuk mengetahui bahwa “benar-benar tidak ada ujian” jika aku bilang “tidak ada ujian”, dan apakah aku benar-benar “tidak sedang main game” jika aku bersikeras
berkata tidak sedang bermain game komputer. Mereka benar-benar tidak tahu cara belajar yang aku terapkan.
Aku kembali ke kamarku dan mulai membayangkan hidup seperti apa yang telah aku jalani. Lalu aku teringat Jerry, kakak tertuaku yang sekitar 20 tahun lalu menderita kanker. Ia masih sangat kecil waktu itu, usianya baru 2 tahun. Sayangnya, saat itu kedua orang tuaku tidak berkecukupan. Maka demi kelangsungan hidup kakakku, kedua orangtuaku
menjual rumah, mobil dan segala yang mereka miliki untuk biaya berobat Jerry. Bahkan, setelah mengusahakan segala upaya dan telah kehilangan banyak harta benda, orang tuaku pun masih harus menghadapi kenyataan hilangnya anak pertama mereka.
Tetapi hal itu tidak pernah membuat kedua orang tuaku menyerah. Mereka memang pernah mengalami masa-masa hancur dan sedih. Dan, yang menakjubkan adalah mereka mampu kembali percaya diri, tekun, dan optimis memulai hidup baru.
Ayahku adalah seorang lulusan MBA dan ibuku bergelar sarjana. Tetapi mereka pernah menjadi pengangguran dan miskin. Mereka harus mau berjalan jauh untuk menjual teh botol dan makanan kecil di pasar demi memenuhi kebutuhan hidup. Tidak lama kemudian, mereka mulai membuka warung makan dan tetap yakin bahwa mereka akan mendapatkan masa depan yang lebih cerah.
Kini, setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki bisnis yang sukses dan mampu mengirim ketiga anak mereka ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Jika saja saat itu orang tuaku mengakui kekalahan mereka dan menyerah, tentunya saat ini aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk kuliah, atau tinggal dibawah atap rumah yang
terbuat dari batu bata, atau memiliki sebuah mobil untuk dikendarai.
Jika saja orang tuaku menyerah, aku pasti akan tinggal di jalan dan mencari-cari cara untuk tetap bertahan hidup seperti pemandangan khas yang sering ditemui di jalanan kota-kota besar di Indonesia. Pada saat kakakku Jerry meninggal, mereka hampir tidak memiliki apapun, tidak ada uang, mobil, ataupun rumah. Tidak satu pun! Kecuali semangat dan
dorongan untuk berubah.
Ayah… ibu… jika bukan karena kalian berdua yang mengubah hidup anakmu, mungkin aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan hidup berkecukupan. Sekarang, aku tidak perlu lagi berpikir tentang makanan, bahkan orang
tuaku memberikan sebuah mobil dan menyediakan pendidikan terbaik untukku.
Inilah yang menjadi alasan mengapa sekitar 3 tahun setelah aku berada di peringkat 10% terbawah di sekolah menengah, aku datang ke perguruan tinggi di Amerika dengan prinsip bahwa tidak ada hal yang mustahil. Memang,“tidak ada hal yang mustahil” adalah kata-kata yang usang, namun jika mengingat cerita orang tuaku yang berhasil bangkit setelah keterpurukan, maka kata-kata itu bisa dipercaya. Aku mulai mengubah diri dan mempunyai satu tujuan agar dapat
diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada orang tua.
Aku sama sekali tidak gentar walau hanya 6,8% dari pendaftar yang akan diterima menjadi anak sekolah di Haas School of Business, dan keinginan yang luar biasa untuk sukses menjadi salah satu faktor yang membuatku menjadi satu dari tujuh orang yang diterima untuk setiap 100 orang pendaftar.
Dan sekarang aku ingin mendedikasikan pengakuanku ini kepada orang tuaku. Orang tua yang paling hebat yang telah mengubah hidupku. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika tanpa mereka berdua. Terima kasih Ayah. Terima kasih Ibu. Aku berhutang sangat banyak kepada kalian dan aku tidak dapat membayangkan apakah aku mampu untuk membalasnya.
Kerabat Imelda, ingatlah bahwa keadaan yang kita miliki sekarang tidaklah mencerminkan apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang terjadi pada diriku. Aku mampu menjadi salah satu yang terbaik walaupun aku pernah berada di peringkat terbawah. Aku yakin, semua itu membutuhkan dorongan dan ketekunan, sama seperti seorang yatim piatu yang kukenal – yang berhasil menduduki peringkat 5% teratas dari kelasnya, padahal ia tidak memiliki meja atau kursi, atau
bahkan kebutuhan sekolah yang memadai. Ia hanya memiliki semangat yang membara untuk mengubah masa depannya.
Berjanjilah kepada diri sendiri untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah!
SUMBER: Leonhartono - ceritainspirasi.net
Thursday, June 30, 2011
Nilai Sebuah Senyuman Kita
Dia tidak meminta bayaran, namun menciptakan banyak
Dia memperkaya meraka yang menerimanya, tanpa membuat melarat mereka yang memberinya.
Dia terjadi hanya sekejap namun kenangan tentangnya kadang-kadang bertahan selamanya.
Tak seorangpun yang meskipun kaya mampu bertahan tanpa dia, dan tak seorangpun yang begitu miskin tetap menjadi lebih kaya daripada manfaatnya.
Dia menciptakan kebahagian di rumah, mendukung niat baik dalam bisnis dan merupakan tanda balasan dari kawan-kawan.
Dia memberi istirahat untuk rasa lelah, sinar terang untuk rasa putus asa, sinar mentari bagi kesediahan dan penangkal alam bagi kesulitan.
Namun dia tidak bisa di beli, dimohon dipinjam atau dicuri karena dia adalah sesuatu yang tidak berguna sebelum di berikan pada orang lain.
Dan apabila pada menit terakhir kesibukan ... di mana sebagian pelayan penjual kami menjadi terlalu lelah untuk memberi Anda senyuman, bolehkah kami meminta Anda meninggalkan seulas senyuman Anda?
Karena tak seorangpun yang begitu yang lebih membutuhkan senyuman daripada mereka yang tidak punya lagi yang tersisa untuk diberikan!
Senyum merupakan aktivitas dan ekspresi wajah. Kelihatannya mudah tapi sebagian orang susah. Susahnya di mana? pada saat senyum yang ikhlas. Dalam Islam senyum itu di nilai ibadah, d sisi sosial, dengan senyum , maka kita mampu membahagiakan orang lain. MArilah senyum seikhlasnya agar kita tidak tergolong manusia yang pelit
SUMBER: Abdul Karim Ismail - kulinet.com
Dia memperkaya meraka yang menerimanya, tanpa membuat melarat mereka yang memberinya.
Dia terjadi hanya sekejap namun kenangan tentangnya kadang-kadang bertahan selamanya.
Tak seorangpun yang meskipun kaya mampu bertahan tanpa dia, dan tak seorangpun yang begitu miskin tetap menjadi lebih kaya daripada manfaatnya.
Dia menciptakan kebahagian di rumah, mendukung niat baik dalam bisnis dan merupakan tanda balasan dari kawan-kawan.
Dia memberi istirahat untuk rasa lelah, sinar terang untuk rasa putus asa, sinar mentari bagi kesediahan dan penangkal alam bagi kesulitan.
Namun dia tidak bisa di beli, dimohon dipinjam atau dicuri karena dia adalah sesuatu yang tidak berguna sebelum di berikan pada orang lain.
Dan apabila pada menit terakhir kesibukan ... di mana sebagian pelayan penjual kami menjadi terlalu lelah untuk memberi Anda senyuman, bolehkah kami meminta Anda meninggalkan seulas senyuman Anda?
Karena tak seorangpun yang begitu yang lebih membutuhkan senyuman daripada mereka yang tidak punya lagi yang tersisa untuk diberikan!
Senyum merupakan aktivitas dan ekspresi wajah. Kelihatannya mudah tapi sebagian orang susah. Susahnya di mana? pada saat senyum yang ikhlas. Dalam Islam senyum itu di nilai ibadah, d sisi sosial, dengan senyum , maka kita mampu membahagiakan orang lain. MArilah senyum seikhlasnya agar kita tidak tergolong manusia yang pelit
SUMBER: Abdul Karim Ismail - kulinet.com
Air Mata dan Doa Untuk Adikku Tersayang
Sebut saja namaku Mira (bukan nama sebenarnya), aku dilahirkan di sebuah desa terpencil di pulau S. aku memiliki adik laki-laki bernama Dudi (bukan nama sebenarnya). Usianya terpaut lima tahun denganku. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, bapak dan ibu kami menggarap beberapa petak sawah yang mereka miliki. Maka tak jarang kami mengalami kesulitan dalam hal ekonomi.
Hingga suatu ketika aku terpaksa mencuri beberapa rupiah uang bapakku untuk membeli sesuatu yang sangat aku inginkan. Sialnya bapak segera menyadarinya dan kemudian memanggil kami berdua untuk memastikan siapa yang mencuri uang tersebut. Bapak membuat kami sangat ketakutan karena ia membawa sebuah rotan kecil untuk memukul kami, “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, sehingga ia siap memukulkan rotannya pada kami berdua.
