Wednesday, February 29, 2012

Kisah Penjual Ikan Segar

Seorang pria tua yang merupakan pedagang ikan membuka toko lalu memasang sebuah papan agar penjualannya meningkat. Papan itu bertuliskan Di Sini Dijual Ikan Segar. Dengan pemasangan papan itu, lebih banyak orang yang membeli ikan di toko pria tua tersebut. Cara berdagang yang menguntungkan. Setelah beberapa jam, seorang pembeli menanyakan, "Kenapa kau tulis Di sini dijual ikan segar? Bukannya semua orang tahu kalau kau memang berjualan di sini, bukan di sana," lalu pedagang tua itu berpikir, benar juga, dan akhirnya dia menghapus kata di sini, sehingga tulisan pada papan hanya Dijual Ikan Segar. Beberapa waktu kemudian, datang seorang pelanggan yang menanyakan, "Kenapa kau tulis dijual ikan segar? Tentu saja yang kau jual ikan segar, bukan ikan busuk," kemudian sang pedagang berpikir ada benarnya juga, lalu tulisan pada papan dihapus menjadi Dijual Ikan. Datang lagi pembeli yang menanyakan, "Kenapa ditulis dijual ikan? Kau tidak sedang membagi-bagikan ikan ini dengan cuma-cuma kan?" pedagang setuju dengan ide itu, lalu mengganti tulisan menjadi Ikan saja. Lalu datang pembeli lain yang tertawa membaca tulisan pada papan, "Kau ini ada-ada saja pak tua, tentu saja yang kau jual ikan, bukan daging ayam, apa kau kira pembelimu bodoh?" Akhirnya penjual ikan itu melepas papan jualannya. Tetapi apa yang terjadi, orang yang membeli ikan-ikannya menurun dibandingkan saat dia memajang papan bertuliskan Di Sini Dijual Ikan Segar. Kerabat Imelda... tak semua ide orang lain harus Anda jalankan untuk menyenangkan hati mereka. Jika saran yang diberikan dirasa tidak mengembangkan kemampuan Anda, Anda berhak untuk menolak ide tersebut. Hidup Anda adalah keputusan Anda, dan menolak ide dari orang lain merupakan hak yang juga milik Anda. SUMBER: kapanlagi.com

Guci Antik Yang Mahal

Pada suatu hari, seorang pasangan menikmati liburan di negeri China. Di sana, mereka berniat membeli guci. Saat melihat sebuah guci yang sangat cantik, mereka protes kepada penjual karena harga guci yang sangat mahal dan tidak masuk akal. Kemudian sang penjual mengatakan guci itu memang pantas diberi harga mahal karena usianya sudah lebih dari 500 tahun. Tiba-tiba keanehan terjadi, guci itu bersuara dan bercerita pada calon pembeli dan penjual, "Tahukah kalian, sebenarnya aku hanya seonggok tanah liat yang kotor dan tak berguna," Karena orang yang mendengar guci yang bisa berbicara itu bengong dan bingung, sang guci kembali bercerita, "Waktu itu aku hanya onggokan tanah liat tak berguna yang dipukul-pukulkan pada papan kayu agar kerikil dan kotoran dalam tubuhku bisa keluar, kalian tahu.. rasanya sakit sekali..." "Setelah itu, pria yang mengambilku menaruh aku di atas meja yang bisa berputar-putar dan aku pusing karenanya, aku sampai menangis karena tidak tahan.. tetapi pria itu seolah-olah tak mendengar dan hanya tersenyum," ujar sang guci. "Tahukah kalian, sesudah itu aku masih disiksa dengan cara dimasukkan ke dalam pemanggang berapi yang sangat panas. Aku berteriak-teriak ketika dimasukkan ke dalam sana. Tiba-tiba tubuhku yang tadinya lunak menjadi keras." "Setelah dipanggang sangat lama, akhirnya aku dikeluarkan. Ternyata siksaan belum berakhir karena pria itu menyiram tubuhku dengan cairan-cairan cat, rasanya perih sekali.. seperti luka yang disiram air panas. Aku memohon-mohon agar penderitaanku berakhir, tetapi pria itu mengatakan kau akan tahu manfaatnya kelak," "Setelah itu tubuhku kembali dibakar, dikeluarkan dari panggangan dan disiram cat lain. Berhari-hari aku harus merasakan sakit, tetapi lama-lama sakit itu hilang dan pria yang membuatku selalu mengelapku dengan kain sutera," "Kemudian beberapa hari setelahnya, pasukan kerajaan membeliku dengan harga yang sangat mahal, aku kaget mengapa mereka membayarku dengan uang sebanyak itu. Terlebih lagi, saat tiba di istana aku diletakkan di tempat yang sangat bagus. Pada saat itu barulah aku tahu bahwa bentukku telah berubah, aku tidak lagi seonggok tanah liat lembek yang kotor dan tak berguna, aku telah berubah menjadi guci yang cantik dengan berbagai tahap yang menyiksa," "Aku menyukai bentukku yang sekarang, tetapi sayang sekali aku tidak pernah bertemu lagi dengan pria yang membentukku jadi begini. Dulu aku menganggapnya sebagai tukang siksa, tetapi sekarang aku justru ingin berterima kasih padanya karena membuat hidupku jadi lebih baik dan terhormat," Demikian sang guci mengakhiri ceritanya. Kerabat Imelda...Rasa perih dan penderitaan bisa menjadi sebuah perjalanan hidup yang membuat masa depan lebih bersinar. SUMBER:KapanLagi.com

Kesetiaan Yang Tak Terbalaskan

Namaku Selly (bukan nama sebenarnya), aku memiliki kisah cinta yang begitu berarti dalam hidupku, kisah cinta yang memberikanku sebuah pelajaran sangat berharga dalam mengarungi bahtera rumah tanggaku kelak. Namun kuakui kisah ini bukanlah kisah yang sangat romantis seperti cerita-cerita cinta dalam sebuah novel, namun bagiku kisah ini amat sangat membanggakan dan jauh lebih mengagumkam. Aku dibesarkan dalam keluarga yang sangat harmonis, ayah dan ibu selalu mengajarkanku tentang sebuah kesetiaan. Mereka pernah bercerita bahwa sebelum mereka menikah, mereka mengaku telah memiliki insting yang kuat saat mereka pertama kali bertemu dan sama-sama yakin bahwa mereka kelak akan menikah, punya anak dan berbahagia sampai akhir hayatnya. Dan benarlah apa yang mereka yakini, selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan. Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Beberapa keluarga kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan sebuah mall yang menjual alat-alat keperluan rumah tangga. Mereka mengatakan hari pembukaan adalah waktu terbaik untuk berbelanja barang keperluan karena sangat murah dengan kualitas yang bagus. Tapi ibuku menolaknya kerana ayahku sebentar lagi akan pulang dari kerja. Kata ibuku, ”Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian”. Bahkan ketika ibu mendapatkan sebuah bonus wisata ke luar negeri dari bank tempat ia menabung, ibuku tak pernah mau menggunakannya, karena ibu tak ingin melihat ayah sendiri di rumah selama beberapa hari, padahl ayahku sudah mengizinkannya dan tak mempemasalahkan kepergian ibu ke luar negeri untuk berwisata, tapi ibu tetap menolaknya. Ia lebih rela kehilangan bonus tersebut daripada meninggalkan ayah sendiri di rumah. Hal itulah yang selalu ditegaskan oleh ibu kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang perempuan, aku wajib bersikap baik terhadap suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat mahupun sakit. Seorang perempuan harus menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu. Menurut mereka, itu hanyalah kata-kata janji pernikahan, omongan kosong belaka. Tapi aku tetap mempercayai nasehat ibuku yang diberikan ibu kepadaku. Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami sekeluarga mengalami kesedihan. Setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di pembaringan karena mengalami kelumpuhan. Ibu juga harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mencuci darahnya Ayahku, seorang lelaki yang masih sehat di usia tuanya, ia tetap setia merawat ibuku, menyuapinya, bercerita segala hal dan membisikkan kata-kata cinta pada ibu. Ayahku tak pernah meninggalkannya. Bahkan ia rela membawanya ke rumah sakit sendirian saat waktu mencuci darah, membopongnya dari kasur menuju mobil dan sebaliknya. Begitupun saat ibu hendak buang air, ayahlah yang selalu membantunya. Bukan karena keluarga yang lain tak mau membantu, tetapi ayah selalu mengatakan bahwa itu adalah kewajibannya. Selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya. Ayahku pernah mengkilatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”Untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan hodoh sekali”. Ayahku menjawab, “Aku ingin kau tetap merasa cantik”. Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”Kau tahu, Selly. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?” Aku menggeleng, dan ibuku berkata, “Karena aku tak pernah meninggalkannya, tak pernah seharipun meninggalkannya, kecuali saat ia berada di luar rumah untuk urusan pekerjaannya,” Itulah kisah cinta ayah dan ibuku mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya. Dan kami berupaya untuk terus memelihara pelajaran yang telah diberikan ayah dan ibu. SUMBER:perempuan.com

