Monday, November 07, 2011

Ori

Belum lama ini, di status Blackberry seorang kawan tertulis: "You were born an original. Don't die a copy - John Mason". Anda dilahirkan sebagai pribadi unik yang original, jangan meninggal sebagai seorang peniru belaka. Wow! Sebuah kutipan yang inspiratif. Segera saja pikiran saya terbang ke judul buku Semuel Lusi, berjudul "The Real Success is The Real You". Sukses yang sejati adalah dengan menjadi diri Anda yang sejati. Di luar kesejatian diri, bukan sukses yang Anda peroleh, melainkan kepalsuan dan keterasingan diri. Kisah populer tentang anak rajawali di kandang ayam menggambarkan inti pesan Mason dan Lusi. Seperti pernah dikisahkan Anthony de Mello, seorang petani menemukan telur rajawali dalam perjalanan pulang ke rumah. Telur itu kemudian diletakkannya di kandang ayam dan dierami induk ayam bersama dengan telur ayam lainnya. Setelah menetas, maka anak rajawali itu tinggal bersama dengan anak-anak ayam lainnya. Ia berada dalam lingkungan ayam. Ia berpikir dan berperilaku sebagaimana layaknya ayam-ayam yang lain. Ia belajar dengan meniru sikap dan perilaku lingkungannya. Hanya saja, ia sering merasa lain sendiri. Ukuran tubuh dan suaranya tidak mirip saudara-saudaranya. Bagaimana pun ia tak punya referensi lain kecuali melihat dirinya sebagai ayam. Lingkungan di mana Anda bergaul mendefinisikan siapa Anda, bukan? Suatu hari, ketika ia sedang bercengkerama dengan kawan-kawannya, seekor burung besar yang gagah melintas di angkasa. Melayang dengan anggun dan berwibawa, burung besar itu tampak perkasa. Matanya tajam menatap ke bawah. Sayapnya terbentang diterpa angin dan seolah tak bergerak. Ia sedang mengincar mangsa untuk sarapan hari itu. Kawan-kawannya segera menarik anak rajawali itu untuk bersembunyi. "Itu burung rajawali, raja segala burung. Ia bisa menyambar kita dan memakan kita. Ayo lari dan bersembunyi," ujar kawan-kawannya mengingatkan. Mereka terbirit-birit mencari tempat berlindung yang aman. Banyak orang senang mencari comfort zone, kan? Cerita anak rajawali di kandang ayam itu bisa berakhir dengan dua versi. Versi pertama, ia tetap tinggal dan hidup sebagai ayam sampai akhir hayatnya. Ia mati sebagai ayam yang berbadan besar. Tidak lebih dan tidak kurang. Begitulah kehidupan yang disia-siakan untuk sekadar memperoleh rasa nyaman. Kehidupan yang dikungkung oleh rasa takut, tak berani mencoba, dan penuh kekhawatiran sepanjang waktu. Kehidupan yang berujung pada penyesalan. Versi kedua lebih menarik. Anak rajawali itu kemudian penasaran dan mulai belajar meloncat-loncat lebih tinggi untuk terbang. Ia naik ke pohon dan terjun sambil mengepakkan sayapnya. Demikianlah perlahan-lahan ia mulai terbang lebih tinggi, lebih tinggi, dan semakin tinggi. Akhirnya ia menyadari keberadaannya sebagai rajawali. Ia bukan ayam. Ia tidak pantas tinggal di kandang ayam. Ia adalah rajawali. Tempatnya adalah di angkasa raya. Ia tak harus hidup bergerombol di kandang-kandang. Ia bisa berkelana sendiri. Ia telah menemukan kesejatian dirinya, dan itu membebaskannya dari kungkungan "suara" mayoritas yang merendahkan potensinya selama ini. Perumpamaan anak rajawali di kandang ayam menawarkan sebuah konsep sukses, yang disimpulkan Semuel Lusi dalam empat proses. Pertama, discovering the real you. Kedua, being the real you. Ketiga, doing the real you. Dan akhirnya, building the real you habitat. Keempat proses itu berporos pada "the real you" yang disingkat menjadi TRY (The Real You). Dengan demikian, kegagalan menemukan TRY adalah kegagalan eksistensial. Sementara keberhasilan menemukan TRY bukanlah akhir, melainkan awal sebuah perjuangan mewujudkan diri melayani suatu maksud yang mulia. Asumsi utama konsep sukses ini adalah bahwa tiap insan memiliki potensi, bakat, talenta, kekuatan, keunggulan, atau apa pun istilahnya, yang unik dan khas serta subyektif. Tiap insan dikaruniai sesuatu dalam dirinya, the power within, the true self, innate image. Inilah yang pertama-tama perlu ditemukan, perlu disadari, perlu dikenali. Seperti anak rajawali yang besar di kandang ayam, ia perlu menggugat diri, mencari jati diri, melakukan refleksi, mencari jawaban yang lebih baik mengenai "siapakah aku?". Selanjutnya, penemuan diri dan kesadaran baru perlu ditindaklanjuti dengan usaha mengaktualisasikan potensi itu, menyalurkan bakat-bakat terbaik itu, dengan menjadi dan melakukan apa-apa yang mencerminkan diri terbaik kita, yang terkait dengan suatu tugas mulia, suatu panggilan. Seperti anak rajawali yang "penasaran" dan mulai belajar untuk meloncat-loncat, belajar terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Kesuksesan kecil dan berbagai kegagalan memperkaya usaha penemuan jati diri sejati. Hidup adalah perjuangan menemukan diri kita yang terbaik lewat tindakan-tinndakan yang bermanfaat bagi sesama. Dengan lain perkataan, tiap orang memiliki tugas mulianya di bumi, dan untuk tugas mulia itulah ia telah diberi bakat-potensi-kemampuan unik oleh "langit". Sepanjang kita menemukan bakat-potensi-kemampuan kita itu dan mengabdikannya untuk tugas mulia di bumi, maka kita telah berhasil menjadi diri kita yang terbaik, yang orisinal. Kita ada untuk melayani suatu maksud yang mulia dan bukan untuk membesar-besarkan diri kita sendiri. Di luar itu, kita hanyalah kepalsuan. Konsep sukses ini "didukung" ratu talkshow Oprah Winfrey. Dalam sebuah pidato wisuda di Rooselvelt University, Oprah mengatakan, antara lain, "Ada panggilan suci dalam hidup kita masing-masing yang melampaui gelar yang akan Anda terima (hari ini). Ada kontrak suci yang Anda buat, yang saya buat dengan Sang Pencipta, ketika kita menjadi ada. Bukan hanya satu sperma dan satu sel telur bertemu ketika kita menjadi esensi diri kita sebagaimana dimaksudkan. Anda membuat perjanjian, Anda memiliki panggilan. Dan entah Anda mengetahuinya atau tidak, adalah tugas Anda untuk menemukan panggilan itu dan terjun untuk melakukannya". You were born an original. Don't die a copy. SUMBER: ANDRIAS HAREFA - andriewongso.com

No comments: