Saturday, August 11, 2012

Aura Kehidupan

Saya pernah merasakan hal yang tidak mengenakan dalam hidup ini dan ingin berbagi pengalaman kepada Sahabat semuanya. Suatu waktu saya merasa asing di lingkungan yang saya tempati. Seakan-akan semua orang yang ada di lingkungan saya tidak menganggap saya ada. Di kampus, di rumah, dan di jalan saya merasa sendiri. Dan memang benar orang-orang pun sedikit enggan untuk menyapa dan berbicara dengan saya, mereka menjauhi saya. Saya tidak tahu kenapa hal ini terjadi, pada saat itu yang ada di pikiran saya hanya segudang masalah yang menumpuk. Masalah yang membuat pikiran terasa buntu, membuat napas terasa sesak. Dalam hal ini, saya tidak bisa menceritakan masalah apa yang saya hadapi karena saya malu. Saya malu karena setelah benar-benar saya renungkan ternyata masalah yang saya hadapi sangatlah sepele, hanya saja pikiran saya yang terlalu mendramatisir keadaan sehingga seakan-akan sayalah orang yang paling menderita di dunia. Kejadian ini saya renungkan baik-baik, kenapa lingkungan yang kudiami seakan-akan menjauh dari kehidupanku? Dan setelah beberapa hari membuat catatan harian tentang keluh-kesah saya, saya baca kembali dan ternyata hampir 90% isinya tentang perasaan negatif. Saya pun sadar dan menarik sebuah pelajaran penting akan hal ini. Ternyata, ada dua faktor yang bekerja dalam keadaan ini. Faktor itu adalah faktor internal dan faktor eksternal diri saya. Faktor internal yang berpengaruh adalah "aura" tubuh. Saya sadar ketika seseorang mengalami kesedihan yang didramatisir, maka kesedihan itu akan terpancar ke dalam tindakan kesehariannya. Kepala akan tertunduk ke bawah, berjalan dengan gaya yang lunglai, berbicara hanya sepatah dua patah kata, punggung membungkuk dan yang menjadikan masalah saya semakin buruk adalah saya menutup diri dari lingkungan. Dari semua gerak-gerik tubuh yang seperti ini, akan mendapatkan respons dari orang yang melihat. Dan saya yakin sekali respons yang didapat pun merupakan respons yang negatif. Sebagian orang akan merasa bosan dan malas apabila berbicara dengan orang yang memiliki aura negatif seperti ini. Mungkin inilah yang menyebabkan orang-orang menjauhi saya. Yah, apabila kita memancarkan aura negatif, kebaikan akan menjauh dari kita. Namun apabila kita memancarkan aura positif, maka kita akan menjadi orang yang menyenangkan. Berbicara tanpa beban, berjalan dengan percaya diri. dan orang lain akan merasakannya, sehingga mereka akan memberikan respons yang juga positf kepada kita. Faktor kedua adalah faktor eksternal, yaitu hal-hal yang terjadi di luar tubuh kita, seperti kondisi psikologis orang lain, kondisi cuaca, perekonomianm dan lain-lain. Orang lain atau lingkungan akan menganggap kita ada, ketika kita memberikan manfaat kepada mereka. Kita tidak bisa memaksakan apa-apa kepada orang lain. Yang saya sadari adalah lingkungan itu bersifat pasif terhadap kita, maka itu kitalah yang harus aktif. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyayangi kita, tidak bisa memaksa mereka untuk memberikan apa yang kita inginkan. Yang hanya bisa kita lakukan adalah mencoba memperbaiki diri agar bisa bermanfaat bagi lingkungan dan mendapatkan respons yang baik dari mereka. Dari dua faktor yang berpengaruh tadi, yang paling bisa saya pengaruhi adalah faktor internal diri saya. Dan saya pun fokus untuk mengubah aura negatif saya menjadi aura positif. Saya awali dengan mengubah sudut pandang perasaan saya. Apabila sebelumnya dalam menghadapi masalah, saya fokus kepada keluhan/kesedihan, maka sekarang saya fokus pada manfaat yang ada di dalamnya. Saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Setelah beberapa hari memperbaiki aura tubuh, saya pun merasa lebih bahagia. Dan ketika bertemu orang lain pun saya merasa lebih santai untuk menyapa mereka. Akhirnya perlahan-lahan lingkungan yang sebelumnya saya rasakan sepi berubah menjadi ramai. Ternyata, saya sendirilah yang menciptakan masalah tersebut. Jadi ternyata, "Lingkungan sangat bergantung pada sikap kita terhadapnya. Jika keberadaan kita ingin diakui oleh orang lain, maka berikan manfaat bagi mereka. Buatlah diri kita menjadi individu yang simpatik; apabila tidak ada kita dirindukan, dan apabila ada kita didengarkan." Yang saya lakukan untuk mengubah aura negatif menjadi positif: 1. Ubah makna dari sudut pandang kejadian. Dari makna negatif menjadi makna yang lebih bermanfaat. 2. Mensyukuri apa yang dimiliki. 3. Memperbanyak gerakan tubuh/olahraga untuk memperlancar aliran darah. 4. Sering-seringlah tersenyum bahagia. 5. Belajar untuk memahami kesulitan orang lain untuk mengasah empati dan meningkatkan rasa syukur. 6. Tidak menutup diri ketika menghadapi masalah yang pelik, sebaiknya diskusikan dengan orang yang dipercaya. 7. Fokus pada perbaikan diri. 8. Mendekatkan diri pada Tuhan. "Tidak ada jalan yang terbaik dalam menghadapi kesulitan hidup selain tetap berpikir dan bertindak positif dalam menghadapinya. Bukan dengan cara menyalahkan hal di luar tubuh, melainkan memperbaiki apa yang terjadi pada diri kita." SUMBER: Firman Erry PRobo - andriewongso.com

2 comments:

Durrotul Humairoh said...

bener-bener penuh inspirasi :)

melati sejahtera said...

Kamu termasuk orang yang beruntung.