Mengapa Orang Kaya Makin Kaya dan Orang Miskin Makin Miskin?

Pola pikir orang kaya dapat dipelajari dan diadopsi siapa pun, karenanya peluang menjadi kaya juga dapat diperoleh siapa pun juga. 1.Orang kaya percaya bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada seberapa besar dan serius usaha mereka. Pola kerja orang kaya lebih agresif mengambil langkah-langkah progresif. Usahakan untuk selalu melangkah, walaupun langkah kecil tetapi jika Anda kerjakan secara konsisten itu akan memudahkan pekerjaan dan lebih memastikan keberhasilan Anda mencapai tujuan. Sebaliknya, orang miskin hanya menerima apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, tanpa ada usaha maksimal untuk memperbaiki keadaan mereka. Kalaupun terpaksa bekerja keras itu hanyalah untuk memenuhi tagihan atau kebutuhan sehari-hari. 2.Orang kaya bersedia menanggung risiko, termasuk risiko menghadapi kegagalan. Mereka tidak mudah terlena jika meraih kesuksesan, dan mereka juga selalu dapat melihat sisi positif dari setiap kegagalan. Mereka mempunyai motivasi, optimisme dan keberanian yang luar biasa dalam menciptakan dan membesarkan usaha. Orang kaya tidak pernah takut gagal. Sedangkan orang miskin hanya menjadi pengamat atas perkembangan yang sedang terjadi, dan bukan menjadi bagian dari perubahan tersebut. Itu karena mereka tidak berani menanggung risiko dan cenderung mencari aman. Alhasil, mereka selalu kehilangan peluang potensial. 3.Orang kaya selalu berpikir dan bertindak positif, dalam situasi ekonomi yang baik maupun situasi ekonomi sedang krisis. Orang kaya memiliki keyakinan tinggi bahwa mereka pasti berhasil menciptakan sumber penghasilan yang besar suatu hari nanti. Keyakinan itulah yang memungkinkan mereka selalu melihat peluang di mana-mana dan memotivasi mereka untuk aktif melakukan tindakan yang semakin menjadikan hidup mereka lebih makmur. Sedangkan sistem keyakinan orang miskin sama sekali bertolak belakang, yaitu selalu berpikir negatif dan pesimis. Sistem kepercayaan orang miskin (yang negatif) itu juga terus tumbuh, sehingga mereka semakin enggan berusaha. Hasilnya mereka menjadi semakin miskin. 4.Orang kaya mampu bertindak cepat dalam mengambil keputusan, dan tidak mudah berubah pikiran. Orang kaya lebih berkomitmen kepada visi, tujuan dan keputusan mereka. Mereka berusaha selalu sabar dan tabah menghadapi segala tantangan dalam berbisnis dan kehidupan pribadi. Mereka sadar bahwa perbedaan orang sukses dan gagal terletak pada ketabahan atau ketangguhan karakter. Kebalikannya, orang miskin sulit sekali menetapkan keputusan, tetapi sangat cepat berubah pikiran. Sikap demikian dikarenakan mereka selalu pesimis dan was-was keputusannya keliru. 5.Orang kaya memiliki kemampuan menahan keinginan untuk bersenang-senang, sebelum tujuan mereka tercapai. Orang kaya menunda kenikmatan hidup sampai kondisi mereka benar-benar mampu (secara keuangan). Mereka cenderung bergaya hidup sederhana dan tidak boros. Sesekali mereka memang membutuhkan kesenangan, tetapi itu berbiaya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan mereka. Orang miskin tidak mampu mengerem kesenangan karena mereka tidak mampu membedakan mana keinginan dan kebutuhan. Mereka tidak mempunyai cukup tabungan dan hidup sibuk ‘gali lubang tutup lubang', karena uang mereka habis untuk mengejar kesenangan. Keadaan seperti itu semakin menyulitkan kehidupan mereka. Lima perbedaan antara orang kaya dan orang miskin tadi menunjukkan bahwa dunia nyata kita hanyalah satu cerminan dari dunia batin. Berhati-hatilah dengan pola pikir, karena akan menjadi tindakan. Sedangkan tindakan akan menentukan nasib Anda. Bila Anda ingin kaya kuncinya adalah kemampuan mengendalikan pikiran menjadi lebih positif. Be positive, pasti kaya! SUMBER: Andrew Ho - andriewongso.com

Penangkap Burung Dan Kura-Kura

Seekor kura-kura bersahabat baik dengan merak. Kebetulan si merak tinggal di sebuah pohon yang terletak di pinggiran sungai tempat si kura-kura tinggal. Setiap hari kura-kura bertemu dengan merak yang turun untuk minum dan melenggak-lenggokkan sayap-sayapnya di pinggir sungai untuk menghibur kura-kura. Di suatu hari yang kurang beruntung, penangkap burung liar sedang berkeliaran di sekitar tempat tinggal mereka, dan segera tertarik pada burung merak cantik itu. Burung merak tertangkap dan dibawa ke pasar untuk dijual. Dalam perjalanan menuju pasar, burung merak memohon pada penangkapnya untuk diijinkan kembali sejenak guna mengucapkan selamat tinggal pada sahabat baiknya. Oleh karena jeram kura-kura belum jauh mereka tinggalkan, maka si penangkap mengabulkan permintaan merak dengan membawanya kembali ke tempat kura-kura. Kura-kura nampak masygul memikirkan sahabatnya yang tertangkap. Begitu melihat si penangkap burung datang lagi dengan sahabatnya, kura-kura segera berpikir cepat untuk membebaskan merak dalam waktu yang singkat itu. Kura-kura bertanya pada si penangkap burung, jika kura-kura bisa memberikan barang spesial untuknya, apakah dia akan melepaskan sahabatnya. Tanpa pikir panjang si penangkap burung mengiyakan tawaran si kura. Maka menyelamlah kura-kura ke dasar sungai dan membawa naik mutiara yang sangat indah. Penangkap burung segera terkesima dan dengan mudah melepaskan burung merak itu. Segera si penangkap burung pergi ke kota untuk menjual mutiaranya. Tapi tak lama kemudian penangkap burung itu kembali lagi menemui kura-kura. Dia mengancam kura-kura, memintanya menemukan mutiara lagi yang sama persis dengan mutiara pertama. Jika tidak, dia akan menangkap kembali merak, sahabat baiknya itu. Si kura-kura yang telah meminta merak untuk pergi ke hutan guna menyelamatkan dirinya, merasa harus memberi pelajaran pada orang tamak ini. Maka kura-kura pun menyanggupi permintaan si penangkap burung dan berkata, "baiklah, berikan mutiara itu padaku sehingga aku bisa mencari yang sama persis sambil menyelam di dasar sungai". Terbayang keuntungan yang akan diraihnya, penangkap burung menyerahkan mutiaranya. Segera setelah memasuki sungai, kura-kura berseru padanya, "Aku tidak bodoh untuk memberimu dua mutiara dengan cuma-cuma!". Kura-kura menyelam dan berenang menjauhi tepi sungai sementara penangkap burung itu hanya bisa bingung tidak bisa mengejar si kura-kura dan tidak pernah mendapatkan kembali baik mutiara maupun merak tangkapannya. Kerabat Imelda...Ketamakan harus dibedakan dengan kepintaran dan semangat bekerja agar cepat kaya. Saat Anda merasa kurang dan menginginkan sesuatu yang lebih, yang bukan merupakan hak Anda, apalagi dengan menyengsarakan orang lain, maka Anda mulai menjadi tamak. Puas di awal, namun selalu ada balasan untuk orang tamak. SUMBER: kapanlagi.com

