Bagi Kerabat Imelda yang ingin mendapatkan kisah-kisah yang di on-airkan dalam Inspirasi Pagi Imelda FM, silahkan untuk mengunjungi website kami di www.radioimeldafm.com .Adapun blog Inspirasi Pagi ini tidak akan mengupdate lagi kisah-kisah Inspirasi Pagi. Thanks for visiting our blog! #muchLove :)
Saturday, December 31, 2011
Kisah Dua Ekor Kodok
Pada suatu hari, rombongan kodok melintasi hutan untuk berjalan-jalan. Mereka melewati berbagai batuan, sungai dan melintasi hamparan daun-daun pepohonan hutan. Saat sedang menikmati perjalanan, tidak ada satupun dari mereka yang sadar bahwa ada lubang yang tertutup daun kering, sehingga dua ekor kodok jatuh ke dalam lubang.
Lubang itu sangat dalam dan gelap, tetapi karena kodok adalah hewan yang memiliki tubuh yang lentur, mereka masih hidup di bawah sana. Kodok-kodok yang ada di atas tidak dapat melakukan apapun untuk menolong dua kodok yang jatuh ke dalam lubang. Satu-satunya cara untuk keluar adalah melompat setinggi-tingginya.
Kedua kodok itu mulai melompat dengan bersemangat. Tetapi karena lubang sangat dalam, bukan hal yang mudah untuk terus melompat.
"Kalian tidak akan berhasil,"
Begitu teriakan para kodok yang ada di atas sana.
"Sudahlah menyerah saja, kalian tidak bisa keluar dari bawah sana!"
Kodok yang lain ikut menyampaikan pendapat. Dua kodok masih terus berjuang untuk melompat, tapi belum juga berhasil.
"Sudah tidak usah melompat lagi, kalian akan mati di dalam sana,"
Teriakan-teriakan itu semakin keras. Salah satu kodok akhirnya menyerah, dia mendengarkan kata-kata itu dan akhirnya mati di dalam lubang. Sementara itu, kodok yang satu lagi masih terus melompat sambil mengumpulkan semangat yang ada. Dan ya.. dia berhasil keluar dari dalam lubang beberapa saat kemudian.
Semua kodok terheran-heran bagaimana si kodok berhasil keluar dari lubang. Dan ternyata.. kodok yang berhasil keluar itu tidak dapat mendengar, sehingga kata-kata negatif dari teman-teman kodok tidak merusak motivasinya untuk segera keluar dari dalam lubang.
Kerabat Imelda, kita seringkali mendengar banyak kalimat, omongan dan ocehan dari orang lain. Beberapa kalimat bisa menjadi suntikan motivasi, tetapi beberapa yang lain justru bisa menghantam motivasi yang telah dibangun. Karenanya, Anda harus pintar memilah, mana kata-kata yang melemahkan kehidupan Anda, mana kata-kata yang akan menghebatkan kehidupan Anda.
SUMBER: kapanlagi.com
Cerita Natal
Pada tahun 1914 ada sebuah kisah menarik yang terjadi di malam Natal. Saat itu terjadi peperangan antara Inggris, Jerman dan Perancis. Di malam Natal seperti itu, pastilah para prajurit ingin berada di rumah, berkumpul dengan keluarga, menyiapkan kado-kado, bernyanyi dan menikmati sukacita serta hidangan yang enak. Tapi kali ini mereka berada jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Salju yang turun menambah dinginnya udara malam dan dinginnya hati mereka. Perut lapar, pakaian yang basah, dinginnya udara dan tempat tinggal yang becek serta ketidaknyamanan suasana perang merupakan satu harmoni yang semakin menghilangkan semangat untuk mengangkat senjata. Ada satu kerinduan untuk duduk bersama keluarga didepan perapian sambil mengunyah kue-kue yang lezat.
Seorang prajurit yang tertembak merintih menahan sakit, sementara yang lain menggigil kedinginan. Pimpinan mereka pun malam itu tidak seperti biasanya. Ia kelihatan sangat bersedih, menangis teringat akan anak dan isterinya. Entah kapan mereka akan pulang dan berada ditengah orang-orang yang mereka kasihi. Mereka semua diam membisu selama beberapa jam, tetapi tiba-tiba nampak cahaya kecil yang bergerak-gerak dari arah pasukan Jerman. Ternyata ada prajurit Jerman yang membuat pohon Natal kecil dan mengangkatnya keatas agar kelihatan. Ia melakukan itu sambil mengalunkan lagu “Stille Nacht, Heilige Nacht” atau lagu “Malam Kudus”. Alunan lembut lagu itu membuat hati para prajurit pilu karena mereka teringat suasana Natal ditengah-tengah keluarga. Prajurit Jerman yang menyanyikan lagu itu ternyata adalah seorang penyanyi tenor opera terkenal sebelum dikirim ke medan perang. Sambil menyanyi, prajurit itu berdiri dari tempat persembunyiannnya sehingga musuh dapat melihatnya. Ia ingin menyampaikan makna Natal yang sesungguhnya, yaitu berbagi kasih dan damai. Prajurit tersebut bersedia mengorbankan nyawanya, ia bersedia ditembak oleh musuh karena mereka pasti bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi, apakah yang terjadi?
Satu per satu dari masing-masing pasukan keluar dari persembunyian dan ikut menyanyi. Mereka berkumpul bersama dan air mata tidak tertahankan. Seorang prajurit Inggris musuh bebuyutan Jerman malah mengiringi nyanyian tersebut dengan sebuah alat musik tiup yang dibawanya. Tidak ada lagi lawan, tidak ada peperangan, tidak ada benci, yang ada hanya kedamaian didalam kebersamaan. Mereka semua bersama-sama menyanyi dalam bahasa mereka masing-masing, dilanjutkan lagi dengan lagu “Hai Mari Berhimpun”. Mereka yang tadinya adalah musuh yang berusaha saling membunuh, kini merasakan aliran damai Natal. Mereka bersama-sama menyembah dan bersyukur atas kelahiran Juruselamat.
SUMBER:inspirasijiwa.com
Legenda Penuh Inspirasi dari Jepang
Ini kisah legendaris dari Jepang. Yagyu Matajuro adalah putra seorang ahli pedang yang terkenal. Keluarganya mendorong Matajuro untuk belajar seni bela diri. Namun karena dipandang tidak mampu mengembangkan potensi terbaiknya, Matajuro diusir ayahnya.
Merasa tersinggung dan marah, Matajuro pergi mencari seorang ahli pedang yang bersedia melatihnya hingga jadi ahli pedang terbaik. Ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa keputusannya itu salah besar. Maka, pergilah ia ke Gunung Fuhra dan di sana berjumpa dengan ahli pedang terkenal bernama Banzo.
Tapi ternyata, Banzo malah membenarkan pendapat ayah Matajuro. "Kau ingin belajar ilmu pedang padaku?" tanya Banzo. "Kau tak mungkin bisa."
"Tapi kalau saya bekerja keras, berapa lama saya bisa menguasainya?" desak Matajuro. "Seumur hidupmu," jawab Banzo. "Lama sekali," kata Matajuro. "Saya bersedia menjalani semua penderitaan asalkan Guru mau melatih saya. Jika saya menjadi pelayan setia Guru, berapa lama saya bisa menguasainya?"
"Mungkin sepuluh tahun," kata Banzo. Matajuro melanjutkan, "Bagaimana kalau saya bekerja dengan sangat giat?" Banzo menjawab, "Oh, mungkin 30 tahun."
