Monday, July 30, 2012

Hidup Bagaikan Segelas Kopi

Mungkin pernah terlintas dalam benak pikiran kita apa sih arti hidup kita ? Dan apa tujuan kita dalam hidup ini ? Memang pertanyaan diatas akan sulit untuk dijelaskan karena setiap orang pasti memiliki jalan hidup yang berbeda. Terkadang disaat kita menjalani hidup ini, akan banyak halangan yang akan datang silih berganti. Banyak setiap orang yang putus asa disaat menghadapi halangan – halangan tersebut, terkadang ada juga beberapa orang yang menikmati akan adanya halangan – halangan tersebut. Kita bisa menjadikan halangan – halangan yang ada di hidup kita bagaikan sebuah gula. Mengapa saya mengandaikan sebagai gula?, begini setiap orang pasti selalu menyukai sebuah kopi, sebuah minuman yang hitam pekat dan kadang tidak menarik untuk di minum, tetapi dengan adanya gula tersebut secangkir kopi tadi akan lebih terasa nikmat bila kita meminumnya. Ya! kita bisa mengandaikan juga kehidupan kita sebagai segelas kopi pahit yang baru saja kita seduh. Kopi tersebut, jika baru anda seduh tanpa memberikannya gula akan terasa pahit dan tidak enak di lidah. Sama halnya seperti kehidupan kita yang selalu monoton tidak ada perubahan yang signifikan dari apa yang terjadi di saat kita menjalani hidup ini. Masalah atau halangan sebesar dan sesulit apapun pasti bisa kita jalani atau selesaikan asal tidak ada kata menyerah,putus asa, semua itu demi memperoleh sebutir gula di hidupmu, tetapi halangan – halangan yang entah itu kecil atau besar akan menjadi sebutir gula yang akan menambahkan rasa pada kopi kita tadi, tinggal bagaimanakah kita bisa mengatur butiran – butiran gula tersebut, agar pas di kopi tersebut. Tidak terlalu manis juga tidak terlalu pahit, itulah makna sebuah hidup kita harus menikmati segala rencana tuhan yang di berikan kepada kita dan kita akan mendapatkan sebuah kopi yang dapat menenangkan hidup kita. SUMBER:gemintang.com

Keluargaku

Semua terasa indah, keluargaku ini adalah nyawa keduaku. Hari-hari yang aku jalani sangatlah bahagia. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan di sebuah kota besar. Di kota ini aku terlahir dan meranjak dewasa bersama kasih sayang yang mengalir dari kedua orangtuaku yang aku sayangi. Aku adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Anak pertama, kakakku yang tampan Alan “bukan nama asli”. Dia adalah anak tertua di antara kami bertiga. Dia baik namun agak tegas. Aku bangga memiliki kakak seperti dia. Kakakku itu memiliki keahlian di bidang otomotif. Dia memiliki sebuah usaha sendiri semenjak dia lulus bangku Universitas. Anak ke-2 adalah aku, Martin. Aku adalah peria kedua yang terlahir dari rahim ibuku. Aku adalah peria yang agak cuek. Setelah lulus SMIP, aku memilih untuk berkerja di satu restoran yang yang cukup besar untuk meneruskan minatku di bidang kuliner. Aku menjabat sebagi cook-1 direstorant tersebut. Si bungsu, Ferry. Dia sebenarnya adalah anak yang baik, namun mungkin karena usianya yang masih muda membuat pergaulanya sedikit nakal. Dia masih bersekolah di tingkat SMU. Dia penggila bola. Hampi setiap akhir pekan dia menghabiskannya dengan bermain futsal bersama kawan-kawannya. kami bertiga kadang terlibat pertengkaran, namun itu tak lama. kami saling menyayangi satu sama lain.Kedua orangtua kami mengajarkan kerukunan terhadap kami bertiga, dan mereka pun tidak ada pilih kasih terhadap kami bertiga. Di suatu hari, kedua orangtua kami harus pergi keluar kota untuk menemui penanam saham di usaha kami. Keluarga aku memiliki usaha. Yang mengelola usaha keluarga adalah ayah dan ibuku. Kami bertiga mengantar orangtua kami bersama ke bandara. Di sana aku kami akhirnya haurs berpisah dengan kedua orangtua kami. Kedua orangtua kami memeluk kami dan mencium kami bertiga. Ibu kami berpesan sebelum berangkat agar kami akur satu sama lain. Kamipun melepas orangtua kami dengan derai air mata. Kakakku yang paling anti menangis ternyata ikut menangis, maklum baru saat ini kami terpisah dari orangtua kami. Kedua orangtua kami akan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang lama. setelah kepergian orangtua kami, semua kegiatan kami dipantau oleh Alan. Memang terkadang aku kesal terhadap sikap kakaku itu, namun aku tahu dia melakukan itu untuk kebaikan kami. Tiba disuatu hari adikku pulang larut malam, walaupun sebenarnya Alan sudah melarang kami untuk pulang malam hari. Pertengkaran terjadi antara kakak dan adikku. Mereka saling memaki satu sama lain hingga perkelahian pun tak terindahkan. Aku melerainya dan aku terpukul oleh adikku dan aku terjatuh tersungkur dari tangga, dan pergelangan tangan kiriku patah dan kepalaku terbentur dan akupun tak sadarkan diri. Alan dan Ferry mengangkatku dan melarikan aku kerumah sakit. Sesampainya di sana aku mendapat 7 jahitan di pelipisku. Mereka berdua meminta maaf kepadaku. Adikku menangis melihat aku yang tergeletak karena ulahnya. Mereka berdua menemaniku disini, kedua saudara kandungku. Kakakku meminta maaf kepadaku dan adikku, dan dia berkata bahwa dia melakukan semua ini karena dia takut terjadi apa-apa terhadap adikku dan karena dia sangat menyayangi kami sebagai adik-adiknya. Adikku pun akhirnya meminta maaf kepada kakakku. Akhirnya aku dibawa mereka pulang untuk di rawat dirumah oleh mereka. Hari-hari kami jalani seperti biasa. Kami saling mengerti satu sama lain. Adikku yang biasanya pulang larut, kini hampir tidak pernah pulang larut, dan kakakku yang biasanya tempramen kini agak menjaga emosinya . Tibalah kedua orangtu kami dari kepergianya. Kedua saudaraku kebetulan sedang ada di luar. Setibanya di rumah kedua orangtuaku kaget melihat aku terbaring di tempat tidur. Ibuku bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi pada diriku. Aku menjawabnya jikalau aku terjatuh dari tangga, aku takut kedua saudaraku dimarahi oleh kedua orangtuaku. Ayahku bertanya tentang keberadaan Alan dan Ferry. Aku menjawab, bahwa keadaan mereka berdua baik-baik saja dan mereka sedang keluar untuk belanja makanan untuk kami. Tibalah kedua saudaraku dirumah. Mereka berdua terdiam melihat kedua orangtuaku sudah ada di kamarku. Kedua orangtuaku pun beranjak pergi kekamarnya untuk istirahat. Mereka berdua bertanya padaku apa yang di tanyakan oleh kedua orangtua kami terhadapku. Akupun menjelaskan kepada mereka, dan merekapun memelukku. Inilah arti dari sebuah ikatan persaudaraan. SUMBER:perempuan.com