Seni Menikmati Hidup Bebas Stres

Suatu ketika, beberapa orang murid mengunjungi gurunya. Mereka adalah alumni yang sudah terjun ke masyarakat dengan profesinya masing-masing. Awalnya perbincangan mereka sangat menyenangkan. Namun tiba-tiba percakapan tersebut mengarah kepada keluhan mengenai pekerjaan dan hidup mereka yang penuh tekanan. Lalu sang guru pergi ke dapur untuk mengambilkan kopi untuk para muridnya. Sang guru kemudian kembali dengan membawakan teko besar berisi kopi dan beberapa jenis cangkir yang berbeda-beda: ada cangkir kaca, porselen, plastik, kristal, ada yang terlihat biasa, ada yang terlihat murahan, ada yang mewah dan mahal, ada yang terlihat indah. Lalu sang guru menyuruh muridnya untuk mengambil salah satu cangkir tersebut dan menuangkan kopi ke dalamnya. Ketika masing-masing murid sudah memegang cangkir berisi kopi, gurunya berkata, "Seperti yang kalian lihat, semua cangkir yang indah dan mahal diambil oleh kalian. Yang tertinggal hanya cangkir biasa dan murahan. Tidak masalah jika kalian mengambil yang terbaik. Tapi sayangnya itulah sumber dari stres dan masalah." Gurunya melanjutkan, "Kalian harus tahu cangkir ini tidak akan mengubah rasa kopi ini menjadi lebih istimewa. Cangkir tetaplah cangkir, yang tidak akan mempengaruhi isi kopi di dalamnya. Hanya cangkirnya saja yang mahal dan bahkan seringkali menyembunyikan isi di dalamnya." Para muridnya terdiam mendengarkan perkataan gurunya. "Sebenarnya yang kalian inginkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Tapi yang kalian lakukan tadi adalah fokus dan mempermasalahkan cangkirnya. Kalian tanpa sadar melihat cangkirnya dan saling melihat cangkir orang lain," gurunya menjelaskan. "Anggap hidup kalian adalah kopi. Lalu pekerjaan, bisnis, uang dan jabatan adalah cangkir yang hanyalah menampung hidup itu sendiri. Dan jenis cangkir yang kita miliki tidaklah menentukan dan mengubah kualitas kopi yang kita minum. Artinya pekerjaan, bisnis, uang dan jabatan tidaklah menentukan kualitas hidup kita. Terkadang dengan fokus pada cangkir, kalian tidak akan bisa menikmati kopi paling mahal dan nikmat sekali pun." Gurunya mengakhiri dengan kutipan, "Ingatlah ini. Orang yang bahagia tidak selalu memiliki yang terbaik dalam hidupnya. Mereka hanya mampu menjadikan yang terbaik dari apa yang mereka miliki saat ini." Para murid senang dengan jawaban yang diberikan gurunya yang bijak tersebut. Kerabat Imelda...Apa pun yang kita miliki saat ini tidaklah sepenuhnya menentukan kualitas hidup kita. Artinya kita tetap bisa menjadikan hidup ini lebih baik dan bermakna terlepas dari apa yang kita miliki sekarang. Jika kita selalu dan terus mempermasalahkan apa yang kita miliki, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menikmati hidup yang telah dianugerahkan kepada kita. SUMBER: Suhardi - andriewongso.com

Mendidik Tanpa Kekerasan

Ketika anak kita melakukan kesalahan besar ataupun kecil, kita cenderung menghukumnya, bukan? Entah itu dengan mengomelinya atau menghentikan uang jajan atau melarangnya bepergian pada akhir pekan. Pertanyaannya, efektifkah cara itu? Cobalah tilik kisah luar biasa berikut ini. Mungkin Anda bisa memiliki cara pandang berbeda dalam mendidik putra/putri Anda. Kejadian ini dialami Dr.Arun, cucu mendiang Mahatma Gandhi, saat usianya masih 16 tahun. Keluarganya tinggal di sebuah perkebunan tebu yang berjarak sekitar 28 km dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah mereka berada di pelosok desa terpencil. Suatu hari ayahnya meminta Arun menemaninya ke kota untuk menghadiri suatu konferensi selama seharian penuh. Permintaan ini disambut dengan sangat antusias karena itu berarti ia bisa "berjalan-jalan" ke pusat kota. Setelah mengantar sang ayah, Arun juga diminta untuk membawa mobilnya ke bengkel untuk diperbaiki. Dan setelah itu, Arun disuruh untuk menjemput sang ayah di tempat konferensi. Nah, selagi menunggu perbaikan mobilnya, Arun pergi ke bioskop. Namun saking asyiknya menonton film-film John Wayne, ia jadi lupa waktu. Ia pun segera mengambil mobil di bengkel dan lalu menjemput ayahnya yang sudah menanti selama hampir satu jam. Sewaktu ditanya ayahnya alasan keterlambatannya, Arun memilih untuk berbohong karena merasa sangat bersalah dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Kata Arun, "Tadi mobilnya belum selesai diperbaiki, sehingga Arun harus menunggu." Sayangnya tanpa sepengetahuan Arun, sang ayah sebelumnya sudah menghubungi bengkel mobil itu, sehingga sang ayah tahu kalau anaknya itu sedang berbohong. Dengan wajah sedih sembari menatap anaknya, sang ayah berkata, "Arun, sepertinya ada yang salah dengan cara ayah mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tak berani bicara jujur pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki. Dengan begitu, ayah bisa merenungkan di mana letak kesalahan ayah." Saat itu Arun sungguh menyesali perbuatan bodohnya itu. Sejak kejadian itu, Arun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berbohong kepada siapa pun. Dr.Arun kini menyadari betul betapa berharganya pelajaran yang diberikan sang ayah waktu itu. Seandainya saat itu sang ayah menghukumnya seperti yang dilakukan orangtua pada umumnya ketika menghukum anaknya, ia mungkin akan menderita atas hukuman itu dan sedikit saja menyadari kesalahannya. Namun, tindakan evaluasi diri sang ayah yang tanpa kekerasan itu justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri Dr.Arun sepenuhnya. SUMBER: Tim AndrieWongso - andriewongso.com