"Saya sungguh tak mengerti, pertama Guru berkata 10 dan sekarang 30 tahun. Saya akan menjalani semua rintangan untuk menguasai ilmu pedang dalam waktu sesingkat mungkin!"
"Kalau begitu, kau harus tinggal bersamaku selama 70 tahun. Orang yang terlalu terburu-buru tidak akan pernah berhasil. Jika kau ingin hasil yang instan, kau tidak akan belajar dengan maksimal," kata Banzo. "Baiklah," jawab Matajuro, yang paham dirinya sedang ditegur karena ketidaksabarannya, "saya setuju."
Mulai saat itulah, Matajuro berguru pada Banzo. Namun, yang dikerjakan Matajuro bukannya berlatih ilmu pedang. Bahkan, ia dilarang memegang pedang. Kegiatan sehari-harinya justru membuatkan makanan untuk sang guru, membersihkan piring kotor, merapikan kasurnya, membersihkan halaman, merawat kebun, dan semua pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan pedang.
Tiga tahun pun berlalu. Matajuro masih saja melakukan pekerjaan yang sama. Ia merasa sedih dan pasrah. Keinginannya untuk menjadi ahli pedang sepertinya harus ditinggalkan. Namun, suatu hari Banzo menyelinap di belakang Matajuro dan memberinya pukulan keras dengan sebilah pedang kayu. Pada hari berikutnya, ketika Matajuro sedang menanak nasi, sekali lagi Banzo menyerangnya secara tiba-tiba. Sejak saat itu, siang dan malam, Matajuro harus selalu waspada untuk melindungi dirinya dari serangan tiba-tiba sang guru.
Matajuro belajar sangat cepat, sehingga sang guru merasa puas. Meskipun tidak pernah menerima pelajaran resmi atau bahkan memegang senjata, Matajuro telah berhasil mencapai tingkat tertinggi dari ilmu seno bela diri. Sejak saat itu, Matajuro menjadi ahli pedang nomor satu.
Jika kita menyimak baik-baik kisah Matajuro ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata semua pekerjaan kasar yang dilakukan Matajuro selama tiga tahun itu bertujuan untuk mempersiapkan dirinya guna menerima pelajaran sesungguhnya dari sang guru. Andaikan Matajuro tidak tabah dan sabar dalam menjalani proses, mungkin saat ini ia tidak akan dikenang sebagai ahli pedang nomor satu.
Begitu pun dengan kita. Mencapai impian pasti membutuhkan sebuah proses yang terkadang sulit dan menyakitkan. Tapi di balik itu semua, kita sesungguhnya sedang dilatih untuk menjadi orang yang kuat dan tegar. Proses itulah yang sebenarnya membuat kita berkembang dan menjadi sosok yang lebih hebat dari sebelumnya.
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
I Love You, Mom!
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Memang, seorang ibu tak akan pernah berhenti menyirami kita dengan cinta dan kasihnya. Hingga saat ini, masih ingatkah Anda akan semua pengorbanan yang telah dilakukan seorang ibu?
Saat seorang anak yang sedang sakit bertanya kepada ibunya," Mengapa ibu memakaikan dua selimut kepadaku, sementara ibu sendiri kedinginan? Mengapa ibu selalu berkorban untukku?" Ibu pun menjawab dengan tersenyum," Ibu tidak pernah berkorban apapun untukmu, nak. Ibu hanya ingin terus mencintaimu. Itu saja."
Coba rasakan, kasih sayang seorang ibu bagaikan udara. Tak tersentuh, tak ternilai, tak terhenti dan tak kan terganti. Lalu, bagaimana dengan Anda? Mampukah Anda mencintainya sebesar dia mencintai Anda? Ayo tunjukkan pada dunia bahwa cinta Anda tak perlu diragukan lagi keberadaannya.
Anda tinggal jauh dari sang ibu? Kalau begitu, cobalah selalu menelepon, menelepon dan meneleponnya. Dengarkan setiap kata yang dia ucapkan. Sesibuk apapun Anda, luangkanlah waktu barang sejenak untuk mengetahui keadaannya, apa yang sedang dia rasakan dan dia lakukan. Sebisa mungkin, kunjungilah ibu Anda dan habiskan waktu bersamanya. Seringkali Anda tidak sadar, betapa dia begitu merindukan Anda, jauh lebih besar dari Anda merindukannya.
Jika ibu tinggal di dekat rumah Anda, luangkan waktu walau hanya 10 menit untuk berbincang-bincang setiap harinya. Berikan perhatian penuh kepada sosok luar biasa itu. Biarkan dia merasa nyaman karena Anda berada di sampingnya. Nikmatilah saat-saat Anda memandang wajahnya sebelum Anda tak lagi bisa menemui saat-saat seperti itu.
Buatlah sesuatu yang spesial untuk ibu Anda, misalnya membuat syal, lukisan atau hanya sekedar menuliskan hal-hal tentang kenangan indah Anda dan sang bunda. Selagi Anda berkreasi, bayangkan tentang hal-hal yang Anda sukai dari ibunda tercinta yang membuat Anda bangga akan sosoknya. Yakinlah, bagaimanapun hasil buatan tangan Anda akan terlihat luar biasa jika Anda membuatnya dengan penuh rasa cinta.
Berikan hadiah buatan tangan Anda secepatnya. Ceritakan juga bahwa Anda membuat hadiah itu dengan sepenuh hati, penuh imajinasi tentang semua memori indah bersama ibu. Saat sang ibu mulai terharu, peluklah sosok di depan Anda itu dengan lembut. Perlu Anda tahu, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu selain perhatian yang tulus dari buah hatinya, seperti yang Anda lakukan saat ini.
Sesekali, buatlah hari sang ibu menjadi unforgettable day. Ajaklah ibu makan malam atau sekedar jalan-jalan di taman. Hanya ada Anda dan ibu saja. Ingat! Ibu tidak akan menilai seberapa mewah makan malam yang Anda tawarkan, namun yang terpenting baginya adalah perhatian dan waktu yang sengaja Anda luangkan khusus untuk sang bunda tercinta.
Sederhana bukan? Namun justru hal-hal seperti itu seringkali luput dari perhatian kita. Kini, giliran Anda. Buktikan bahwa Anda memang mencintai sosok mengagumkan itu. Saat ini juga, temui dia, peluk dan katakan " I love you, mom."
SUMBER: Vira Yohanna - kapanlagi.com
Sabarlah, Anakku!
Pada suatu hari, seorang anak mengeluh pada ayahnya.
"Ayah, aku lelah harus belajar setiap hari, tetapi teman-temanku yang menyontek dapat nilai yang lebih bagus. Aku lelah harus membantu ibu, padahal teman-temanku yang lain punya pembantu. Aku lelah kalau harus menabung, padahal kalau ayah mau memberi uang jajan yang banyak setiap hari.."
Anak laki-laki itu mengambil napas untuk kembali menumpahkan rasa kesalnya. Tetapi sang ayah hanya diam mendengarkan.
"Aku juga capek harus menahan diri untuk tidak menyakiti hati orang lain, tetapi teman-temanku justru sering mengejekku dan membuatku sakit hati. Kenapa aku selalu begini ayah? Aku capek..."
Akhirnya anak laki-laki itu terisak dan menangis di depan ayahnya. Sang hanya menenangkan dengan mengusap bahu. Setelah anak laki-lakinya tenang, pria itu mengajak anak laki-lakinya menuju sebuah semak belukar yang becek dan dipenuhi tanaman berduri.