Aku Bertahan Karena Cinta

Apa itu cinta? Itu sebuah pertanyaan yang terlontar dari seorang temanku ketika aku harus berhadapan dengan suatu masalah perasaan. Aku adalah seorang mahasiswa di salah-satu kampus di Jakarta. Aku memiliki beberapa teman, namun kami berbeda Universitas. Mereka semua berkuliah di satu kampus yang sama, hanya aku saja yang berbeda. Mereka semua adalah temen-temanku yang baik. Hampir setiap kali aku pulang kuliah, pasti aku mengunjungi kampus di mana teman-temanku berkuliah , maka tidak heran, aku lebih mengenal mahasiswa di sana dari pada di tempatku. Namaku Baim“bukan nama asli” teman-temanku sering memanggilku dengan Ubay, karena sudah terbiasa jadi aku tidak binggung. Aku dan mereka sering berkumpul di depan kampus teman-temanku, terkadang merekapun sering mendatangi kampus di mana aku melanjutkan pendidikanku. Walau kami berbeda tempat menimba ilmu, kami tetap selalu bertemu . Saat itu aku mengenal seorang wanita di tempat teman-temanku berkuliah. Dia adalah Chatlia”bukan nama asli” dia adalah salah satu mahasisiwi di sana dan cukup dekat dengan teman-temanku. Saat itu aku dikenalkan kepadanya oleh salah-satu temanku. Waktu itu dia sedang ada masalah dengan pacarnya. Aku jalani pertemanan itu. Aku coba menghibur dia. Perlahan rasa nyaman hadir, dan akupun semakin dekat dengan dia. Dia wanita yang lucu, selalu ada ide untuk membuatku tertawa. Kedekatan kami berjalan lama. Di satu saat temanku menanyakan prihal kedekatan kami. Mungkin karena kami terlalu dekat, yang membuat teman-temanku bertanya-tanya? Tidak terasa sudah aku telah lama menemani kegalauan dia. Kini aku menjadi galau. Aku kini menyimpan rasa terhadap dia. Ingin sekali ku ungkapkan perasaanku terhadap dia. Aku bertanya pada teman-temanku yang semuanya adalah teman satu kampus dengan wanita yang aku sayangi itu. Aku meluapkan perasaanku, aku berkata pada teman-temanku bahwa aku cinta dia. Mereka semua mendukungku, karena Chatlia sudah berpisah dari pacarnya. Aku menentukan hari dimana aku ingin menyatakan cinta terhadapnya. Tibalah saatnya, waktu itu aku menemani dia sehabis kuliah. Kami makan di sebuah warung makannan di pinggir jalan. hatiku berdebar kencang, keringatku pun mengaliri telapak tanganku. Aku harus memulai dari mana? Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku beranikan diriku, saat itu aku mengutarakan perasaanku terhadap dia. Aku terdiam selesainya mengutarakan perasaanku terhadapnya, berharap cintaku dapat diterimanya. Dia hanya tersenyum padaku, tanpa member jawaban padaku. Aku tidak mempersoalkan itu, setidaknya aku sudah mengungkapkan semua isi hati yang kumiliki utntuk dia. Setelah hari itu berlalu, dimana aku mengutarakan rasaku, kami menjalani seperti biasa. Kami saling bertemu, berkumpul berasama teman-temanku. Sedikit berbeda, saat aku bertemunya , jantungku berdebar lebih kencang. Aku masih menunggu jawaban dari semua persaanku ini. Saat kami berkumpul di satu tempat, salah satu temanku berkata padaku bahwa Chatlia pernah mencintaiku. Hatiku terasa berbunga walau itu hanya sebuah kata-kata dari temanku. Aku berfikir, masih ada sudut untukku membuktikan kesungguhan cinta ini. Hari-hariku berbias namanya. Setiapku beraktifitas tergambar wajahnya di khayalku, sungguh inilah cinta untuknya. Sore itu, saat kami berkumpul, temaku berkata jikalau Chatlia bertanya tentangku! Ada apa gerangan dia bertanya tentangku? Tak lama kemudia dia pun datang, dia menghampiri kami dan bergabung untuk sekedar bercanda gurau. Tidak terasa malam tiba, diapun hendak pulang. Aku tidak tega melihat dia harus pulang larut malam sendiri. Aku takut terjadi apa-apa terhadapnya. Aku bertanya padanya siapa yang akan mengantarnya pulang? Dia bberkata bahwa dia akan di jemput, aku sedikit tenang , setidaknya dia ada yang mengantar pulang. Diapun beranjak pergi menuju area parker kampus. Tidak lama dia pergi, aku dan kawan-kawanku pu beranjak untuk pulang. Dalam hatiku berdoa, semoga Chatlia selamat sampai rumahnya. Saat aku menuju area parker bersama kawan-kawanku aku berpapasan denga Chatlia, dia tidak sendiri dia dengan seorang peria. Dia pun mengenalkannya pada kami, bahwa peria itu adalah kekasihnya. Dia sudah menjalani hubungan dengan peria itu cukup lama. aku tidak dapat berkata! Karena yang aku ketahui dari Chatlia, dia belum memiliki kekasih semenjak dia putus dari mantan kekasihnya. Dia melihat kearahku, dan akupun tak sanggup berbuat apa-apa! Aku melihat mereka berdua begitu dekat. Mungkin dia bahagia dengan peria itu, mungkin peria itu adalah yang terbaik untuk wanita yang aku cintai. Aku pun hanya tersenyum melihat mereka berdua. Tidak terpungkiri aku patah hati, namun jika ini memang menjadi yang terbaik untuk wanita yang aku cintai, inilah pilihan yang aku ambil “aku siap merasakan patah hati demi senyumnya”. Sampai detik ini aku sering bertemu denganya, berbicara denganya dan masih mencintainya, aku akan selalu bertahan disini dengan segala rasa ini tanpa harus memiliki dia. Untukku cinta adalah sebuah perasaan yang tidak dapat melihat pasangan yang di kita cintai menangis dan cinta adalah sebuah pembuktian ketulusan rasa, bukan hanya kata-kata manis semata. SUMBER:perempuan.com

Makna Memberi Dari Sepasang Sarung Tangan

Memberi adalah soal niat dan tindakan, bukan karena kuantitas. Bukan karena memiliki sesuatu yang berlebihan, yang tidak mampu dihabiskan sendirian maka kita memberikannya pada orang lain. Bukan pula karena kita tidak lagi membutuhkan barang itu, atau tidak menyukainya sehingga barang itu diberikan ke orang lain. Kimberly Harding selalu menyediakan uang $3 di dalam mobil dan juga dalam kantong bajunya untuk diberikan pada peminta-peminta yang datang padanya dan meminta sedikit belas kasihan. Tiga dolar adalah jumlah yang tidak seberapa, namun bagi para homeless yang mengira hanya akan mendapatkan 25 sen, uang sejumlah itu cukup banyak. Ditambah dengan jawaban yang riang dan sesekali pelukan dari Kimberly, mereka sangat senang dengan uang yang bagi banyak orang tidak seberapa itu. Selain menyediakan uang pecahan kecil, Kimberly juga selalu membawa barang-barang yang mungkin akan mereka perlukan. Di negeri empat musim, hangatnya matahari hanya bisa dirasakan di bulan-bulan tertentu dalam satu tahun. Sisanya, adalah udara dingin dan kadang-kadang hujan yang tidak ramah bagi kaum homeless ini. Maka Kimberly membawa juga topi, kaos kaki, sarung tangan dan payung, juga sepaket kebutuhan pribadi seperti sikat gigi, pasta gigi, sisir, band-aids, aspirin dan juga makanan instan yang bisa disimpan dan digunakan kapan saja. Barang-barang itu dibawa dan disediakan Kimberly seperti memenuhi kebutuhannya sendiri. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu menyediakan barang-barang tersebut. Suatu kali, Kimberly dikejutkan oleh seorang wanita muda. Saat itu udara mulai dingin, dan Kimberly memberikan uang 3 dollar dan sebuah topi pada wanita itu untuk menghangatkan kepalanya. Kimberly sendiri tidak mengenakan sarung tangan karena merasa udara belum cukup dingin. Biasanya, orang yang diberi uang oleh Kimberly langsung mengatakan terima kasih dan beranjak pergi, atau tersenyum riang saja; tapi wanita ini bergegas ke kantong bawaannya dan meminta Kimberly untuk menunggu. Dia kembali lagi dengan sepasang sarung tangan cadangan miliknya dan memberikan sarung tangan itu pada Kimberly. Tentu saja wanita ini lebih membutuhkan sarung tangan itu. Bagaimana jika sarung tangan yang dipakainya basah dan dia harus mengganti sarung tangannya? Namun inilah makna 'memberi' yang sesungguhnya. Memberi bukan menyingkirkan barang yang tidak kita senangi, bukan menghibahkan barang yang tidak kita pakai (atau malah barang yang sudah rusak!) pada orang lain; memberi adalah niatan dari hati kita untuk membuat orang lain lebih nyaman dan lebih baik. Kimberly menyimpan sarung tangan itu, dan menjadikannya berkat bagi kaum papa lainnya ketika dia bertemu seseorang yang juga membutuhkan sarung tangan. Demikian rantai kasih sebenarnya tidak berhenti hanya karena Anda tidak mampu atau tidak berkecukupan, selama ada cinta, niatan dan tindakan untuk membuat orang lain lebih bahagia, Anda selalu bisa untuk memberi. SUMBER:kapanlagi.com yang ditulis ulang dari peopleandpossibilities.com