Surat Berwarna Pink diatas Bantal

Aku seorang istri dan belum dikarunia anak, usia pernikahan kami sudah berjalan selama lima tahun. Perkenalanku dengan Pram (bukan nama sebenarnya) berlangsung dalam situasi yang sangat romantis, demikianpun ketika kami menjalani masa pacaran. Masa-masa itu buatku adalah masa-masa paling indah dalam sejarah hidupku. Pram adalah laki-laki yang menjadi dambaaku, secara fisik maupun sifatnya yang alami. Dan alasan itu pulalah yang membuatku akhirnya menerima pinangannya. Namun setelah menjalani pernikahan selama lima tahun, aku mulai merasakan kejenuhan. Alasan-alasanku mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Terus terang aku adalah tipe perempuan yang sangat sentimentil dan sensitif. Aku merindukan saat-saat romantis seperti waktu kami masih berpacaran. Suamiku saat ini sangat berbeda dari apa yang saya harapkan, dan aku mulai mencurigai perubahannya. Hingga akhirnya aku mengajukan gugatan kepadanya. Saat itu ia sangat terkejut, karena sebelumnya kami memang tak bertengkar, “Mengapa, salahku apa Nen?” “aku lelah mas, kamu tak bisa lagi memberikan cinta yang saya inginkan,” jawabku sekenanya. Ia memang langsung terdiam dan termenung. Sepanjang malam itu ia sepertinya sulit untuk memejamkan matanya. Keesokan harinya ia kembali mempertanyakan alasas mengapa aku minta bercerai, “Nen, apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau merubah pikiranmu itu, aku merasa aku telah memenuhi kewajibanku sebagai suami, bisakah kamu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya,” ia bertanya dengan ekspresi wajah yang tak berubah. Kekecewaanku semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa aku harapkan darinya? Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Aku punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam perasaanku, aku akan mengubah pikiranku. Seandainya, aku menyukai jika aku menyukai sesuatu dan sesuatu itu amat sulit untuk diwujudkan kecuali dengan berkorban nyawa, apakah kamu mau mewujudkannya untukku?” Aku memang tak mendapatkan jawabannya malam itu, bahkan aku tak bisa menemuinya keesokan harinya, ia menghilang dan pergi tanpa pamit. Yang bisa kutemui hanya sepucuk surat berwarna pink di atas bantal. “Sayangku, harus aku katakan bahwa aku tak bisa mewujudkan apa yang kau sukai, karena itu akan membuatku mati, tapi aku ingin kau tau bahwa aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu kira,” Sungguh kalimat pertama itu membuatku hampir frustasi, tapi aku terus membaca kalimat-demi kalimat selanjutnya. “Sayangku, apa kamu tak pernah sadar, jika setiap hari aku harus pergi pagi dan pulang larut malam, mengorbankan semua kesukaanku akan kebebasan hanya untuk kamu, apakah kamu tak pernah mengerti ketika kamu sakit aku yang selalu menyentuh tubuhmu dengan lembut melalui tanganku, apakah kamu tak mengerti bahwa suara dari mulutku, selalu kuberikan untuk menghibur kamu saat kamu mengalami kejenuhan akan hari-harimu.” “Sayangku, apakah kamu sadar, setiap hari aku harus berjuang memalingkan wajah dan mataku dari perempuan-perempuan lain yang mungkin saja bisa menggodaku, aku harus menyegarkan mataku dengan tidak terlalu sering menonton televisi seperti yang kamu lakuakan, agar kelak mataku masih bisa menatap kecantikanmu saat kita tua.” "Tetapi Sayang, aku tidak akan bisa mewujudkan keinginanmu yang hanya akan mengorbankan nyawaku. Karena, aku tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian aku. Sayang, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih daripada aku mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup buat kamu, aku tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu." Setetes demi setetes air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi pudar, tetapi aku tetap berusaha untuk terus membacanya. "Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan aku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu. Tetapi jika kamu tidak puas dengan jawabanku ini, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagiaku adalah bila kamu bahagia." Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu dan roti kesukaan ku. Kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih daripada dia mencintai aku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus mengorbankan nyawa. SUMBER:perempuan.com

Good Speech dari Dahlan Iskan

Tiba-tiba saja pernyataan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebar ke mana-mana. Bukan gosip melainkan pernyataan yang bijak mengenai kepemimpinan. Pernyataan ini sebenarnya diungkapkan Dahlan selepas dilantik menjadi Menteri BUMN Oktober tahun lalu pada suatu media. Entah bagaimana tiga hari terakhir menjadi pembicaraan di forum-forum, dikutip di berbagai blog, bahkan dimuat juga di akun Facebook yang menamakan dirinya Dahlaniskanfans. Berikut pernyataan lengkap Dahlan Iskan yang diberi judul "Good Speech dari Bpk Dahlan Iskan" di forum-forum: Menjadi pemimpin itu dianggap enak. Menjadi pemimpin itu dianggap bisa berkuasa. Tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemimpin yang baik sebenarnya harus pernah membuktikan dirinya pernah menjadi orang yang dipimpin. Ketika menjadi orang yang dipimpin itu, dia juga bisa menjadi orang yang dipimpin dengan baik. Artinya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik harus pernah menjadi anak buah yang baik. Saya meragukan seseorang yang ketika menjadi anak buah tidak baik, dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Menjadi anak buah yang baik itu adalah anak buah yang loyal tetapi juga kritis. Anak buah yang patuh tetapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Anak buah yang selalu bisa memberikan jalan keluar kepada atasannya. Anak buah yang bisa memberikan pemecahan masalah bagi atasannya. Bukan anak buah yang selalu merepotkan atasannya, anak buah yang selalu membikin masalah pemimpinnya dan anak buah yang selalu memberikan persoalan bagi pemimpinnya. Jadi ketika menjadi anak buah, dia harus bisa menjadi anak buah yang baik, bukan menjadi bagian persoalan dari pemimpinnya, tetapi menjadi problem solver bagi pemimpinnya. Nah... kalau seseorang itu pernah menjadi anak buah yang baik, dan dalam kurun waktu yang cukup, maka kelak ketika dia naik menjadi pemimpin, dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena seorang pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik, maka dia bisa mengetahui bagaimana rasanya pernah menjadi anak buah. Dengan demikian dia bisa tahu apa saja yang diperlukan anak buah dan bagaimana perasaan anak buah. Jadi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik. SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com

Saturday, December 31, 2011

Kisah Dua Ekor Kodok

Pada suatu hari, rombongan kodok melintasi hutan untuk berjalan-jalan. Mereka melewati berbagai batuan, sungai dan melintasi hamparan daun-daun pepohonan hutan. Saat sedang menikmati perjalanan, tidak ada satupun dari mereka yang sadar bahwa ada lubang yang tertutup daun kering, sehingga dua ekor kodok jatuh ke dalam lubang. Lubang itu sangat dalam dan gelap, tetapi karena kodok adalah hewan yang memiliki tubuh yang lentur, mereka masih hidup di bawah sana. Kodok-kodok yang ada di atas tidak dapat melakukan apapun untuk menolong dua kodok yang jatuh ke dalam lubang. Satu-satunya cara untuk keluar adalah melompat setinggi-tingginya. Kedua kodok itu mulai melompat dengan bersemangat. Tetapi karena lubang sangat dalam, bukan hal yang mudah untuk terus melompat. "Kalian tidak akan berhasil," Begitu teriakan para kodok yang ada di atas sana. "Sudahlah menyerah saja, kalian tidak bisa keluar dari bawah sana!" Kodok yang lain ikut menyampaikan pendapat. Dua kodok masih terus berjuang untuk melompat, tapi belum juga berhasil. "Sudah tidak usah melompat lagi, kalian akan mati di dalam sana," Teriakan-teriakan itu semakin keras. Salah satu kodok akhirnya menyerah, dia mendengarkan kata-kata itu dan akhirnya mati di dalam lubang. Sementara itu, kodok yang satu lagi masih terus melompat sambil mengumpulkan semangat yang ada. Dan ya.. dia berhasil keluar dari dalam lubang beberapa saat kemudian. Semua kodok terheran-heran bagaimana si kodok berhasil keluar dari lubang. Dan ternyata.. kodok yang berhasil keluar itu tidak dapat mendengar, sehingga kata-kata negatif dari teman-teman kodok tidak merusak motivasinya untuk segera keluar dari dalam lubang. Kerabat Imelda, kita seringkali mendengar banyak kalimat, omongan dan ocehan dari orang lain. Beberapa kalimat bisa menjadi suntikan motivasi, tetapi beberapa yang lain justru bisa menghantam motivasi yang telah dibangun. Karenanya, Anda harus pintar memilah, mana kata-kata yang melemahkan kehidupan Anda, mana kata-kata yang akan menghebatkan kehidupan Anda. SUMBER: kapanlagi.com