"Kenapa kita harus masuk ke semak-semak ini ayah?" tanya sang anak laki-laki, "Aku tidak suka, sepatuku jadi kotor kena lumpur, celana jeansku kotor, banyak duri yang kena kulitku, sakit.."
Ayah anak laki-laki itu diam tetapi memberikan senyuman agar anak laki-lakinya tetap tenang dan mengikuti jalan tersebut. Hingga pada akhirnya, mereka tiba pada sebuah danau kecil yang pada bagian pinggirnya ditumbuhi tanaman dan bunga-bunga cantik.
"Kamu suka tempat ini anakku?" tanya sang ayah.
Anak laki-laki itu mengangguk semangat dan bibirnya tak dapat menyembunyikan senyum.
"Kamu tahu mengapa tempat ini sepi padahal banyak yang tahu bahwa di balik semak belukar, ada danau yang sangat indah?"
Anak laki-laki menggeleng.
"Karena banyak orang yang tidak mau melewati semak belukar. Padahal dengan kesabaran, semua orang dapat melihat dan menikmati danau cantik ini."
Sang ayah tersenyum lalu melanjutkan..
"Begitu juga dengan hidup, butuh kesabaran untuk mendapatkan ilmu, butuh kesabaran saat bersikap baik, butuh kesabaran saat mengendalikan amarah, butuh kesabaran dalam berbuat kebaikan dan butuh kesabaran jika kamu ingin mendapatkan hasil yang indah. Karena itu, kamu harus belajar untuk sabar, anakku! Sekalipun itu adalah hal yang sulit!"
Anak laki-laki itu akhirnya mengerti akan arti kesabaran, kemudian dia memeluk ayahnya sambil berjanji bahwa dia akan belajar untuk bersabar.
SUMBER: kapanlagi.com
Tiga Kalimat Terlarang
"Saya ingin selesaikan kuliah dalam 3 tahun."
"Target penjualan tahun ini harus 20x lebih besar dari tahun sebelumnya."
"Saya ingin menjadi penulis skenario Indonesia pertama yang dikenal dunia."
Itulah sedikit contoh target dan impian yang sering kita canangkan untuk diri kita sendiri. Seringnya kita memulai perjuangan menuju mimpi besar itu dengan semangat '45, semangat yang berkobar-kobar. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya aral yang kita temui, kobaran itu perlahan meredup.
Karena merasa lelah harus setiap saat menghadapi "batu penghadang", biasanya mulai muncul kalimat-kalimat pamungkas yang sebenarnya bersifat sangat terlarang. Inilah 3 kalimat terlarang yang harus kita singkirkan sejauh mungkin.
1. Saya Tidak Bisa
Begitu kalimat ini sudah kita lontarkan, otomatis pintu pikiran kita akan tertutup untuk mencari jalan dan mencoba. Ucapan itu akan mengirimkan sinyal langsung ke dalam otak dan memblokir bagian kreatif otak kita. Akibatnya, kita cenderung menyerah begitu saja dan bersikap pasrah. Sebaliknya, apabila yang kita ucapkan pada diri sendiri adalah "Saya Bisa", otak kita akan bekerja secara otomatis untuk menemukan solusi atas masalah dan sebab kegagalan kita.
2. Tidak Mungkin
Dengan mengambil sikap seperti itu dan selalu mengatakan "Tidak mungkin" pada setiap peluang karena sudah mengalami begitu banyak kekalahan, kita akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena sebenarnya hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin.
3. Saya Sudah Tahu
Salah satu kunci orang sukses adalah tidak pernah berhenti belajar. Kapan dan di mana pun kita harus mau belajar dari apa dan siapa pun. Jika kita mengucapkan "Saya Sudah Tahu", sebenarnya kita sedang menutup pintu pembelajaran. Kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru.
"You Are What You Think You Are". Jika isi pikiran kita dipenuhi dengan ketiga kalimat di atas, sudah bisa dipastikan kita akan menjadi seperti yang kita pikirkan. Kita akan terus terpuruk di dalam kubangan kegagalan, tidak berani bangkit dan melangkah maju. Kita juga akan berjalan di tempat karena tidak ada sesuatu hal baru yang kita ketahui. Kita tidak bisa bergerak maju ke depan karena pengetahuan yang kita miliki yang kita pikir sudah cukup banyak itu tidak bisa membuat kita melangkahkan kaki ke depan.
Mari, buang jauh-jauh 3 kalimat terlarang tadi dan segera penuhi pikiran kita dengan 3 kalimat yang merupakan kebalikannya. "Saya Bisa"; "Itu Sangat Mungkin"; dan "Saya Masih Perlu Belajar Lagi".
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
Pertolongan Dari Gubug Yang Terbakar
Pada suatu hari, terjadi sebuah kecelakaan kapal laut. Seorang pria yang jatuh dari kapal terombang-ambing di lautan luas. Setelah dua hari mempertaruhkan hidup dengan berenang dan mengikuti arus ombak, pria itu terdampar di sebuah pulau yang kecil dan tidak berpenghuni. Hanya ada tumbuh-tumbuhan lebat dan tanaman liar.
Pria itu memutuskan untuk bertahan hidup di pulau tersebut hingga bantuan datang. AKhirnya dia mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Setelah beberapa hari, pria itu berhasil membangun sebuah gubuk kecil dari kayu dan atap dari pelepah daun kelapa. Tempat yang sederhana itu bisa dipakai untuk tidur pada malam hari dan berteduh saat siang hari.
Hari berganti hari, belum ada bantuan yang datang menghampiri pria tersebut. Lalu pada suatu hari, saat udara sangat panas, pria itu meninggalkan gubugnya untuk mencari buah kelapa dan meminum airnya untuk menghilangkan dahaga. Tetapi saat dia kembali ke gubug, betapa terkejut pria itu karena gubugnya sudah habis terbakar. Kayu yang sangat kering dan bergesekan membakar gubug dan beberapa pohon di sekitarnya.
Sang pria mulai putus asa dengan hidupnya. Dia sudah hampir tewas saat musibah tenggelamnya kapal laut, dan saat dia bertahan di sebuah pulau, gubug yang susah payah dibangun justru terbakar habis. Dia mulai mengutuk hidupnya hingga beberapa saat kemudian sebuah kapal pencari ikan menepi di pulau itu. Sang pria tentu sangat bahagia, dia bisa menumpang dan kembali pada keluarganya.
Dan tahukah, sang nahkoda kapal mengatakan bahwa dia datang ke pulau itu karena mengira bahwa asap dari gubug yang membumbung tinggi merupakan sinyal meminta pertolongan. Sang pria akhirnya meninggalkan pulau itu dan bersyukur bahwa gubugnya terbakar.
Kerabat Imelda, seringkali kita menganggap beberapa musibah datang sebagai cobaan hidup. Padahal tak semua musibah menjadi sesuatu yang harus disesali dan ditangisi. Kadang Tuhan mengulurkan bantuan melalui hal-hal yang dianggap musibah, tetapi di sanalah sebuah pertolongan sering tersembunyi.
SUMBER: kapanlagi.com
Makna Ketulusan
Kadang atau mungkin seringkali kita menceritakan pada orang lain perbuatan baik yang telah kita lakukan pada orang yang memang membutuhkannya. Dengan bangganya kita mengatakan kita telah berbuat ini dan itu kepada si A dan si B. Memang hal itu sah-sah saja dan terkadang patut diceritakan agar orang lain yang mendengar juga ikut tergerak hati sanubarinya untuk membantu.