Namun tiba-tiba adikku berteriak , “Aku yang mencuri uang itu pak,”. Dan selanjutnya rotan itu menghatam tangan adikku hingga beberapa kali, pukulan membuat adikku berteriak kesakitan dan menagis. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul, kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. tangannya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 10 tahun Aku berusia 15. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten, sementara aku diterima masuk perguruan tinggi.
Namun masalah kembali muncul, bapak dan ibu mulai mengeluh dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. “Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan bapak dan berkata, “Pak, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku.”
Bapak mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah? Bahkan jika berarti bapak mesti mengemis di jalanan, bapak akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak kamu tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” ucapku lemah.
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran, sampai akhirnya suaraku hilang.
Sampai akhirnya aku menikah dan suamiku mendapat promosi menjadi seorang pimpinan, ia masih menjadi seorang buruh. Ia juga menolak ketika suamiku mengajaknya bekerja di perusahaan untuk menjadi asistennya, “Kak, aku ini tidak memliki pendidikan yang cukup untuk menjadi asisten, apa jadinya nanti perusahaan yang suami kakak pimpin, aku tak ingin melihat kakak justru menjadi hancur akibat kebodohanku, biarlah aku tetap menjadi seorang buruh,” berlinang air mataku ketika mendengar itu. “Lalu dengan apa aku harus membalas semua kebaikanmu? “Dengan menjaga nama baik suami kakak dan keluarganya,”
Sampai akhirnya aku mendengar kabar bahwa adikku sakit, dan aku bergegas pulang kampung untuk menjenguknya. Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, kaki dan tangannya yang terbungkus gips akibat tertimpa reruntuhan kosntruksi, seratus jarum terasa menusukku dan kembali air mata ini mengalir dengan deras. Tapi adikku masih tetap tersenyum diantara bibirnya yang semakin memucat. “Kakak tak perlu menangis. Jsutru aku yang seharusnya bersedih, karena aku belum berhasil menuntaskan apa yang menjadi keinginanku,”
Aku termangu, selanjutnya dari bibirnnya meluncur sebuah cerita masa kecil yang aku sendiri tak lagi mengingatnya. Saat aku duduk di bangku SMP dan ia di bangku SD, kami selalu berangkat sekolah bersama, karena jarak yang sangat sangat jauh hingga membutuhkan waktu satu jam untuk menempuhnya. Dan ia mengingatkan aku kembali saat aku harus menggendongnya selama satu jam itu untuk sampai di rumah, “Masih ingat kak, ketika kakiku terluka dan kakak harus menggendongku saat pulang, dan kakak sampai tak sanggup lagi berdiri, sejak saat itu aku berjanji, untuk selalu menjaga kakak dan membahagiakan kakak selama aku masih hidup”
Dua hari kemudian, ia menghebuskan nafasnya yang terakhir, aku masih teringat kata-katanya, bahwa ia takut tak akan bisa lagi membahagiakan aku jika ia telah tiada. Dihadapan pusaranya air mata ini kembali mengalir dengan deras, “Aku bahagia Dud, aku bahagia memiliki adik sepertimu, yang begitu banyak berkorban untukku, sementara aku cuma bisa memberikanmu airmata dan doa, semoga engkau berbahagia di sana.”
SUMBER:perempuan.com
Hingga suatu ketika aku terpaksa mencuri beberapa rupiah uang bapakku untuk membeli sesuatu yang sangat aku inginkan. Sialnya bapak segera menyadarinya dan kemudian memanggil kami berdua untuk memastikan siapa yang mencuri uang tersebut. Bapak membuat kami sangat ketakutan karena ia membawa sebuah rotan kecil untuk memukul kami, “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, sehingga ia siap memukulkan rotannya pada kami berdua.
Namun tiba-tiba adikku berteriak , “Aku yang mencuri uang itu pak,”. Dan selanjutnya rotan itu menghatam tangan adikku hingga beberapa kali, pukulan membuat adikku berteriak kesakitan dan menagis. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul, kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. tangannya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 10 tahun Aku berusia 15. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten, sementara aku diterima masuk perguruan tinggi.
Namun masalah kembali muncul, bapak dan ibu mulai mengeluh dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. “Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan bapak dan berkata, “Pak, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku.”
Bapak mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah? Bahkan jika berarti bapak mesti mengemis di jalanan, bapak akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak kamu tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” ucapku lemah.
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran, sampai akhirnya suaraku hilang.
Sampai akhirnya aku menikah dan suamiku mendapat promosi menjadi seorang pimpinan, ia masih menjadi seorang buruh. Ia juga menolak ketika suamiku mengajaknya bekerja di perusahaan untuk menjadi asistennya, “Kak, aku ini tidak memliki pendidikan yang cukup untuk menjadi asisten, apa jadinya nanti perusahaan yang suami kakak pimpin, aku tak ingin melihat kakak justru menjadi hancur akibat kebodohanku, biarlah aku tetap menjadi seorang buruh,” berlinang air mataku ketika mendengar itu. “Lalu dengan apa aku harus membalas semua kebaikanmu? “Dengan menjaga nama baik suami kakak dan keluarganya,”
Sampai akhirnya aku mendengar kabar bahwa adikku sakit, dan aku bergegas pulang kampung untuk menjenguknya. Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, kaki dan tangannya yang terbungkus gips akibat tertimpa reruntuhan kosntruksi, seratus jarum terasa menusukku dan kembali air mata ini mengalir dengan deras. Tapi adikku masih tetap tersenyum diantara bibirnya yang semakin memucat. “Kakak tak perlu menangis. Jsutru aku yang seharusnya bersedih, karena aku belum berhasil menuntaskan apa yang menjadi keinginanku,”
Aku termangu, selanjutnya dari bibirnnya meluncur sebuah cerita masa kecil yang aku sendiri tak lagi mengingatnya. Saat aku duduk di bangku SMP dan ia di bangku SD, kami selalu berangkat sekolah bersama, karena jarak yang sangat sangat jauh hingga membutuhkan waktu satu jam untuk menempuhnya. Dan ia mengingatkan aku kembali saat aku harus menggendongnya selama satu jam itu untuk sampai di rumah, “Masih ingat kak, ketika kakiku terluka dan kakak harus menggendongku saat pulang, dan kakak sampai tak sanggup lagi berdiri, sejak saat itu aku berjanji, untuk selalu menjaga kakak dan membahagiakan kakak selama aku masih hidup”
Dua hari kemudian, ia menghebuskan nafasnya yang terakhir, aku masih teringat kata-katanya, bahwa ia takut tak akan bisa lagi membahagiakan aku jika ia telah tiada. Dihadapan pusaranya air mata ini kembali mengalir dengan deras, “Aku bahagia Dud, aku bahagia memiliki adik sepertimu, yang begitu banyak berkorban untukku, sementara aku cuma bisa memberikanmu airmata dan doa, semoga engkau berbahagia di sana.”
SUMBER:perempuan.com
Sebuah permenungan singkat berdasarkan kisah nyata…
Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.
Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Kerabat Imelda,
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi.
Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”
SUMBER: dari milis motivasi
Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
dan…..
Sekarang adalah waktunya untuk memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang. Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:
Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.
Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.
Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.
Siapa di antara ketiga calon ini yang akan anda pilih? Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.
Calon A adalah Franklin D. Roosevelt
Calon B adalah Winston Churchill
Calon C adalah Adolf Hitler
Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.
Kerabat Imelda,
Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi.
Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.
Mungkin baik bagi kita membiasakan diri untuk melihat secara imajiner, bahwa di dada setiap orang terpampang sebuah kalimat “Tuhan belum selesai dengan saya”
SUMBER: dari milis motivasi
Jangan Takut Terjatuh
Terkadang kita terlalu mengabaikan potensi diri kita sampai melupakan proses alami yang kita telah lewati; padahal ada nilai mendalam yang dapat kita pelajari di dalamnya. Bagi kebanyakan orang yang dilahirkan sempurna, berjalan sudah menjadi hal biasa bagi kita dalam menggunakan kedua kaki. Namun tidakkah Anda sadari kemampuan Anda berjalan, berlari, melompat, dan aktivitas-aktivitas dengan kaki lainya, tidak diperoleh dengan proses yang instan? Sadar atau tidak Anda sadari, kemampuan Anda meggunakan kaki Anda seperti saat ini diperoleh dengan proses yang panjang dan tidak mudah. Anda tidak langsung dapat menggunakan kaki Anda begitu saja, bahkan Anda harus belajar duduk dan merangkak dulu sebelum Anda berjalan. Ketika tulang kaki Anda sudah mulai kokoh, Anda pun harus belajar berjalan perlahan selangkah demi selangkah, baru lama-kelamaan dapat berjalan dengan lancar, berlari, bahkan melompat. Setelah lancar dengan kedua kaki pun terkadang bahkan Anda masih dapat terjatuh.