Surat Abraham Lincoln Kepada Kepala Sekolah

Berikut adalah sebuah surat yang ditulis sendiri oleh Abraham Lincoln (1809-1865; negarawan AS) kepada Kepala Sekolah putranya. Meski ditulis puluhan tahun silam, isinya tetap relevan hingga sekarang bagi semua kalangan, entah itu eksekutif, pekerja, guru, orangtua, dan murid. Pesan untuk Para Guru "Saya tahu dia (baca: putra Lincoln) harus belajar bahwa tidak ada manusia yang bersikap adil dan berlaku jujur. Tapi, tolong ajari dia indahnya buku-buku... dan berikan dia juga waktu untuk merenungkan misteri abadi tentang burung-burung di langit, lebah-lebah di bawah matahari, dan bunga-bunga di lereng bukit yang menghijau. Di sekolah, ajari dia bahwa kegagalan itu jauh lebih terhormat daripada berbuat curang.... Ajari dia untuk meyakini gagasan-gagasannya sendiri, meski semua orang berkata dia salah. Ajari dia untuk bersikap lembut kepada orang-orang yang juga bersikap lembut, dan bersikap keras kepada orang-orang yang juga bersikap keras. Berikan putra saya kekuatan untuk tidak begitu saja mengikuti orang banyak ketika mereka sedang bersukaria akan sesuatu.... Ajari dia untuk mendengarkan semua orang yang berbicara padanya; tapi ajari dia juga untuk menyaring kebenaran dari semua hal yang didengarnya, dan hanya mengambil hal-hal yang positif saja. Ajari dia cara untuk tertawa di saat dia sedih.... Ajari dia agar tidak malu untuk menangis. Ajari dia untuk mencemooh orang-orang yang bersikap sinis dan bersikap waspada terhadap orang-orang yang selalu bermuka dan bermulut manis. Ajari dia untuk mengerahkan seluruh kekuatan dan pikirannya untuk melakukan hal-hal terbaik, tapi jangan pernah menjual hati dan jiwanya. Ajari dia untuk tidak mendengarkan kelompok orang yang berteriak-teriak... dan tetap berjuang mempertahankan pendiriannya jika memang dirinya benar. Perlakukan dia dengan lembut, tapi jangan manjakan dia, karena hanya melalui tempaan apilah bisa tercipta baja yang terbaik. Biarkan dia memiliki keberanian untuk bersikap tidak sabar. Biarkan dia memiliki kesabaran untuk bersikap berani. Ajari dia untuk selalu mempunyai kepercayaan yang sungguh-sungguh pada dirinya, karena dengan begitu ia akan memiliki kepercayaan pada sesamanya. Pesan ini sangat penting, namun lakukan saja sebisa Anda. Putra saya adalah anak laki-laki yang baik!" -Abraham Lincoln- SUMBER:www.andriewongso.com

Penerbangan Kelas Pertama

Alkisah, dalam sebuah penerbangan dari Johannesburg, seorang perempuan setengah baya asal Afrika Selatan yang berkulit putih baru mengetahui dirinya mendapat kursi di samping seorang pria berkulit hitam. Perempuan itu memanggil kru kabin dan mengeluhkan masalah penempatan tempat duduknya. "Ada masalah apa, Ibu?" tanya kru kabin dengan sopan. "Kamu tidak bisa lihat sendiri, ya?" ujar perempuan itu dengan nada tajam. "Kamu tempatkan saya di samping seorang kulit hitam. Aku tidak mungkin bisa duduk di sebelah manusia menjijikan ini. Carikan saya kursi yang lain!" "Harap tenang dulu, Bu," timpal seorang pramugari. "Hari ini pesawat sudah penuh, tapi saya akan coba bantu Ibu ya. Saya akan cek apakah masih ada kursi kosong di kelas ekonomi atau kelas pertama." Perempuan itu melirik dengan tatapan sombong ke arah pria berkulit hitam di sampingnya (dan penumpang lain di sekitarnya). Beberapa menit kemudian, pramugari tadi kembali dengan berita bagus, yang disampaikannya kepada perempuan setengah baya itu. Si perempuan itu memandang ke sekitarnya dengan senyuman penuh kepuasan. "Ibu, sayang sekali, seperti yang saya duga, kelas ekonomi sudah penuh. Tapi, kami masih punya kursi kosong di kelas pertama." Sebelum perempuan itu sempat menjawab, si pramugari melanjutkan... "Peningkatan kelas seperti ini jarang terjadi, tapi saya sudah mendapat izin khusus dari kapten kami. Tapi melihat kondisi yang ada, kapten kami merasa sangatlah memalukan jika seseorang harus dipaksa untuk duduk di sebelah orang yang sangat menjengkelkan." Setelah berkata begitu, pramugari itu langsung beralih pada pria berkulit hitam yang duduk di samping perempuan itu. Kata si pramugari, "Jadi jika Anda bersedia memindahkan barang-barang Anda, Pak, saya akan menyiapkan kursinya buat Anda...." Saat itu juga, penumpang di sekitar serempak berdiri dan bertepuk tangan ketika pria berkulit hitam itu berjalan menuju bagian depan pesawat. SUMBER:www.andriewongso.com

Emas dan Permata

Alkisah, di sebuah negeri, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Suatu hari, ada seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Saya tidak paham kenapa orang besar seperti Guru berpakaian sangat sederhana. Bukankah di zaman sekarang ini berpakaian bagus itu penting, tidak hanya untuk penampilan tapi juga untuk alasan lainnya?" Sang guru hanya tersenyum dan mencopot cincinnya dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Anak muda, saya akan jawab pertanyaanmu, tapi lakukan dulu satu hal ini: ambil cincin ini dan pergilah ke pasar di seberang jalan ini, bisakah kamu menjualnya seharga sekeping emas?" Setelah melihat cincin sang guru yang kotor, seketika anak muda itu menjadi ragu. "Sekeping emas? Wah... saya tak yakin cincin seperti ini bisa dijual dengan harga tinggi." "Coba saja dulu, anak muda. Siapa tahu, bisa." Pemuda itu pun segera pergi ke pasar. Ia menawarkan cincin itu ke penjual kain, penjual sayuran, tukang daging, penjual ikan, dan pedagang lainnya. Ternyata memang tidak ada yang mau membayarnya seharga sekeping emas. Akhirnya, si pemuda datang kembali ke kediaman sang guru dan memberi tahu dengan suara lemah, "Tidak ada yang berani menawarnya lebih dari sekeping perak." Dengan senyuman bijak di wajahnya, sang guru berkata, "Sekarang pergilah ke Toko Emas di belakang jalan ini. Tunjukkan cincin ini pada pemiliknya atau penjual emas. Jangan sebut harga tawaranmu! Pokoknya, dengarkan saja harga yang akan mereka tawarkan untuk cincin ini." Maka, pergilah si pemuda ke toko yang disebutkan sang guru dan kembali dengan ekspresi yang berbeda. Ia lalu berkata dengan penuh semangat, "Guru, pedagang-pedagang di pasar sama sekali tidak tahu harga cincin ini. Si penjual emas menawar cincin ini seribu keping emas, seribu kali tawaran pedagang di pasar! Sang guru hanya tersenyum dan berkata pelan, "Itulah jawaban dari pertanyaanmu, anak muda. Seseorang tidak bisa dinilai hanya dari pakaiannya saja. Pedagang di pasar memberimu nilai sekecil itu, tapi berbeda dengan penjual emas tadi." Kerabat Imelda... "Emas" dan "permata" di dalam diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita dapat melihatnya jauh ke dalam jiwa. Diperlukan hati untuk melihatnya, dan dibutuhkan proses. Kita tidak bisa melihatnya dari ucapan atau perilaku yang hanya kita lihat sesekali. Sering kali apa yang kita anggap emas ternyata hanya sebongkah kuningan, tapi apa yang kita kira kuningan ternyata sebongkah emas. Maka, kita perlu hati-hati melihat seseorang. Jangan mudah menilai dari apa yang tampak karena kita bisa terperangkap oleh sudut pandang kita yang sempit, yang tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang kita nilai itu punya kelebihan. SUMBER: Andrie Wongso - www.andriewongso.com