Meskipun demikian, tidak ada salahnya kita membaca kisah yang dialami sepasang suami istri di Taiwan berikut ini. Kisah mereka sungguh memberikan arti terbaru dari sebuah ketulusan.
Sepasang suami-istri suatu saat berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman setelah sekian lama mereka tinggalkan. Begitu mereka memasuki bus, ternyata salah satu bangku pesanan mereka sudah ditempati seorang perempuan. Sang suami meminta istrinya untuk duduk terlebih dulu di sebelah perempuan itu. Sementara sang suami itu sendiri hanya berdiri di samping istrinya tanpa meminta wanita itu untuk pindah tempat duduk.
Untuk diketahui, kaki perempuan itu cacat. Dan sang suami memang sudah melihatnya sejak tadi. Karena itulah, dia mengabaikan perempuan yang mengambil jatah kursinya. Perjalanan pasangan itu bisa dibilang cukup panjang, namun selama itu pula sang suami tetap berdiri dengan sabar dan tenang.
Begitu turun dari bus, si istri berkata pada suaminya, "Memberikan tempat duduk pada orang lain yang membutuhkan memang baik. Tapi, bisa kan di separuh perjalanan, kau minta wanita itu untuk berdiri dan bergantian denganmu?"
Jawab sang suami, "Wanita itu sudah tidak nyaman seumur hidupnya, sementara aku hanya kurang nyaman selama 3 jam saja."
Seperti dikatakan di awal tadi, melakukan sesuatu yang baik "dengan diketahui orang lain" adalah hal yang biasa. Namun, menjadi sesuatu yang luar biasa apabila kebaikan itu tidak diketahui orang lain. Kebaikan itu terasa lebih mulia dan tulus.
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
Berani Mencintai Seorang Asing
Setelah sekian lama di medan perang, seorang tentara Amerika yang masih muda akhirnya diijinkan untuk pulang. Saat tiba di San Francisco, dia menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dia telah sampai. Namun sebelum beranjak pulang, dia menyampaikan suatu permintaan.
"Aku akan pulang, tapi aku punya sebuah permintaan. Aku akan mengajak seorang teman untuk pulang bersamaku," jelasnya. Dengan segera orang tuanya menyanggupi dan mengatakan mereka akan sangat senang bertemu dengan temannya itu.
"Tapi ada yang harus kalian ketahui, dia terluka sangat parah saat berperang. Dia menginjak ranjau dan harus kehilangan sebelah lengan dan kakinya. Tidak ada tempat untuknya tinggal, aku mau dia tinggal tinggal dengan kita," tentara itu menambahkan.
Mendengar itu, orang tuanya segera bersimpati,
"Oh, kami turut bersedih mendengarnya, Nat. Mungkin kita bisa membantunya untuk menemukan tempat tinggal di sekitar sini."
Namun anak itu berkeras, "Tidak, aku mau dia tinggal bersama kita."
Sang ayah mengambil alih pembicaraan. "Nak, kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Seseorang dengan kekurangan yang demikian akan sangat merepotkan. Kita juga punya hidup sendiri yang harus diurus, dan kita tidak bisa begitu saja membiarkan hal seperti ini mengganggu kelangsungan hidup. Menurutku kamu pulang saja tanpa dia, dan lupakan keinginanmu itu. Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk hidup."
Setelah mendengar semua perkataan ayahnya, tentara ini hanya diam tak mampu berkata apa-apa lagi hingga ayahnya memutuskan pembicaraan. Semenjak itu orang tuanya tidak lagi mendengar kabar dari anaknya. Mengira si anak masih diliputi kejengkelan, orang tuanya memilih untuk membiarkan saja hingga dia sadar dan pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian, mereka mendapat telepon dari kepolisian San Francisco. Anak mereka, si tentara itu, telah meninggal setelah loncat dari atap sebuah gedung. Kepolisian yakin itu adalah bunuh diri. Dalam kesedihan luar biasa orang tua tentara ini terbang ke San Francisco dan dibawa ke kota yang bersangkutan untuk mengenali jenazah anaknya.
Kain penutup dibuka, mereka mengenali wajah putra mereka. Namun begitu kain tersingkap hingga perut, mereka tidak lagi sanggup untuk berkata-kata. Jenazah itu hanya memiliki satu lengan dan satu kaki. Teman yang dia sebut di telepon itu ternyata dirinya sendiri.
Jika si anak mengaku bahwa dirinya kehilangan lengan dan tangan, kemungkinan besar orang tua ini masih menerimanya dengan tangan terbuka dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tapi dengan perumpamaan 'seorang teman', anak ini tahu bahwa sesungguhnya orang tuanya merasa kerepotan dengan kondisi cacat yang demikian. Hanya karena apapun kondisinya anak akan tetap menjadi anak, maka orang tua itu menerimanya. Namun bukan karena kasih yang tulus.
Ketulusan dalam mengasihi masih menjadi tugas tersulit bagi manusia. Seringkali kita mau berkorban, mau menderita karena orang yang kita tolong itu adalah seseorang yang spesial untuk kita. Tanpa sadar kita sering mengasihi orang lain karena suatu alasan tertentu, diperintah oleh rasa takut, rasa kagum, rasa sungkan, bahkan karena tujuan tersembunyi untuk mendapatkan balasan yang lebih besar.
Cintailah orang asing dengan tulus hati, tanpa ketakutan dan tanpa mengharapkan balasan, maka Anda akan mampu untuk benar-benar mengasihi orang-orang terdekat dengan lebih baik lagi.
SUMBER:kapanlagi.com
Kisah Monyet dan Kuda
Alkisah, di tepi sebuah hutan, ada sekawanan monyet melihat pasukan berkuda melintas di depan mereka. Menyaksikan kegagahan para prajurit berkendara di atas pelana kuda, seekor monyet pun menyombongkan diri bahwa menunggang kuda itu masalah mudah!
Untuk membuktikan perkataannya, saat pasukan berkuda istirahat, si monyet mengendap-endap mendekati seekor kuda di sana. Hup! Dengan lincah, si monyet naik ke atas punggung kuda.
Kuda yang merasakan hentakan berat di atas punggungnya, terkejut. Ia juga merasa kesakitan karena tarikan erat pada surainya. Maka, ia pun segera meringkik, berlari kencang, sambil menggoyangkan liar badannya ke kiri dan ke kanan. Monyet yang tidak bisa mempertahankan keseimbangan badannya, terpelanting dan jatuh ke tanah dengan keras.
Hewan-hewan lain di hutan, ramai menertawakan kebodohan si monyet. Monyet pun tertunduk malu sambil menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Ternyata menunggang kuda tidak semudah yang ia kira!
Katanya, "Kapok deh. Cukup sekali saja aku menunggang kuda! Ternyata tidak sehebat dan seenak yang aku bayangkan. Memang sudah menjadi nasibku, aku tidak akan menunggang kuda lagi seumur hidupku. Aku tidak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama."
Saat itu, monyet yang tertua di kelompoknya menjawab, "Jatuh memang menyakitkan, tetapi bukan berarti di kemudian hari kamu tidak akan jatuh lagi, entah dari pohon dan darimana pun. Yang perlu ketahui dan dipelajari adalah mengapa kamu jatuh? Jika kita mau belajar untuk tahu kenapa bisa jatuh, maka kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari."