Kita sebenarnya hanya dituntut untuk belajar bagaimana menggunakan "organ-organ" yang telah Tuhan berikan kepada kita. Namun ketika kita beranjak dewasa dan berusaha menggapai impian kita, banyak dari kita yang menyerah di awal perjuangan. Mengapa bisa terjadi demikian?Karena waktu kecil, kita terlalu banyak melihat orang yang sudah bisa berjalan. Kita menjadi tidak memikirkan proses yang harus kita jalani.
Sedangkan sewaktu dewasa, kita terlalu banyak melihat orang yang hidupnya tidak seperti tujuan hidup anda tersebut, banyak dari mereka juga malah menasihati anda untuk "mengecilkan" mimpi Anda. "Jangan bermimpi ketinggian, nanti kalau jatuh sakit!" Saya yakin kalimat tersebut sudah sering Anda dengar. Lama-kelamaan kita pun merasa memang kita terlalu biasa untuk menjadi luar biasa. Pada akhirnya banyak dari kita memilih tidak terjatuh sama sekali, daripada terjatuh, bangkit, dan belajar dari kejatuhan tersebut.
Kerabat Imelda...seperti belajar berjalan, kita membutuhkan waktu agar tulang kaki kita menjadi kuat, mulai berani berjalan selangkah demi selangkah, mengalami berbagai kejatuhan, sampai akhirnya bisa berjalan dan belajar untuk berhati-hati agar tidak lengah dan terjatuh lagi.
Seperti itu jugalah kita dalam mencapai kesuksesan kita. Dibutuhkan kesabaran untuk menunggu saat yang tepat untuk memulai langkah kita. Keberanian untuk memulai langkah kita. Kearifan untuk belajar dari kejatuhan. Ketika kita telah mencapai kesuksesan, dibutuhkan karakter, untuk tetap waspada dan tidak terjatuh karena terbuai dengan kesuksesan yang kita raih dengan susah payah.
Dan ketika orang lain menyarankan Anda untuk membumikan mimpi Anda, langitkanlah langkah Anda! Mimpi Anda terlalu berharga untuk dikecilkan. Ketika mimpi dapat hadir di pikiran, ia selalu memiliki ruang untuk diwujudkan dalam kehidupan Anda.
SUMBER: Ivander Wijaya - andriewongso.com
Kita sebenarnya hanya dituntut untuk belajar bagaimana menggunakan "organ-organ" yang telah Tuhan berikan kepada kita. Namun ketika kita beranjak dewasa dan berusaha menggapai impian kita, banyak dari kita yang menyerah di awal perjuangan. Mengapa bisa terjadi demikian?Karena waktu kecil, kita terlalu banyak melihat orang yang sudah bisa berjalan. Kita menjadi tidak memikirkan proses yang harus kita jalani.
Sedangkan sewaktu dewasa, kita terlalu banyak melihat orang yang hidupnya tidak seperti tujuan hidup anda tersebut, banyak dari mereka juga malah menasihati anda untuk "mengecilkan" mimpi Anda. "Jangan bermimpi ketinggian, nanti kalau jatuh sakit!" Saya yakin kalimat tersebut sudah sering Anda dengar. Lama-kelamaan kita pun merasa memang kita terlalu biasa untuk menjadi luar biasa. Pada akhirnya banyak dari kita memilih tidak terjatuh sama sekali, daripada terjatuh, bangkit, dan belajar dari kejatuhan tersebut.
Kerabat Imelda...seperti belajar berjalan, kita membutuhkan waktu agar tulang kaki kita menjadi kuat, mulai berani berjalan selangkah demi selangkah, mengalami berbagai kejatuhan, sampai akhirnya bisa berjalan dan belajar untuk berhati-hati agar tidak lengah dan terjatuh lagi.
Seperti itu jugalah kita dalam mencapai kesuksesan kita. Dibutuhkan kesabaran untuk menunggu saat yang tepat untuk memulai langkah kita. Keberanian untuk memulai langkah kita. Kearifan untuk belajar dari kejatuhan. Ketika kita telah mencapai kesuksesan, dibutuhkan karakter, untuk tetap waspada dan tidak terjatuh karena terbuai dengan kesuksesan yang kita raih dengan susah payah.
Dan ketika orang lain menyarankan Anda untuk membumikan mimpi Anda, langitkanlah langkah Anda! Mimpi Anda terlalu berharga untuk dikecilkan. Ketika mimpi dapat hadir di pikiran, ia selalu memiliki ruang untuk diwujudkan dalam kehidupan Anda.
SUMBER: Ivander Wijaya - andriewongso.com
Mana Yang Lebih Penting ?
Confucious (551 BC – 478 BC) bukanlah seorang tokoh agama melainkan seorang moralis atau tokoh moral. Suatu ketika ia pergi ke kota untuk sebuah keperluan. Di tengah aktifitas tersebut ia diberitahu seseorang bahwa kandang kudanya terbakar dan diminta segera pulang.
Confucious bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia langsung bertanya, “Apakah ada orang yang cedera?” Ia sama sekali tidak menanyakan bagaimana keadaan kuda-kudanya.
Sikap Confucious menunjukkan bahwa ia lebih menghargai nyawa manusia dibandingkan harta bendanya. Confucious benar-benar mempesona semua orang yang datang membantu meredakan api kebakaran tersebut. Mereka sangat terkesan pada kepribadian Confucious. Sehingga ia dikenal sebagai tokoh moralis yang sangat menghargai keberadaan manusia lainnya.
Kerabat Imelda...Nilai moral kemanusiaan adalah menghargai jiwa manusia. Dalam semua hukum agama maupun negara pasti memiliki hukum yang mengatur perlindungan terhadap jiwa manusia. Hal itu menunjukkan betapa penting peran nilai moral kemanusiaan dalam berbagai aktifitas kehidupan kita.
Memupuk nilai kemanusiaan di dalam diri kita dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran bahwa Tuhan YME telah menciptakan dunia dengan segala isinya hanya untuk kebaikan manusia. Meningkatkan kesadaran bahwa masing-masing diantara kita pada dasarnya saling melengkapi dan membutuhkan. Dengan demikian kita akan berusaha menyayangi dan menghargai orang-orang di sekitar kita bahkan pesaing kita sekalipun.
SUMBER:DR. Andrew Ho - andrewho-uol.com
Confucious bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia langsung bertanya, “Apakah ada orang yang cedera?” Ia sama sekali tidak menanyakan bagaimana keadaan kuda-kudanya.
Sikap Confucious menunjukkan bahwa ia lebih menghargai nyawa manusia dibandingkan harta bendanya. Confucious benar-benar mempesona semua orang yang datang membantu meredakan api kebakaran tersebut. Mereka sangat terkesan pada kepribadian Confucious. Sehingga ia dikenal sebagai tokoh moralis yang sangat menghargai keberadaan manusia lainnya.
Kerabat Imelda...Nilai moral kemanusiaan adalah menghargai jiwa manusia. Dalam semua hukum agama maupun negara pasti memiliki hukum yang mengatur perlindungan terhadap jiwa manusia. Hal itu menunjukkan betapa penting peran nilai moral kemanusiaan dalam berbagai aktifitas kehidupan kita.
Memupuk nilai kemanusiaan di dalam diri kita dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran bahwa Tuhan YME telah menciptakan dunia dengan segala isinya hanya untuk kebaikan manusia. Meningkatkan kesadaran bahwa masing-masing diantara kita pada dasarnya saling melengkapi dan membutuhkan. Dengan demikian kita akan berusaha menyayangi dan menghargai orang-orang di sekitar kita bahkan pesaing kita sekalipun.
SUMBER:DR. Andrew Ho - andrewho-uol.com
Hey Wanita Ada Kekuatan di Tangan Anda
Mengapa Anda tiba-tiba ragu saat harus berbicara di depan belasan orang?
Padahal setiap hari Anda bertemu mereka. Mengapa Anda kehilangan suara, ketika Anda harus melakukan negosiasi penting dengan seorang klien? Padahal, Anda sedang membicarakan apa yang Anda miliki. Yang bahkan ia tak tahu sebelah mana celanya.
Mengapa Anda gugup saat harus bertemu calon ibu mertua Anda? Padahal ia adalah wanita yang juga pernah salah memasukkan garam ke dalam tehnya. Bahkan ia dulu kesulitan saat harus membedakan merica dan ketumbar.
Semua kartu As telah ada di tangan Anda. Kemampuan Anda cukup untuk membuat Anda berdiri tegak di depan semua orang yang Anda segani. Hanya masalahnya, Anda perlu keyakinan untuk menunjukkan semua kartu As Anda.
Adalah pilihan Anda untuk mengatasi semua masalah yang ada di sekeliling Anda. Anda sudah punya setiap jawaban dari masalah itu. Selanjutnya, Anda yang memutuskan mana yang terlebih dahulu akan diselesaikan.
hey/ Percayalah, setiap wanita diberikan kekuatan untuk melakukan segala sesuatu melebihi kemampuan mereka. Hanya kepercayaan diri dan keyakinan yang membuat mereka berhasil melakukan segala sesuatu dengan baik. Genggam dan bawalah selalu kepercayaan dan keyakinan itu. Anda mampu melewati hari-hari terberat Anda. Karena Anda memang bisa.