Cerita Natal

Pada tahun 1914 ada sebuah kisah menarik yang terjadi di malam Natal. Saat itu terjadi peperangan antara Inggris, Jerman dan Perancis. Di malam Natal seperti itu, pastilah para prajurit ingin berada di rumah, berkumpul dengan keluarga, menyiapkan kado-kado, bernyanyi dan menikmati sukacita serta hidangan yang enak. Tapi kali ini mereka berada jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Salju yang turun menambah dinginnya udara malam dan dinginnya hati mereka. Perut lapar, pakaian yang basah, dinginnya udara dan tempat tinggal yang becek serta ketidaknyamanan suasana perang merupakan satu harmoni yang semakin menghilangkan semangat untuk mengangkat senjata. Ada satu kerinduan untuk duduk bersama keluarga didepan perapian sambil mengunyah kue-kue yang lezat. Seorang prajurit yang tertembak merintih menahan sakit, sementara yang lain menggigil kedinginan. Pimpinan mereka pun malam itu tidak seperti biasanya. Ia kelihatan sangat bersedih, menangis teringat akan anak dan isterinya. Entah kapan mereka akan pulang dan berada ditengah orang-orang yang mereka kasihi. Mereka semua diam membisu selama beberapa jam, tetapi tiba-tiba nampak cahaya kecil yang bergerak-gerak dari arah pasukan Jerman. Ternyata ada prajurit Jerman yang membuat pohon Natal kecil dan mengangkatnya keatas agar kelihatan. Ia melakukan itu sambil mengalunkan lagu “Stille Nacht, Heilige Nacht” atau lagu “Malam Kudus”. Alunan lembut lagu itu membuat hati para prajurit pilu karena mereka teringat suasana Natal ditengah-tengah keluarga. Prajurit Jerman yang menyanyikan lagu itu ternyata adalah seorang penyanyi tenor opera terkenal sebelum dikirim ke medan perang. Sambil menyanyi, prajurit itu berdiri dari tempat persembunyiannnya sehingga musuh dapat melihatnya. Ia ingin menyampaikan makna Natal yang sesungguhnya, yaitu berbagi kasih dan damai. Prajurit tersebut bersedia mengorbankan nyawanya, ia bersedia ditembak oleh musuh karena mereka pasti bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi, apakah yang terjadi? Satu per satu dari masing-masing pasukan keluar dari persembunyian dan ikut menyanyi. Mereka berkumpul bersama dan air mata tidak tertahankan. Seorang prajurit Inggris musuh bebuyutan Jerman malah mengiringi nyanyian tersebut dengan sebuah alat musik tiup yang dibawanya. Tidak ada lagi lawan, tidak ada peperangan, tidak ada benci, yang ada hanya kedamaian didalam kebersamaan. Mereka semua bersama-sama menyanyi dalam bahasa mereka masing-masing, dilanjutkan lagi dengan lagu “Hai Mari Berhimpun”. Mereka yang tadinya adalah musuh yang berusaha saling membunuh, kini merasakan aliran damai Natal. Mereka bersama-sama menyembah dan bersyukur atas kelahiran Juruselamat. SUMBER:inspirasijiwa.com

Legenda Penuh Inspirasi dari Jepang

Ini kisah legendaris dari Jepang. Yagyu Matajuro adalah putra seorang ahli pedang yang terkenal. Keluarganya mendorong Matajuro untuk belajar seni bela diri. Namun karena dipandang tidak mampu mengembangkan potensi terbaiknya, Matajuro diusir ayahnya. Merasa tersinggung dan marah, Matajuro pergi mencari seorang ahli pedang yang bersedia melatihnya hingga jadi ahli pedang terbaik. Ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa keputusannya itu salah besar. Maka, pergilah ia ke Gunung Fuhra dan di sana berjumpa dengan ahli pedang terkenal bernama Banzo. Tapi ternyata, Banzo malah membenarkan pendapat ayah Matajuro. "Kau ingin belajar ilmu pedang padaku?" tanya Banzo. "Kau tak mungkin bisa." "Tapi kalau saya bekerja keras, berapa lama saya bisa menguasainya?" desak Matajuro. "Seumur hidupmu," jawab Banzo. "Lama sekali," kata Matajuro. "Saya bersedia menjalani semua penderitaan asalkan Guru mau melatih saya. Jika saya menjadi pelayan setia Guru, berapa lama saya bisa menguasainya?" "Mungkin sepuluh tahun," kata Banzo. Matajuro melanjutkan, "Bagaimana kalau saya bekerja dengan sangat giat?" Banzo menjawab, "Oh, mungkin 30 tahun." "Saya sungguh tak mengerti, pertama Guru berkata 10 dan sekarang 30 tahun. Saya akan menjalani semua rintangan untuk menguasai ilmu pedang dalam waktu sesingkat mungkin!" "Kalau begitu, kau harus tinggal bersamaku selama 70 tahun. Orang yang terlalu terburu-buru tidak akan pernah berhasil. Jika kau ingin hasil yang instan, kau tidak akan belajar dengan maksimal," kata Banzo. "Baiklah," jawab Matajuro, yang paham dirinya sedang ditegur karena ketidaksabarannya, "saya setuju." Mulai saat itulah, Matajuro berguru pada Banzo. Namun, yang dikerjakan Matajuro bukannya berlatih ilmu pedang. Bahkan, ia dilarang memegang pedang. Kegiatan sehari-harinya justru membuatkan makanan untuk sang guru, membersihkan piring kotor, merapikan kasurnya, membersihkan halaman, merawat kebun, dan semua pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan pedang. Tiga tahun pun berlalu. Matajuro masih saja melakukan pekerjaan yang sama. Ia merasa sedih dan pasrah. Keinginannya untuk menjadi ahli pedang sepertinya harus ditinggalkan. Namun, suatu hari Banzo menyelinap di belakang Matajuro dan memberinya pukulan keras dengan sebilah pedang kayu. Pada hari berikutnya, ketika Matajuro sedang menanak nasi, sekali lagi Banzo menyerangnya secara tiba-tiba. Sejak saat itu, siang dan malam, Matajuro harus selalu waspada untuk melindungi dirinya dari serangan tiba-tiba sang guru. Matajuro belajar sangat cepat, sehingga sang guru merasa puas. Meskipun tidak pernah menerima pelajaran resmi atau bahkan memegang senjata, Matajuro telah berhasil mencapai tingkat tertinggi dari ilmu seno bela diri. Sejak saat itu, Matajuro menjadi ahli pedang nomor satu. Jika kita menyimak baik-baik kisah Matajuro ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata semua pekerjaan kasar yang dilakukan Matajuro selama tiga tahun itu bertujuan untuk mempersiapkan dirinya guna menerima pelajaran sesungguhnya dari sang guru. Andaikan Matajuro tidak tabah dan sabar dalam menjalani proses, mungkin saat ini ia tidak akan dikenang sebagai ahli pedang nomor satu. Begitu pun dengan kita. Mencapai impian pasti membutuhkan sebuah proses yang terkadang sulit dan menyakitkan. Tapi di balik itu semua, kita sesungguhnya sedang dilatih untuk menjadi orang yang kuat dan tegar. Proses itulah yang sebenarnya membuat kita berkembang dan menjadi sosok yang lebih hebat dari sebelumnya. SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com

I Love You, Mom!