Kerabat Imelda...Manusia semasa kecil dan mulai belajar berjalan, tidak peduli berapa kali kita terjatuh, mungkin sakit dan menangis, tetapi secara alami pasti akan bangkit lagi. Melalui proses jatuh bangun, akhirnya manusia bisa berjalan dan berlari seperti sekarang.
Sayangnya justru setelah dewasa, manusia yang sudah jauh lebih pandai, saat mengalami jatuh/ gagal walaupun tanpa rasa sakit, begitu takut untuk bangkit kembali.
Selagi masih muda kita perlu belajar mengenal lebih dekat sifat kegagalan. Bagi saya sendiri, kegagalan adalah vitamin kesuksesan, tidak ada orang besar di dunia ini yang bisa sukses tanpa mengalami kegagalan! Orang-orang sukses mampu mengetahui mengapa mereka gagal, sekaligus siap memperbaiki dan berani berjuang lagi demi mensukseskan apa yang menjadi cita-cita besar mereka.
Mari, jangan takut gagal! Pelajari dan ketahui mengapa kita gagal. Dapatkan jawabannya dan tetapkan target cari cara yang paling efektif, siap menjadi pemenang sejati.
SUMBER: Tim Andrie Wongso - andriewongso.com
Pelajaran Tentang Sopan Santun
Seorang wanita tua yang merupakan pensiunan guru berbelanja di sebuah swalayan. Karena punggungnya sakit dan merasa lelah berbelanja seorang diri, dia duduk di bangku panjang sebelum mengantri untuk membayar barang-barang belanjaannya. Sambil menunggu tenaganya pulih, wanita tua itu menatap orang-orang di sekitarnya.
Pandangan wanita tua itu tertuju pada seorang pria yang memiliki banyak tato di tubuh, dia berjalan menuju antrian panjang bersama empat orang anak kecil dan seorang wanita yang sedang hamil tua, wanita itu adalah istri pria bertato tersebut. Melihat hal tato di tubuh pria tersebut, sang wanita tua membatin, pria itu pasti pernah dipenjara.
Dari cara pria itu memakai pakaian, sang wanita tua berasumsi bahwa dia adalah anggota gank yang suka berbuat onar. Kemudian wanita tua itu melihat kalung yang dipakai pria bertato tersebut bertuliskan nama Obadian, dan wanita tua itu ingat bahwa Obadian merupakan ketua gank yang sangat ditakuti.
Banyak orang yang mengantri tampak takut dan mempersilahkan si pria bertato dan keluarganya untuk mengambil antrian di depan. Kemudian wanita tua itu akhirnya berdiri dan memutuskan untuk segera membayar barang-barang belanjaannya.
"Silahkan Anda maju duluan!" ujar sang wanita tua pada pria bertato.
"Tidak, Anda yang harus antri terlebih dahulu di barisan depan!" ujar sang pria dengan suara yang ramah.
"Anda datang dengan banyak anak, istri Anda juga sedang hamil tua, mengantrilah di barisan depan," ujar sang wanita tua setengah memaksa.
"Andalah yang seharusnya mengantri di barisan paling depan, kami menghormati Anda sebagai orang tua," balas si pria bertato, lalu dengan gerakan tangan yang sopan, si pria mempersilahkan wanita tua untuk mengambil jalan agar bisa mengantri di barisan paling depan.
Sang wanita tua tersenyum, dia tidak menyangka bahwa pria yang dia anggap pernah dipenjara dan merupakan ketua gank yang paling ditakuti bisa berlaku sopan pada wanita tua seperti dirinya. Kemudian wanita itu menoleh ke belakang.
"Anda sopan sekali, tuan. Siapa yang mengajarkan sopan santun itu kepada Anda?" tanya sang wanita tua.
Dengan seulas senyum dan nada suara hormat, pria itu mengatakan, "Tentu saja Anda Mrs. Thomson, saya adalah murid Anda di sekolah dasar," Pria itu tersenyum lalu berpamitan untuk mengantri pada barisan paling belakang.
SUMBER: kapanlagi.com
Surat Sahabat
Sahabat, aku Reni, semoga kamu tidak lupa. Kita memang sudah lama tidak bertemu. Cerita tentangmu dan sahabat-sahabat lain memang sudah lama tidak tercipta lagi. Seingatku, kita terakhir bertemu saat aku menikah dengan Mas Didit teman kuliahmu itu sekitar lima tahun yang lalu. Memang, seperti yang kamu ketahui dulu aku adalah wanita baik-baik dan sekarang pun aku masih baik.
Tahukah kamu? bahwa setahun kemarin kita sudah bercerai? Memang pernikahan kami sangat sempurna pada awalnya. Dulu karir Didit begitu maju, sebagian gaji yang dia gunakan untuk investasi juga membuahkan banyak hasil. Keluarga kami hidup hidup sangat layak, waktu itu semuanya lebih dari cukup.
Tapi entah mengapa, Mas Didit mulai terjerat dengan narkoba. Sebenarnya, dia termasuk pria yang setia. Dia juga tidak pernah bermain perempuan. Dia hanya terjerumus ke Narkoba.. itu saja. Semenjak itu, keharmonisan keluarga kami mulai goyah. Kami sering bertengkar. Saya sangat tidak suka dengan kebiasaannya yang suka mabuk-mabukan dengan rekan bisnisnya itu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk bercerai. Mulai saat itu yaitu saat usiaku menginjak 25 tahun, aku ikut paman bekerja di Purwokerto. Jilbab aku kenakan sebagai tanda bahwa aku ingin menjalani hidup baru dengan sebaik-baiknya. Aku juga aktif di berbagai kegiatan sosial yang diselenggarakan perusahaan, dari darma bakti hingga sunatan masal.
Pada suatu saat, perusahaan kami mengadakan kegiatan donor darah. Seperti biasa, aku juga terpanggil untuk ikut menyumbangkan darahku. Tapi apa yang terjadi? dari tes darah di laboratorium diketahui bahwa aku mengidap virus HIV positif. Jelas, virus ini ditularkan oleh suamiku. Sebab empat bulan kemarin aku juga mendapat kabar bahwa Didit
telah terbukti positif HIV. Virus HIV yang menyerang Didit berasal dari salah satu jarum suntik narkoba yang ia gunakan. Hatiku hancur seketika. Aku sudah berusaha merahasiakan penyakit ini, tapi akhirnya teman-temanku mengetahui juga. Mereka mulai menjauh dan berpikir yang tidak-tidak tentang aku.
Jilbab mulai kucopot, aku tidak mau menodai kesucian penutup aurat ini. Gosip tidak sedap tentang aku mulai menyebar. Aku sangat malu hingga aku memutuskan pulang ke tempat Ibu. Tapi ternyata keluargaku juga sangat malu dengan keadaanku. Bapak malah mengusirku dari rumah. Hanya Ibu yang setia menemani aku waktu itu. Dia juga yang mencarikan aku kost dan mau mengantarkan aku ke rumah sakit untuk berobat.
Rumah sakit pun ternyata juga cukup brengsek. Aku sempat berpindah-pindah ke tiga rumah sakit sebelum dirawat di tempat rehabilitasiku sekarang ini. Rumah-rumah sakit itu menolak merawat dan memberi terapi, sekalipun itu cuma rawat jalan. Alasan-alasan yang
mereka utarakan pun tidak ada yang jelas.