SUMBER: Agatha Yunita - kapanlagi.com
Padahal setiap hari Anda bertemu mereka. Mengapa Anda kehilangan suara, ketika Anda harus melakukan negosiasi penting dengan seorang klien? Padahal, Anda sedang membicarakan apa yang Anda miliki. Yang bahkan ia tak tahu sebelah mana celanya.
Mengapa Anda gugup saat harus bertemu calon ibu mertua Anda? Padahal ia adalah wanita yang juga pernah salah memasukkan garam ke dalam tehnya. Bahkan ia dulu kesulitan saat harus membedakan merica dan ketumbar.
Semua kartu As telah ada di tangan Anda. Kemampuan Anda cukup untuk membuat Anda berdiri tegak di depan semua orang yang Anda segani. Hanya masalahnya, Anda perlu keyakinan untuk menunjukkan semua kartu As Anda.
Adalah pilihan Anda untuk mengatasi semua masalah yang ada di sekeliling Anda. Anda sudah punya setiap jawaban dari masalah itu. Selanjutnya, Anda yang memutuskan mana yang terlebih dahulu akan diselesaikan.
hey/ Percayalah, setiap wanita diberikan kekuatan untuk melakukan segala sesuatu melebihi kemampuan mereka. Hanya kepercayaan diri dan keyakinan yang membuat mereka berhasil melakukan segala sesuatu dengan baik. Genggam dan bawalah selalu kepercayaan dan keyakinan itu. Anda mampu melewati hari-hari terberat Anda. Karena Anda memang bisa.
SUMBER: Agatha Yunita - kapanlagi.com
Memilih Hidup Sekali Lagi
Alkisah, Tuhan hampir setiap saat mendengar keluh kesah, ketidakpuasan, dan penderitaan dari manusia ataupun dari makhluk lain ciptaan-Nya. Kemudian, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi; ingin menjadi apakah masing-masing dari mereka? Maka, Ia membagikan pertanyaan kepada semua makhluk ciptaan-Nya.
Tikus dengan cepat menjawab, "Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak ya jadi kucing, bisa bebas merdeka berada di dapur bahkan disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia."
Kucing pun dengan sigap menjawab, "Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah bisa membuat orang serumah kewalahan. Tikus bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus."
Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, begini jawabnya, "Aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah elang di atas sana! Wah, ia tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali."
Sebaliknya, si elang segera menjawab, "Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas."
Beda lagi jawaban yang diberikan oleh manusia. Si perempuan menjawab, "Saya ingin menjadi seorang laki-laki, kemudian menjadi pemimpin besar dan yang hebat! Menjadi perempuan sangatlah menderita. Harus bisa melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka. Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan."
Tapi laki-laki menjawab, "Aku mau jadi perempuan. Betapa indah rupanya dan halus budi bahasanya. Kelihatannya, ia selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Selain itu, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan. Surga saja ada di telapak kaki ibu atau wanita."
Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Alias, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.
Kerabat Imelda...Pepatah mengatakan, "Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri." Manusia selalu memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain sehingga mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Membandingkan diri dengan orang lain, secara terus-menerus, bisa membuat hidup kita menderita. Padahal orang yang kita pikirkan mungkin berpikir sebaliknya!
Mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Bisa ikut berbahagia melihatkebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.
Be your self! Jadilah diri Anda sendiri! Mari mencintai apa yang kita miliki; maka hidup kita pasti akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Setuju?
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Tikus dengan cepat menjawab, "Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak ya jadi kucing, bisa bebas merdeka berada di dapur bahkan disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia."
Kucing pun dengan sigap menjawab, "Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah bisa membuat orang serumah kewalahan. Tikus bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus."
Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, begini jawabnya, "Aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah elang di atas sana! Wah, ia tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali."
Sebaliknya, si elang segera menjawab, "Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas."
Beda lagi jawaban yang diberikan oleh manusia. Si perempuan menjawab, "Saya ingin menjadi seorang laki-laki, kemudian menjadi pemimpin besar dan yang hebat! Menjadi perempuan sangatlah menderita. Harus bisa melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka. Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan."
Tapi laki-laki menjawab, "Aku mau jadi perempuan. Betapa indah rupanya dan halus budi bahasanya. Kelihatannya, ia selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Selain itu, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan. Surga saja ada di telapak kaki ibu atau wanita."
Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Alias, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.
Kerabat Imelda...Pepatah mengatakan, "Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri." Manusia selalu memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain sehingga mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Membandingkan diri dengan orang lain, secara terus-menerus, bisa membuat hidup kita menderita. Padahal orang yang kita pikirkan mungkin berpikir sebaliknya!
Mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Bisa ikut berbahagia melihatkebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.
Be your self! Jadilah diri Anda sendiri! Mari mencintai apa yang kita miliki; maka hidup kita pasti akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Setuju?
SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com
Bunga Mawar Dan Durinya
Ada seorang pria menanam mawar. Hari demi hari dia menyirami mawar itu dengan penuh penantian kapan tanaman tersebut akan berbunga. Hingga suatu hari dia menemukan kuncup gembung yang siap merekah beberapa hari lagi, dan hatinya sangat girang.
Namun kemudian dia juga melihat duri-duri di sepanjang tangkai mawar tersebut, dan timbullah dalam pikirannya, 'bagaimana bunga yang sangat cantik ini juga memiliki duri-duri tajam dan kokoh ?'. Kekagumannya pada bunga mawar sedikit berkurang, dan di hari berikutnya dia memutuskan untuk tidak lagi menyiramnya. Dia benci melihat duri-duri mawar itu. Tidak lama kemudian, mawar itu mati sebelum bunganya berkembang.
Demikian pula kita sering memperlakukan orang lain. Setiap orang adalah tanaman mawar dengan kuncup dan durinya, termasuk Anda. Seseorang tidak bisa melihat kuncup bunga miliknya, hanya duri yang bisa dilihat oleh diri sendiri. Oleh karena itu seseorang mudah merasa tidak percaya diri, merasa tidak pantas untuk menjadi baik.
Sedangkan kuncup bunga hanya bisa dilihat oleh orang lain. Hanya dengan keberadaan orang lain kita bisa sadar bahwa ada kuncup bunga, ada sesuatu yang indah dalam diri kita. Oleh karena itu kita harus menghargai keberadaan orang lain, siapa pun itu dan apa pun itu peran mereka dalam hidup kita. Mereka yang jahat membuat Anda sadar bahwa Anda adalah orang baik karena tidak melakukan apa yang mereka perbuat. Sedangkan mereka yang baik memberikan teladan untuk berbuat baik dan memekarkan kuncup bunga yang Anda miliki.
Bagaimana jika kita yang melihat orang lain, apakah Anda akan melihat kuncup bunga atau durinya? Ketika bertemu dengan seseorang, selalu ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan yaitu melihat kebaikan atau keburukan dalam diri orang tersebut. Melihat keburukan tidak akan membuahkan sesuatu yang baik, seperti halnya mawar, lama-kelamaan akan kering dan mati. Sementara melihat kebaikan dan hal indah dari seseorang membuat Anda tidak berhenti menyayangi orang tersebut. Terus menyirami hingga kebaikan dalam diri orang tersebut mekar.
Jika semua orang bisa melakukan hal ini, bisa Anda bayangkan betapa indahnya dunia. Lain kali ketika bertemu seseorang, coba ingat hal-hal indah dalam dirinya ketimbang mengingat segala masalah yang didatangkannya pada Anda.
SUMBER: kapanlagi.com
Namun kemudian dia juga melihat duri-duri di sepanjang tangkai mawar tersebut, dan timbullah dalam pikirannya, 'bagaimana bunga yang sangat cantik ini juga memiliki duri-duri tajam dan kokoh ?'. Kekagumannya pada bunga mawar sedikit berkurang, dan di hari berikutnya dia memutuskan untuk tidak lagi menyiramnya. Dia benci melihat duri-duri mawar itu. Tidak lama kemudian, mawar itu mati sebelum bunganya berkembang.
Demikian pula kita sering memperlakukan orang lain. Setiap orang adalah tanaman mawar dengan kuncup dan durinya, termasuk Anda. Seseorang tidak bisa melihat kuncup bunga miliknya, hanya duri yang bisa dilihat oleh diri sendiri. Oleh karena itu seseorang mudah merasa tidak percaya diri, merasa tidak pantas untuk menjadi baik.
Sedangkan kuncup bunga hanya bisa dilihat oleh orang lain. Hanya dengan keberadaan orang lain kita bisa sadar bahwa ada kuncup bunga, ada sesuatu yang indah dalam diri kita. Oleh karena itu kita harus menghargai keberadaan orang lain, siapa pun itu dan apa pun itu peran mereka dalam hidup kita. Mereka yang jahat membuat Anda sadar bahwa Anda adalah orang baik karena tidak melakukan apa yang mereka perbuat. Sedangkan mereka yang baik memberikan teladan untuk berbuat baik dan memekarkan kuncup bunga yang Anda miliki.