Akhirnya Pertikaian Itu Berakhir

Hari ini adalah hari "kemerdekaanku", begitu aku menyebutnya. Hari yang telah kunanti hampir dua tahun. Entah mengapa hari ini aku memilih mengenakan kaos berwarna pink dan celana jeans untuk kerja di hari Sabtu, mungkin sesuai suasana hatiku yang gembira. Padahal aku termasuk perempuan yang tidak menyukai warna pink dan kaos pink ini adalah pemberian seorang teman, bukan aku yang membelinya. Pikiranku kembali pada perjalanan hidupku di kantor selama dua tahun terakhir ini. Di mulai saat aku bekerja di sebuah perusahaan ternama di kotaku. Aku menduduki posisi manager. Sebelumnya aku bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan farmasi. Meskipun sedikit gugup di hari pertama, aku berusaha menyesuaikan diri. Beruntung karena di level management, sebagian besar adalah orang orang yang sudah kukenal. Aku membawahi sekitar dua puluh orang di departemen yang kupimpin, dengan seorang supervisor bernama Winda. Saat ini Winda sedang cuti melahirkan, sehingga aku belum berkenalan dengannya. Hari hari kulalui dengan mempelajari pekerjaan baru, mengenal karakter stafku dan menjalin kerjasama di dalam team. Semua berjalan lancar sampai suatu hari Winda masuk, setelah cutinya habis. Kami berkenalan dan aku menjelaskan hal hal yang terjadi selama dia cuti. Winda menanggapi dengan dingin. Setiap kali aku berkoordinasi dengannya mengenai pekerjaan, dia bersikap acuh. Setiap kali aku bertanya tentang pekerjaan, dia menjawab dengan sekenanya. Meskipun tempat duduk kami hanya berjarak satu meter setengah, tetapi kami dapat dikatakan tidak pernah berkomunikasi. Lama lama aku merasakan sikap sebagian staffku berubah. Mereka menjadi jarang berkomunikasi denganku dan mulai membantah setiap kali menyatakan pendapat. Mereka selalu berkomunikasi mengenai pekerjaan dengan Winda. Sementara Winda membuat keputusan tanpa memberitahuku. Saat aku menegurnya, Winda akan memberikan banyak alasan dengan nada sinis, untuk membela diri. Aku menjadi kehilangan kesabaran. Saat Winda membantah, aku mulai emosi, dengan nada keras akupun menegurnya. Melihat situasi tersebut, beberapa staf yang telah lama mengenal sifatnya mengatakan agar aku tidak terpancing emosi. Menurut mereka, Winda sengaja memancing emosiku agar aku tampak sebagai pimpinan yang gampang marah dan tidak menguasai pekerjaan. Hal berat untuk bersabar menghadapi Winda yang setiap saat berusaha memancing emosiku. Beruntung aku dapat bertahan. Apabila Winda gagal memancing emosiku, maka dia akan menggosipkanku dengan beberapa temannya. Aku hanya bisa menutup telinga, berpura pura tidak mendengar. Ketidakcocokan kamipun sampai ke telinga atasanku dan direktur. Mereka berulangkali memanggil kami, menyarankan agar kami dapat bekerjasama. Tapi semua itu gagal. Kemudian aku mengetahui mengapa Winda bersikap memusuhiku. Ternyata orang sebelumku menjanjikan Winda untuk menggantikannya. Sayangnya manajemen tidak menyetujui dan memutuskan untuk mencari orang daril uar perusahaan dan masuklah aku. Betapa kecewanya Winda, setelah masuk dari cuti melahirkan, posisi manager sudah kutempati. Mungkin kalau aku diposisi Winda, aku akan melakukan hal yang sama. Beberapa teman menyarankan agar saya berkomunikasi menggunakan email dan di-cc-kan kepada direktur tempatku bekerja. Aku menuruti saran mereka. Setiap komunikasi mengenai pekerjaan aku lakukan menggunakan email. Winda pun membalas emailku dengan nada sinis. Hal ini terlihat dari cara penulisannya yang sering menggunakan huruf besar, tanda seru dan tentu saja kata-kata yang ditulisnya. Sampai atasanku sempat menegurnya agar menulis email dengan hormat. Dengan adanya email, membuktikan bahwa yang bersikap sinis adalah Winda. Suatu hari aku meminta stafku untuk entry suatu transaksi di program komputer. Ternyata Winda telah meminta staf lain untuk melakukan hal yang sama. Ketika Winda mengetahui bahwa aku telah menyuruh seorang staf untuk melakukan hal yang sama, Winda marah, dengan suara keras dia menyalahkanku, sampai seluruh ruangan mendengar pertengakaran kami. Aku berusaha untuk tidak terpancing emosi, aku hanya menjawab dengan nada tegas, tetapi tidak berteriak sambil menatapnya dengan tajam. Akhirnya dia keluar ruangan dengan suara kaki yang kasar. Atasanku mendengar pertengkaran kami, dia memanggil kami satu per satu dan beberapa anak yang mendengarkan pertengkaran kami. Setelah itu atasanku mempertemukan kami berdua. Sekali lagi kami berdua tetap teguh dengan dengan pendapat kami masing-masing. Atasanku memberi ultimatum agar dalam seminggu kami harus berbaikan. Aku hanya tersenyum sinis. Winda langsung menolak berbaikan denganku dan mengatakan lebih baik mengundurkan diri daripada berbaikan denganku. Atasanku tidak berkomentar apapun dan hanya berkata: “Ingat, waktu kalian hanya seminggu”. Beberapa hari kemudian direktur memanggilku, beliau menanyakan apakah aku siap mengurusi pekerjaan di departemen yang aku pimpin apabila Winda mengundurkan diri. Tentu saja aku jawab siap, bahkan di dalam hatiku berkata semakin cepat semakin baik. Menurut sumber yang aku dengar, direktur kurang yakin apakah aku mampu menjalankan tugas dengan baik tanpa Winda, mengingat Winda sudah lama bekerja. Akhirnya Winda mengajukan surat pengunduran diri dengan alasan mau mengurus anak. Saat mendengarnya, aku merasa seperti mimpi. Rasanya tak sabar menanti sebulan lagi saat dia berhenti, dan sekarang saatnya. Hari ini hari terakhir dia bekerja. Lucunya dia juga mengenakan kaos pink, padahal dia jarang mengenakan kaos pink. Mungkin dia juga merasa hari ini adalah hari kebebasannya, terlepas dari pertikaian selama ini. Kami melaksanakan serah terima dan saling berjabat tangan sekedar formalitas. Aku lega, pertikaian ini berakhir. Sejujurnya aku juga berterima kasih kepada Winda, karena pertikaian ini justru mengajariku untuk mengendalikan emosi dan lebih bersabar. SUMBER:perempuan.com

Menerima Kekurangan

Di dunia ini tak ada yang sempurna. Itu sudah pasti. Nobody is perfect, kata peribahasa. Tetapi ada sebagian orang yang merasa kelemahan yang dimilikinya merupakan bawaan yang tak bisa diatasi. Lahir dari keluarga miskin merasa tak mungkin bisa kaya raya. Padahal banyak orang yang sudah bisa membuktikan sebaliknya: Lahir miskin lalu dengan bekerja keras akhirnya bisa jadi orang kaya. Ada juga yang memiliki kekurangan fisik. Karena ada cacat lalu merasa hidupnya tak beruntung, merasa jadi manusia terpinggirkan, tak mungkin sukses, merasa tak berdaya, merasa hidupnya hanya menunggu belas kasihan orang. Padahal kita tahu, banyak contoh orang-orang difabel yang sukses luar biasa di kehidupannya. Mumpung dalam suasana pergelaran Piala Eropa, saya ambil contoh seorang pemain sepakbola yang luar biasa, yaitu Lionel Messi. Meski ia tak main di kejuaraan ini karena orang Argentina, apa yang dialaminya cukup inspiratif. Messi sewaktu kecil mengalami proses pertumbuhan yang tidak normal. Badannya kekurangan hormon yang menghambat pertumbuhan tulangnya sehingga Messi bertubuh kecil dibanding anak-anak seusianya. Gara-gara penyakit itu ia ditolak klub sepakbola kenamaan Argentina. Dokternya juga meminta Messi untuk tidak latihan sepakbola. Namun alih-alih berhenti bermain bola Messi malah terus berlatih dengan sembunyi-sembunyi. Bakatnya yang luar biasa akhirnya diketahui pemandu talenta dari klub sepakbola Spanyol, Barcelona. Klub ini lalu mengontraknya dan membiayai pengobatan Messi agar bisa tumbuh normal. Kita sekarang tahu siapa Messi. Di Barcelona ia menjelma menjadi pemain hebat. Bahkan saat ini ia adalah pemain sepakbola terbaik di dunia. Messi menunjukkan bahwa kekurangannya bukan penghambat baginya. Masih banyak contoh lain baik dari dunia olahraga, bisnis, atau bidang-bidang lainnya. Mereka tak mengeluhkan kekurangannya. Mereka justru mengoptimalkan kelebihannya untuk meraih kesuksesan hidup. Dan dengan bekerja keras akhirnya mereka sukses luar biasa. Misalnya Stephen Hawking yang tubuhnya lumpuh dan hidupnya hanya di atas kursi roda. Dengan kondisi seperti itu ternyata ia bisa berhasil menjadi ilmuwan fisika kenamaan dunia saat ini. Kerabat Imelda...Memang di dunia ini tak ada yang sempurna. Tapi ketidaksempurnaan itu bukan sumber kegagalan. Kebanyakan orang yang gagal bukan karena tidak memiliki talenta, modal, atau kesempatan. Mereka gagal karena tidak pernah menyusun rencana untuk mengisi kehidupan mereka dengan sukses. Karena itu, mari sadari bahwa kekurangan kita bukan hambatan untuk sukses. Kita pasti memiliki kelebihan. Yang harus kita lakukan adalah menemukan kelebihan kita, mengoptimalkannya, bekerja keras, tak mudah menyerah, dan mengembangkan sikap positif lainnya. Sukses pasti milik kita! SUMBER:Andrie Wongso - www.andriewongso.com

Ayah Luar Biasa

Seorang anak 10 tahun bernama Putra, pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, dia dan ayahnya antre di belakang rombongan keluarga besar yang terdiri dari bapak, ibu, dan empat orang anaknya. Dari pembicaraan yang terdengar, Putra tahu bahwa bapak dari ke-4 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya nonton sirkus malam itu. Namun ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah bapak 4 anak itu tampak pucat. Ternyata uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah tidak cukup, kurang Rp 20.000. Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, tentang bagaimana harus menjelaskan kepada anak-anak mereka yang masih kecil, bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Padahal mereka tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar lagi untuk segera masuk ke arena pertunjukan sirkus. Tiba-tiba ayah Putra menyapa bapak yang sedang kebingungan itu sambil berkata, "Maaf, Pak! Uang ini tadi jatuh dari saku Bapak." Kemudian, diserahkannya lembaran Rp 20.000 sambil mengedipkan matanya dan terseyum. Betapa takjubnya si Bapak, dengan apa yang dilakukan ayah Putra. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang itu dan berbisik mengucapkan terima kasih kepada ayah Putra, sambil mengatakan betapa Rp 20.000 itu sangat berarti bagi keluarganya. Setelah rombongan tadi masuk, Putra dan ayahnya bergegas pulang. Mereka batal nonton sirkus, karena uang untuk menyaksikan sirkus sudah diberikan kepada keluarga besar tadi. Tapi Putra justru merasa sangat bahagia. Ia memang tidak dapat menyaksikan sirkus, tetapi ia telah menyaksikan dua orang ayah yang luar biasa. Kerabat Imelda, kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang lain, tetapi juga pada saat kita MAMPU MEMBERI. Cerita di atas juga menunjukkan bagaimana menolong orang lain dengan cara yang sangat halus, tanpa menyinggung harga diri orang yang ditolong. Dunia ini terus berputar. Ada kalanya kita menolong, dan ada kalanya kita juga memerlukan pertolongan dari orang lain. Maka, selagi masih mampu, tetap lakukan kebaikan dengan ikhlas dan bijaksana. SUMBER:www.andriewongso.com

Senjata Itu Tak Pernah Memakan Korban

Ini kesekian kali aku bertemu dengan seorang pengamen yang kebetulan selalu muncul di jam-jam yang sama, di atas bis yang mengantarku pulang setiap malam. Aku baru bekerja 3 bulan ini, dan baru 3 bulan pula rutin melintasi jalan ini dengan rute bis yang sama. Pengamen ini segera menarik perhatianku, karena walaupun bibirnya menghitam kelam karena rokok dan celana serta bajunya nampak usang, dia berusaha tampil bersih dan rapi. Lagu-lagunya tak pernah cemen, dan dinyanyikan dengan lantang tak merayu. Satu lagi, sorot mata itu.. tajam dan kuat. Suatu kali, bis setengah kosong dan karena itu dia punya waktu luang untuk sekedar duduk menanti pemberhentian berikutnya. Aku beruntung dia duduk di dekatku, dan aku memulai percakapan. Beberapa kali bertemu dalam satu minggu selama berbulan-bulan membuatku tidak sulit untuk mulai menyapanya. Aku membicarakan tempat pemberhentian berikutnya, jalur bis yang dia tumpangi, cuaca dan hal-hal ringan lainnya. Tapi sepertinya orang ini tahu aku menganggapnya tidak biasa, dan dia tidak keberatan untuk membuka sedikit cerita masa lalunya. "Aku dulu tentara." Dia memulai cerita dengan tiga kata yang membuatku paham mengapa tampilannya berbeda dari pengamen pada umumnya. Sejak remaja, dia sudah menunjukkan bakat menembak yang luar biasa. Bersama teman dan pamannya dia sering berburu ke hutan, mengasah ketepatan bidikan demi bidikan. Namun dia sendiri tidak pernah membunuh hewan dengan berlebihan. Setiap hewan buruan dia pastikan tidak tersia-sia dengan menjadikannya bahan makanan. Tibalah kesempatan untuk menyalurkan bakatnya guna melindungi orang lain ketika ada tawaran untuk menjadi tentara. Segera setelah selesai masa pendidikan dia menjadi sniper ulung. Negara mengirimnya ke medan perang; dan di sinilah dirinya diuji. Dia tidak pernah menembak orang, di medan peperangan pikirannya sangat kacau karena tidak mau membunuh orang yang tidak bersalah. Puncaknya adalah ketika dia harus menembak seorang wanita yang sedang berjalan di dekat anak kecil. Dia tidak bisa melakukannya. Wanita itu tidak melakukan apa-apa, dan ada anak kecil bersamanya. Matanya basah karena air mata dan karena itu dia tidak bisa membidik dan akhirnya menolak untuk menembak. Segera dia dibebastugaskan, menjalani hukuman karena menolak perintah dan masuk daftar hitam sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun. "Aku tidak menyesal.. Sampai hari ini pun aku tidak menyesal," jawabnya ketika kutanya bagaimana perasaannya sekarang. "Aku ingin melindungi orang, bukan membunuhnya. Sekarang aku tidak punya tempat tinggal dan makan dari mengamen, tapi aku masih bisa hidup dengan cara seperti ini. Jika dulu aku menembak wanita tak bersalah itu, aku tidak akan bisa hidup lagi. Aku yakin." Aku termangu mencerna kalimat-kalimat terakhirnya. Bagi sebagian orang hidup di jalanan dan tidak bertempat tinggal adalah akhir dari hidup. Mungkin lebih baik mati daripada menjalani hidup yang demikian. Banyak orang memilih lebih baik mengambil kehidupan dan kebahagiaan orang lain agar bisa tetap hidup enak dan terhormat. Pengamen ini membuktikan dirinya jauh lebih mulia dari banyak orang. SUMBER: EW Andayani - kapanlagi.com

Sesuatu Terjadi Karena Sebuah Alasan

Saat terjadi sesuatu yang baik, rasanya mudah saja untuk mengatakan 'memang sesuatu terjadi karena sebuah alasan'. Berbeda jika hal itu adalah buruk dan menjengkelkan, tiada henti-hentinya kita menanyakan 'mengapa ini terjadi?'. Tidak hanya peristiwa, orang yang kita temui setiap harinya juga hadir karena sebuah alasan; dan alasan itu selalu positif jika kita mau berpikir secara proses, tidak hanya dari hasilnya saja. Seringkali kita harus berhadapan dengan situasi yang menyakitkan, dan merasa bertemu dengan orang-orang yang salah. Sebagian orang memilih untuk melupakan dan tidak mau tahu dengan hal-hal buruk itu, sementara sebagian lainnya tidak bisa menerima keadaan dengan menuntut ganti rugi dan meluapkan kemarahan atau membalas dendam. Berapa banyak orang yang bisa berdamai dengan rasa sakit dan menyadarinya sebagai suatu proses? Rasa sakit, kesedihan dan kekecewaan bukanlah sesuatu untuk dilupakan, tidak juga untuk dihilangkan dengan menuntut balas. Cara yang terbaik untuk melaluinya adalah dengan menerima dan mengolah rasa yang merugikan ini menjadi sesuatu yang membangun diri. Bahkan hal buruk pun sebenarnya ikut membentuk pola pikir dan kebijaksanaan seseorang dalam menghadapi sesuatu. Dalam keadaan berkelimpahan mungkin tidak pernah terpikir untuk menghemat dan memanfaatkan fungsi barang dengan lebih efisien. Rasa tidak berdaya karena keterbatasan memang menyakitkan; seringkali kita dipandang remeh dan harus menahan keinginan karena tidak mampu membeli. Namun jika dilihat sebagai proses, keadaan itu membentuk gaya hidup yang lebih efisien, sederhana dan hemat. Pada saatnya, ketika kesuksesan di tangan, kita bisa menjadi seorang yang berkelimpahan dengan gaya hidup yang lebih bijak. Berinteraksi dengan orang yang salah akan menimbulkan kekecewaan dan juga kerugian. Namun orang itu juga mengingatkan kita agar tidak berlaku yang sama pada orang lain. Dia menjadi jalan bagi kita untuk belajar bagaimana harus bersikap di saat kecewa dan jengkel. Keimanan dan prinsip hidup benar-benar diuji dalam hal yang demikian, membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih matang. Berhentilah terpuruk dan marah karena sesuatu yang buruk, segeralah tersenyum karena Anda sedang mendapatkan satu lagi pelajaran dan pengalaman baru. SUMBER: EW Andayani - kapanlagi.com