Kasih ibu kepada beta Tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi tak harap kembali Bagai sang surya menyinari dunia Memang, seorang ibu tak akan pernah berhenti menyirami kita dengan cinta dan kasihnya. Hingga saat ini, masih ingatkah Anda akan semua pengorbanan yang telah dilakukan seorang ibu? Saat seorang anak yang sedang sakit bertanya kepada ibunya," Mengapa ibu memakaikan dua selimut kepadaku, sementara ibu sendiri kedinginan? Mengapa ibu selalu berkorban untukku?" Ibu pun menjawab dengan tersenyum," Ibu tidak pernah berkorban apapun untukmu, nak. Ibu hanya ingin terus mencintaimu. Itu saja." Coba rasakan, kasih sayang seorang ibu bagaikan udara. Tak tersentuh, tak ternilai, tak terhenti dan tak kan terganti. Lalu, bagaimana dengan Anda? Mampukah Anda mencintainya sebesar dia mencintai Anda? Ayo tunjukkan pada dunia bahwa cinta Anda tak perlu diragukan lagi keberadaannya. Anda tinggal jauh dari sang ibu? Kalau begitu, cobalah selalu menelepon, menelepon dan meneleponnya. Dengarkan setiap kata yang dia ucapkan. Sesibuk apapun Anda, luangkanlah waktu barang sejenak untuk mengetahui keadaannya, apa yang sedang dia rasakan dan dia lakukan. Sebisa mungkin, kunjungilah ibu Anda dan habiskan waktu bersamanya. Seringkali Anda tidak sadar, betapa dia begitu merindukan Anda, jauh lebih besar dari Anda merindukannya. Jika ibu tinggal di dekat rumah Anda, luangkan waktu walau hanya 10 menit untuk berbincang-bincang setiap harinya. Berikan perhatian penuh kepada sosok luar biasa itu. Biarkan dia merasa nyaman karena Anda berada di sampingnya. Nikmatilah saat-saat Anda memandang wajahnya sebelum Anda tak lagi bisa menemui saat-saat seperti itu. Buatlah sesuatu yang spesial untuk ibu Anda, misalnya membuat syal, lukisan atau hanya sekedar menuliskan hal-hal tentang kenangan indah Anda dan sang bunda. Selagi Anda berkreasi, bayangkan tentang hal-hal yang Anda sukai dari ibunda tercinta yang membuat Anda bangga akan sosoknya. Yakinlah, bagaimanapun hasil buatan tangan Anda akan terlihat luar biasa jika Anda membuatnya dengan penuh rasa cinta. Berikan hadiah buatan tangan Anda secepatnya. Ceritakan juga bahwa Anda membuat hadiah itu dengan sepenuh hati, penuh imajinasi tentang semua memori indah bersama ibu. Saat sang ibu mulai terharu, peluklah sosok di depan Anda itu dengan lembut. Perlu Anda tahu, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu selain perhatian yang tulus dari buah hatinya, seperti yang Anda lakukan saat ini. Sesekali, buatlah hari sang ibu menjadi unforgettable day. Ajaklah ibu makan malam atau sekedar jalan-jalan di taman. Hanya ada Anda dan ibu saja. Ingat! Ibu tidak akan menilai seberapa mewah makan malam yang Anda tawarkan, namun yang terpenting baginya adalah perhatian dan waktu yang sengaja Anda luangkan khusus untuk sang bunda tercinta. Sederhana bukan? Namun justru hal-hal seperti itu seringkali luput dari perhatian kita. Kini, giliran Anda. Buktikan bahwa Anda memang mencintai sosok mengagumkan itu. Saat ini juga, temui dia, peluk dan katakan " I love you, mom." SUMBER: Vira Yohanna - kapanlagi.com

Sabarlah, Anakku!

Pada suatu hari, seorang anak mengeluh pada ayahnya. "Ayah, aku lelah harus belajar setiap hari, tetapi teman-temanku yang menyontek dapat nilai yang lebih bagus. Aku lelah harus membantu ibu, padahal teman-temanku yang lain punya pembantu. Aku lelah kalau harus menabung, padahal kalau ayah mau memberi uang jajan yang banyak setiap hari.." Anak laki-laki itu mengambil napas untuk kembali menumpahkan rasa kesalnya. Tetapi sang ayah hanya diam mendengarkan. "Aku juga capek harus menahan diri untuk tidak menyakiti hati orang lain, tetapi teman-temanku justru sering mengejekku dan membuatku sakit hati. Kenapa aku selalu begini ayah? Aku capek..." Akhirnya anak laki-laki itu terisak dan menangis di depan ayahnya. Sang hanya menenangkan dengan mengusap bahu. Setelah anak laki-lakinya tenang, pria itu mengajak anak laki-lakinya menuju sebuah semak belukar yang becek dan dipenuhi tanaman berduri. "Kenapa kita harus masuk ke semak-semak ini ayah?" tanya sang anak laki-laki, "Aku tidak suka, sepatuku jadi kotor kena lumpur, celana jeansku kotor, banyak duri yang kena kulitku, sakit.." Ayah anak laki-laki itu diam tetapi memberikan senyuman agar anak laki-lakinya tetap tenang dan mengikuti jalan tersebut. Hingga pada akhirnya, mereka tiba pada sebuah danau kecil yang pada bagian pinggirnya ditumbuhi tanaman dan bunga-bunga cantik. "Kamu suka tempat ini anakku?" tanya sang ayah. Anak laki-laki itu mengangguk semangat dan bibirnya tak dapat menyembunyikan senyum. "Kamu tahu mengapa tempat ini sepi padahal banyak yang tahu bahwa di balik semak belukar, ada danau yang sangat indah?" Anak laki-laki menggeleng. "Karena banyak orang yang tidak mau melewati semak belukar. Padahal dengan kesabaran, semua orang dapat melihat dan menikmati danau cantik ini." Sang ayah tersenyum lalu melanjutkan.. "Begitu juga dengan hidup, butuh kesabaran untuk mendapatkan ilmu, butuh kesabaran saat bersikap baik, butuh kesabaran saat mengendalikan amarah, butuh kesabaran dalam berbuat kebaikan dan butuh kesabaran jika kamu ingin mendapatkan hasil yang indah. Karena itu, kamu harus belajar untuk sabar, anakku! Sekalipun itu adalah hal yang sulit!" Anak laki-laki itu akhirnya mengerti akan arti kesabaran, kemudian dia memeluk ayahnya sambil berjanji bahwa dia akan belajar untuk bersabar. SUMBER: kapanlagi.com