Bagaimana jika kita yang melihat orang lain, apakah Anda akan melihat kuncup bunga atau durinya? Ketika bertemu dengan seseorang, selalu ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan yaitu melihat kebaikan atau keburukan dalam diri orang tersebut. Melihat keburukan tidak akan membuahkan sesuatu yang baik, seperti halnya mawar, lama-kelamaan akan kering dan mati. Sementara melihat kebaikan dan hal indah dari seseorang membuat Anda tidak berhenti menyayangi orang tersebut. Terus menyirami hingga kebaikan dalam diri orang tersebut mekar.
Jika semua orang bisa melakukan hal ini, bisa Anda bayangkan betapa indahnya dunia. Lain kali ketika bertemu seseorang, coba ingat hal-hal indah dalam dirinya ketimbang mengingat segala masalah yang didatangkannya pada Anda.
SUMBER: kapanlagi.com
Belajar dan Prasangka Baik untuk Menjadi Pintar
Mengapa di dunia ini banyak orang yang sukses namun banyak juga orang yang selalu gagal dalam hidupnya? Kita semua terlahir dari titik kehidupan yang sama, titik di mana kita tidak mengetahui dan tidak dapat melakukan apapun selain menangis. Titik itu adalah titik dimana kita dilahirkan ke dunia ini. Seharusnya, apabila kita terlahir dari titik yang sama yaitu ketidaktahuan maka di usia dewasa manusia akan memiliki pengetahuan yang sama pula. Namun pada kenyataannya pengetahuan tiap manusia berbeda beda, banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kehidupan seseorang sehingga menentukan nasibnya di masa depan.
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan hidup adalah proses BELAJAR. Bagaimana seseorang memahami kondisi lingkungan dalam kehidupannya. Proses take and give akan memberikan suatu proses pembelajaran yang lebih baik bagi kita. Dengan membuka wawasaan, indera, pengamatan terhadap semua yang terjadi di lingkungannya, maka seseorang akan memiliki pengetahuan lebih dari yang lainnya. Pengetahuan didapat bukan hanya dari bangku sekolah saja. Pengetahuan yang paling penting adalah pengetahuan dalam kemasyarakatan. Mau belajar terhadap orang lain untuk mendapakan cerita mengenai pengalaman hidupnya akan membuat kita seolah-olah memiliki pengalaman seperti orang itu.
Dalam proses pembelajaran mengenai kehidupan, syarat mutlak yang harus dilakukan adalah berprasangka baik terhadap apapun. Untuk menjadi seorang penjual handal, kita harus mengetahui bagaimana caranya untuk menjual barang dan untuk mengetahui bagaimana cara menjual barang, maka kita harus belajar pada seseorang yang telah menjadi penjual yang handal di lingkungan kita. Namun sebagaimana dirasakan banyak orang, pada tahap tidak mengetahui apapun tentang penjualan seseorang akan merasa minder untuk berbicara kepada orang yang telah ahli dalam penjualan sehingga proses belajar akan terganggu. Kebanyakan orang akan bertanya terhadap dirinya, "Mungkin si penjual handal akan meremehkan saya dan tidak memandang saya." Atau, "Wah, nanti saya pasti ditertawakan oleh si penjual handal!" Prasangka buruk inilah yang harus dilawan menjadi prasangka-prasangka baik.
Kerabat Imelda....Ketahuilah bahwa kemampuan seseorang untuk belajar mengenai kehidupan akan berpengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilan seseorang menghadapi masalah.Kemampuan belajar inilah yang akhirnya membuat perbedaan perjalanan tiap manusia. Karena masa depan kita ditentukan oleh siapa saja yang ada di sekeliling kita dan buku apa saja yang kita baca pada hari ini. Perubahan sekecil apapun pada hari ini apabila dilakukan terus menerus akan memberikan perubahan besar di masa depan.
SUMBER; Firman Erry Probo - andriewongso.com
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan hidup adalah proses BELAJAR. Bagaimana seseorang memahami kondisi lingkungan dalam kehidupannya. Proses take and give akan memberikan suatu proses pembelajaran yang lebih baik bagi kita. Dengan membuka wawasaan, indera, pengamatan terhadap semua yang terjadi di lingkungannya, maka seseorang akan memiliki pengetahuan lebih dari yang lainnya. Pengetahuan didapat bukan hanya dari bangku sekolah saja. Pengetahuan yang paling penting adalah pengetahuan dalam kemasyarakatan. Mau belajar terhadap orang lain untuk mendapakan cerita mengenai pengalaman hidupnya akan membuat kita seolah-olah memiliki pengalaman seperti orang itu.
Dalam proses pembelajaran mengenai kehidupan, syarat mutlak yang harus dilakukan adalah berprasangka baik terhadap apapun. Untuk menjadi seorang penjual handal, kita harus mengetahui bagaimana caranya untuk menjual barang dan untuk mengetahui bagaimana cara menjual barang, maka kita harus belajar pada seseorang yang telah menjadi penjual yang handal di lingkungan kita. Namun sebagaimana dirasakan banyak orang, pada tahap tidak mengetahui apapun tentang penjualan seseorang akan merasa minder untuk berbicara kepada orang yang telah ahli dalam penjualan sehingga proses belajar akan terganggu. Kebanyakan orang akan bertanya terhadap dirinya, "Mungkin si penjual handal akan meremehkan saya dan tidak memandang saya." Atau, "Wah, nanti saya pasti ditertawakan oleh si penjual handal!" Prasangka buruk inilah yang harus dilawan menjadi prasangka-prasangka baik.
Kerabat Imelda....Ketahuilah bahwa kemampuan seseorang untuk belajar mengenai kehidupan akan berpengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilan seseorang menghadapi masalah.Kemampuan belajar inilah yang akhirnya membuat perbedaan perjalanan tiap manusia. Karena masa depan kita ditentukan oleh siapa saja yang ada di sekeliling kita dan buku apa saja yang kita baca pada hari ini. Perubahan sekecil apapun pada hari ini apabila dilakukan terus menerus akan memberikan perubahan besar di masa depan.
SUMBER; Firman Erry Probo - andriewongso.com
Kisah Katak dan Sumur Tua
Di sebuah kubangan, hiduplah tiga ekor katak muda. Semenjak dilahirkan, katak-katak muda tersebut tidak pernah pergi ke mana-mana. Bagi mereka, kubangan itulah yang menjadi pusat kehidupannya. Mereka makan, tidur dan bermain di kubangan tersebut.
Suatu hari, musim kemarau yang berkepanjangan muncul. Karena tak setetespun hujan turun, dan matahari bersinar terlampau terik, akhirnya kubangan tersebut kering kerontang. Airnya menguap tak bersisa, dan meninggalkan ketiga katak yang hampir lemas.
Salah satu katak kemudian berkata, "kalau kita tidak memberanikan diri pergi dan mencari sumber air lainnya, maka kita akan mati kelaparan dan kering di sini." Katak lainnya pun mengangguk setuju. Dan pergilah para katak mencari sumber air.
Tak jauh dari kubangan tempat tinggal mereka, berdirilah sebuah sumur yang tua. Airnya jernih dan tampak segar. "Hei, lihatlah, kita selamat!" sahut seekor katak. Ia pun mengajak saudara-saudaranya melompat ke dalam sumur tersebut. "Di sini kita akan tinggal, airnya jernih dan berlimpah, tentu kita akan selamat dan tak akan kekurangan lagi."
Seekor katak lainnya menolak, "tidak, aku tak mau lompat ke situ. Bayangkan saja kalau nanti sumur ini juga kering, bagaimana kita keluar dari sumur ini? Mending aku pergi ke danau dan mencari tempat aman di sana," katanya. Sang katak yang pertama kali menemukan sumur angkuh berkata, "buat apa kamu ke danau. Di situ banyak binatang lain dan buaya yang siap menyantap kita. Lebih baik aku mati di sini saja," katanya bersikeras. Ia pun melompat dan berenang-renang bahagia di dalam sumur.
Sementara dua katak lainnya memutuskan pergi ke danau. Di sana mereka berkumpul dengan keluarga katak, yang sudah tinggal lama. Buaya memang menjadi ancaman bagi mereka, namun ada saja cara untuk menghindar dan menemukan persembunyian yang aman.
Sedangkan katak keras kepala yang nekat melompat ke dalam sumur, mati setelah sumur tua juga ikut kekeringan.
Saat melakukan sesuatu, tentu ada saja resiko yang harus kita tempuh. Namun, kita juga harus bijaksana memilih resiko mana yang bisa dijadikan tantangan dan kita hadapi. Kelebihan dan kekurangan, hendaknya dipertimbangkan, agar ke depannya kita bisa sukses dan tidak terjebak pada kegagalan.
SUMBER:Agatha Yunita - kapanlagi.com
Suatu hari, musim kemarau yang berkepanjangan muncul. Karena tak setetespun hujan turun, dan matahari bersinar terlampau terik, akhirnya kubangan tersebut kering kerontang. Airnya menguap tak bersisa, dan meninggalkan ketiga katak yang hampir lemas.
Salah satu katak kemudian berkata, "kalau kita tidak memberanikan diri pergi dan mencari sumber air lainnya, maka kita akan mati kelaparan dan kering di sini." Katak lainnya pun mengangguk setuju. Dan pergilah para katak mencari sumber air.