Amarah Becky

Kisah ini terjadi tahun 1970-an. Ada seorang ibu yang punya cara sendiri untuk "menghukum" anaknya. Hukuman yang malah lebih mengesankan dibanding pukulan di badan atau tamparan di muka. Suatu hari anak bungsu ibu ini, yang berusia empat tahun, mendapat hukuman mengesankan ini. Dan hukuman itu menjadi kenangan yang paling tak terlupakan dalam hidup si anak bungsu. Beginilah kisahnya. Ibu yang istimewa ini melakukan dua "pekerjaan", yaitu sebagai mahasiswa dan seorang ibu rumah tangga. Di siang hari, ia akan kuliah sementara anak sulungnya bersekolah dan si bungsu dititipkan ke tempat penitipan anak. Suatu hari di tempat penitipan, si bungsu yang bernama Becky ini melihat seorang ibu yang terlihat sangat letih menjemput anak laki-lakinya. Si anak bertanya, "Mama, apa kita akan makan malam di restoran?" Si ibu menjawab, "Sayang, jangan malam ini, ya. Mama masih ada sedikit urusan, lalu kita pulang dan buat makanan untuk Papa." "Tapi, aku ingin pergi ke sana!" "Ron. Mama bilang tidak malam ini. Mungkin, kalau kamu jadi anak baik, kita bisa pergi besok." Mendengar jawaban ibunya, anak itu langsung duduk di lantai, menendang-nendang kakinya dan berteriak, "Aku ingin pergi makan di restoran..!!" Tidak satu pun permintaan atau omelan ibunya mampu menghentikan rengekan Ron. Akhirnya, si ibu menyerah, "Oke, kita pergi makan di restoran." Ron langsung berhenti berteriak, tersenyum cerah, dan meraih tangan ibunya. Mereka pun segera pergi. Semua kejadian ini membuat Becky kagum. Ia senang ternyata segala kemauannya bisa terpenuhi dengan bersikap seperti anak tadi. Ia pun ingin mencobanya sendiri. *** Sore hari, ibunya menjemput Becky lebih awal karena mereka akan mampir ke sebuah toko untuk berbelanja. Di toko itu, Becky begitu terkesan dengan barang-barang yang dipajang di rak-rak. Hingga akhirnya ia tertarik dengan satu mainan, yang berupa telepon berwarna merah putih. Dengan mata penuh minat, Becky bertanya pada ibunya, "Mama, bisakah aku membeli telepon itu?" Si ibu berkata pelan, "Sayang, tidak sekarang, ya. Tapi kalau kamu jadi anak baik mungkin kamu akan dapat mainan itu untuk hadiah ulang tahunmu." "Tapi Mama, aku pinginnya sekarang." Mata si ibu menyipit dan tangannya semakin erat memegang tangan anak bungsunya. "Becky, kamu tidak bisa dapat teleponnya hari ini, tapi kalau kamu masih membandel ibu akan memukulmu." Saat itu mereka sedang berada di tengah toko yang lumayan ramai pengunjungnya. Becky memutuskan inilah saatnya untuk melakukan trik yang tadi dilakukan Ron. Maka ia pun duduk di lantai dan mulai berteriak-teriak, "Aku mau telepon itu...!!" Para pengunjung memperhatikan Becky dan ibunya. Dengan lembut, si ibu berkata, "Becky, ayo Nak bangun. Mama hitung sampai tiga, ya. Satu... Dua... Tiga...." Becky tak beranjak sedikit pun. Ia tetap saja merengek. Lalu tanpa diduga-duga, si ibu duduk juga di samping Becky, dan mulai menendang-nendang kakinya dan berteriak, "Aku mau mobil baru! Aku mau rumah baru..! Aku mau perhiasan, aku mau...." Karena terkaget-kaget, Becky segera berdiri. "Mama, berhentilah. Mama, ayo bangun," Becky memohon dengan terisak-isak. Si ibu pun berdiri, dan membersihkan celananya. Seluruh pengunjung yang melihat awalnya terkejut dan bingung, lalu mulai terdengar satu tepuk tangan yang disusul dengan tepukan lainnya. Mereka bersorak dan beberapa ada yang memberi selamat pada si ibu. Mendapat respons seperti itu, pipi si ibu memerah. Ia sedikit membungkukkan badan, tanda terima kasih. Setengah jam berikutnya bisa dibilang memberikan "kesengsaraan" bagi Becky. Ia merasa sangat malu karena banyak orangtua di situ yang berkata padanya sambil tersenyum, "Ibumu mendidikmu sangat baik. Pasti kamu tidak kan pernah mencobanya lagi." Ke depannya, memang itulah yang dilakukan Becky. Ia tak pernah lagi berbuat seperti itu karena kejadian memalukan itu teramat sangat membekas di benaknya, melebihi bekas pukulan atau tamparan di badan. SUMBER: Tim AndrieWongso - andriewongso.com

Tuesday, May 01, 2012

Bersantai Sejenak di Setiap Kesibukan Hidup

Dikisahkan, seorang pria paruh baya baru saja pindah ke rumahnya yang baru bersama istri dan kedua orang anaknya. Rumah mereka yang dulu sangat kecil sehingga tidak muat untuk mereka berempat. Setelah pria ini berhasil mengumpulkan uang yang cukup, ia membeli rumah baru yang lebih besar di sebuah kompleks perumahan. Pria ini adalah seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Setiap pagi, ia sudah harus berangkat ke kantor untuk bekerja dan pulang saat hari sudah malam. Itulah rutinitas yang dilakukannya setiap hari. Bahkan di hari Minggu atau libur pun, kesibukannya tidak pernah berkurang. Beberapa bulan telah berlalu sejak ia pertama kali pindah, sampai suatu sore, begitu tiba di depan gerbang kompleks perumahan, ia berpikir untuk berkeliling di sekitar kompleks sejenak mumpung hari itu ia pulang cepat. Saking sibuknya ia bekerja, selama ini ia tak pernah berkeliling kompleks. Saat ia berkeliling dengan mobilnya melewati sebuah jalan, ia melihat sesuatu yang membuatnya terkesima. Ia melihat sebuah taman luas yang luar biasa indah. Taman tersebut berupa lapangan rumput hijau dengan kolam di tengahnya. Di kolam tersebut terdapat beberapa air mancur dihiasi lampu warna-warni dan bunga teratai. Di taman itu, pohon-pohon dihiasi lampu kelap-kelip yang sangat indah, kursi panjang untuk bersantai dan tempat bermain anak-anak. Taman itu cocok untuk bersantai dan rileks karena suasananya yang begitu tenang. Sesampainya di rumah, pria ini bertanya pada istrinya, "Ma, apakah mama tahu kalau di kompleks ini ternyata ada taman yang indah?" Istrinya tanpa pikir langsung membalas, "Wah, papa baru tahu ya? Saya sudah tahu dari dulu, papa saja yang ketinggalan berita. Setiap sore, mama dan anak-anak sering bermain-main di sana. Tempatnya begitu menyenangkan, tenang dan santai." Kemudian istrinya menyindir, "Makanya sekali-sekali bersantai, pikirannya jangan cuma kerja dan kerja. Kerja keras sih boleh-boleh saja, tapi bersantai dan istirahat sebentar juga tidak kalah pentingnya. Sudah tinggal berbulan-bulan di sini tapi masih tidak tahu keadaan di sekitar sini." Sejak hari itu, pria tersebut mulai sering bermain di taman tersebut. Meskipun tidak setiap hari, tapi ia selalu ke sana jika tidak ada pekerjaan yang mendesak. Bersantai di taman itu benar-benar membuatnya lebih rileks dan tenang sambil melihat anaknya bermain dengan ceria. Kerabat Imelda.... Dalam kehidupan sekarang ini, kita terlalu sibuk dengan rutinitas pekerjaan kita yang seolah tak ada habisnya. Bahkan ada sebagian orang yang memprioritaskan pekerjaan di atas segala-galanya. Memang tidak bisa dipungkiri semua orang ingin sukses dan hidupnya lebih baik. Karena itulah banyak orang yang berjuang dan bekerja keras untuk mewujudkan itu semua. Tapi di balik itu semua, kita juga bisa beristirahat sejenak untuk menikmati apa yang ingin kita nikmati. Banyak orang yang terlalu sibuk dengan rutinitasnya sampai-sampai istirahat dan bersantai 10 menit pun tidak sempat. Percayalah, di balik segudang kesibukan, pasti ada sedikit waktu yang bisa kita pakai untuk bersantai. Bahkan tidak jarang, pikiran bisa menjadi lebih jernih dan tubuh lebih segar. Selagi masih bisa menikmati sesuatu saat ini, mengapa tidak dimanfaatkan sebaiknya-baiknya sebelum semuanya berlalu dan tidak bisa dinikmati lagi? Kita sering istirahat untuk makan dan tidur, tidak ada salahnya kita istirahat sejenak untuk bersantai, menikmati apa yang kita sukai. Kita diberikan waktu 24 jam sehari bukan hanya dihabiskan untuk kesibukan rutinitas saja, tetapi juga digunakan untuk berhenti sejenak dari rutinitas tersebut. Ibarat kita membawa mobil dengan kecepatan tinggi, kita tidak akan bisa memperhatikan keadaan di sekeliling karena terlalu sibuk melihat ke depan. Jika kita memperlambat mobil atau berhenti sejenak, kita pasti bisa melihat-lihat sekeliling kita. Sesibuk apa pun diri kita dalam hidup ini, kita tetap bisa menikmati apa yang ada di depan kita saat ini jika kita mau meluangkan sedikit waktu untuk itu. SUMBER: Suhardi - andriewongso.com