Tiga Kalimat Terlarang

"Saya ingin selesaikan kuliah dalam 3 tahun." "Target penjualan tahun ini harus 20x lebih besar dari tahun sebelumnya." "Saya ingin menjadi penulis skenario Indonesia pertama yang dikenal dunia." Itulah sedikit contoh target dan impian yang sering kita canangkan untuk diri kita sendiri. Seringnya kita memulai perjuangan menuju mimpi besar itu dengan semangat '45, semangat yang berkobar-kobar. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya aral yang kita temui, kobaran itu perlahan meredup. Karena merasa lelah harus setiap saat menghadapi "batu penghadang", biasanya mulai muncul kalimat-kalimat pamungkas yang sebenarnya bersifat sangat terlarang. Inilah 3 kalimat terlarang yang harus kita singkirkan sejauh mungkin. 1. Saya Tidak Bisa Begitu kalimat ini sudah kita lontarkan, otomatis pintu pikiran kita akan tertutup untuk mencari jalan dan mencoba. Ucapan itu akan mengirimkan sinyal langsung ke dalam otak dan memblokir bagian kreatif otak kita. Akibatnya, kita cenderung menyerah begitu saja dan bersikap pasrah. Sebaliknya, apabila yang kita ucapkan pada diri sendiri adalah "Saya Bisa", otak kita akan bekerja secara otomatis untuk menemukan solusi atas masalah dan sebab kegagalan kita. 2. Tidak Mungkin Dengan mengambil sikap seperti itu dan selalu mengatakan "Tidak mungkin" pada setiap peluang karena sudah mengalami begitu banyak kekalahan, kita akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena sebenarnya hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin. 3. Saya Sudah Tahu Salah satu kunci orang sukses adalah tidak pernah berhenti belajar. Kapan dan di mana pun kita harus mau belajar dari apa dan siapa pun. Jika kita mengucapkan "Saya Sudah Tahu", sebenarnya kita sedang menutup pintu pembelajaran. Kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru. "You Are What You Think You Are". Jika isi pikiran kita dipenuhi dengan ketiga kalimat di atas, sudah bisa dipastikan kita akan menjadi seperti yang kita pikirkan. Kita akan terus terpuruk di dalam kubangan kegagalan, tidak berani bangkit dan melangkah maju. Kita juga akan berjalan di tempat karena tidak ada sesuatu hal baru yang kita ketahui. Kita tidak bisa bergerak maju ke depan karena pengetahuan yang kita miliki yang kita pikir sudah cukup banyak itu tidak bisa membuat kita melangkahkan kaki ke depan. Mari, buang jauh-jauh 3 kalimat terlarang tadi dan segera penuhi pikiran kita dengan 3 kalimat yang merupakan kebalikannya. "Saya Bisa"; "Itu Sangat Mungkin"; dan "Saya Masih Perlu Belajar Lagi". SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com

Pertolongan Dari Gubug Yang Terbakar

Pada suatu hari, terjadi sebuah kecelakaan kapal laut. Seorang pria yang jatuh dari kapal terombang-ambing di lautan luas. Setelah dua hari mempertaruhkan hidup dengan berenang dan mengikuti arus ombak, pria itu terdampar di sebuah pulau yang kecil dan tidak berpenghuni. Hanya ada tumbuh-tumbuhan lebat dan tanaman liar. Pria itu memutuskan untuk bertahan hidup di pulau tersebut hingga bantuan datang. AKhirnya dia mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Setelah beberapa hari, pria itu berhasil membangun sebuah gubuk kecil dari kayu dan atap dari pelepah daun kelapa. Tempat yang sederhana itu bisa dipakai untuk tidur pada malam hari dan berteduh saat siang hari. Hari berganti hari, belum ada bantuan yang datang menghampiri pria tersebut. Lalu pada suatu hari, saat udara sangat panas, pria itu meninggalkan gubugnya untuk mencari buah kelapa dan meminum airnya untuk menghilangkan dahaga. Tetapi saat dia kembali ke gubug, betapa terkejut pria itu karena gubugnya sudah habis terbakar. Kayu yang sangat kering dan bergesekan membakar gubug dan beberapa pohon di sekitarnya. Sang pria mulai putus asa dengan hidupnya. Dia sudah hampir tewas saat musibah tenggelamnya kapal laut, dan saat dia bertahan di sebuah pulau, gubug yang susah payah dibangun justru terbakar habis. Dia mulai mengutuk hidupnya hingga beberapa saat kemudian sebuah kapal pencari ikan menepi di pulau itu. Sang pria tentu sangat bahagia, dia bisa menumpang dan kembali pada keluarganya. Dan tahukah, sang nahkoda kapal mengatakan bahwa dia datang ke pulau itu karena mengira bahwa asap dari gubug yang membumbung tinggi merupakan sinyal meminta pertolongan. Sang pria akhirnya meninggalkan pulau itu dan bersyukur bahwa gubugnya terbakar. Kerabat Imelda, seringkali kita menganggap beberapa musibah datang sebagai cobaan hidup. Padahal tak semua musibah menjadi sesuatu yang harus disesali dan ditangisi. Kadang Tuhan mengulurkan bantuan melalui hal-hal yang dianggap musibah, tetapi di sanalah sebuah pertolongan sering tersembunyi. SUMBER: kapanlagi.com

Makna Ketulusan

Kadang atau mungkin seringkali kita menceritakan pada orang lain perbuatan baik yang telah kita lakukan pada orang yang memang membutuhkannya. Dengan bangganya kita mengatakan kita telah berbuat ini dan itu kepada si A dan si B. Memang hal itu sah-sah saja dan terkadang patut diceritakan agar orang lain yang mendengar juga ikut tergerak hati sanubarinya untuk membantu. Meskipun demikian, tidak ada salahnya kita membaca kisah yang dialami sepasang suami istri di Taiwan berikut ini. Kisah mereka sungguh memberikan arti terbaru dari sebuah ketulusan. Sepasang suami-istri suatu saat berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman setelah sekian lama mereka tinggalkan. Begitu mereka memasuki bus, ternyata salah satu bangku pesanan mereka sudah ditempati seorang perempuan. Sang suami meminta istrinya untuk duduk terlebih dulu di sebelah perempuan itu. Sementara sang suami itu sendiri hanya berdiri di samping istrinya tanpa meminta wanita itu untuk pindah tempat duduk. Untuk diketahui, kaki perempuan itu cacat. Dan sang suami memang sudah melihatnya sejak tadi. Karena itulah, dia mengabaikan perempuan yang mengambil jatah kursinya. Perjalanan pasangan itu bisa dibilang cukup panjang, namun selama itu pula sang suami tetap berdiri dengan sabar dan tenang. Begitu turun dari bus, si istri berkata pada suaminya, "Memberikan tempat duduk pada orang lain yang membutuhkan memang baik. Tapi, bisa kan di separuh perjalanan, kau minta wanita itu untuk berdiri dan bergantian denganmu?" Jawab sang suami, "Wanita itu sudah tidak nyaman seumur hidupnya, sementara aku hanya kurang nyaman selama 3 jam saja." Seperti dikatakan di awal tadi, melakukan sesuatu yang baik "dengan diketahui orang lain" adalah hal yang biasa. Namun, menjadi sesuatu yang luar biasa apabila kebaikan itu tidak diketahui orang lain. Kebaikan itu terasa lebih mulia dan tulus. SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com