Tak jauh dari kubangan tempat tinggal mereka, berdirilah sebuah sumur yang tua. Airnya jernih dan tampak segar. "Hei, lihatlah, kita selamat!" sahut seekor katak. Ia pun mengajak saudara-saudaranya melompat ke dalam sumur tersebut. "Di sini kita akan tinggal, airnya jernih dan berlimpah, tentu kita akan selamat dan tak akan kekurangan lagi."
Seekor katak lainnya menolak, "tidak, aku tak mau lompat ke situ. Bayangkan saja kalau nanti sumur ini juga kering, bagaimana kita keluar dari sumur ini? Mending aku pergi ke danau dan mencari tempat aman di sana," katanya. Sang katak yang pertama kali menemukan sumur angkuh berkata, "buat apa kamu ke danau. Di situ banyak binatang lain dan buaya yang siap menyantap kita. Lebih baik aku mati di sini saja," katanya bersikeras. Ia pun melompat dan berenang-renang bahagia di dalam sumur.
Sementara dua katak lainnya memutuskan pergi ke danau. Di sana mereka berkumpul dengan keluarga katak, yang sudah tinggal lama. Buaya memang menjadi ancaman bagi mereka, namun ada saja cara untuk menghindar dan menemukan persembunyian yang aman.
Sedangkan katak keras kepala yang nekat melompat ke dalam sumur, mati setelah sumur tua juga ikut kekeringan.
Saat melakukan sesuatu, tentu ada saja resiko yang harus kita tempuh. Namun, kita juga harus bijaksana memilih resiko mana yang bisa dijadikan tantangan dan kita hadapi. Kelebihan dan kekurangan, hendaknya dipertimbangkan, agar ke depannya kita bisa sukses dan tidak terjebak pada kegagalan.
SUMBER:Agatha Yunita - kapanlagi.com
Jalan Untuk Kebahagiaan
Setelah beranjak dewasa saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga demi keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Namun anehnya saya tidak merasa bahagia dan suamiku sendiri sepertinya tidak bahagia.
Saya kemusian duduk merenung, apa mungkin lantai ini kurang bersih, atau masakan tidak enak?. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi dan memasak dengan sepenuh hati. Namun rasanya kami berdua tetap saja merasa tidak bahagia.
Suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suamiku memanggilku.
“Istriku, temani aku sejenak untuk mendengarkan alunan musik…”
Dengan mimik yang tidak senang akupun menjawab ajakannya
“Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dibersihkan..?”
Begitu kata-kata ini terlontar saya pun termenung kembali, kata-kaa yang tidak asing lagi ditelinga, dalam hubungan perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama kepada ayah.
Rupanya saya sedang menunjukkan kembali hubungan perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam ikatan perkawinan mereka. kemudian beberapa kesadaran muncul dalam pikiran saya. Yang kamu inginkan?.
Tak banyak bicara, saya pun menghenghentikan pekerjaan saya, lalu memandang kearah suamiku, dan teringat akan ayah saya… Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya.
Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.
Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkimpoian, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.
cara saya juga sama seperti ibu, perkimpoian saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkimpoian yang bahagia.
Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku : “Apa yang kau butuhkan?”
Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.
Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.
Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.
SUMBER: perempuan.com
Namun anehnya saya tidak merasa bahagia dan suamiku sendiri sepertinya tidak bahagia.
Saya kemusian duduk merenung, apa mungkin lantai ini kurang bersih, atau masakan tidak enak?. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi dan memasak dengan sepenuh hati. Namun rasanya kami berdua tetap saja merasa tidak bahagia.
Suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suamiku memanggilku.
“Istriku, temani aku sejenak untuk mendengarkan alunan musik…”
Dengan mimik yang tidak senang akupun menjawab ajakannya
“Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dibersihkan..?”
Begitu kata-kata ini terlontar saya pun termenung kembali, kata-kaa yang tidak asing lagi ditelinga, dalam hubungan perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama kepada ayah.
Rupanya saya sedang menunjukkan kembali hubungan perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam ikatan perkawinan mereka. kemudian beberapa kesadaran muncul dalam pikiran saya. Yang kamu inginkan?.
Tak banyak bicara, saya pun menghenghentikan pekerjaan saya, lalu memandang kearah suamiku, dan teringat akan ayah saya… Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya.
Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.
Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkimpoian, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.
cara saya juga sama seperti ibu, perkimpoian saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkimpoian yang bahagia.
Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku : “Apa yang kau butuhkan?”
Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.
Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.
Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.
SUMBER: perempuan.com
Senyum Dua Jari
Siapa sih yang tidak punya masalah dalam hidup ini? Setiap kali ada yang melemparkan pertanyaan, "Yang merasa tidak punya masalah, silakan angkat tangan!" dan setiap kali itu juga saya tidak pernah melihat ada yang mengangkat tangan. Itu berarti, setiap pribadi dari kita, memang mempunyai masalah tersendiri. Entah masalah ringan, berat, kecil, besar; judulnya ya "Masalah". Dan masalah itu membuat kita pusing, bete, kesel atau bahkan bisa marah-marah sendiri.
Parahnya, saat kita sedang mengalami masalah, terkadang kita menjadi manusia yang paling egois. Kenapa saya bisa bilang begitu? Memang kenyataannya begitu kok . Disaat kita sedang mengalami masalah, kita fokus terhadap diri sendiri dan 'memaksa' orang-orang di sekitar kita untuk mengerti permasalahan kita. Kita bahkan sering mengasihani diri sendiri dan berkata, "Saya adalah orang yang paling malang di dunia ini. Kenapa saya mengalami masalah ini? Kenapa tidak ada satupun orang yg mengerti saya?"
See? Kita menjadi egois dan tidak lagi peduli dengan keadaan di sekitar kita karena kita merasa "sedang ada masalah". Tidak seperti itu dan tidak boleh seperti itu. Saya selalu berusaha untuk tidak seperti itu.
Sejak saya membaca buku Ajahn Brahm, renungan Senyum Dua Jari lumayan membantu saya. Bangun tidur, saya merasa berat untuk mengucap syukur mengingat masalah-masalah yang saya hadapi, lalu saya bercermin dan melihat wajah saya seperti nenek lampir. Kemudian, dengan terpaksa pada awalnya saya mencoba senyum dua jari ala Ajahn Brahm; saya meletakkan telunjuk kiri ke ujung kiri bibir saya, telunjuk kanan ke ujung kanan bibir saya, lalu saya menarik ke atas jari saya sehingga terbentuk sebuah senyuman yang konyol. Dan apa yang terjadi, saya tertawa melihat mimik wajah saya yang lucu. Lalu saya terkejut mendengar tawa saya sendiri, dan senyuman konyol berubah menjadi senyuman manis yang saya lihat di cermin. It works!
Saya memilih untuk bangun pagi dan melihat senyum manis yang penuh ucapan syukur dibanding melihat wajah nenek lampir. Saya memilih untuk bangun pagi dan mengucap syukur dibanding mengeluh dan mengaku kalah pada masalah yang saya hadapi.
Pilihan. Ya, apa yang kamu pilih? Saya memilih untuk berbagi resep sederhana ini. Saya tidak mengatakan bahwa dengan senyum dua jari ini masalah yang kita hadapi ini akan selesai begitu saja. Tidak, tetapi dengan senyum dua jari ini kita bisa belajar untuk lebih bersyukur lagi, bersyukur atas masalah yang kita hadapi, karena masalah tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi kita, menjadi pribadi yang lebih dewasa, menjadi pribadi yang lebih kuat dan sabat. Dan yang paling penting, masalah yang kita hadapi itu, adalah jaminan bahwa kita masih WARAS. Bersyukurlah untuk itu. =)
Sejak itu, saya selalu ingin berbagi resep senyum dua jari ini ke siapapun. Terlebih untuk teman-teman saya yang sedang sedih atau pusing. Saya katakan, "Saya bukan superhero yang dapat membantu menyelesaikan masalah kalian, tetapi cobalah 'senyum dua jari' ini. Kalian akan melihat wajah yang paling ganteng / cantik di dunia ini! Saya tidak main-main, saya serius." =)
SUMBER:Rosita - andriewongso.com
Parahnya, saat kita sedang mengalami masalah, terkadang kita menjadi manusia yang paling egois. Kenapa saya bisa bilang begitu? Memang kenyataannya begitu kok . Disaat kita sedang mengalami masalah, kita fokus terhadap diri sendiri dan 'memaksa' orang-orang di sekitar kita untuk mengerti permasalahan kita. Kita bahkan sering mengasihani diri sendiri dan berkata, "Saya adalah orang yang paling malang di dunia ini. Kenapa saya mengalami masalah ini? Kenapa tidak ada satupun orang yg mengerti saya?"
See? Kita menjadi egois dan tidak lagi peduli dengan keadaan di sekitar kita karena kita merasa "sedang ada masalah". Tidak seperti itu dan tidak boleh seperti itu. Saya selalu berusaha untuk tidak seperti itu.