Sekarang aku tinggal di sebuah panti rehabilitasi AIDS. Aku bisa tinggal dan dirawat secara gratis di sini. Yayasan pemilik panti ini memiliki banyak donatur. Doa dan syukurku selalu kupanjatkan agar Tuhan berkenan membalas kebaikan mereka dengan berlipat ganda. Aku memang masih terlihat sehat hingga saat ini. Kata dokter, masa inkubasi virus HIV sekitar 8 tahun. Maka hingga tujuh tahun ke depan keadaanku masih baik-baik saja seperti sekarang.. sesudah itu? entahlah.
Saat ini hanya satu orang yang dekat denganku, yaitu ibuku. Tetapi setelah aku masuk panti kami menjadi terpisah. Kami hanya berkomunikasi lewat telepon. Aku sangat kesepian di sini, sekalipun orang-orang yang merawat aku adalah orang-orang yang sangat baik, tetapi aku tetap tidak bisa merasa dekat dengan mereka. Hanya kamu sahabat, serta teman-teman di waktu dulu yang bisa aku harapkan.
Masihkah kamu mau menyediakan lenganmu? sekedar untuk menyentuh diriku yang kotor ini? masihkah kau sediakan bahu itu? seperti dulu? saat aku, kamu, dan sahabat-sahabat lain masih setia saling berkalung tangan? bahkan.. hingga 7 tahun nanti, saat aku mulai lemah, saat aku mulai berubah menjadi sosok berbau busuk dan sangat menjijikan, masihkah kau mau menjengukku? sahabat.. aku sangat merindukan kalian..
Salam hangat dariku,
Reni
SUMBER:ceritainspirasi.net
Pertolongan dari dalam Penjara
Seorang pria tua tinggal sendirian di sebuah kota. Dia ingin sekali menanam kentang di kebun belakang rumahnya. Tapi pekerjaan menggali kebun sangatlah berat. Putra satu-satunya, yang akan membantunya, berada di penjara. Orang tua itu menulis surat kepada putranya dan menjelaskan tentang kondisinya sekarang.
“Putraku tersayang,
Aku merasa sangat buruk karena sepertinya saya tidak akan bisa menanam kentang tahun ini. Aku benci merindukan saat-saat berkebun karena ibumu sangat suka berkebun. Aku hanya terlalu tua untuk menggali tanah untuk menanam kentang.Jika kau ada di sini, semua kesulitan saya akan berakhir. Aku tahu kau akan menggali tanah itu untuk saya, jika kau tidak berada dalam penjara.
Salam sayang, Ayah”
Tak lama kemudian, pria tua itu menerima telegram yang berbunyi: ‘Demi Tuhan, Ayah, jangan menggali kebun! Di situlah aku mengubur senjatanya! ‘
Pada pukul 4 pagi keesokan harinya, selusin agen FBI dan polisi setempat muncul dan menggali seluruh kebun tanpa menemukan senjata apapun.
Dengan perasaan bingung, orang tua itu menulis surat lagi kepada anaknya untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dan bertanya kepadanya apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Jawaban putranya adalah sebagai berikut “Selamat berkebun ayah. Sekarang ayah bisa menanam kentang tahun ini. Ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untukmu dari sini. ”
Kerabat Imelda...Tidak masalah dimana anda berada. Jika anda memutuskan untuk melakukan sesuatu dari dalam hati, maka anda bisa melakukannya dari belahan dunia manapun.
SUMBER:gemintang.com
Menangislah Saat Kalah
Orang bijak mengajarkan kita untuk tidak menangis saat kalah atau saat gagal mengerjakan sesuatu, namun para ahli berkata lain.
Anda telah mempersiapkan sertifikasi dengan sebaik-baiknya, dan walaupun Anda tahu ada beberapa kekurangan, namun Anda bisa mengatasinya dengan baik. Tak disangka ternyata pengajuan sertifikasi Anda gagal. Rasa kecewa begitu memuncak, dan tak ayal lagi air mata serasa memenuhi pelupuk mata. Namun Anda ingat petuah untuk tidak menangis di saat kalah, maka Anda menguatkan hati dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Belakangan ini juga marak kompetisi yang disiarkan sebagai reality show. Di sana nampak berbagai reaksi saat seseorang menghadapi kekalahan dan kegagalan. Selama ini mereka yang tidak menangis saat kalah dianggap berjiwa besar dan semua orang mengira itulah sikap yang harus diambil saat menghadapi kekalahan. Namun ternyata tidak.
Seperti diberitakan di Daily Mail, beberapa bulan lalu para peneliti dari Indiana University di Amerika mengungkap bahwa, seorang atlet yang membiarkan dirinya menangis setelah dinyatakan kalah dalam pertandingan, bisa menunjukkan performa yang lebih baik dalam jangka waktu ke depan. Menurut para ilmuwan, mereka yang tidak menahan diri untuk menangis adalah tanda bahwa orang tersebut memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Mereka yang menangis saat kalah biasanya adalah orang-orang yang memiliki ambisi dan kepercayaan diri yang tinggi, sehingga merasa sangat sedih ketika menghadapi kekalahan. Namun tidak banyak yang sadar, bahwa dibutuhkan kejujuran dan kepercayaan diri yang tinggi pula untuk mengakuinya di depan orang dengan menangis. Sifat positif inilah yang bisa menjadi modal seseorang untuk bangkit menunjukkan performa yang lebih baik lagi di kesempatan selanjutnya. Menangislah saat kalah, selain melegakan hati, Anda juga sedang melecut diri sendiri untuk tampil lebih baik lagi.
SUMBER:kapanlagi.com
Di Balik Pria Hebat, Ada Perempuan Hebat
Pada suatu hari, Thomas B. Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki.
Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, "Asyik sekali mengobrol denganmu."
Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.
"Astaga, untung kau ketemu aku," kata Wheeler menyombong. "Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama!"
"Sayangku...," jawab istrinya, "Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin."
Kerabat Imelda....banyak manusia yang menjadi sukses karena dukungan dari perempuan yang menjadi istrinya. Sebaliknya, tidak sedikit juga laki-laki yang jatuh dan hancur karena perempuan yang dinikahinya.
Sungguh, pernikahan adalah upaya penyatuan dua kekuatan yang jika berhasil melakukannya maka keberhasilan pun akan kita raih ,meski memakan waktu yang tidak sebentar dan harus melewati berbagai halangan.
Kisah ini disadur Tim Andrie Wongso dari 'The Best Of Bits & Pieces' , satu dari 71 Kisah dalam Buku Chicken Soup for the Couple's Soul.
SUMBER:www.andriewongso.com
Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau
Selalu terlihat mesra dan tampak sebagai keluarga bahagia. Siapa yang tidak iri kalau punya tetangga seperti itu?
Saya yakin, perasaan ini sering kali dirasakan oleh para istri. Bukan berarti para pria tidak pernah mengalaminya, namun saya akui, kaum Adam memiliki kelebihan dalam hal menyembunyikan emosinya. Jadi, hanya diri mereka saja yang tahu apa yang mereka rasakan. Nah, justru wanitalah yang terkenal dengan kemampuan mereka meluapkan perasaan, yang bisa dibilang menjadi kebutuhan utamanya, yaitu ingin didengarkan.