Berani Mencintai Seorang Asing

Setelah sekian lama di medan perang, seorang tentara Amerika yang masih muda akhirnya diijinkan untuk pulang. Saat tiba di San Francisco, dia menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dia telah sampai. Namun sebelum beranjak pulang, dia menyampaikan suatu permintaan. "Aku akan pulang, tapi aku punya sebuah permintaan. Aku akan mengajak seorang teman untuk pulang bersamaku," jelasnya. Dengan segera orang tuanya menyanggupi dan mengatakan mereka akan sangat senang bertemu dengan temannya itu. "Tapi ada yang harus kalian ketahui, dia terluka sangat parah saat berperang. Dia menginjak ranjau dan harus kehilangan sebelah lengan dan kakinya. Tidak ada tempat untuknya tinggal, aku mau dia tinggal tinggal dengan kita," tentara itu menambahkan. Mendengar itu, orang tuanya segera bersimpati, "Oh, kami turut bersedih mendengarnya, Nat. Mungkin kita bisa membantunya untuk menemukan tempat tinggal di sekitar sini." Namun anak itu berkeras, "Tidak, aku mau dia tinggal bersama kita." Sang ayah mengambil alih pembicaraan. "Nak, kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Seseorang dengan kekurangan yang demikian akan sangat merepotkan. Kita juga punya hidup sendiri yang harus diurus, dan kita tidak bisa begitu saja membiarkan hal seperti ini mengganggu kelangsungan hidup. Menurutku kamu pulang saja tanpa dia, dan lupakan keinginanmu itu. Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk hidup." Setelah mendengar semua perkataan ayahnya, tentara ini hanya diam tak mampu berkata apa-apa lagi hingga ayahnya memutuskan pembicaraan. Semenjak itu orang tuanya tidak lagi mendengar kabar dari anaknya. Mengira si anak masih diliputi kejengkelan, orang tuanya memilih untuk membiarkan saja hingga dia sadar dan pulang ke rumah. Beberapa hari kemudian, mereka mendapat telepon dari kepolisian San Francisco. Anak mereka, si tentara itu, telah meninggal setelah loncat dari atap sebuah gedung. Kepolisian yakin itu adalah bunuh diri. Dalam kesedihan luar biasa orang tua tentara ini terbang ke San Francisco dan dibawa ke kota yang bersangkutan untuk mengenali jenazah anaknya. Kain penutup dibuka, mereka mengenali wajah putra mereka. Namun begitu kain tersingkap hingga perut, mereka tidak lagi sanggup untuk berkata-kata. Jenazah itu hanya memiliki satu lengan dan satu kaki. Teman yang dia sebut di telepon itu ternyata dirinya sendiri. Jika si anak mengaku bahwa dirinya kehilangan lengan dan tangan, kemungkinan besar orang tua ini masih menerimanya dengan tangan terbuka dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tapi dengan perumpamaan 'seorang teman', anak ini tahu bahwa sesungguhnya orang tuanya merasa kerepotan dengan kondisi cacat yang demikian. Hanya karena apapun kondisinya anak akan tetap menjadi anak, maka orang tua itu menerimanya. Namun bukan karena kasih yang tulus. Ketulusan dalam mengasihi masih menjadi tugas tersulit bagi manusia. Seringkali kita mau berkorban, mau menderita karena orang yang kita tolong itu adalah seseorang yang spesial untuk kita. Tanpa sadar kita sering mengasihi orang lain karena suatu alasan tertentu, diperintah oleh rasa takut, rasa kagum, rasa sungkan, bahkan karena tujuan tersembunyi untuk mendapatkan balasan yang lebih besar. Cintailah orang asing dengan tulus hati, tanpa ketakutan dan tanpa mengharapkan balasan, maka Anda akan mampu untuk benar-benar mengasihi orang-orang terdekat dengan lebih baik lagi. SUMBER:kapanlagi.com

Kisah Monyet dan Kuda

Alkisah, di tepi sebuah hutan, ada sekawanan monyet melihat pasukan berkuda melintas di depan mereka. Menyaksikan kegagahan para prajurit berkendara di atas pelana kuda, seekor monyet pun menyombongkan diri bahwa menunggang kuda itu masalah mudah! Untuk membuktikan perkataannya, saat pasukan berkuda istirahat, si monyet mengendap-endap mendekati seekor kuda di sana. Hup! Dengan lincah, si monyet naik ke atas punggung kuda. Kuda yang merasakan hentakan berat di atas punggungnya, terkejut. Ia juga merasa kesakitan karena tarikan erat pada surainya. Maka, ia pun segera meringkik, berlari kencang, sambil menggoyangkan liar badannya ke kiri dan ke kanan. Monyet yang tidak bisa mempertahankan keseimbangan badannya, terpelanting dan jatuh ke tanah dengan keras. Hewan-hewan lain di hutan, ramai menertawakan kebodohan si monyet. Monyet pun tertunduk malu sambil menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Ternyata menunggang kuda tidak semudah yang ia kira! Katanya, "Kapok deh. Cukup sekali saja aku menunggang kuda! Ternyata tidak sehebat dan seenak yang aku bayangkan. Memang sudah menjadi nasibku, aku tidak akan menunggang kuda lagi seumur hidupku. Aku tidak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama." Saat itu, monyet yang tertua di kelompoknya menjawab, "Jatuh memang menyakitkan, tetapi bukan berarti di kemudian hari kamu tidak akan jatuh lagi, entah dari pohon dan darimana pun. Yang perlu ketahui dan dipelajari adalah mengapa kamu jatuh? Jika kita mau belajar untuk tahu kenapa bisa jatuh, maka kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari." Kerabat Imelda...Manusia semasa kecil dan mulai belajar berjalan, tidak peduli berapa kali kita terjatuh, mungkin sakit dan menangis, tetapi secara alami pasti akan bangkit lagi. Melalui proses jatuh bangun, akhirnya manusia bisa berjalan dan berlari seperti sekarang. Sayangnya justru setelah dewasa, manusia yang sudah jauh lebih pandai, saat mengalami jatuh/ gagal walaupun tanpa rasa sakit, begitu takut untuk bangkit kembali. Selagi masih muda kita perlu belajar mengenal lebih dekat sifat kegagalan. Bagi saya sendiri, kegagalan adalah vitamin kesuksesan, tidak ada orang besar di dunia ini yang bisa sukses tanpa mengalami kegagalan! Orang-orang sukses mampu mengetahui mengapa mereka gagal, sekaligus siap memperbaiki dan berani berjuang lagi demi mensukseskan apa yang menjadi cita-cita besar mereka. Mari, jangan takut gagal! Pelajari dan ketahui mengapa kita gagal. Dapatkan jawabannya dan tetapkan target cari cara yang paling efektif, siap menjadi pemenang sejati. SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com

Pelajaran Tentang Sopan Santun

Seorang wanita tua yang merupakan pensiunan guru berbelanja di sebuah swalayan. Karena punggungnya sakit dan merasa lelah berbelanja seorang diri, dia duduk di bangku panjang sebelum mengantri untuk membayar barang-barang belanjaannya. Sambil menunggu tenaganya pulih, wanita tua itu menatap orang-orang di sekitarnya. Pandangan wanita tua itu tertuju pada seorang pria yang memiliki banyak tato di tubuh, dia berjalan menuju antrian panjang bersama empat orang anak kecil dan seorang wanita yang sedang hamil tua, wanita itu adalah istri pria bertato tersebut. Melihat hal tato di tubuh pria tersebut, sang wanita tua membatin, pria itu pasti pernah dipenjara. Dari cara pria itu memakai pakaian, sang wanita tua berasumsi bahwa dia adalah anggota gank yang suka berbuat onar. Kemudian wanita tua itu melihat kalung yang dipakai pria bertato tersebut bertuliskan nama Obadian, dan wanita tua itu ingat bahwa Obadian merupakan ketua gank yang sangat ditakuti. Banyak orang yang mengantri tampak takut dan mempersilahkan si pria bertato dan keluarganya untuk mengambil antrian di depan. Kemudian wanita tua itu akhirnya berdiri dan memutuskan untuk segera membayar barang-barang belanjaannya. "Silahkan Anda maju duluan!" ujar sang wanita tua pada pria bertato. "Tidak, Anda yang harus antri terlebih dahulu di barisan depan!" ujar sang pria dengan suara yang ramah. "Anda datang dengan banyak anak, istri Anda juga sedang hamil tua, mengantrilah di barisan depan," ujar sang wanita tua setengah memaksa. "Andalah yang seharusnya mengantri di barisan paling depan, kami menghormati Anda sebagai orang tua," balas si pria bertato, lalu dengan gerakan tangan yang sopan, si pria mempersilahkan wanita tua untuk mengambil jalan agar bisa mengantri di barisan paling depan. Sang wanita tua tersenyum, dia tidak menyangka bahwa pria yang dia anggap pernah dipenjara dan merupakan ketua gank yang paling ditakuti bisa berlaku sopan pada wanita tua seperti dirinya. Kemudian wanita itu menoleh ke belakang. "Anda sopan sekali, tuan. Siapa yang mengajarkan sopan santun itu kepada Anda?" tanya sang wanita tua. Dengan seulas senyum dan nada suara hormat, pria itu mengatakan, "Tentu saja Anda Mrs. Thomson, saya adalah murid Anda di sekolah dasar," Pria itu tersenyum lalu berpamitan untuk mengantri pada barisan paling belakang. SUMBER: kapanlagi.com