Sejak saya membaca buku Ajahn Brahm, renungan Senyum Dua Jari lumayan membantu saya. Bangun tidur, saya merasa berat untuk mengucap syukur mengingat masalah-masalah yang saya hadapi, lalu saya bercermin dan melihat wajah saya seperti nenek lampir. Kemudian, dengan terpaksa pada awalnya saya mencoba senyum dua jari ala Ajahn Brahm; saya meletakkan telunjuk kiri ke ujung kiri bibir saya, telunjuk kanan ke ujung kanan bibir saya, lalu saya menarik ke atas jari saya sehingga terbentuk sebuah senyuman yang konyol. Dan apa yang terjadi, saya tertawa melihat mimik wajah saya yang lucu. Lalu saya terkejut mendengar tawa saya sendiri, dan senyuman konyol berubah menjadi senyuman manis yang saya lihat di cermin. It works!
Saya memilih untuk bangun pagi dan melihat senyum manis yang penuh ucapan syukur dibanding melihat wajah nenek lampir. Saya memilih untuk bangun pagi dan mengucap syukur dibanding mengeluh dan mengaku kalah pada masalah yang saya hadapi.
Pilihan. Ya, apa yang kamu pilih? Saya memilih untuk berbagi resep sederhana ini. Saya tidak mengatakan bahwa dengan senyum dua jari ini masalah yang kita hadapi ini akan selesai begitu saja. Tidak, tetapi dengan senyum dua jari ini kita bisa belajar untuk lebih bersyukur lagi, bersyukur atas masalah yang kita hadapi, karena masalah tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi kita, menjadi pribadi yang lebih dewasa, menjadi pribadi yang lebih kuat dan sabat. Dan yang paling penting, masalah yang kita hadapi itu, adalah jaminan bahwa kita masih WARAS. Bersyukurlah untuk itu. =)
Sejak itu, saya selalu ingin berbagi resep senyum dua jari ini ke siapapun. Terlebih untuk teman-teman saya yang sedang sedih atau pusing. Saya katakan, "Saya bukan superhero yang dapat membantu menyelesaikan masalah kalian, tetapi cobalah 'senyum dua jari' ini. Kalian akan melihat wajah yang paling ganteng / cantik di dunia ini! Saya tidak main-main, saya serius." =)
SUMBER:Rosita - andriewongso.com
Kalajengking Pendusta
Alkisah pada suatu hari yang cerah, seekor kalajengking hendak pergi ke negeri seberang sungai. Sang hewan pemilik racun mematikan itu pergi menyusuri sungai untuk mencari sebuah perahu yang bisa dipakai untuk menyeberangi sungai yang dalam ini. Seperti yang kita ketahui, kalajengking adalah hewan gurun yang tidak bisa berenang, apalagi menyelam, sehingga dia butuh bantuan sebuah perahu.
Tidak ada satu pun perahu yang ia temukan, tetapi di tengah perjalanan menyusuri sungai, sang kalajengking bertemu dengan seekor katak yang bisa menyeberang sungai dengan mudah. Kalajengking itu kemudian berpikir untuk meminta bantuan sang katak.
"Hai katak," ujar kalajengking dengan suara manis. "Aku perlu bantuan mu untuk menyeberang sungai. Maukah kau membantu ku?"
Sang katak tampak terkejut lalu memandang kalajengking dengan heran, "Yang benar saja, bisa-bisa kau menyengat ku dengan ekor mu dan aku akan mati saat menyeberang sungai bersama mu,"
Kalajengking tertawa, "Mana mungkin aku akan menyengat mu, aku ada perlu di seberang sungai sana. Jika aku menyengat mu, bagaimana aku bisa sampai di seberang sungai? Lagipula aku bisa mati karena tidak bisa berenang."
Katak tidak puas, lalu kembali bertanya, "Lalu bagaimana jika sudah sampai di daratan seberang sungai, kau bisa saja tiba-tiba menyengat ku kan?"
Sang kalajengking menjawab," Tentu saja tidak, sekalipun aku memang bisa menyengat mu, tetapi itu tidak adil karena kau telah mengantarkan aku menyeberangi sungai. Aku tidak akan sejahat itu sebagai rasa terima kasih ku."
Katak yang tadi tampak ragu akhirnya mengizinkan sang kalajengking untuk naik ke atas punggungnya. Kemudian dia dengan keahlian berenang yang sangat baik menyeberangi sungai yang sangat dalam. Tetapi apa yang terjadi? Belum lagi mereka sampai ke daratan, sang kalajengking menancapkan sengatnya pada punggung katak.
Dengan terbata-bata karena tubuhnya terasa sangat sakit, "Kau--kau pendusta, kau bilang tidak akan menyengat ku,"
"Maafkan aku, katak, tetapi ini adalah caraku!" ujar sang kalajengking tanpa rasa bersalah.
Akhirnya sang katak mati dan tenggelam akibat racun yang menyebar pada seluruh tubuhnya. Sang kalajengking terjatuh ke sungai dan ikut mati di dalam derasnya aliran sungai akibat kebohongan dan kebodohan yang dia lakukan.
Kerabat Imelda, tentunya kisah ini bisa menjadi pelajaran betapa sebuah janji seharusnya ditepati. Melanggar janji pada satu pihak tidak akan menguntungkan siapapun, bahkan bisa merugikan orang lain yang sudah memegang dan percaya pada janji yang terucap. Jangan pernah menjanjikan apapun bila Anda tidak yakin akan menepatinya. Karena tidak hanya Anda yang akan rugi, tetapi juga orang lain. Selalu bijak sebelum memberikan sebuah janji pada orang lain!
SUMBER: KapanLagi.com
Tidak ada satu pun perahu yang ia temukan, tetapi di tengah perjalanan menyusuri sungai, sang kalajengking bertemu dengan seekor katak yang bisa menyeberang sungai dengan mudah. Kalajengking itu kemudian berpikir untuk meminta bantuan sang katak.
"Hai katak," ujar kalajengking dengan suara manis. "Aku perlu bantuan mu untuk menyeberang sungai. Maukah kau membantu ku?"
Sang katak tampak terkejut lalu memandang kalajengking dengan heran, "Yang benar saja, bisa-bisa kau menyengat ku dengan ekor mu dan aku akan mati saat menyeberang sungai bersama mu,"
Kalajengking tertawa, "Mana mungkin aku akan menyengat mu, aku ada perlu di seberang sungai sana. Jika aku menyengat mu, bagaimana aku bisa sampai di seberang sungai? Lagipula aku bisa mati karena tidak bisa berenang."
Katak tidak puas, lalu kembali bertanya, "Lalu bagaimana jika sudah sampai di daratan seberang sungai, kau bisa saja tiba-tiba menyengat ku kan?"
Sang kalajengking menjawab," Tentu saja tidak, sekalipun aku memang bisa menyengat mu, tetapi itu tidak adil karena kau telah mengantarkan aku menyeberangi sungai. Aku tidak akan sejahat itu sebagai rasa terima kasih ku."
Katak yang tadi tampak ragu akhirnya mengizinkan sang kalajengking untuk naik ke atas punggungnya. Kemudian dia dengan keahlian berenang yang sangat baik menyeberangi sungai yang sangat dalam. Tetapi apa yang terjadi? Belum lagi mereka sampai ke daratan, sang kalajengking menancapkan sengatnya pada punggung katak.
Dengan terbata-bata karena tubuhnya terasa sangat sakit, "Kau--kau pendusta, kau bilang tidak akan menyengat ku,"
"Maafkan aku, katak, tetapi ini adalah caraku!" ujar sang kalajengking tanpa rasa bersalah.
Akhirnya sang katak mati dan tenggelam akibat racun yang menyebar pada seluruh tubuhnya. Sang kalajengking terjatuh ke sungai dan ikut mati di dalam derasnya aliran sungai akibat kebohongan dan kebodohan yang dia lakukan.
Kerabat Imelda, tentunya kisah ini bisa menjadi pelajaran betapa sebuah janji seharusnya ditepati. Melanggar janji pada satu pihak tidak akan menguntungkan siapapun, bahkan bisa merugikan orang lain yang sudah memegang dan percaya pada janji yang terucap. Jangan pernah menjanjikan apapun bila Anda tidak yakin akan menepatinya. Karena tidak hanya Anda yang akan rugi, tetapi juga orang lain. Selalu bijak sebelum memberikan sebuah janji pada orang lain!
SUMBER: KapanLagi.com
Belajar dari Merpati
1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah "tidak"! Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.
2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah "tidak"!
3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya adalah "tidak"!
4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya adalah "tidak"!
5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan "kepahitan" sehingga tidak menyimpan dendam.
Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan menghargai!
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah "tidak"!
3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya adalah "tidak"!
4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya adalah "tidak"!
5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan "kepahitan" sehingga tidak menyimpan dendam.
Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan menghargai!
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
SOMBONG
Pada suatu hari, seorang pria bertamu ke rumah seorang guru yang terkenal bijaksana. Sesampai di sana, ia tertegun keheranan. Dia melihat sang guru sedang sibuk bekerja; beliau mengangkut air dengan ember-ember besar serta menyikat lantai rumahnya sekuat tenaga.
"Guru, apa yang sedang Anda lakukan..?"