Saya pun termasuk wanita yang normal, jadi kegemaran mengungkapkan isi hati adalah juga kebiasaan saya. Termasuk mengungkapkan "kekaguman" saya terhadap kehidupan tetangga. Tentu, suami adalah objek pendengar yang setia dalam hal ini. Ya memang, suami adalah pendengar setia, karena apa yang saya ungkapkan sebenarnya merupakan keluhan terselubung untuknya, yang kalau diartikan secara langsung, adalah ungkapan seperti "Kenapa kita tidak bisa mesra seperti mereka?", "Kenapa mobil kita tidak ganti seperti punya mereka?", "Kenapa kamu tidak bisa mengajak saya dan anak-anak liburan ke luar negeri seperti mereka?", dan pertanyaan lain yang di ujungnya selalu terselip kata-kata "seperti mereka".
Tenang saja, bagi para istri atau wanita yang merasa memiliki kebiasaan yang sama dengan saya, cerita di atas hanyalah contoh kasus yang kerap terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Sebenarnya, di mana pun juga, di situasi apa pun juga, semua orang pasti pernah mengalaminya. Entah itu iri dengan kenaikan karier seorang rekan kerja yang begitu cepat, iri melihat pendapatan sahabat yang jauh lebih tinggi, atau iri pada kehidupan saudara sendiri yang terlihat lebih mudah diarungi.
Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga. Coba tanyakan kepada diri Anda, pernahkah Anda merasakan kekurangan pasangan seiring bertambahnya usia pernikahan? Banyak orang bilang, awal pernikahan terasa bagaikan masa bulan madu tanpa henti, tapi lama-kelamaan rasa bosan mulai datang. Bila saat itu telah tiba, kita mulai melihat satu per satu kekurangan dari pasangan timbul di permukaan.
Padahal, semuanya itu berawal dari rasa kagum yang berujung pada kecemburuan. Kalau kita mau berkaca pada diri orang lain, menikmati apa yang sudah kita dapatkan, tentunya kehidupan kita bersama pasangan adalah sesuatu yang indah dan patut disyukuri. Belum tentu orang lain yang kita kenal memiliki pasangan yang 100% mencintai kita dengan tulus, menjaga kita saat sakit, menghibur kita saat bersedih, dan mendampingi kita dalam suka maupun duka. Kita tidak boleh hanya menilai sesuatu hal dari tampak luarnya saja.
Terkadang, sifat manusia yang tidak mau kalah, membuatnya berpikir bahwa penderitaan yang dialaminya lebih berat daripada penderitaan orang lain. Maka, kita cenderung melihat kehidupan orang lain jauh lebih indah dan mudah, daripada kehidupan yang kita jalani. Itu tidak benar!
Pernahkah Anda berpikir, di balik kemesraan yang terlihat dan kekayaan yang tampak, ada permasalahan yang juga sedang melanda mereka yang memiliki. Bisa saja, untuk dapat memiliki rumah mewah dan mobil bagus, pasangan itu harus bekerja sedemikian keras, sehingga sering kali anak-anak yang menjadi korban, dan tumbuh menjadi anak yang kurang perhatian dari orangtuanya. Atau, kemesraan yang mereka tunjukkan adalah palsu. Tidak ada yang tahu jawaban pastinya, kecuali Anda mau menyelidiki dengan cermat, yang adalah perbuatan yang tidak terpuji.
Buat apa mencampuri urusan orang lain, termasuk mencemburui kehidupan orang lain. Masih banyak yang jauh lebih penting untuk diurusi, yaitu kehidupan rumah tangga kita sendiri. Dari pada hanya mengeluh kurang ini-kurang itu, lebih baik kita mensyukuri kehidupan yang telah kita miliki ini. Bahkan, kalau perlu, tingkatkan kualitas kehidupan rumah tangga kita dengan memupuk rasa saling menyayangi, pengertian, dan kepercayaan. Pasangan tentu jauh lebih bahagia melihat orang yang dicintainya selalu mendukung dirinya 100% tanpa mengeluh. Niscaya, rumput kita sama hijaunyua dengan rumput tetangga, atau bahkan lebih indah!
SUMBER:Anastasia Ratih P. Tyas - andriewongso.com
Hidup Bukanlah Perlombaan
Bayangkan hidup itu suatu permainan di mana Anda menyulap sekitar lima bola di udara. Anda namai mereka dengan sebutan pekerjaan, keluarga, kesehatan, teman dan semangat. Anda menjaga semua ini dalam udara. Anda akan segera memahami bahwa bekerja adalah sebuah bola karet. Jika Anda drop, itu akan memantul kembali.
Tetapi empat bola lainnya yaitu keluarga, kesehatan, teman-teman dan semangat terbuat dari kaca. Jika Anda drop satu ini, mereka akan menjadi lecet, bertandai, sobek, rusak atau bahkan hancur. Mereka tidak pernah akan sama. Anda harus memahami itu dan berusaha untuk menyeimbangkan hidup anda.
Jangan merusak nilai Anda dengan membandingkan diri dengan orang lain. Karena kita berbeda satu sama lain dan masing-masing dari kita adalah spesial. Jangan menetapkan tujuan Anda dengan apa yang orang lain anggap penting. Hanya Anda yang tahu apa yang terbaik untuk Anda.
Jangan anggap remeh hal-hal yang paling dekat dengan hati Anda. Melekatlah kepada mereka, karena tanpa mereka, hidup tidak bermakna. Jangan biarkan hidup Anda hilang melalui jari-jari Anda dengan hidup di masa lalu atau untuk masa depan. Dengan hidup Anda satu hari pada suatu waktu, Anda dapat menghidupi SEMUA hari dalam hidup Anda.
Jangan menyerah ketika Anda masih memiliki sesuatu untuk diberikan. Tidak ada yang benar-benar berakhir sampai Anda berhenti berusaha. Jangan takut untuk mengakui bahwa Anda yang kurang sempurna. Ini adalah sesuatu yang rapuh yang dapat mengikat kita bersama yang lainnya.
Jangan takut menghadapi resiko. Ini adalah kesempatan untuk belajar bagaimana menjadi berani.
Jangan menutup cinta keluar dari hidup Anda dengan mengatakan tidak mungkin untuk menemukan. Cara tercepat untuk menerima cinta adalah memberi, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah memegangnya terlalu erat, dan cara terbaik untuk memelihara cinta adalah dengan memberinya sayap.
Jangan lari melalui kehidupan begitu cepat sehingga Anda lupa tidak hanya di mana Anda telah berada, tetapi juga di mana Anda akan pergi.
Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar seseorang adalah untuk merasa dihargai.
Ilmu pengetahuan sama sekali tidak memiliki berat. Pengetahuan adalah ringan, harta yang selalu dapat dibawa dengan mudah.
Jangan gunakan waktu atau kata-kata dengan sembarangan, karena tidak dapat diambil. Hidup bukanlah perlombaan, tetapi perjalanan untuk menikmati setiap langkah.
SUMBER:gemintang.com
Cari Solusi
Terkadang pekerjaan kita sangat tergantung dengan hasil kerja orang lain. Keberhasilan kita juga ditentukan oleh keberhasilan orang lain. Dalam situasi yang tidak ideal, bisa jadi, orang orang di sekitar kita tidak mampu bekerja semestinya sehingga pada akhirnya "merepotkan" kita juga.
Target yang tertunda dan hasil yang tidak memuaskan mungkin disebabkan oleh pihak lain tersebut. Pihak lain di sini bisa datang dari sesama kolega di bagian yang sama, bawahan, atasan, kolega di bagian lain bahkan pimpinan tertinggi perusahaan. Misalnya data yang terlambat atau data yang kurang mendetail dari suatu bagian akan menyebabkan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan pekerjaan kita menjadi sangat terbatas. Sementara target adalah target. Pekerjaan tetap harus selesai sesuai batas waktunya.