Nasihat Bijak untuk Anak

Pada suatu hari, di sebuah sekolah menengah. Saat jam istirahat, ada perkelahian antara dua murid laki-laki di kelas. Kerumunan murid pun berakhir saat seorang guru datang menengahi dan melerai mereka. Tidak lama kemudian, saat pelajaran berikutnya akan dimulai, Kepala Sekolah sekolah masuk ke kelas tersebut dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya. "Andika, kamu nanti datang kantor Bapak, jam 3 sore."Seisi kelas terdiam sedangkan murid yang dimaksud seketika berwajah pucat pasi. "Baik Pak," ia menjawab lemah. Habis aku! Pasti akan dimarahi dan dikenai sanksi gara-gara perkelahian tadi, begitu pikir Andika. Tepat pukul 3 sore, Andika telah ada di depan kantor dan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Jantungnya berdegup keras dan tubuhnya serasa lunglai. "Masuk!" terdengar suara dari dalam. Andika pun masuk. Dengan takut-takut, ia berdiri dekat meja kepala sekolah, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Duduklah Andika. Kamu tentu sudah bisa menebak, kenapa Bapak memanggilmu kan? Tentu berkaitan dengan perkelahianmu tadi," kata kepala sekolah yang diikuti anggukan kepala Andika. Lanjutnya, "Andika telah melanggar peraturan tentang tidak boleh berkelahi di dalam lingkungan sekolah, apalagi di kelas. Tetapiada beberapa hal yang ingin bapak sampaikan berkaitan dengan kasusmu ini. Pertama, bapak senang kamu datang tepat waktu, itu menunjukkan kamu adalah anak yang disiplin." Beliau membuka laci mejanya, mengambil sebuah permen, dan meletakkannya di meja. "Kedua, bapak menghargai kedatanganmu saat ini. Artinya kamu menghargai bapak sebagai guru dan kepala sekolahmu. Kamu adalah anak yang berjiwa besar dan siap bertanggung jawab. Betul begitu Andika?' Kembali Andika mengiyakan dalam diam. Beliau mengambil permen dan meletakkannya lagi di meja. "Bapak sudah berbicara dengan guru yang melerai perkelahian dan mendengar dari beberapa temanmu. Kamu berkelahi dengan Rudi karena membela teman perempuan yang dilecehkan olehnya. Benar begitu? Bapak salut. Ini pertanda kamu adalah seorang gentleman, laki-laki sejati. Tapi ingat: berkelahi bukanlah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Andika harus lebih bijak dan jelas, bukan dengan berkelahi seperti tadi." Kepala sekolah meletakkan sebuah permen lagi di atas meja. "Nah yang terakhir, karakter positif yang telah Andika tunjukkan hari ini harus dipertahankan dan dikembangkan di masa depan. Bapak yakin kamu akan berubah dan akan maju di kemudian hari. Belajar lebih baik Andika, oke?" Sambil tersenyum, beliau menambahkan satu buah permen lagi di meja dan menyodorkan permen-permen tersebut ke arah Andika. "Ambillah hadiah dan kenang-kenangan dari Bapak ini!" Andika yang awalnya ketakutan akan mendapat hukuman, dan tidak menyangka justru mendapat "penghargaan" dari kepala sekolahnya, mengangguk mantap. "Terima kasih Pak. Saya sangat terkejut. Bapak tidak menghukum saya bahkanmemuji dan menghargai saya. Saya berjanji, pasti berubah dan akan lebih rajin belajar untuk masa depan saya sendiri." Kerabat Imelda... Betapa pentingnya nilai budi pekerti ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Kita tahu, mereka kadang melakukan kesalahan tetapi kalau cara kita sekadar keras dengan hanya menghukum tanpa diberi pengertian yang baik, tentu akan melahirkan ketidaksehatan perkembangan mental. Antara lain, bisa menimbulkan sakit hati, dendam, kebencian,depresi, putus asa, dan sifat-sifar negatif lainnya. Akan tetapi bila kita mampu memberikan pengertian sekaligus menanamkan budi pekerti yang baik, sekalipun ada hukuman, tetap nilainya akan berbeda. Harga diri dan kepercayaan diri anak-anak tetap terjaga dan sangat positif dalam pertumbuhan di kehidupan mereka selanjutnya. SUMBER: Andrie Wongso - andriewongso.com

Pasir dan Mutiara

Ada seorang anak muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi. Tanpa pengalaman, berbekal ijazah dan impian yang besar, dia mulai menapakkan langkah, mencoba terjun ke masyarakat dengan mencari pekerjaan. Dia mengirim banyak surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Sayang, harapannya tak sesuai kenyataan. Penolakan demi penolakan justru diterimanya. Tapi, saat diterima pun, ternyata pekerjaan yang didapat tidak sesuai dengan kemampuan dan kemauannya. Saat dia pindah ke perusahaan lain, dan kemudian berpindah lagi, keadaan pun tidak jauh berbeda. Kekecewaannya berulang lagi. Ia merasa kecewa pada perusahaan, kecewa pada diri sendiri, dan kecewa pada penerimaan orang lain terhadap dirinya yang tidak sesuai dengan harapannya. Semua itu menyebabkan dia semakin hari merasa semakin stres, dan akhirnya berniat mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Untuk mewujudkan niatnya, dia memilih lautan sebagai tempat untuk bunuh diri. Setibanya di tepi laut yang berombak besar, segera niatnya dilaksanakan. Dia pun berlari mengejar ombak dan melemparkan dirinya ke dalam gelombang air pasang yang siap menelan tubuhnya. Tetapi usahanya gagal! Beberapa kali ia mencoba, juga gagal lagi. Saat itu, ada pria setengah baya yang kebetulan melihat ulah si pemuda dan segera menghampirinya. Orang itu lantas bertanya kepadanya, "Hei anak muda, kenapa engkau mau mengakhiri hidupmu dengan jalan pintas seperti ini?" Dengan muka sedih dan kepala tertunduk, si pemuda menjawab, "Hidupku sungguh tidak berarti. Aku gagal! Aku kecewa pada perusahaan tempatku bekerja. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku juga kecewa pada masyarakat yang meremehkan dan memandang rendah diriku. Untuk apa lagi aku hidup seperti ini?" "Anak muda, caramu berpikir itu salah! Pantas kamu mengambil jalan pintas seperti ini. Lihatlah ini," bapak itu berkata sambil tangannya mengambil sejumput pasir dan kemudian melemparkan ke depan. Pasir itu pun segera terserak bersama pasir yang lain. Setelah itu, dia berkata, "Pungutlah pasir yang saya lempar tadi." "Ah, mana mungkinpasir itubisa saya pungut lagi," jawab si pemuda keheranan, tak tahu apa maksud bapak itu menyuruhnya seperti itu. Melihat pemuda itu tampak tak mengerti maksud perintahnya, bapak itu kemudian ganti mengambil suatu benda dari kantong sakunya dan berkata, "Sekarang, pungutlah mutiara ini." Paman itu lantas melemparkannya mutiara dari kantongnya, sama seperti pasir tadi. Dengan segera dipungutlah mutiara itu oleh si pemuda. Mudah sekali! "Nah anak muda, dirimu saat ini, sama seperti butir pasir di pantai, tidak berbeda dengan pasir-pasir yang lainnya. Kalau kamu ingin diakui keberadaanmu dan memperoleh perhargaan dari orang lain, maka jadilah seperti mutiara ini. Tetapi, untuk bisa menjadi mutiara, perlu waktu dan perjuangan yang tidak ringan. Maka, berhentilah mengeluh dan menyalahkan orang lain. Belajar dan poleslah diri dengan sungguh-sungguh dan jadilah mutiara di kemudian hari." Si pemuda spontan menjabat erat tangan bapak itu, "Terima kasih Pak, saya memang salah. Sekarang saya sadar dan mengerti. Saya berjanji akan berubah dan memoles diri dengan keras untuk menjadi mutiara sejati." Maka, si pemuda segera bergegas, ingin memulai harinya yang baru dengan semangat untuk jadi mutiara yang berharga. Kerabat Imelda....Saat kita sadar dan mengerti bahwa meraih kesuksesan itu membutuhkan proses dan perjuangan, maka mentalitas kita akan semakin kuat. Dengan keberanian, ketekunan, dan keuletan, kita siap menghadapi setiap rintangan yang muncul, untuk meraih kesuksesan dan kehidupan yang jauh lebih bernilai. Mutiara yang indah lahir dari proses alam yang cukup lama. Demikian juga diri kita. Untuk menjadi orang yang dihargai, disegani, dan dihormati, juga perlu pengorbanan dan proses yang berliku dan memakan waktu lama. Tapi, dengan satu tujuan yang pasti, kerja keras, tekad baja, kita akan benar-benar menjadi mutiara yang berharga bagi diri sendiri dan orang lain. Tidak ada sukses tanpa perjuangan. Tidak ada keberhasilan tanpa diiringi peluh keringat dan kerja keras. Maju terus dan poles diri dengan semangat pantang menyerah! Raih kesuksesan dengan langkah pasti! SUMBER:Andrie Wongso - andriewongso.com