Sang guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Dan saya pun memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Tampaknya, mereka puas sekali! Namun, setelah rombongan itu pulang, tiba-tiba saja saya merasa menjadi orang yang amat hebat. Kesombongan saya mulai muncul. Maka saya melakukan hal ini untuk menghilangkan perasaan sombong itu.
Kerabat Imelda..."Sombong" adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua. Benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibanding orang lain.
Dan di tingkat ketiga, sombong disebabkan faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Mari setiap hari, kita memeriksa hati kita. Karena hal-hal baik yang terjadi pada diri kita saat ini, sangat mungkin terjadi karena perbuatan baik/amal yang kita lakukan pada masa lampau. Dan masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Ada baiknya juga mengingat bahwa kita sebagai manusia punya harkat dan martabat yang sama, juga memiliki nilai sama di mata Sang Pencipta. Kesombongan hanya akan membawa kita pada "kejatuhan".
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
"Guru, apa yang sedang Anda lakukan..?"
Sang guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Dan saya pun memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Tampaknya, mereka puas sekali! Namun, setelah rombongan itu pulang, tiba-tiba saja saya merasa menjadi orang yang amat hebat. Kesombongan saya mulai muncul. Maka saya melakukan hal ini untuk menghilangkan perasaan sombong itu.
Kerabat Imelda..."Sombong" adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua. Benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibanding orang lain.
Dan di tingkat ketiga, sombong disebabkan faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Mari setiap hari, kita memeriksa hati kita. Karena hal-hal baik yang terjadi pada diri kita saat ini, sangat mungkin terjadi karena perbuatan baik/amal yang kita lakukan pada masa lampau. Dan masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Ada baiknya juga mengingat bahwa kita sebagai manusia punya harkat dan martabat yang sama, juga memiliki nilai sama di mata Sang Pencipta. Kesombongan hanya akan membawa kita pada "kejatuhan".
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
Akhirnya Ku Menemukanmu
Tipe pria seperti apa yang Anda inginkan? Cerdas? Kaya? Baik hati? Tampan? Macho? Pendiam? atau yang sabar dan serius? Atau mungkin pria mapan yang siap menikah dan hidup selamanya dengan Anda? Wajar apabila beberapa hal tersebut merupakan kriteria wajib yang harus dimiliki pria pilihan Anda. Siapa sih yang mau hidup bersama dengan seseorang yang tak memiliki masa depan dan tak mampu membuat Anda bahagia?
Pikiran utama yang muncul saat menjalani hubungan yang serius tak lain adalah kebutuhan materi yang cukup. Bukan bermaksud untuk matre, namun saat ini kekuatan materi bahkan mengalahkan cinta. Materi benar-benar membuat banyak orang buta dan menutup telinga. Egoisme melambung tinggi demi kepuasan diri sendiri.
Yang terjadi kemudian suatu pernikahan disepelekan, dan seorang pria hanya menjadi pendamping dan pelengkap di hidup Anda. Sudah bisa Anda tebak kan apa tindakan selanjutnya? Ya itulah perceraian, sambil tak henti mencari seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan secara maksimal. Jika suatu hubungan hanya dilandasi kepuasan saja? Kapan Anda terpuaskan?
Bukan melulu kehadiran seorang pria yang dibutuhkan dalam hidup Anda, namun seorang pria yang membuat Anda merasa hidup. Bagaimana mendapatkan sosok pria seperti itu?
Ada baiknya kita mengubah visi dalam suatu hubungan. Bukan demi diri sendiri tapi demi kita, bukan hanya aku yang berusaha namun kita, sulitkah hal itu? Tidak, Anda tentu bisa melakukannya. Suatu hal mudah dan langkah yang sempurna untuk dapat hidup bahagia selamanya.
Jadi, masihkah materi menjadi syarat nomor satu bagi Anda untuk mencari pasangan hidup?
SUMBER: Agatha Yunita - kapanlagi.com
Pikiran utama yang muncul saat menjalani hubungan yang serius tak lain adalah kebutuhan materi yang cukup. Bukan bermaksud untuk matre, namun saat ini kekuatan materi bahkan mengalahkan cinta. Materi benar-benar membuat banyak orang buta dan menutup telinga. Egoisme melambung tinggi demi kepuasan diri sendiri.
Yang terjadi kemudian suatu pernikahan disepelekan, dan seorang pria hanya menjadi pendamping dan pelengkap di hidup Anda. Sudah bisa Anda tebak kan apa tindakan selanjutnya? Ya itulah perceraian, sambil tak henti mencari seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan secara maksimal. Jika suatu hubungan hanya dilandasi kepuasan saja? Kapan Anda terpuaskan?
Bukan melulu kehadiran seorang pria yang dibutuhkan dalam hidup Anda, namun seorang pria yang membuat Anda merasa hidup. Bagaimana mendapatkan sosok pria seperti itu?
Ada baiknya kita mengubah visi dalam suatu hubungan. Bukan demi diri sendiri tapi demi kita, bukan hanya aku yang berusaha namun kita, sulitkah hal itu? Tidak, Anda tentu bisa melakukannya. Suatu hal mudah dan langkah yang sempurna untuk dapat hidup bahagia selamanya.
Jadi, masihkah materi menjadi syarat nomor satu bagi Anda untuk mencari pasangan hidup?
SUMBER: Agatha Yunita - kapanlagi.com
Tuesday, May 31, 2011
Belajar Dari Kegagalan Sebuah Gol
Anda tentu kecewa saat tiba-tiba Anda gagal dalam sesuatu hal, entah dalam hubungan asmara atau pekerjaan. Dan tentu saja hal tersebut menimbulkan sebuah trauma dalam diri. Anda kemudian menyesali kegagalan yang Anda alami. Terus menerus bertanya di dalam hati mengapa hal itu sampai terjadi.
Menyesal. Boleh dan harus, tetapi bukan berarti membuat Anda harus larut dalam kesedihan. Kegagalan itu ada untuk membuat Anda lebih kuat. Bangkit, dan mencoba lagi sampai Anda bisa.
Jika Anda amati, saat para pemain bola berlatih. Tentu mereka tak serta merta mahir dalam mencetak gol-gol indah. Pada awalnya mereka akan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kemudian mereka belajar mengendalikan dan menggiring bola. Mereka juga belajar menembak bola ke dalam gawang. Dan di sinilah bagian yang sulit, karena tak setiap tendangan bisa tepat masuk ke gawang.
Selalu ada saja rintangan yang menghalangi Anda mencetak sebuah gol. Entah itu arah angin, pemain lain atau memang kurang cermat saja. Aneka gangguan tersebut juga muncul di dalam kehidupan Anda. Saat Anda berlatih, jatuh bangun dalam kegagalan, maka rintangan tersebut akan membuat Anda belajar lebih baik lagi di usaha ke depannya.
Memang sih melihat hal tersebut rasanya sederhana sekali menjalani hidup, tetapi bukankah hidup memang sederhana. Hanya kita saja yang kerap memilih jalan yang rumit.
Ingat, pemain profesional sekalipun selalu membutuhkan latihan berulang-ulang, mengalami kegagalan berkali-kali, namun di situlah mereka tumbuh menjadi pemain bola profesional yang tangguh. Yang mampu mencetak gol-gol indah dan membobol gawang lawan.
Sikap Anda sangat menentukan keberhasilan tendangan bola Anda. Jika ingin mencetak gol indah, maka Anda harus mau belajar dari sekian banyak kegagalan Anda.
SUMBER:kapanlagi.com
Menyesal. Boleh dan harus, tetapi bukan berarti membuat Anda harus larut dalam kesedihan. Kegagalan itu ada untuk membuat Anda lebih kuat. Bangkit, dan mencoba lagi sampai Anda bisa.
Jika Anda amati, saat para pemain bola berlatih. Tentu mereka tak serta merta mahir dalam mencetak gol-gol indah. Pada awalnya mereka akan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kemudian mereka belajar mengendalikan dan menggiring bola. Mereka juga belajar menembak bola ke dalam gawang. Dan di sinilah bagian yang sulit, karena tak setiap tendangan bisa tepat masuk ke gawang.
Selalu ada saja rintangan yang menghalangi Anda mencetak sebuah gol. Entah itu arah angin, pemain lain atau memang kurang cermat saja. Aneka gangguan tersebut juga muncul di dalam kehidupan Anda. Saat Anda berlatih, jatuh bangun dalam kegagalan, maka rintangan tersebut akan membuat Anda belajar lebih baik lagi di usaha ke depannya.
Memang sih melihat hal tersebut rasanya sederhana sekali menjalani hidup, tetapi bukankah hidup memang sederhana. Hanya kita saja yang kerap memilih jalan yang rumit.
Ingat, pemain profesional sekalipun selalu membutuhkan latihan berulang-ulang, mengalami kegagalan berkali-kali, namun di situlah mereka tumbuh menjadi pemain bola profesional yang tangguh. Yang mampu mencetak gol-gol indah dan membobol gawang lawan.
Sikap Anda sangat menentukan keberhasilan tendangan bola Anda. Jika ingin mencetak gol indah, maka Anda harus mau belajar dari sekian banyak kegagalan Anda.
SUMBER:kapanlagi.com
Subscribe to:
Posts (Atom)