Dalam kondisi lain, tidak adanya arahan yang jelas dari pimpinan, tidak adanya pembagian tugas yang jelas dan sebagainya, juga bisa menyebabkan kebingungan yang akan menghambat pencapaian kinerja yang optimal.
Dalam kondisi seperti ini, menyalahkan pihak lain bukanlah hal yang bijak. Dalam hal ini justru kita musti berperan aktif dan mengambil inisiatif untuk memecahkan permasalahan yang ada dan mencari solusinya walaupun terkadang melewati ranah pekerjaan kita. Karena apabila dibiarkan saja, bukan tidak mungkin, permasalahan yang sama akan sering terjadi lagi di masa yang akan datang. Lebih baik kita lelah dahulu untuk membereskan masalah ini daripada membiarkannya terjadi terus di masa masa yang akan datang.
Inisiatif mencari solusi ini harus senantiasa kita pupuk dalam diri kita sehingga ia benar benar menjadi karakter yang inheren dalam sikap kita. Mungkin kita jadi akan lebih capek karena mengurusi hal hal yang sebenarnya bukan urusan kita. Tapi selama semangatnya adalah solusi, ini pasti akan sangat diapresiasi secara positif oleh siapa pun.
Prinsip sederhana yang perlu kita pegang adalah bahwa tidak ada satu masalah pun di muka bumi ini kecuali sudah tersedia solusinya. Tinggal diperlukan tekad yang kuat untuk mewujudkan solusi tersebut. Carilah solusi mulai dari dalam diri kita sendiri sebagaimana ungkapan Joe Coudert di atas: "Terhadap semua pertanyaan Anda dalam hidup, Anda sendirilah jawabannya. Terhadap semua permasalahan yang Anda alami, Anda juga lah pangkal solusinya."
SUMBER:Nasrul Chair - andriewongso.com
Hadiah untuk Ayah
Beberapa waktu lalu, seorang ayah menghukum putrinya yang berusia 3 tahun karena menghabiskan satu gulungan pita pembungkus kado. Saat itu pengeluaran keluarga itu memang sedang diperketat, sang ayah menjadi marah ketika putrinya mencoba untuk menghias kotak untuk diletakkan di bawah pohon Natal.
Namun demikian, pada pagi harinya gadis kecil itu membawa hadiah yang dibungkusnya untuk sang ayah dan berkata, “Ini untukmu, Ayah.” Sang ayah menjadi malu karena reaksinya yang berlebihan semalam. Tapi kemarahannya berkobar lagi ketika ia menemukan bahwa kotak itu kosong.
Dia berteriak putrinya, “Apa kamu tidak tahu bahwa ketika kamu memberikan hadiah kepada seseorang, kamu harus mengisi kotak itu dengan suatu barang?”
Gadis kecil itu menatap sang ayah dengan beruraian air mata dan berkata, “Oh Ayah, itu tidak kosong. Aku meniup ciuman ke dalam kotak. Semua untukmu Yah. ”
Hati sang ayah menjadi hancur mendengarnya. Dia melingkarkan lengannya untuk memeluk gadis kecilnya, dan memohon maaf karena telah berteriak kepadanya.
Semenjak kejadian itu sang ayah tetap menyimpan kotak pemberian putrinya, walau beberapa tahun telah berlalu. Setiap kali dia berkecil hati, dia akan mengambil sebuah ciuman khayalan dan mengingat kasih anak yang telah menaruhnya di sana.
Kenyataannya Tuhan telah memberikan manusia satu wadah penuh berisi cinta dan kasih sayang tanpa syarat dari orang tua, anak-anak, dan teman. Hanya terkadang kita tidak menyadari bahwa wadah itu benar-benar ada.
SUMBER:gemintang.com
Mengapa Kaca Spion Mobil Bentuknya Kecil?
Spion, piranti untuk membantu saat mengemudi mobil di jalan. Membantu melihat sisi belakang saat akan berbelok atau menyalip. Sangat penting artinya agar tak terjadi kecelakaan di jalan.
Sekalipun penting, mengapa bentuknya hanya kecil saja ya?
Anda mungkin akan mengernyitkan dahi dan berkata, "tentu saja dibuat kecil buat apa besar? Kalau besar kan bisa mengganggu pengendara mobil lainnya..." Ya, jawaban tersebut tidak salah. Tetapi pernahkah Anda menyadari bahwa di dalam kehidupan, masing-masing dari kita juga dibekali kaca spion yang fungsinya relatif sama dengan kaca spion mobil.
Ah aneh-aneh saja, mana ada kaca spion di dalam hidup?
Ada! kita menyebutnya, masa lalu. Itulah kaca spion yang dimiliki masing-masing orang dalam hidupnya. Bila spion dibuat untuk membantu pengendara melihat sisi belakang kendaraan, maka spion hidup kita membantu untuk melihat masa lalu. Spion mobil dibuat kecil, karena memang melihat ke belakang tak perlu sampai di ujung jalan juga harus kelihatan. Yang terpenting adalah kondisi tepat di belakang kita yang dapat kita jadikan acuan bahwa jalanan sudah aman untuk kita melakukan sesuatu, entah berbelok atau menyalip. Sayangnya, dalam hidup, kita cenderung menggunakan spion yang sangat lebar. Di mana, kita seringkali melihat masa lalu terlalu sering dan terlalu jauh ke belakang. Padahal, apa sih untungnya?
Sebenarnya juga tak banyak untung yang kita dapatkan saat menengok ke masa lalu, selain rasa takut melangkah, ragu-ragu, dan sedih yang berkepanjangan.
Lantas mengapa kaca depan mobil dibuat sebesar itu saja? Mengapa kita tak memakai teleskop sekalian untuk melihat ke depan kalau-kalau ada kecelakaan atau kemacetan di jalan.
Inilah yang sering terjadi pada kita. Saking takutnya akan masa lalu dan masa depan, akhirnya yang sering kita lakukan pertama adalah menengok ke masa lalu terlalu sering. Kemudian berusaha mencari tahu apa yang akan terjadi di masa depan, entah dengan membaca ramalan atau pergi ke orang pintar. Apakah kemudian kehidupan Anda jauh lebih baik dengan melakukan hal tersebut?
Hmm... kebanyakan tidak. Banyak yang justru semakin merasa tertekan dan tak puas dengan kehidupannya. Marah, jengkel, kecewa, dan takut. Akhirnya kebahagiaanpun jauh, dan hidup terasa sangat menakutkan.
Kerabat Imelda, bila spion ukurannya kecil, karena memang dibuat agar kita tak terlalu jauh melihat ke belakang. Tak menyesali apa yang ada di masa lalu, dan tak terus-terusan terbeban karena kejadian yang sudah usai. Bila kaca depan mobil tak dibuat melihat jauh ke depan, semata hanyalah agar kita tak terlalu khawatir akan apa yang terjadi di masa depan. Setidaknya kita cukup siap dengan strategi dan rencana untuk masa depan. Namun, baiknya kita menjalaninya dengan santai, tidak terlalu khawatir, dan tak terbeban masa lalu. Kita hanya cukup bersiap saja menghadapi apa yang ada di depan, untuk kemudian beraksi sigap. Let's live for today!
SUMBER:Agatha Yunita - kapanlagi.com
Subscribe to:
Posts (Atom)