Simpan Permata, Dan Buang Batu Buruk

Saat aku mulai mengenal kampung tempatku tinggal, kakek Otto sudah begitu populer. Dia tinggal sebatang kara saja, namun tidak pernah terlihat menganggur ataupun kesepian. Di pagi hari, aku biasa melihat kakek Otto pergi ke pasar sementara aku pergi ke sekolah. Sore harinya, kakek terlihat di beranda rumah sedang mengerjakan sesuatu, seringkali ditemani beberapa pemuda atau para tua-tua kampung sambil bercengkrama entah tentang apa. Kabarnya kakek Otto punya seorang anak laki-laki. Beliau sendiri terkadang menyisipkan cerita tentang anaknya saat berbincang. Anak yang sangat baik, suka membantu kakek Otto mengerjakan banyak hal sejak usianya sangat belia. Dari mengurus rumah hingga menjalankan bengkel kecil Otto, si anak selalu terlibat. Bahkan saat sudah bisa bekerja sendiri, kakek Otto mengaku beberapa barang berharga miliknya adalah pemberian dari anaknya. Kerap kali orang-orang menanyakan di mana sekarang anak itu, dan mengapa tidak pernah berkunjung. Kakek Otto hanya menjawab dia tidak ingin merepotkan anaknya, karena itu dia menghindari kontak dengannya. Melihat keceriaan kakek, tidak ada orang yang memikirkan hal ini lebih jauh. Suatu hari, kedatangan seorang pria di rumah kakek Otto menarik perhatian para tetangga. Bukan saja karena kakek Otto selama ini tidak pernah kedatangan tamu dari luar kampung, tapi juga penampilan tamu itu sangat acak-acakan. Kakek Otto hanya tersenyum ramah pada orang-orang yang memandang mereka dengan rasa ingin tahu. Belakangan semua orang tahu itu adalah anak kakek Otto yang selalu dibangga-banggakan. Namun para tetangga termasuk ayah dan ibuku mulai keheranan ketika beberapa kali mendengar keributan dari rumah kakek Otto. Apalagi si anak juga tidak pernah keluar rumah untuk berbaur dengan warga kampung. Warga kerap kali mendapati si anak berkata dengan kasar pada kakek Otto dan bermuka masam. Untung saja suasana tidak enak itu hanya berlangsung sekitar satu bulan, anak kakek Otto kembali menghilang. Warga pun tidak bisa menahan keingintahuannya, mereka memberondong kakek Otto dengan banyak pertanyaan tentang anaknya. Namun warga harus kecewa karena jawaban kakek Otto tetap saja positif dan membanggakan anaknya. Ketika ditanya mengapa anaknya tiba-tiba pulang, kakek Otto berkata bahwa dia merindukan ayahnya; mengapa perlakuannya sangat buruk, kakek Otto menyangkal, dia bilang anaknya hanya lelah dan selama satu bulan ini dia telah memperlakukan kakek Otto dengan sangat baik. Seorang warga yang tidak tahan lagi akhirnya berkata dengan jujur bahwa anak kakek Otto terlihat tidak menyenangkan dan heran sekali kakek Otto masih bisa mengatakan sesuatu yang positif tentang anak itu. Akhirnya kakek Otto pun membocorkan sedikit rahasianya. "Anakku dulu adalah seorang yang baik, hingga dia tahu bahwa aku bukan ayah kandungnya, dan dia sebenarnya anak dari saudagar kaya. Menghadapi kerasnya hidup, dia mulai bertanya-tanya mengapa dirinya tidak pernah dibiarkan untuk tahu dan sedikit mengharap keberuntungan dari ayah kandungnya itu. "Namun aku memilih untuk mengingat hal-hal baik dan manis yang pernah ada. Itu membuat hidupku terasa lengkap. Tidak ada gunanya mengingat segala keburukan karena tidak ada jika tidak ada yang bisa dilakukan lagi, dan kepahitan itu hanya akan menggerogoti hatimu." SUMBER: kapanlagi.com

Hanya Anda Yang Bisa Mengubah Diri Sendiri

Pada suatu hari, di sebuah perusahaan besar, ada pengumuman besar yang tertulis pada pintu-pintu kantor. "Ada salah satu pegawai yang telah menghambat kemajuan kantor, dan dia telah meninggal kemarin. Kami mengundang Anda pada upacara pemakaman yang akan diadakan di ruang olahraga lantai dasar." Semua orang merasa sedih karena mereka telah kehilangan rekan kerja, tetapi mereka juga penasaran siapakah orang yang telah menghambat kemajuan kantor. Setelah pengumuman dibaca hampir semua pegawai, ruang olahraga penuh disesaki pegawai yang ingin melihat siapa pegawai yang dimaksud. Beberapa petugas keamanan bahkan harus menjaga keramaian itu. Salah satu pegawai berhasil mendekati peti mati dan membuka bagian penutup peti. Ketika peti dibuka, tidak ada siapapun di dalam peti mati. Hanya ada sebuah cermin di bagian bawah peti yang memantulkan bayangan siapapun yang melihatnya. Tak hanya ada cermin di dalam sana, ada sebuah kertas yang bertuliskan: "Anda adalah satu-satunya orang yang dapat mengubah hidup Anda sendiri. Anda adalah satu-satunya orang yang bisa menebar kebahagiaan, pencapaian dan kesuksesan. Anda satu-satunya orang yang dapat menolong diri Anda sendiri. Hidup Anda tidak akan berubah saat bos Anda berubah. Hidup Anda tidak akan berubah jika istri Anda berubah. Hidup Anda tidak akan berubah jika perusahaan berubah." "Hidup Anda berubah pada Anda mengubahnya, karena hidup Anda akan jalan di tempat walaupun sebanyak apapun orang lain di sekitar Anda berubah." SUMBER: kapanlagi.com

Cara Memetik Buah Kebaikan

Luangkan sejenak waktu Anda untuk membaca beberapa pohon kebaikan yang seharusnya Anda tanam setiap saat. Jika Anda menanam kebohongan, Anda akan menuai ketidakpercayaan. Jika Anda menanam keegoisan, Anda akan menuai kesepian. Jika Anda menanam keangkuhan, Anda akan menuai kehancuran. Jika Anda menanam permusuhan, Anda akan menuai masalah. Jika Anda menanam kemalasan, Anda akan menuai kerugian. Jika Anda menanam keburukan, Anda akan menuai perlakuan dijauhi orang lain. Jika Anda menanam keserakahan, Anda akan menuai kemiskinan. Jika Anda menanam gosip, Anda akan menuai musuh. Jika Anda menanam kekhawatiran, Anda akan menuai ketakutan. Bila Anda menanam dosa, Anda akan menuai rasa bersalah. Tetapi.. Jika Anda menanam kejujuran, Anda akan menuai kepercayaan. Jika Anda menanam kebaikan, Anda akan menuai teman. Jika Anda menanam kerendahan hati, Anda akan menuai kebesaran. Jika Anda menanam ketekunan, Anda akan menuai kemenangan. Jika Anda menanam pertimbangan, Anda akan menuai harmoni. Jika Anda menanam kerja keras, Anda akan menuai kesuksesan. Jika Anda menanam hati pemaaf, Anda akan menuai pengampunan. Jika Anda menanam keterbukaan pikiran, Anda akan menuai ilmu. Jika Anda menanam kesabaran, Anda akan menuai perbaikan. Jika Anda menanam iman, Anda akan menuai mukjizat. Manakah yang akan Anda tanam? Semua ada di tangan Anda. SUMBER: kapanlagi.com

Rubah Cerdas dan Seekor Gagak

Pada bulan-bulan yang gersang, sulit bagi gagak untuk menemukan makanan. Dengan perut yang sangat lapar, seekor gagak nekat mengambil sepotong roti yang tersisa di dapur manusia. Gagak tersebut menggigit erat roti lalu terbang tinggi sebelum dilempari batu karena telah mencuri. Gagak tersebut berhenti di sebuah dahan pohon dan bermaksud menikmati roti tersebut di sana. Tanpa diketahui oleh gagak, ada seekor rubah yang melihat roti yang belum dimakan oleh sang gagak. Rubah tersebut juga kelaparan dan merancang ide licik untuk mengambil roti tersebut. "Hai, gagak.." ujar rubah bermanis-manis kata. "Apa yang bisa aku berikan padamu agar kau mau memberikan roti tersebut padaku?" Sang gagak mulai merasa ada yang aneh, dia berpikir kalau sang rubah pasti hendak mengambil roti miliknya. Gagak menggigit rotinya lebih erat. Rubah licik tak kehabisan akal, "Hai sobat, apa kabar?" Gagak tetap diam karena sedang menggigit rotinya. "Aku dengar.. gagak adalah burung yang sangat menawan, dan baik hati," ujar rubah dengan nada yang bersahabat dan meyakinkan. "Aku juga sering mendengar bahwa gagak memiliki suara yang merdu dibandingkan burung-burung yang lain. Aku ingin sekali mendengar nyanyian merdumu, sobat!" Sang gagak merasa tersanjung dengan pujian tersebut. Dia berpikir bahwa rubah ternyata memiliki kemampuan untuk melihat kecantikan yang sesungguhnya saat banyak yang menghina suara para gagak. Tanpa pikir panjang, gagak membuka paruhnya dan mulai bernyanyi. Roti yang digigit erat jatuh dan dengan sigap rubah menangkap roti kemudian kabur. Sang gagak akhirnya menyadari kesalahannya dengan memercayai kata-kata rubah. Mulai saat itu dia mendapat pelajaran bahwa terlalu cepat tersanjung adalah hal yang harus diwaspadai. SUMBER: kapanlagi.com